NovelToon NovelToon
Rahasia Sang Pengantin : Gadis Berniqab Dan Cassian Noir

Rahasia Sang Pengantin : Gadis Berniqab Dan Cassian Noir

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / CEO / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:929
Nilai: 5
Nama Author: nurproject

Penerbangan dua belas jam menuju Kanada seharusnya menjadi awal hidup baru yang tenang bagi Aisya. Gadis sederhana yang hanya ingin mengejar mimpinya itu tidak pernah menyangka bahwa kursi economy class yang ia tempati akan membawanya masuk ke dalam pusaran hidup Cassian Noir.

​Cassian, pria dengan aura mengintimidasi dan tatapan setajam silet, duduk di sana bukan untuk berlibur. Ia sedang melarikan diri dari pengkhianatan di organisasinya. Pertemuan singkat di atas Samudra Atlantik itu bermula dari sebuah ketidaksengajaan—sebuah bantuan kecil dari Aisya yang justru membuat Cassian melihat sesuatu yang berbeda di balik niqab gadis itu: Ketulusan tanpa rasa takut.

​Namun, sebuah insiden di tengah penerbangan memaksa mereka untuk mendarat dalam situasi yang tidak terduga. Cassian yang terluka dan terpojok mengklaim Aisya sebagai "pengantinnya" demi menyelamatkan nyawa gadis itu dari musuh yang sudah menunggu di bandara.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon nurproject, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 16: Garis Batas yang Tegas

​Kartu nama hitam dengan ukiran emas itu masih tergeletak di atas meja kayu perpustakaan kota. Pendar cahaya lampu meja membuat nama Cassian Noir di atasnya tampak berkilau, seolah memanggil Aisya untuk mengambilnya.

​Aisya menatap kartu itu cukup lama. Jantungnya sempat berdegup kencang karena godaan dari tawaran Cassian begitu besar bagi seorang pencinta literatur seperti dirinya. Mengakses manuskrip asli abad pertengahan adalah impian terbesar dalam risetnya.

​Namun, akal sehat dan keimanannya segera mengambil alih kendali.

​Aisya memejamkan mata sejenak, mengucap istigfar dalam hati. Ia sadar betul siapa dirinya dan batasan apa yang harus ia jaga. Melangkah masuk ke dalam kediaman pribadi seorang pria lajang seperti Cassian—meskipun ada Kevin di sana—sudah jelas melanggar batasan syariat tentang khalwat dan campur baur yang selama ini ia agungkan. Ruang privat seorang miliarder bukanlah tempat yang aman untuk harga diri dan keteguhan imannya.

​Aisya perlahan mengulurkan tangan, namun bukan untuk mengambil kartu tersebut. Dengan ujung jarinya yang bergetar lembut, ia menggeser kembali kartu nama hitam itu ke arah Cassian.

​"Terima kasih atas tawaran Anda yang sangat luar biasa, Tuan Noir," ujar Aisya, suaranya terdengar begitu tenang, jernih, dan penuh penegasan dari balik niqab hitamnya. "Namun, saya tidak bisa menerimanya."

​Cassian sedikit menaikkan sebelah alisnya. Sepasang mata elangnya menyipit, menatap kartu nama yang dikembalikan dan wajah Aisya bergantian. Ego pria itu kembali terusik. "Kau menolaknya? Kau tahu seberapa besar nilai dari manuskrip yang kutawarkan di dalam sana, Aisya? Bahkan para profesor sejarah di universitasmu pun harus mengemis untuk bisa melihatnya."

​"Saya tahu nilai buku-buku itu sangat tinggi, Tuan. Tapi nilai dari prinsip hidup saya jauh lebih tinggi," jawab Aisya dengan binar mata yang memancarkan ketegasan mutlak. Ia mendongak, menatap Cassian tanpa rasa takut lagi. "Sebagai seorang muslimah, tidak sepantasnya saya mendatangi kediaman pribadi seorang pria yang bukan mahram saya, untuk alasan apa pun. Kehadiran Tuan Kevin pun tidak mengubah fakta bahwa itu adalah ruang privat Anda."

​Cassian terdiam. Ruangan di sekitar mereka mendadak terasa makin senyap. Di belakang, Kevin yang mendengarkan percakapan itu diam-diam menahan napas, takjub dengan keberanian Aisya menolak mentah-mentah kemurahan hati sang bos besar demi sebuah prinsip moral.

​"Saya menghargai semua bantuan terselubung yang sudah Anda berikan untuk keluarga saya dan tempat saya bekerja seminggu ini. Saya sangat berterima kasih," lanjut Aisya dengan nada tulus namun berjarak. "Tapi untuk urusan riset saya, perpustakaan umum kota yang ramai dan terbuka seperti ini adalah tempat terbaik dan paling aman bagi saya. Saya permisi, Tuan Noir. Assalamualaikum."

​Aisya segera merapikan buku catatan dan pulpennya, memasukkannya ke dalam tas dengan gerakan cekatan. Tanpa menunggu respons lebih lanjut dari Cassian, ia berdiri dan melangkah pergi dengan kepala tegak, meninggalkan sudut perpustakaan itu dengan langkah kakinya yang kecil namun mantap.

