"Selamat, Ibu Alana. Bayinya laki-laki, sehat, dan tampan sekali," ucap sang dokter tersenyum hangat.
Alana mencium kening putranya dengan air mata yang terus mengalir. "Hai, sayang... Ini Ibu. Mulai hari ini, cuma ada kita berdua. Ibu berjanji akan menjagamu dengan seluruh hidup Ibu."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elwa Zetri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
KETIKAN YANG TERTAHAN
Malam telah larut, dan suasana di dalam rumah kecil itu kembali sunyi. Di dalam kamarnya, Arkana sudah terlelap dengan senyuman yang masih membekas di wajah mungilnya, kelelahan setelah mengeksplorasi gunungan mainan baru hingga menjelang waktu tidur.
Sementara itu, Alana berdiri di tengah ruang tengah yang kini tampak seperti cabang toko mainan. Kardus-kardus besar, plastik pembungkus, hingga potongan-potongan kecil lego berserakan di atas karpet.
Alana menghela napas panjang, bukan karena marah, melainkan karena merasa kewalahan dengan cara Samudera yang terlalu jor-joran dalam mengekspresikan rasa bersalah dan kasih sayangnya. Wanita itu mengikat rambutnya ke atas, lalu mulai berlutut untuk memunguti satu per satu mainan Arka.
Ia memasukkan mobil-mobilan elektrik ke dalam wadahnya, lalu menyusun kotak-kotak lego raksasa itu di sudut ruangan agar tidak mempersempit jalur berjalan. Sambil merapikan robot besar yang tadi sore dipeluk erat oleh Arka, Alana tertegun. Mainan-mainan ini sangat mahal—jenis mainan yang selama empat tahun ini hanya bisa Arka lihat lewat layar gawai atau etalase mal saat mereka tak sengaja lewat.
"Kamu benar-benar ingin memanjakannya, ya, Samudera?" gumam Alana lirih pada diri sendiri.
Ada perasaan campur aduk di dalam dada Alana. Di satu sisi, ia bersyukur melihat binar kebahagiaan di mata putranya yang belum pernah ia lihat secerah ini. Namun di sisi lain, ia juga takut jika kehadiran semua kemewahan instan ini akan mengubah kesederhanaan Arka yang selama ini ia didik dengan susah payah.
Setelah hampir satu jam berkutat, ruang tengah akhirnya kembali rapi. Alana menyeka keringat tipis di dahinya, lalu duduk di sofa sembari menatap deretan mainan baru yang kini berbaris rapi di pojok ruangan.
Sebuah notifikasi pesan masuk dari nomor baru tanpa foto profil tertera di sana.
Alana mengerutkan kening. Ia membuka pesan tersebut.
+62 811-XXXX-XXXX:
Apakah Arkana sudah tidur? Bagaimana keadaannya, Alana?
Alana tidak perlu menebak dua kali untuk mengetahui siapa pemilik nomor dengan digit premium tersebut. Bahasa yang formal namun sarat akan nada menuntut yang terselubung itu hanya milik satu orang: Samudera. Pria itu tampaknya baru saja mendapatkan nomor WhatsApp barunya dari Randy.
Alana menatap layar ponselnya selama beberapa detik, mengatur ritme ketukan jarinya agar tidak terdengar terlalu ramah, namun juga tidak sekasar beberapa jam yang lalu.
Alana:
Sudah. Dia tidur dari jam sembilan malam tadi karena kelelahan bermain dengan gunungan mainan yang kamu kirim.
Hanya butuh waktu kurang dari sepuluh detik hingga status di bawah nomor itu berubah menjadi 'typing...' lalu muncul balasan baru.
+62 811-XXXX-XXXX:
Baguslah. Maaf kalau mainan itu terlalu banyak, aku hanya ingin dia tahu bahwa dia memiliki apa yang anak lain miliki.
Lalu, bagaimana denganmu? Apa kamu sudah beristirahat?
Pertanyaan kedua dari Samudera membuat jemari Alana yang hendak mengetik balasan langsung membeku di udara. Perhatian kecil yang sudah empat tahun tidak pernah ia rasakan itu mendadak membuat dadanya terasa sedikit hangat, sekaligus asing. Alana berdeham pelan di tengah keheningan malam, mencoba mengabaikan debaran halus di dadanya sebelum kembali mengetik balasan.
Alana menatap balasan yang baru saja ia ketik. Kalimat itu terasa sangat singkat, bahkan cenderung dingin. Namun bagi Alana, itu adalah batasan terbaik yang bisa ia pasang malam ini. Ia tidak ingin Samudera berpikir bahwa dinding pertahanan yang ia bangun selama empat tahun bisa runtuh begitu saja hanya karena kiriman mainan dan satu perhatian manis di tengah malam.
Ia menekan tombol kirim.
Alana:
Aku baik-baik saja.
Setelah pesan itu terkirim, Alana berniat langsung mengunci ponselnya dan pergi ke kamar. Namun, dua centang biru langsung muncul di layar, disusul status 'typing...' yang kembali bergerak cepat. Pria di seberang sana tampaknya benar-benar sedang menatap layar ponselnya, menunggu respons dari Alana.
+62 811-XXXX-XXXX:
Istirahatlah, Alana. Kamu pasti lelah setelah hari ini.Jangan lupa, besok persiapkan keperluan Arkana untuk kelas online hari . Aku akan datang pagi-pagi sekali.
embaca pesan terakhir itu, Alana menghela napas pendek. Ada rasa lega yang menyusup di hatinya karena Samudera benar-benar mengingat janjinya dan tidak berniat untuk ingkar. Setidaknya untuk saat ini, ketakutan terbesar Alana bahwa Arka akan kecewa perlahan mulai terkikis.
Alana tidak membalas lagi pesan tersebut. Ia hanya membaca dan membiarkannya begitu saja. Sambil mematikan lampu ruang tengah dan menyisakan lampu tidur yang temaram, Alana melangkah masuk ke kamarnya sendiri. Di samping tubuh kecil Arkana yang mendengkur halus, Alana merebahkan diri, memikirkan bagaimana hari Senin besok akan mengubah hidup mereka berdua selamanya.