*Novel dengan Alur Sat Set dan Bab Pendek.*
Junee tidak pernah menyangka akan bertemu lagi dengan Ben Pratama.
Anak culun yang dulu ia tolak di SMA, sekarang jadi CEO muda yang dingin dan sukses. Ketika panti asuhan tempat Junee mengabdi terancam digusur, satu-satunya jalan keluar adalah menerima tawaran Ben: Menjadi istri kontraknya selama satu tahun. Tidak ada cinta. Hanya kesepakatan.
Begitu pikir Junee. Tapi tinggal serumah dengan Ben ternyata tidak sesederhana itu. Setiap tatapannya penuh teka-teki. Setiap sikapnya seperti menyimpan amarah yang belum selesai.
Junee mulai bertanya: Apakah Ben benar-benar membencinya? Atau selama ini, ia salah paham tentang alasan penolakan itu? Satu tahun. Satu kontrak. Satu kesempatan untuk memperbaiki masa lalu. Pertanyaannya… apakah hati mereka masih bisa diperbaiki?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Five Vee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
7. Peringatan Pertama.
Pukul 07.00 - Keesokan Harinya.
Junee terbangun karena aroma kopi.
Ben sudah mandi dan telah rapi, dengan setelan kerja. Ia tengah duduk di atas sofa, sembari mengecek email melalui ponselnya.
Ben melihat sang istri telah terbangun.
“Pagi. Apa kepala kamu masih pusing?” Tanya pria itu.
Junee duduk bersandar pada kepala ranjang. Wanita itu merasa malu. “Masih sedikit.” Ucapnya pelan.
Ben kemudian bangkit dari tempat duduknya, lalu menghampiri sang istri.
“Minum air dulu.” Ia menyodorkan segelas air putih pada Junee, dan wanita itu pun menerimanya.
“Aku sudah mengatakan pada sopir, untuk menjemput kita jam 9.” Imbuh pria itu lagi.
Junee mengangguk paham. Ia hendak turun dari atas ranjang, namun Ben menahannya.
“Junee.”
“Iya?”
“Untuk tadi malam, terima kasih. Aku sangat senang.” Ucap pria itu.
Junee menyunggingkan sudut bibirnya. “Aku juga senang, Ben.”
Ben ikut tersenyum. Kemudian mengusap kepala sang istri dengan lembut.
“Pergilah bersiap. Setelah itu kita sarapan.”
“Iya, Ben.” Junee pun melangkah menuju kamar mandi.
Ben menatap bayangan sang istri, hingga menghilang di balik pintu kamar mandi.
Ia tidak menyangka, jika rencana balas dendamnya akan berakhir secepat ini.
Rasa cinta Ben, lebih besar dari sakit hatinya. Karena itu, dengan mudah ia menerima Junee. Dan melupakan kesalahpahaman di antara mereka.
‘Junee tidak salah. Tetapi waktu kita yang tidak tepat saat itu.’ Monolog batin pria berusia 28 tahun itu.
Junee di kamar mandi tidaklah lama. Lima belas menit kemudian ia telah kembali. Tak ingin membuat Ben menunggu terlalu lama.
“Kamu mau sarapan apa?” Tanya Ben saat sang istri mendekat ke meja makan.
Junee melihat hidangan yang tersaji. Ada nasi goreng, roti isi, salad buah, dan beberapa jajanan pasar.
“Kenapa memesan sebanyak ini?” Tanya Junee sembari duduk.
“Biar kamu makan banyak. Kamu lebih kurus dari 10 tahun yang lalu, Junee.” Ucap Ben.
Suasana tiba - tiba menjadi hening. Junee tak memberikan tanggapannya.
“Maaf. Aku tidak bermaksud. Pasti banyak hal yang telah kamu lewati selama ini.” Ben mengusap punggung tangan sang istri dengan lembut.
Junee menggelengkan kepalanya kemudian tersenyum tipis.
“Boleh aku makan semuanya?” Tanya wanita itu.
“Boleh. Mari kita makan bersama.” Ucap Ben sembari menyiapkan piring untuk sang istri.
Setelah selesai sarapan, Junee merapikan sisa barang - barang mereka. Memasukkan ke dalam sebuah tas berukuran sedang.
“Sudah siap semua?” Tanya Ben.
Junee menganggukkan kepalanya.
“Sopir sudah di bawah.” Ucap pria itu, kemudian mengambil alih tas itu.
Mereka pun keluar dari kamar hotel itu.
Vania sudah menunggu di lobi hotel. Wajahnya kaku, saat melihat Ben keluar dari lift sembari menggenggam tangan Junee.
“Selamat pagi, pak Ben, Bu Junee.” Sapa dengan terpaksa.