​Cassian tetap duduk di kursinya, mematung menatap punggung mungil berpakaian serba hitam itu yang perlahan menghilang di balik deretan rak buku. Tangannya perlahan mengambil kembali kartu nama hitam di atas meja. Untuk pertama kalinya dalam hidup seorang Cassian Noir, kekuatan uang, pengaruh, dan kekuasaannya mentok tak berdaya di hadapan selembar kain niqab dan keteguhan prinsip seorang gadis asing.

​Setelah kepergian Aisya yang meninggalkan penolakan telak di perpustakaan kota, Cassian kembali ke dunianya yang dingin dan penuh tuntutan. Keteguhan gadis itu masih menyisakan sedikit rasa tidak biasa di benaknya, namun malam ini, ada urusan dinasti yang jauh lebih mendesak yang harus ia hadapi.

​Mobil Rolls-Royce Ghost miliknya meluncur membelah malam menuju ke kawasan elit Rosedale, berhenti di depan sebuah manor bergaya klasik abad ke-19 milik keluarga besar Noir. Malam ini adalah acara makan malam privat keluarga—sebuah agenda yang paling malas didatangi Cassian, namun tidak bisa ia hindari.

​Kevin membukakan pintu mobil. "Tuan Noir, Tuan Besar Alexander Noir dan keluarga Winston sudah menunggu di dalam ruangan perjamuan utama."

​Cassian hanya mengangguk dingin, merapikan kancing jas formal hitamnya sebelum melangkah masuk.

​Suasana di dalam ruang makan mewah itu tampak begitu formal. Lilin-lilin kristal menyala di atas meja panjang yang dipenuhi hidangan kelas atas. Di ujung meja, duduk Alexander Noir, ayah Cassian yang berwajah tegas dan berambut keperakan, didampingi oleh Tuan dan Nyonya Winston—pemilik jaringan hotel terbesar di Amerika Utara. Di samping mereka, duduk Rebecca Winston, seorang wanita muda bergaun desainer yang tampak anggun namun anggunnya terasa dibuat-buat.

​"Kau terlambat sepuluh menit, Cassian," sambut Alexander Noir, suaranya berat dan penuh wibawa seorang patriark.

​"Urusan bisnis, Dad," sahut Cassian pendek, mengambil tempat duduk di seberang Rebecca tanpa minat sedikit pun.

​Makan malam berlangsung dengan obrolan seputar pergerakan saham dan ekspansi pasar, hingga akhirnya Alexander Noir mengetukkan gelas kristalnya pelan, mengubah atmosfer ruangan menjadi jauh lebih serius.

​"Cassian, Rebecca baru saja menyelesaikan gelar master-nya di London dan akan mulai menetap di Toronto," ujar Alexander, matanya menatap tajam putra tunggalnya. "Kami, keluarga Noir dan Winston, sudah menyepakati bahwa aliansi bisnis kita harus diperkuat dengan ikatan yang legal. Bulan depan, pertunangan kalian akan diumumkan."

​Cassian menghentikan gerakan pisau makannya sejenak. Matanya menyipit menatap sang ayah. "Aku tidak ingat pernah menyetujui kesepakatan konyol ini."

​"Ini bukan lelucon, Cassian," potong Alexander tegas, tidak menerima bantahan. "Keluarga kita tidak seperti kalangan kelas menengah atau selebritas murahan di luar sana yang membiarkan anak-anak mereka hidup bersama tanpa ikatan, bergonta-ganti pasangan, atau kumpul kebo yang merusak nama baik. Kita adalah Noir. Setiap langkah, hubungan, dan pernikahan kita adalah tentang reputasi dan legalitas hukum kekayaan keluarga. Kau tidak akan menyentuh wanita mana pun di luar sana tanpa status hukum yang jelas."

​Rebecca Winston tersenyum tipis, menatap Cassian dengan pandangan penuh percaya diri bahwa pria paling diinginkan di Toronto ini akhirnya akan menjadi miliknya.

​Mendengar khotbah panjang tentang 'kesucian reputasi' dan aturan ketat keluarganya, pikiran Cassian entah bagaimana mendadak terlempar kembali pada sosok gadis mungil berniqab yang siang tadi menolaknya mentah-mentah.

​“Nilai dari prinsip hidup saya jauh lebih tinggi... Tidak sepantasnya saya mendatangi kediaman pribadi seorang pria yang bukan mahram saya.”

​Cassian mendengus sinis dalam hati. Sungguh ironis. Di saat dunianya yang serbamegah ini menuntut batasan moral hanya demi menjaga selembar kertas saham dan reputasi korporat, gadis asing itu menjaga batasannya murni karena kepatuhan mutlak pada Tuhannya. Dan entah mengapa, kepatuhan tulus Aisya terasa jauh lebih nyata dan terhormat di mata Cassian daripada sandiwara perjodohan bisnis di hadapannya ini.

​Cassian meletakkan serbetnya di atas meja, lalu berdiri tegak.

​"Jika ini hanya tentang reputasi dan dokumen legal, kalian bisa menandatanganinya sendiri di atas kertas saham," ujar Cassian dingin, suaranya membuat suhu ruangan seketika anjlok. "Aku tidak suka hidupku diatur, Dad. Permisi."

​Tanpa memedulikan panggilan geram ayahnya dan wajah terkejut keluarga Winston, Cassian berbalik dan melangkah lebar meninggalkan ruang perjamuan, mengabaikan perjodohan yang dirancang untuknya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!