NovelToon NovelToon
DHAHAR : Jangan Mati Di Rantau Naya

DHAHAR : Jangan Mati Di Rantau Naya

Status: sedang berlangsung
Genre:Horor / Misteri / Balas Dendam
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: Mia AR-F

Ini cerita tentang rumah makan yang menu spesialnya, tumbal manusia.
Kabur enggak bisa. Resign taruhannya nyawa.

" Selamat bekerja dirumah makan Dermawan." Seru Pak Dermawan selaku pemilik usaha yang suaranya masih terngiang-ngiang layaknya mimpi buruk yang terus berulang.

Namaku Naya. Umur 21. Anak rantau. Dan inilah kisahku.

_

Tayang : 16 mei 2026
Tamat : 06 juni 2026

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mia AR-F, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

23 : Menebus kontrak kerja

Naya berhenti di depan rumah itu, bukan karena dia tahu tapi karena kakinya berhenti sendiri seolah sudah menemukan tujuannya.

Napasnya pelan. Matanya kosong. Tidak benar-benar melihat tapi tubuhnya tahu harus ke mana. Rumah itu berdiri diam di depannya, catnya pudar, halamannya sepi.

Naya melangkah maju.

Tok… tok… tok…

Tangannya yang mengetuk.

Beberapa detik pintu terbuka. Seorang pria paruh baya berdiri di sana, "Iya? Siapa?"

Naya mengangkat wajah matanya kosong nampak kosong menyimpan pilu.

"Pak.." Suaranya keluar pelan.

"Ini rumahku." Lanjut Naya.

Pria itu langsung menegang tidak mengerti, "Apa?"

"Bapak lupa sama anak bapak ya?" Tanya Naya dengan nada lirih.

Jantung pria itu berdegup keras, "Siapa kamu?"

Naya tersenyum tipis, denyum yang malah tidak cocok di wajah itu.

"Ini aku, pak.."

Udara berubah dingin.

"Sari."

"Orang gila kamu!" Bentak Pria itu menutup pintu.

BRAK!

Pintu langsung ditutup keras. Naya berdiri diam di luar. Beberapa detik, lalu kepalanya sedikit menunduk dan tubuhnya bergoyang pelan. Seperti kehilangan keseimbangan.

"Hah?" Naya terengah. Matanya berkedip cepat.

"Aku dimana?"

Naya melihat sekeliling. Rumah asing. Jalan yang sepi. Tangannya gemetar. Masih cukup gelap untuk berdiri di depan rumah orang.

"Kenapa aku di sini?" Tanya Naya bingung.

Dari dalam rumah terdengar suara gaduh, "Heh! Buka! Itu bukan Sari!" Suara pria tadi panik.

Suara wanita tertawa dari dalam, "Sari pulang... Sari pulang Pak!!"

Naya mundur selangkah jantungnya berdegup keras. Dia tidak mengerti apa pun. Tapi tubuhnya mulai dingin. Seolah ada sesuatu yang ingin kembali menguasai tubuhnya namun Naya menahan kuat.

Pintu itu terbuka lagi.

Naya yang masih mundur refleks menoleh.

Belum sempat dia bereaksi seorang wanita langsung keluar. Rambutnya berantakan. Matanya merah. Nafasnya tidak teratur.

"Ibu tunggu!" Suara pria tadi menyusul dari dalam tapi sudah terlambat.

Wanita itu langsung memeluk Naya dengan pelukan yang sangat erat. Naya sampai kaget bukan main karna pelukan itu memang terlalu erat.

"Nak...!" Suaranya pecah.

Tubuh Naya kaku, dia tidak sempat menolak.

"Ibu kangen kamu ke mana aja?” Tangis wanita paruh baya itu pecah di bahunya.

Naya membeku tangannya menggantung di udara tidak tahu harus membalas atau mendorong.

"Sari jangan pergi lagi ya." Ujar Ibu itu.

Napas Naya tersendat nama itu lagi, nama yang bukan namanya, Sari.

"A-aku bukan--" Suara Naya gemetar.

Tapi kalimatnya terpotong karena di dalam dadanya ada sesuatu yang bergetar. Seolah ada yang ingin menjawab.

