NovelToon NovelToon
TUMBAL PESUGIHAN LANANG SEWU

TUMBAL PESUGIHAN LANANG SEWU

Status: sedang berlangsung
Genre:Spiritual / Iblis / Tumbal / Misteri
Popularitas:825
Nilai: 5
Nama Author: Towang Risawang

Dihimpit hutang dan keputusasaan, Agus, seorang pria penuh ambisi yang gagal, meyakinkan istrinya, Endang, untuk melakukan pesugihan Lanang Sewu, meskipun ritualnya menuntut pengorbanan keintiman yang sakral. Untuk mempertahankan kehormatan istrinya, Agus merencanakan penipuan tingkat tinggi: menyewa Sari, seorang wanita yang memiliki kemiripan fisik dengan Endang, dan menyamarkannya secara spiritual menggunakan sihir. Penipuan ini berhasil. Mereka hidup dalam kemewahan sementara waktu, menikmati hadiah dari Raden Titi Kusumo, entitas pesugihan yang karismatik tapi terluka secara emosional. Namun, kecerdasan spiritual Titi Kusumo perlahan mencium kepalsuan itu. Ketika penyamaran terbongkar, semua kekayaan lenyap, dan Titi Kusumo memulai pembalasan keji, menargetkan tidak hanya nyawa Agus dan Endang, tetapi juga orang-orang tak bersalah di sekitar mereka, memaksa pasangan itu menghadapi kebenaran pahit bahwa penebusan sejati tidak dapat dibeli.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Towang Risawang, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Ki Joladrang dan Pintu Masuk

Agus tersentak, teror murni mengunci otot-ototnya. Ia mencoba menarik Endang menjauh, tetapi kakinya terasa terpaku pada lumpur keras di lereng gunung. Sosok Raden Titi Kusumo, yang kini berdiri beberapa langkah di depan mereka, tidak menyerupai iblis yang berlendir atau menakutkan, melainkan pangeran kuno yang memesona, tetapi dengan mata yang membawa beban ribuan tahun.

“Kau tidak perlu takut, Manusia,” ujar Titi Kusumo, suaranya lembut, namun menusuk seperti es. “Aku bukan negosiator. Aku adalah perjanjian itu sendiri.”

Agus berhasil memaksa dirinya untuk berbicara, suaranya serak. “Kami... kami hanya ingin bertemu perantara. Ki Joladrang.”

Titi Kusumo tersenyum sinis. Senyum itu tidak mencapai matanya. “Tentu saja. Manusia selalu membutuhkan perantara untuk bernegosiasi dengan neraka. Ki Joladrang ada di dalam, menunggumu.”

Ia mengibaskan tangannya, gerakan yang cepat dan anggun. Secara ajaib, sehelai kabut tebal dan dingin langsung menyelimuti area di antara mereka, memutus pandangan Agus dan Endang terhadap entitas itu.

“Dia tahu bahwa penipuan emosional adalah keahlianmu, bukan milikku,” suara Titi Kusumo terdengar samar dari dalam kabut. “Masuklah. Jangan buang waktuku. Aku hanya tertarik pada hasilnya.”

*

Kabut itu terasa seperti dinding es. Agus mencengkeram lengan Endang dan menariknya, memaksa mereka masuk melewati dua batu besar yang diselimuti lumut. Begitu mereka melangkah masuk, kabut itu segera menghilang, dan Raden Titi Kusumo lenyap seolah-olah dia hanya ilusi yang dirancang untuk menyambut mereka.

“Ayo, Gus,” bisik Endang, suaranya nyaris pecah. Ia tidak lagi peduli pada mobil yang mati atau penyitaan. Ketakutan spiritualnya kini lebih besar daripada ketakutan finansial. “Kita putar balik. Ini bukan main-main. Dia... dia tahu kita datang.”

“Tidak, kita sudah sejauh ini,” balas Agus, napasnya tersengal-sengal. Ia berusaha keras untuk menyangkal teror yang baru saja ia rasakan. “Itu hanya... ilusi. Taktik menakut-nakuti. Dia ingin kita gentar. Aku tidak akan gentar.”

Agus, dengan sisa keberaniannya yang rapuh, mulai berjalan. Jalan setapak yang mereka lalui kini semakin menyempit, dikelilingi oleh pepohonan raksasa yang tampak seperti penjaga yang membungkuk. Keheningan di hutan itu menekan, membuat setiap langkah kaki mereka di tanah lembap terdengar seperti ledakan.

Setelah berjalan sekitar sepuluh menit dalam ketegangan yang mencekik, mereka melihat cahaya redup di kejauhan. Sebuah pondok kecil, terbuat dari anyaman bambu tua dan beratapkan ijuk yang teus. Asap tipis mengepul dari cerobongnya.

“Itu pasti Ki Joladrang,” gumam Agus, langkahnya semakin cepat, didorong oleh harapan yang gila.

Pondok itu tampak usang dan miskin, kontras dengan janji kekayaan tak terbatas yang dibawa oleh nama Lanang Sewu. Di teras pondok, duduk seorang pria tua. Janggutnya yang panjang dan putih terurai hingga ke dada, memberinya nama ‘Ki Joladrang’. Matanya kecil, tetapi sangat tajam, dan wajahnya dipenuhi kerutan yang tampak seperti peta pengalaman gaib yang panjang dan kotor.

