Naja Belial muncul saat keadilan gagal. Dia tidak datang untuk menyelamatkan, tapi untuk memastikan dosamu dibayar lunas.
Saat hukum bisa dibeli.
Saat kebenaran dimanipulasi.
Saat manusia saling menghancurkan demi kepentingan sendiri…
Entitas urban legend itu akan datang.
Ada yang menganggapnya penyelamat.
Ada pula yang menyebutnya kutukan.
Lalu, apakah keadilan yang dipaksakan benar-benar lebih baik daripada kehancuran yang dibiarkan?
Story by Instagram & Tiktok @penulis_rain
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rain (angg_rainy), isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 9 : Konten Influencer Fake
Berita aplikasi verdict dan sosok Naja sudah hampir diketahui oleh seluruh kota. Bukan cuma satu sekolah saja tapi semua sekolah. Memang tidak semua aplikasi memiliki nama yang sama tapi fungsinya tetap sama.
Saat ini, semua siswa mencoba untuk waspada dengan aplikasi baru ini. Mereka bersikap baik untuk mendapatkan skor kebaikan tertinggi dan bersaing dalam bersedekah. Bahkan anak-anak nakal pun berpura-pura ikut menolong murid lain yang kesusahan.
Sekilas tidak ada masalah sama sekali dalam perbuatan mereka. Sampai suatu hari, Naja yang sedang menyamar di suatu sekolah tidak sengaja melihat salah satu siswi sedang berlutut sambil mengulurkan makanan pada seorang pengemis.
"Pak, ini ada sedikit rezeki dari saya, tolong diterima ya," ucap siswi itu lembut sambil tersenyum manis pada pengemis itu.
Pengemis itu menerima makanan yang diberikan siswi itu dengan penuh rasa haru sampai tak sadar gemetar. Bola matanya berkaca-kaca, dia tersenyum membalas tatapan lembut siswi itu.
"Terimakasih banyak, Nak."
Siswi itu tidak begitu memperhatikan pengemis. Dia sibuk dengan rekaman yang ada di ponsel. Sejenak dia melambaikan tangan di depan kamera seolah baru saja membuat konten menarik di sosial media. Komentar-komentar penuh pujian membuat dia mengeluarkan senyum manisnya. Akan tetapi, senyum itu tidak tulus dan terkesan sombong.
[Wah baik sekali kak Keisha, semoga Tuhan membalas kebaikannya kak]
[Harusnya si kak Keisha dapat hadiah dari Naja]
Komentar-komentar netizen itu membuat Keisha merasa nge fly. Dia tersenyum bangga sambil menjawab, "Terimakasih, guys dukungannya! Makasih ya udah mau nonton konten aku!"
Setelah itu, Keisha menutup rekaman live nya. Dia memasukkan ponselnya ke saku. Gadis itu menengok ke belakang. Senyumannya meredup dan tatapan matanya berubah sinis saat melihat pengemis itu memakan makanan yang diberikan.
"Pak, siapa yang suruh kamu makan ini, hah?!" tegur siswi itu, kesal.
Pengemis itu sontak mendongakkan kepala dan mengerutkan kening, tidak mengerti apa yang barusan diucapkan oleh Keisha. Dia menaruh makanan di sebelah.
"Apa maksudmu, Nak?" Pengemis itu bertanya lugu.
Keisha menatap dengan kesal. Dia berjongkok, secara kasar merampas kotak makan yang beberapa menit lalu dia berikan pada pengemis itu. Si pengemis kaget, pupil matanya sedikit membesar tidak percaya dengan apa yang dilakukan Keisha.
"Kenapa kamu ambil lagi?! Bukannya kamu sudah berikan pada saya?" tegur pengemis itu dengan suara keras dan sedikit berair mata.
Keisha tertawa pelan. "Pak, saya tuh ngasih ini demi konten, agar skor kebaikan saya bisa naik.” tegas gadis itu.
Pengemis itu mengerutkan kening. "Jadi kamu tidak tulus pada saya?"
Keisha mengangkat bahu tak acuh. Dia memutar bola matanya malas sambil melipat kedua tangan di depan dada. Gadis itu menarik napas panjang. Sesaat, dia tersenyum sinis menatap pengemis.
"Pak, yang namanya rezeki itu tidak ada yang datang secara gratis. Mendingan bapak usaha dan kerja deh, jangan jadi pengemis," sindir Keisha, suaranya terdengar sinis dan meremehkan keadaan pengemis.
"Kalau kamu memang tidak ikhlas membantu, harusnya dari awal kamu bilang. Tidak perlu memberi saya harapan palsu dengan kontenmu itu," tegur pengemis dengan suara kecewa. Dia menghela napas panjang dan menghapus air matanya.
Keisha mengangkat bahu tak acuh. Dia memanyunkan bibir dan tersenyum sinis menatap pengemis. Gadis itu sedikit membungkuk, mendekat pada pengemis dengan senyuman tak acuh.
"Harusnya bapak bersyukur sudah saya bantu viral kan dengan konten saya. Lagipula, orang lebih senang dengan konten kebaikan daripada melihat pengemis yang tidak berguna," jelas Keisha.
Pengemis itu menggelengkan kepalanya, dia merasa sakit hati dengan sikap Keisha. "Astaga, tega sekali kamu, Nak. Saya berdoa kamu segera mendapat pelajaran agar tidak semena-mena!"