"Ibu." Satu kata itu lolos.

Terdengar pelan.

Wanita itu langsung menangis lebih keras.

"Tuh kan… Sari pulang… ibu tahu… Pak!! Sari pulang!!"

Naya langsung menegang menyadari sesuatu yang aneh baru saja terjadi. Matanya melebar. Dia tidak merasa mengucapkan itu.

Langkah cepat terdengar, pria paruh baya itu menarik pelan istrinya.

"Sudah… Sudah…" Suaranya lelah, tapi berusaha tenang.

"Ibu masuk dulu."

Wanita itu masih memegang tangan Naya, dan tidak mau lepas.

"Jangan pergi lagi ya sayang." Pinta Ibu itu berulang dengan nada memohon.

Akhirnya pria itu menoleh ke Naya, tatapannya campur aduk, dan secercah harapan muncul, harapan yang dia sendiri tidak ingin akui.

"Masuk."

Naya ragu.

Sangat ragu.

Tapi kakinya kembali melangkah sendiri. Dia masuk ke dalam rumah itu. Udara di dalam terasa lebih dingin, lebih berat.

Wanita itu masih menatap Naya dari dalam kamar tersenyum sendiri. Memeluk baju sekolah di tangannya.

Pria paruh baya itu menutup pintu.

Klik.

Suara kunci terdengar jelas.

Naya langsung menoleh, jantungnya berdetak lebih cepat.

"Pak.. Saya bukan-"

"Saya tahu." Potong pria itu cepat.

Kalimat itu tidak terdengar meyakinkan, pria itu menghela napas panjang. Tangannya mengusap wajah kasar.

"Istri saya sudah seperti itu sejak Sari hilang." Jelas Pria itu.

Naya tertegun diam, apakah ini artinya dia sedang berada di rumah Sari? Arwah yang selama ini menghantuinya.

"Dia nggak pernah percaya Sari pergi. Enggak pernah sedikit pun ikhlas Sari sudah meninggal." Lanjutnya.

"Dia selalu yakin Sari bakal pulang."

Pria itu tertawa kecil.

"Tiap ada perempuan lewat dia bilang itu Sari."

Naya menelan ludah.

"Tapi tadi..."

Pria itu menatap Naya.

"Belum pernah dia langsung peluk seperti itu." Lanjut Pria itu terdengar dalam.

Naya merasakan dingin merambat di punggungnya.

"Apa Sari benar-benar tidak pulang sama sekali, pak?" Tanya Naya pelan meski dia sendiri juga tahu jika Sari nyatanya memang sudah meninggal dunia, dan hanya arwahnya saja yang tertinggal.

"Tidak. Malam itu Pak Dermawan mendatangi rumah saya dan mengatakan jika Sari sudah meninggal lalu menjanjikan akan melunasi sisa kredit rumah ini." Jelas Pria itu.

"Sebagai seorang Ayah saya tentu tidak terima tapi sebagai manusia yang terlilit biaya hidup saya terpaksa harus menerima kematian Sari yang tak dapat di terima oleh istri saya sendiri." Lanjutnya lirih.

"Kata Pak Dermawan Sari di kubur dibelakang rumah makan Dermawan, dia tewas karna di guna-guna oleh mantan karyawan yang tidak suka padanya." Jelas Pria itu.

"Bukan, Pak. Sari tidak di guna-guna tapi dia di--"

TENG!

Tubuh Naya langsung sempoyongan begitu suara lonceng tiba-tiba saja menghantam kepalanya.

"Ada apa?" Tanya pria itu terkejut. Napas Naya tertahan. Lonceng rumah makan itu lagi-lagi tidak membiarkannya bicara banyak.

"T-tidak." Ujar Naya mencoba menyadarkan dirinya sendiri.

_

Salsa keluar dari mobil yang sudah dia sewa, berdiri di depan rumah makan Dermawan dengan koper di tangannya.

Matanya langsung menyapu sekitar rumah makan, nampak sepi.

Salsa melangkahkan kakinya masuk ke dalam rumah makan Dermawan yang terlihat karyawannya masih sibuk bersih-bersih.

