NovelToon NovelToon
Sentuhan Semalam

Sentuhan Semalam

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO
Popularitas:8.2k
Nilai: 5
Nama Author: Abil_

Hidup seorang wanita hancur dalam satu malam setelah memergoki tunangannya berselingkuh dengan orang terdekatnya. Dalam kondisi patah hati dan mabuk berat, dia tidak sengaja menghabiskan malam yang penuh gairah dengan seorang pria asing di dalam kamar hotel mewah. Pria itu ternyata adalah seorang CEO muda terkaya yang terkenal sangat dingin, kejam, dan berkuasa di dunia bisnis.

Keesokan paginya, wanita itu kabur karena panik dan memilih menghilang tanpa jejak. Enam tahun kemudian, dia terpaksa kembali ke ibu kota demi menghidupi anak kembar hasil dari malam itu. Tanpa diduga, anak kembarnya malah tidak sengaja bertemu dengan sang CEO karena wajah mereka yang sangat mirip.

Sang CEO yang selama ini terobsesi mencari wanita misterius dari masa lalunya langsung bergerak cepat. Begitu tahu kebenarannya, dia langsung menjerat wanita itu masuk ke dalam hidupnya kembali melalui pernikahan paksa demi hak asuh anak. Dari sinilah hubungan mereka yang penuh gengsi, rahasia, dan ketegangan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Abil_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Taring Sang Penguasa

Perintah Xavier laksana titah raja yang tak boleh ditunda sedetik pun. Hanya dalam waktu kurang dari satu jam setelah kepergian Daniel, atmosfer di sekitar mansion Arisatya berubah drastis. Penjagaan yang semula sudah ketat, kini menjelma menjadi benteng militer yang tak kasat mata.

Helikopter patroli swasta milik Arisatya Group sesekali melintas rendah di atas perbukitan elite, sementara puluhan pria berjas hitam dengan senjata tersembunyi mulai menyisir setiap sudut perimeter luar.

Di dalam ruang kerja pribadinya yang bernuansa kayu ek gelap, Xavier berdiri menghadap jendela besar yang langsung mengarah ke gerbang utama.

Kemeja hitamnya kini dilapisi oleh rompi antipeluru tipis berspesifikasi tinggi, menegaskan bahwa dia tidak sedang bermain-main dengan ancaman The Black Viper.

Tok, tok.

Pintu terbuka tanpa menunggu jawaban. Daniel melangkah masuk dengan napas yang sedikit memburu, membawa selembar cetakan peta satelit digital dan beberapa berkas profil target.

"Tuan Xavier, tim Alpha sudah bergerak di lapangan. Kami berhasil mengintersep jalur komunikasi terenkripsi milik salah satu orang kepercayaan mendiang pimpinan The Black Viper terdahulu.

Nama samarannya adalah 'Viper Hitam', dan dia saat ini bersembunyi di gudang logistik terbengkalai dekat dermaga lama pelabuhan utara," lapor Daniel cepat, meletakkan berkas itu di atas meja kerja marmer.

Xavier tidak langsung berbalik. Dia mengembuskan napas panjang, menciptakan kabut tipis di kaca jendela karena suhu AC yang sangat dingin. "Apakah mereka menyadari bahwa Valencia telah bernyanyi di dalam selnya?"

"Sepertinya belum, Tuan. Tim kami bergerak sangat senyap sebelum berita kepindahan Valencia ke fasilitas psikiatri bocor ke media. Namun, ada satu hal yang mencurigakan.

Dua jam lalu, ada manifes pengiriman barang ilegal dari gudang tersebut yang ditujukan ke sebuah alamat fiktif di dekat kompleks perumahan ini," lanjut Daniel, wajahnya mengeras. "Mereka sepertinya sedang merencanakan sesuatu untuk memancing Anda keluar."

Xavier membalikkan tubuhnya perlahan. Sepasang mata elangnya berkilat dipenuhi oleh kekejaman yang murni. Senyuman tipis yang dingin terukir di sudut bibirnya—sebuah ekspresi yang selalu menandakan bahwa lawan bicaranya sedang menghadapi ajal.