Mata Vania seolah memindai penampilan Junee dari atas kepala hingga kaki.
‘Apa istimewanya wanita kampungan ini? Sehingga pak Ben melakukan semuanya untuk dia? Seharusnya, aku yang ada di samping pak Ben.’
“Kamu bisa pergi ke kantor lebih dulu. Saya mau mengantar istri saya.” Ucap Ben pada Vania.
Mata wanita itu sempat membulat, namun dengan segera ia berpura - pura tersenyum.
‘Sial. Kalau tau seperti ini, lebih baik aku langsung pergi ke kantor. Dasar wanita murah-an. Kamu tidak akan pernah bisa merebut hati pak Ben.’ Vania mengumpat dalam hatinya.
“Ayo, Junee. Aku antar kamu ke panti.” Ucap Ben sembari menuntun sang istri keluar dari lobby.
Junee menganggukkan kepalanya. Ia tak perduli dengan tatapan sekretaris sang suami yang secara nyata tak menyukainya.
“Si Junee itu pasti semakin besar kepala sekarang.” Geram Vania.
Amarah wanita itu semakin menjadi ketika membaca pesan di grup WA kantor. Para karyawan dari devisi lain mulai ikut membicarakan atasan mereka.
“Gi-la guys, tadi malam Pak Ben sama istrinya menginap di hotel. Aku lihat kemarin pak Ben gendong istrinya masuk kamar.”
“Wajarlah, mereka ‘kan suami istri.”
“Iya sih… tapi ‘kan gosipnya nikah kontrak.”
“Siapa yang tahan sama istri cantik? Pak Ben juga manusia.”
“Padahal istrinya cuma guru panti asuhan. Cantik juga kalau berdandan.”
“Ternyata pak Ben yang kaku itu bisa juga ya? Pasti per-kasa sekali dia.”
“Bu guru itu pasti kewalahan meladeni pak Ben di atas ranjang.”
“Jangan membayangkan yang bukan hak kita.”
Vania membaca semua pesan itu. Ia meremat ponselnya dengan kencang.
“Awas kamu Junee.”
Wanita itu menghentakan kakinya dengan kencang saat keluar dari lobby hotel.
Saat tiba di kantor, baru lima menit Vania menempati kursi kerjanya, sang atasan sudah muncul di hadapannya.
“Saya mau bicara sama kamu.” Ucap Ben pada Vania tepat di depan meja kerja wanita itu.
Sang sekretaris dengan cepat mengekori langkah Ben masuk ke dalam ruangan pria itu.
“Ada yang bisa saya bantu, pak?” Tanya Vania dengan sopan.
“Saya ingin memberi peringatan sama kamu. Jika kamu berani menganggu istri saya lagi, tidak akan ada toleransi untuk kamu lagi, Vania.” Ucap Ben dengan tegas.
Vania gelagapan. “S-saya tidak melakukan apapun, pak.” Ucap wanita itu.
‘Si—alan. Ternyata guru kampungan itu mengadu sama pak Ben.’ Vania semakin dendam pada Junee.
“Apapun yang Bu Junee adukan sama bapak, itu tidak benar. Saya tidak mungkin berani dengan istri bapak.” Imbuh wanita itu.
Ben menghela nafas kasar. “Saya harap, kamu tau batasan kamu, Vania.”
“Tentu, pak. Saya sangat tau batasan saya.” Ucap wanita itu.
“Kamu boleh pergi.” Ucap Ben kemudian.
Vania menganggukkan kepalanya. Kemudian pergi meninggalkan ruangan sang atasan.
- - -
Malam harinya di Penthouse.
Junee masuk ke kamar utama tanpa disuruh.
Ben sedang bekerja dengan laptopnya. Saat melihat sang istri datang, ia pun menyimpan komputer lipat itu.
“Kemarilah.” Ben mengulurkan tangannya, meminta sang istri untuk mendekat padanya.
Wanita itu menurut. Saat berada dua meter di pinggir ranjang, Ben pun menarik hingga Junee jatuh di atas pangkuannya.
“Ben… tentang Vania…”
“Lupakan. Aku sudah bicara sama dia pagi ini. Dan memberikan peringatan. Aku tidak akan memberikan toleransi, jika dia berani lagi sama kamu.” Ucap pria itu.
Junee mengangguk. Ia memberanikan diri mengalungkan tangannya pada leher sang suami.
“Terima kasih sudah membela aku.”
Ben pun memeluk pinggang wanita itu.
“Aku akan terus membela kamu, Junee. Selamanya.”
Wajah mereka perlahan medekat. Seperti medan magnet, yang saling menarik satu sama lain.