"Eh! Belum buka Teh. Bentar lagi buka rumah makannya." Agus yang sedang mengelap meja memberitahu.

"Saya Kakak Naya yang kerja di sini." Jawab Salsa menjelaskan.

" Oohh Naya di-"

Teng!

"Aargg-" Agus mendesis ketika kepalanya terasa di hantam oleh suara bel. Dia sudah biasa, namun kenapa kepalanya terasa jauh lebih sakit sekarang.

"Di sini nggak ada yang namanya Naya." Jawab Zuan dingin dengan wajah tidak ramah.

"Jangan bohong!" Suara Salsa mulai naik, "Saya kakaknya. Saya tahu betul adik saya tidak diperlakukan dengan baik disini."

Kalimat itu membuat Agus terdiam, tatapannya jadi lebih waspada memperhatikan debat antara Salsa dan juga Zuan yang terlihat panas. Zuan yang biasanya lembut dengan wanita terlihat jauh berbeda sekarang.

"Kalau nggak ada urusan, mending keluar aja," Kata Zuan tegas.

Salsa melangkah maju, tidak peduli.

"Saya mau ketemu pemilik tempat ini." Ucap Salsa tidak kalah tegas.

Zuan langsung menghadang.

Agus memegang kepalanya belakangnya yang masih berdenging.

"Ada apa ini?" Tanya Nikmah yang baru sampai di rumah makan Dermawan.

"Tidak bisa." Tegas Zuan.

Nikmah terdiam, siapa gadis yang sedang di halangin oleh Zuan itu.

Situasi semakin tegang.

"Apa saya harus pakai cara paksa?" Tanya Salsa dingin.

Zuan menyeringai tipis.

"Coba aja."

Salsa tidak menjawab.

Dia langsung melangkah melewati Zuan mendorong bahunya.

Nikmah kaget begitu pun Agus.

Langkah Salsa cepat.

"Pak Dermawan!" Teriaknya lantang.

Suara itu menggema.

"Pak Dermawan!!"

Langkah kaki terdengar dari arah dapur seorang perempuan keluar.

Nesya.

"Kakak Naya?" Tanyanya pelan. Nesya memang sudah mendengar sejak tadi namun dia menahan untuk tidak keluar, namun sudah cukup baginya sekarang. Sampai kapan ada keluarga yang terus kehilangan anaknya yang sedang mencari rezeki di rumah makan ini.

Salsa langsung menoleh, "Kamu kenal adik saya?"

Nesya terlihat ragu menatap Zuan yang melotot padanya begitu pun Nikmah tapi akhirnya dia mengangguk pelan.

"Iya.. Dia… kerja di sini." Jawab Nesya.

Jantung Salsa seperti dihantam sesuatu.

"Sekarang dia di mana?"Tanya Salsa cepat.

Nesya menatap ke arah Zuan, Zuan menggeleng pelan memberikan peringatan.

Nesya menelan ludah lalu kembali menatap Salsa.

"Ikut saya." Ujar Nesya.

Nikmah langsung melangkah maju.

"Nesya!" Seru Nikmah.

Nesya berhenti sebentar tangannya sedikit gemetar tapi dia tidak mundur.

"Dia kakaknya Naya, dia berhak bertanya dimana Naya!" Balas Nesya tidak kalah tegas.

Zuan menatap tajam. Agus menelan ludahnya, dia sudah tahu akan ada sesuatu.

Nesya mulai berjalan, Salsa mengikutinya melewati lorong sempit yang ternyata ada di rumah makan itu.

Salsa mengernyit.

"Tempat apa ini sebenarnya." Gumamnya.

Nesya tidak menjawab. Mereka berhenti di depan sebuah pintu. Pintu kayu besar, dan lebih gelap dari yang lain.

Nesya menelan ludah tangannya menyentuh gagang pintu.

"Pak Dermawan." Panggil Nesya pelan.

Tidak ada jawaban.

Salsa maju.

"Buka aja." Ujar Salsa tak takut.

Nesya ragu tapi akhirnya dia memutar gagang pintu itu.

Ceklek.

Pintu terbuka perlahan.

Udara dingin langsung keluar dari dalam.

Lebih dingin dari ruangan mana pun di rumah makan itu.

