NovelToon NovelToon
CEO Terjebak Cinta Perjodohan

CEO Terjebak Cinta Perjodohan

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Dijodohkan Orang Tua / Janda
Popularitas:1.7k
Nilai: 5
Nama Author: Ica Marliani

Aku adalah Raka. Seorang Pebisnis yang telah mapan sebelum usia kepala tiga. Aku mempunyai kekasih seorang janda beranak satu, hubunganku di tentang oleh mama dengan alasan perbedaan pandangan adat dan statusnya.
Aku dijodohkan dengan seorang wanita yang sama sekali tidak aku kenal. Akankah mama berhasil menjdohkanku atau mama akan luluh dengan pilihanku.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ica Marliani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 3: Dilema Raka

Kamu di mana, Raka?

Sebuah WhatsApp masuk dari Ningsih. Aku sengaja mengabaikannya. Hari ini aku sedang mengambil cuti hari pertamaku. Sejak pagi, Ningsih sudah beberapa kali menghubungi, tetapi aku tak juga mengangkat.

Raka, tolong jelaskan kepadaku. Kenapa kamu tiba-tiba seperti ini. Aku hanya menuntut penjelasan dan kejelasan statusku.

Aku menarik napas. Rasanya sesak. Tak seharusnya aku menjadi pengecut seperti ini. Namun ini hanya sementara. Aku akan menjelaskan kepada Ningsih setelah sampai di kampung. Sebab, jika sekarang aku memberitahunya, ia pasti nekat menyusul ke bandara. Itu hanya akan mempersulit keadaanku.

Beberapa menit dari rumah, akhirnya aku sampai di Bandara Internasional Soekarno-Hatta. Sebentar lagi pesawat yang akan kutumpangi ke Padang segera berangkat.

Aku sedang berjalan menuju ruang pengecekan ketika ponselku berdering. Di layar terpampang sebuah panggilan dari Mama. Dengan perasaan berat, aku memutuskan untuk mengangkatnya.

“Raka, jam berapa kamu berangkat?” suara di seberang langsung meninggi.

“Iya, Ma. Sekarang aku sudah di bandara,” balasku pelan, tak berniat berdebat.

“Jam berapa kamu boarding?”

“Seperempat jam lagi, Ma.” Suaraku terasa makin berat.

Panggilan Mama bertabrakan dengan beberapa panggilan dari Ningsih. Tak lama kemudian, Dimas juga mengirim pesan WhatsApp padaku.

Pak, tadi Nyonya Ningsih beberapa kali ke kantor menanyakan Pak Raka.

Aku hanya membaca pesan dari Dimas, lalu mengabaikan telepon Mama.

“Raka?” suara Mama terdengar beberapa kali memanggilku. Pikiranku sudah berlapis-lapis.

“Iya, Ma.”

“Kamu sedang bersama perempuan jalang itu, Raka?” hardiknya.

Tubuhku terasa memanas.

“Mama, cukup, Ma. Kalau Mama memang tidak suka Ningsih, Raka mengerti. Tapi bukan berarti Mama bisa terus-menerus menghinanya,” sanggahku cepat. Tanganku gemetar, napasku memburu. Mama kadang memang keterlaluan.

“Kamu, ya! Bela terus perempuan itu!” suara Mama terdengar bergetar.

“Ma, Raka bukan membela Ningsih. Aku cuma tidak mau Mama terus memojokkan orang lain. Aku sudah menuruti keinginan Mama.”

Kuturunkan nada bicaraku agar Mama bisa menerima alasanku. Namun sambungan telepon langsung terputus. Aku tahu Mama marah.

Sekali lagi ponselku berdering. Nama Ningsih muncul di layar. Dalam keadaan bingung, akhirnya kupaksakan untuk mengangkat.

“Raka, kamu di mana?”

Tanpa basa-basi, suaranya langsung menghujamku.

“Aku cuti, sayang. Aku mau ke Padang. Setelah sampai nanti aku jelaskan,” balasku datar.

“Kamu sudah janji, Raka. Kamu akan mengajakku menemui Mamamu.” Suaranya terdengar serak.

“Ningsih, tidak semudah itu menemui Mama. Dari awal dia sudah tidak setuju hubungan kita.”

Terdengar Ningsih tertawa pasrah. Tawa getir, entah menertawakan kebodohanku atau dirinya sendiri.

“Aku sudah sangat yakin dengan jawaban ini, Raka. Kamu memang laki-laki pengecut yang pernah aku kenal!”

Ucapan itu menghantam gendang telingaku.

“Ningsih, aku tak punya pilihan. Semua keberhasilanku sekarang adalah doa dan usaha Mama. Aku hanya tidak mau menjadi anak durhaka. Tapi aku mencintaimu, tulus dari hati.”

“Haha, cinta? Kamu masih berani mengucapkan cinta, Raka? Cinta seperti apa ini? Bahkan kamu tak bisa memperjuangkan aku di depan keluargamu!”

Aku tertunduk lemas.

“Selama ini kamu hanya main-main dengan hubungan kita, Raka.”

“Kamu wanita pertama yang kupacari di Jakarta, Ningsih. Bahkan sampai sekarang aku masih setia padamu,” balasku pilu.

“Aku pastikan, Raka. Jika aku tak bisa bersamamu, aku juga tidak akan membiarkanmu bersama wanita pilihan Mamamu.”