"Silakan, saya bukan orang bodoh seperti bapak yang akan diam saja lalu mengemis menunggu orang iba. Kamu tidak bisa macam-macam sama saya. Saya anak orang kaya!" ucap Keisha dengan suara lantang, senyum penuh keangkuhan.
Mendengar keributan itu, Naja merasa tidak nyaman apalagi sikap Keisha yang seperti menang sendiri dari bapak tersebut. Dia yang sedang menyamar menjadi murid biasa pun segera menghampiri mereka dengan tatapan tajam.
"Ada apa ini? Kenapa ribut-ribut?" tegur Naja. Dia memandang Keisha dan pengemis itu secara bergantian.
Keisha mengangkat bahu tak acuh. "Bukan urusanmu!" jawabnya singkat lalu berbalik dan pergi meninggalkan Naja yang sibuk dengan pengemis.
Pengemis itu tiba-tiba saja menangis. Dia memejamkan mata dan mengelus dadanya yang terasa sesak. Napas pria tua itu tersengal. Sesaat, ia menoleh pada mangkok yang biasa dia pakai untuk mengemis. Mangkok itu sudah terbalik dengan uang yang jatuh berserakan. Melihat itu, tangan pengemis mengepal, tidak terima dengan sikap Keisha yang berpura-pura baik padanya.
Naja tersenyum sambil menepuk pundak pengemis itu.
"Jangan khawatir, Pak. Aku akan memberikan Keisha itu pelajaran yang tidak terlupakan." gumam Naja sambil tersenyum menatap tajam ke depan.
“Nah sekarang, ini buat bapak.” Tiba-tiba muncul beberapa bahan makanan pokok seperti bihun, beras dan minyak goreng di depan bapak itu.
“Hah? Sebanyak ini nak? Tidak apa-apa?” Pengemis itu tidak menyangka bahwa Naja yang berpakaian sederhana malah memberi banyak kebaikan.
Naja membalas dengan senyuman, “Tidak apa. Ayo pak. Saya antar bapak pulang saja. Hari ini sudah tidak usah mengemis lagi. Bapak juga harus mengajar ngaji ‘kan nanti malam?”
“Kamu? Tahu juga? Apakah kamu donatur yayasan panti kami?”
“Ah tidak, saya cuma orang lewat. Panggil saya Naja pak.”
“Ya Tuhan, terimakasih banyak nak Naja. Semoga bahagia selalu menyertai kamu.”
***
Sejak kejadian siang hari bersama pengemis, followers Keisha mendadak menurun. Bahkan setiap video yang dia upload di media sosial, hanya mendapat komentar hujatan. Hal ini sontak membuat Keisha merasa sedikit frustasi.
"Bagaimana audiensku bisa seperti ini?" tanya Keisha tak percaya sambil membaca setiap komentar.
Saat Keisha melewati koridor sekolah, dia dilihatin dengan sinis oleh orang-orang sekitar. Salah satu tidak segan-segan menyenggol bahunya dengan kasar, membuat dia hampir tersungkur.
"Kalau jalan lihat-lihat dong!" tegur Keisha tapi dibalas oleh tawa.
"Harusnya kamu yang sadar diri. Kamu sudah berbuat jahat menyakiti hati pengemis itu!" tegas salah satu siswi itu dengan acuh tak acuh. Dia berkata sambil berjalan maju. Tak sempat memperhatikan Keisha yang masih berdiri di pojokan.
Keisha mengerutkan kening. "Bukannya aku menolong?"
"Itu hanya di live, apa kau tidak melihat video mu setelah itu menindas pengemis? Rekaman itu viral di semua aplikasi verdict," ujar siswi itu dengan sedikit berteriak. Dia melirik Keisha dengan senyum sinis.
“Dasar Youtuber fake! Huh!”
Keisha mengerutkan kening. "Bagaimana itu bisa terjadi?" tanyanya tak percaya.
Tiba-tiba saja ponsel Keisha bergetar. Itu adalah notifikasi dari aplikasi verdict. Gadis itu membuka cepat dan melihat banyak sekali peringatan.
[VERDICT UPDATE]
[KEISHA AMELIA]
[Skor Kenakalan 45%]
Lalu di scroll ke bawah muncul notifikasi lagi.
[VERDICT UPDATE]
[KETIDAKTULUSAN KEBAIKAN]
Melihat itu, jantung Keisha seperti berdesir. Dia menghela napas dalam-dalam sambil melihat sekeliling. Seharusnya, semua tidak serusak ini, apalagi dia tadi habis membuat konten agar citranya menjadi bagus di mata orang. Gadis itu mengacak rambut frustasi.
"Bagaimana ini bisa terjadi? Apa ada orang diam-diam memantau ku?" tanya Keisha khawatir. Dia merasa pusing.
Di saat itu, Naja datang dengan senyum tipis. Dia memandang Keisha dengan perhatian tapi tajam dan tegas.
"Kalau kamu mau ini berakhir baik-baik, maka minta maaf dengan tulus. Baru semua orang akan berdamai denganmu!" tegur Naja.
Keisha mendengar nasehat itu seketika tersenyum dan mengusap air matanya. Itu bukan senyum polos tapi senyum aneh yang tidak bisa dijelaskan dengan kata-kata.