Dan di dalam seseorang sudah menunggu. Seolah mengetahui jika akan ada tamu.

Salsa melangkah masuk tanpa ragu.

Baru dua langkah, tiba-tiba..

BRAK!

Pintu di belakangnya menutup keras dengan sendirinya.

Salsa menoleh cepat.

Tangannya refleks mencoba membuka gagang pintu terkunci. Salsa diam sejenak lalu menghela napas pelan.

Perlahan dia menoleh ke depan. Ruangan itu gelap. Lampu hanya satu, menggantung redup di tengah. Udara dingin menusuk kulit. Dan di sana Pak Dermawan sudah duduk. Seolah memang sudah menunggu.

Senyumnya tipis, "Kamu akhirnya datang juga."

Salsa tidak menjawab.

Dia melangkah maju, lalu berhenti tepat di hadapan meja kayu tua itu. Tanpa basa-basi, dia mengangkat koper yang dibawanya.

DUG!

Koper itu diletakkan di atas meja.

Pak Dermawan meliriknya.

Klik.

Salsa membuka koper itu isi di dalamnya langsung terlihat tumpukan uang tunai, rapi, padat, penuh warna merah.

"30 juta." kata Salsa dingin, "Tunai."

"Ini buat nebus kontrak Naya." Lanjutnya sembari tangannya masuk ke dalam tas kecil yang lain.

Dia keluarkan amplop pertama.

"Ini 10 juta lagi."

Lalu amplop kedua.

"Dan ini tambahan 10 juta kalau masih kurang." Ujar Salsa mendorong semuanya ke arah Pak Dermawan.

"Total 50 juta."

Sunyi beberapa detik.

Salsa mencondongkan badan sedikit dengan wajah marah, "Sekarang panggil Naya, dia pulang sama saya sekarang."

Pak Dermawan tidak langsung menjawab.

Dia hanya menatap uang itu lalu tertawa pelan.

Salsa langsung mengernyit, "Apa yang lucu?"

Pak Dermawan mengangkat wajahnya. Tatapannya aneh bukan senang bukan juga marah, lebih ke kasihan.

"Kamu datang terlambat," Kata Pak Dermawan pelan.

Salsa langsung menegang, "Apa maksudn anda?"

Pak Dermawan berdiri perlahan. Dia berjalan ke samping meja, membuka laci. Tangannya mengeluarkan sesuatu. Selembar kertas. Cek. Pak Dermawan menaruhnya di depan Salsa.

"Kalau soal uang saya bisa kasih lebih." Ujar Pak Dermawan dengan tenang.

Salsa menatap cek itu matanya langsung melebar.

"Itu cek 300 juta." Jelas Pak Dermawan.

Tangan Salsa refleks mengambil kertas itu.

Pak Dermawan menatapnya luruh, "Itu Pergantian."

"Pergantian apa?" Tanya Salsa.

"Pergantian nyawa." Balas Pak Dermawan tanpa rasa bersalah.

Deg.

Jantung Salsa seperti berhenti.

"Apa?" Suara Salsa nyaris tidak terdengar.

Tatapan Salsa berubah tajam, "Jangan main-main."

Pak Dermawan menghela napas pelan, "Adikmu sudah tidak ada.”

Salsa tertawa kecil tidak percaya.

"Apa itu lucu?" Tanya Pak Dermawan juga tertawa kecil.

Salsa mengangguk, "300 juta??"

"Kalau itu cara anda nolak uang saya, jelek banget. Kalau 300 juta doang saya juga bisa Pak." Ujar Salsa masih ngakak, "Nyawa hanya anda hargai 300 juta, itu lucu sekali."

Pak Dermawan tetap diam.

Salsa mulai kehilangan kesabaran, "Panggil Naya sekarang!"

"TIDAK ADA YANG NAMANYA NAYA MATI!" Teriak Salsa keras.

Pak Dermawan mengangguk namun wajahnya berubah pilu, "Ya saya tidak bohong."

Salsa membeku.

"Naya bunuh diri." Lanjut Pak Dermawan.

BRAK!

Salsa langsung menghantam meja, "BOHONG!!"