Telepon terputus. Aku hanya bisa menggigit bibir. Perih.

Tak lama, panggilan boarding terdengar. Aku bergegas masuk ke pesawat. Langkah kakiku terasa berat. Aku berhasil dalam pekerjaan, tetapi gagal dalam percintaan. Sebentar lagi jodohku akan ditentukan Mama.

Sesampainya di dalam pesawat Garuda yang kutumpangi, pandanganku menyapu ke segala penjuru. Pikiranku kacau. Apakah ini yang disebut laki-laki pengecut? Bila saja Ningsih bukan janda, mungkin Mama akan lebih memahami, meski ia bukan gadis berdarah Minang. Namun latar belakang Ningsih sebagai janda membuat pilihan itu semakin sulit.

“Maaf, Mas, sabuk pengamannya mohon dipasang.”

Aku terkesiap saat seorang pramugari cantik berhijab menyapaku. Ia tersenyum manis, membuatku lupa sejenak pada pikiran yang bertumpuk. Setelah itu ia berlalu, meninggalkan kesan yang entah kenapa membekas.

Aku mencoba melepas penat dengan memejamkan mata selama perjalanan. Kurang lebih satu jam kemudian, suara pramugara membangunkanku, memberitahukan bahwa pesawat akan segera mendarat di Bandara Internasional Minangkabau.

Hatiku kembali berkecamuk. Keputusan besar itu akan segera dimulai. Salah satu dari orang yang kusayangi harus dikorbankan.

Untuk pertama kalinya dalam tiga tahun terakhir, aku kembali menginjakkan kaki di tanah Minang—tempat aku dilahirkan dan dibesarkan Mama. Aku menghirup napas pelan sebelum turun dari pesawat.

Ponselku kembali berdering. Panggilan dari Radi, adikku nomor dua.

“Abang di mana? Aku sudah menunggu di depan bandara,” katanya lantang. Radi menjemputku karena sekarang ia bertugas di Koramil Padang.

Sebelum sampai di depan bandara, pandanganku kembali teralihkan. Pramugari yang tadi menyapaku juga berjalan ke arah depan bandara. Ia tampak dijemput beberapa orang. Mungkin keluarganya. Bisa jadi ia juga sedang cuti.

Ah, sesuatu yang sangat kebetulan, lirih batinku nakal. Andai saja…

Ah, sudahlah. Pikiranku mulai ngaco.

“Hei, Bang!” Radi menepuk pundakku cukup keras.

Aku terperanjat, lalu memeluknya. Rindu setelah sekian lama tak berjumpa dengan adik sekaligus teman berantem di rumah.

“Serius amat, Bang, menatap pramugari itu?” godanya.

Pipiku terasa panas. Aku memukul bahunya hingga ia mengaduh.

Kami memasukkan koper dan oleh-oleh ke dalam mobil. Setelah meninggalkan bandara, pikiranku kembali berkecamuk.

“Kenapa, Bang? Kelihatan banyak beban. Harusnya kamu senang. Wanita yang dijodohkan Mama cantik, loh,” ucapnya sambil mengerling.

“Tak semudah yang kamu bayangkan. Aku sudah punya pacar, Radi,” balasku kesal.

“Ningsih maksudnya? Bang, apa kata keluarga besar kita kalau kamu tetap memilihnya? Dia janda, Bang.”

“Cukup, Radi. Jangan menggurui aku seperti Mama.”

Ia terdiam.

“Maaf, aku tidak bermaksud memojokkanmu.”

Mukanya datar. Meski seorang tentara, ia tetap menghormatiku sebagai abangnya.

“Bang, kamu sukses. Kamu hebat dan mapan. Kamu berhak mendapatkan perempuan yang lebih baik untuk pendampingmu,” ucapnya pelan, menusuk tanpa bermaksud menyakiti—meski tetap membuat dadaku nyeri.

“Maksud kamu, Ningsih bukan wanita baik-baik?” suaraku meninggi. Kali ini Radi tak berani menatap.

“Maksudku bukan begitu, Bang. Tapi dengan latar belakangnya… dia hamil di luar nikah.”

“Radi, cukup!” bentakku keras.

Aku meremas jemariku, menahan amarah. Radi membelokkan mobil ke arah SPBU dan memarkirkan tak jauh dari musala.

“Bang, coba pikirkan baik-baik ucapanku. Wanita baik-baik tidak akan kehilangan kehormatannya dengan cara seperti itu.”

Dadaku terasa dihujam senjata tajam—luka, tapi tak berdarah.

Raka, tak kusangka hari yang aku tunggu akan berakhir nelangsa seperti ini. Sejak aku kenal kamu, aku merasa kamu lelaki yang sangat berbeda. Aku terlalu banyak berharap kepadamu. Tapi kenyataan pahit itu tetap tak terelakkan, Raka. Kamu memilih wanita yang lebih baik dari padaku. Nggak perlu pura-pura mengasihiku. Dimas sudah cerita, kalau cutimu kali ini untuk menemui calon istri pilihan mamamu.

Haha, tak semudah itu Raka. Aku pastikan kamu tak akan bahagia bersama wanita pilihan mamamu.

Pesan WhatsApp dari Ningsih membuat duniaku berhenti seketika. Aku hanya bisa menelan ludah.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!