"Memancingku keluar?" Xavier mendengus hambar, melangkah mendekati mejanya dan menyambar sebuah senjata api laras pendek jenis Sig Sauer dari dalam laci rahasia.

"Kecoak-kecoak itu terlalu meremehkan siapa yang sedang mereka hadapi. Mereka pikir dengan bersembunyi di lubang got tua, aku tidak bisa membakar mereka hidup-hidup?"

Xavier menyelipkan senjata itu ke dalam sarung tersembunyi di balik jasnya, lalu menatap Daniel dengan tatapan yang sangat tajam. "Siapkan mobil baja biasa.

Jangan gunakan iring-iringan Rolls-Royce. Aku sendiri yang akan datang ke dermaga itu dan mencabut taring mereka hingga ke akar-akarnya."

Sementara itu, di kamar tidur utama, Eli duduk di tepi ranjang dengan perasaan yang luar biasa gelisah. Jari-jarinya tanpa sadar terus meremas kain gaun rumahannya, sementara matanya tidak lepas dari pintu kamar yang tertutup rapat.

Berita tentang keterlibatan sindikat bawah tanah bernama The Black Viper benar-benar menjungkirbalikkan sisa ketenangan yang baru saja dia miliki.

Cklek.

Pintu kamar terbuka. Sosok tinggi tegap Xavier melangkah masuk, lengkap dengan jas hitam formalnya yang terkancing rapi. Namun, aura yang dipancarkan pria itu kali ini bukan lagi sekadar aura CEO yang angkuh, melainkan aura seorang predator puncak yang siap berburu.

Eli langsung berdiri, melangkah cepat mendekati suaminya dan mencengkeram kedua sisi kerah jas Xavier dengan tangan yang gemetar. "Kamu... kamu mau pergi ke pelabuhan utara, bukan? Xavier, jangan gila! Daniel bilang mereka adalah sindikat berbahaya. Bagaimana jika ini jebakan untuk menjebakmu?"

Xavier menatap wajah cemas istrinya dengan pandangan yang mendadak melembut. Dia menangkap kedua pergelangan tangan Eli, menurunkan tangan mungil itu dari kerah jasnya lalu menggenggamnya erat di depan dada bidangnya.

"Eli, dengarkan aku," ujar Xavier, suara baritonnya terdengar begitu rendah, dalam, dan sarat akan penekanan yang menenangkan. "Enam tahun lalu, mereka menggunakanmu untuk mengotori hidupku dan membuatmu menderita dalam pelarian.

Hari ini, aku tidak akan membiarkan bayang-bayang mereka beredar lebih lama lagi di sekitar kita. Aku pergi bukan untuk dijebak, tapi untuk mengeksekusi mereka."

Xavier menunduk, menarik tubuh Eli masuk ke dalam dekapan posesifnya untuk terakhir kali sebelum dia pergi. "Tetap di kamar ini bersama anak-anak. Jangan biarkan siapa pun masuk kecuali Daniel atau Bibi Ami.

Aku berjanji... sebelum matahari terbenam, aku akan kembali ke sini membawa kedamaian mutlak yang pantas kamu miliki."

Xavier mendaratkan sebuah ciuman yang sangat dalam, kasar, dan penuh gairah di bibir Eli, seolah sedang menyegel janji setianya sebagai seorang pelindung tertinggi.

Sebelum Eli sempat membalas, Xavier sudah melepaskan pelukannya perlahan, berbalik melangkah tegas keluar kamar tanpa menoleh lagi, meninggalkan Eli yang hanya bisa menatap punggung suaminya dengan air mata yang mulai menggenang di sudut mata—berdoa agar sang serigala penguasa kembali dengan kemenangan mutlak di tangannya.

1
Wine Wins
dobel up
Bu Dewi
seru kak 👍👍👍👍😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!