Napasnya memburu, mata Salsa memerah menahan air mata sekaligus amarahnya.

"Adik saya bukan orang lemah!" Tegas Salsa yang sama sekali tidak percaya.

Pak Dermawan mengangguk, "Semua orang punya batas, dan Naya sudah memilih jalan itu."

Air mata Salsa menetes, "Kalau dia sampai mati itu berarti ADA YANG BUAT DIA SAMPAI KE SITU!"

Tatapan mereka saling bertabrakan.

Pak Dermawan tersenyum tipis lagi, "Tepat sekali."

Salsa terdiam..Detik itu juga ada sesuatu yang terasa salah.

Sangat salah.

“Dan kamu…” lanjut Pak Dermawan pelan, “…datang ke tempat yang tepat.”

Lampu di atas mereka tiba-tiba berkedip.

Salsa menghapus air matanya melihat sesuatu yang terlihat aneh.

"Kalau kamu mau ketemu Naya, saya bisa bantu karna saya punya kekuatan untuk melakukan itu." Ujar Pak Dermawan dengan begitu percaya dirinya.

"Maksud anda?" Tanya Salsa tidak mengerti.

"Saya bisa mempertemukan anda dengan arwah Naya untuk terakhir kalinya, anda bisa bertanya langsung kepada Naya." Jelas Pak Dermawan.

Dan dari belakang Salsa tiba-tiba terdengar suara pelan.

"Naya disini, sudah di belakang anda."

Tubuh Salsa kaku.

"Kak."

Itu suara yang dia kenal. Suara Naya yang tidak mungkin dia salah dengar.

1
Sarah
Btw thor, tandain dulu ini ceritanya udah tamat pake label end. 👍
Sarah
REVIEW: “Dhahar: Jangan Mati di Rantau Naya”
Hasil rekomendasiku secara pribadi: Cocok untuk yang pengen baca horor tapi singkat. Suka alur cepat. Atau gak terlalu mentingin narasi yang penting ceritanya bagus.
Banyak banget yang mau aku ungkapin. [Kemungkinan bakal kepanjangan komennya. Jadi kelanjutannya aku lanjutkan di komen]

Cerita: Menarik. Tadinya kukira suasananya bakal penuh kecurigaan, ternyata tetep friendly dan asik. Langsung bikin penasaran di bab 1.

Pacing: Enak dibaca. Kupikir 10 bab awal bakal penuh ketegangan yang kayak mainin tensi aja. Eh ternyata langsung masuk konflik berat. Padahal biasanya horor/thriller pelan-pelan baru menuju konflik. Tapi karena ceritanya emang mau dibuat pendek, pacing segini udah pas.
Karakter: Ditulis bagus banget, berasa manusia dan punya hati. Beda sama cerita sejenis MC kerja di tempat gak bener dan seringkali semua karyawannya juga jahat selain MC, di sini mereka korban keadaan (kecuali Rosa, Zuan, Gian, dll yang memang pilih salah).
Sarah: Sad ending, Naya mati dan Pak Dermawan makin sakti. Lebih mending gini daripada ceritanya gantung, setidaknya kita tau akhirnya gimana. Cuma sayang:

1. Gak ada reaksi Kak Salsa pas Naya meninggal. Padahal dia keluarga dan punya porsi cerita yang cukup banyak menuju ending.

2. Momen Naya menyerah lalu kendali sepenuhnya pada Sari hingga Naya jadi mati itu poin KRUSIAL BANGET. Tapi malah cuma diceritain lewat dialog. Jadinya berasa jauh dari tokoh utama, padahal menuju akhir Naya udah jarang muncul. Harusnya kita bisa lebih ngerasa dekat sama dia, kan dia tokoh utama dan ceritanya tentang dia. Meskipun aku gak bilang keputusan untuk gak memunculkan momen itu adalah salah. Cuma berasa kurang aja bagiku pribadi.

KESIMPULAN DARIKU PRIBADI: ⭐⭐⭐⭐⭐
Singkat tapi worth it. Bagus. Semangat untuk karya kedepannya. 💪😊
total 2 replies
Sarah
Ending kah? Meskipun sad ending, jujur aku lebih lega. Maksudku... aku pas kemarin lihat bab yang terpublikasi cuma bab 25. Jadi aku pas kemarin udah, “Hah... cliffhanger... ” Jujur aja, meskipun sedih Naya mati... tapi aku lebih benci Cliffhanger (ending gantung) daripada sad ending meskipun aku juga maunya happy ending. Soalnya kalau cliffhanger tuh bikin kayak... ‘Arghhhh!’ gitu. Jadi, terimakasih sudah melanjutkan sampai bab 27. Aku seneng banget tadi pagi karena rupanya endingnya bukan di bab 25. 🙏🏼😭
Sarah: Iya... ssebenarnya masih ada yang jadi pertanyaan sih. Jadi agak cliffhanger juga. Cuma kayaknya lebih ke sad deh soalnya kalau MC mati yaudah... MC kalah, villain menang. Dan ya... tentang salsa itu emang salah satu kekurangan terbesar ending ini sih. Makanya aku juga udah kasih rating + review panjang banget dan bahasa kekurangan ending.
total 6 replies
Sarah
Jujur, chemistry mereka emang gak sedalam itu... tapi ada... jadi sedih juga sih. Enggak, jauh sebelum bab ini, sejak bab dimana mereka saling adu mulut... aku udah ngerasa sedih sih. Karena melihat gimana mereka di 7 bab awal tuh kayak... manis banget.
Sarah
Kan di sini dia berharap bisa lebih terbuka... atau melakukan sesuatu untuk menyelamatkannya...
Tapi emang ada caranya? Emang gak ada caranya... atau ada caranya tapi Rosa udah nyerah dan takut ambil resiko??
Sarah
😢
Sarah
...
Sarah
Balik ke setelan pabrik.
Sarah
Gak perlu lagi, Naya-nya emang udah mati, sayang.😭😩
Tapi... ini Abel dengan kesadaran penuhnya sendiri? Kalau Teh Intan taju Naya mati... harusnya dia berhenti ’kan?? Atau dia gak tahu tapi bohongin Kak Salsa doang? Hmmm...
Sarah
Yeyyyy!
Sarah
Rasa bersalah yah?
Sarah
Menurutku... itu lebih ke jasadnya doang sih yang digerakkan. Jiwanya harusnya udah gak ada. Tapi kalau itu emang cuma jasad... bukannya jasad Nesya ditemukan tidak utuh di taman? Harusnya masih ada di sana... ’kan?? Atau mungkin...! Ini tubuh ciptaan aja gitu? Semacam tubuh baru/wadah baru. Tapi modelnya Nesya.
Anyue: bisa jadi authornya bingung mau pakai tubuh siapa 😁
total 1 replies
Sarah
Ah, aku masih inget banget momen ini. Dan suka kalimatnya Nesya.
Sarah
Zuan...! 💢💢💢
Sarah
Buat apa pula... Si Zuan buang dia ke Taman Bermain? Ya kan meskipun nyari bukti mereka susah tapi kan jadi ketahuan Nesya mati... rada-rada pea juga ini Si Zuan. Tapi kalau buat pembaca seperti gue...
baguslah, setidaknya ada yg tahu Nesya mati. 😃😭
Sarah
Jujur, kasihan pacarnya sih... karena Si Rosa-nya... yah... tau sendirilah...
Sarah
Kok dia gak kenapa-napa meski ngasih rahasia itu? Gak ada bunyi... “TENG!” sialan itu. Apa karena dia membuat kontrak dengan
iblis? Atau karena apa?
Sarah
Tumben baik mau ngasih info.
Sarah
Btw, Thor. Ini serius tamat besok? Habis pas baca bab ke sini-sini rasanya kayak... belum ketemu titik terang buat resolusi konfliknya. Takutnya nanti jadi tamat terburu-buru dan endingnya jadi... apalah pula. Jujur takut sih. 😩
Sarah: Jujur takut sama endingnya. Karena gue belum melihat jalur resolusi/penyelesaian konflik. Tapi semangat. 😩
total 2 replies
Sarah
Mungkin ini “Nesya” dalam tanda kutip. Kayak bayangan gitu kah? Nesya palsu?
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!