Ki Joladrang tidak bergerak, ia hanya duduk di kursi kayu reyot, menghisap pipa yang menghasilkan bau kemenyan yang kuat dan menusuk hidung.

“Aku tahu kalian akan datang,” sambut Ki Joladrang, suaranya serak dan kering, tanpa emosi. “Duduklah. Entitas itu tidak suka menunggu.”

Agus segera duduk di bangku kayu di hadapan Ki Joladrang, Endang duduk di sampingnya, tubuhnya kaku seperti patung.

“Kami... kami dikirim oleh Kuskandar,” kata Agus, mencoba terdengar profesional, seolah-olah ini adalah rapat bisnis biasa.

Ki Joladrang mendengus kecil, menyingkirkan pipanya. “Kuskandar. Dia hanya anjingku. Dia hanya tahu cara menyalak. Dia tidak tahu cara berburu. Kalian, kalian adalah pemangsa yang putus asa.”

Jejak rasa malu menyengat Agus, tetapi ia mengabaikannya. “Kami ingin tahu detail perjanjian Lanang Sewu. Kami mendengar ceritanya mengerikan, tentang tumbal pengantin.”

Ki Joladrang mencondongkan tubuh ke depan, matanya menyipit, menatap langsung ke mata Endang, mengabaikan Agus sepenuhnya.

“Tumbal pengantin,” ulang Ki Joladrang dengan nada mengejek. “Kalian sudah tahu. Kenapa masih datang ke mari?”

“Kami hanya ingin konfirmasi,” sela Agus, merasa terganggu karena Ki Joladrang tidak berbicara kepadanya. “Dan kami ingin tahu apakah ada jalan lain. Kami bisa menawarkan harta, atau emas batangan, atau…”

Ki Joladrang mengangkat tangan, menghentikan Agus. “Lanang Sewu, atau Raden Titi Kusumo, jika kau ingin memanggilnya begitu, tidak haus emas. Dia adalah pangeran terkutuk, Pangeran yang dikutuk karena menolak cinta sejati. Kutukannya adalah haus akan koneksi spiritual yang tulus. Kekayaan adalah hasil sampingan. Tumbal utamanya adalah ikatan spiritual yang ia curi dari seorang istri sah.”

Endang menunduk, air matanya mulai menetes. Kata-kata Ki Joladrang mengkonfirmasi ketakutan terburuknya.

“Kau sebagai suami,” Ki Joladrang kini menatap Agus, “harus menyerahkan hak suci pernikahanmu. Dengan sukarela. Endang, istrimu, harus menjadi pengantin spiritual bagi Raden Titi Kusumo, secara teratur, untuk mengisi kekosongan spiritualnya. Sebagai imbalannya, ia akan memberimu kekayaan yang tak terhingga.”

Agus menelan ludah. Ini seratus kali lebih buruk daripada yang ia bayangkan. Namun, ia melihat kembali tumpukan surat penyitaan di benaknya.

“Lalu... bagaimana dengan Endang?” tanya Agus, suaranya sedikit bergetar. “Apa yang terjadi padanya?”

Ki Joladrang mengangkat bahu. “Dia akan menjadi kaya, tentu saja. Dan dia akan menjadi jembatan antara dunia manusia dan dunia entitas. Dia akan mengalami kepuasan yang tidak bisa kau berikan. Tetapi, sebagian jiwanya akan selalu terikat pada Lanang Sewu. Itu adalah harga dari kebebasan finansialmu.”

Agus berpikir cepat. Ia harus meyakinkan dirinya bahwa ini adalah pengorbanan yang pantas.

“Dan jika kami setuju?” tanya Agus, nadanya kembali menunjukkan tekad.

“Jika kau setuju, aku akan melakukan ritual penyegelan awal. Aku akan mengikat perjanjianmu dengan Raden Titi Kusumo,” jawab Ki Joladrang.

Endang tiba-tiba meraih tangan Agus, cengkeramannya dingin dan memohon. “Gus, jangan. Kumohon, kita pergi sekarang.”

Agus menoleh ke istrinya, matanya keras. “Diam, Endang. Aku sedang bicara bisnis.”

Ki Joladrang tersenyum tipis, senyum yang menjijikkan. “Ah, bisnis. Aku suka caramu melihatnya, Tuan. Jadi, katakan padaku, Tuan Agus. Setelah mendengar detailnya, apakah kau bersedia menukar kehormatan istrimu dengan kekayaan abadi?”

Agus menarik napas dalam-dalam. Inilah titik balik. Ia harus melompat. “Aku setuju.”

Endang tersentak. Ia menatap Agus dengan mata penuh pengkhianatan yang tak terucapkan.

Ki Joladrang tidak bereaksi terhadap jawaban Agus. Ia kembali menatap Endang, kini dengan tatapan yang menuntut kejujuran dari dasar jiwa Endang.

“Aku tidak peduli apa kata suamimu yang tamak,” desis Ki Joladrang. “Kesepakatan ini melibatkan jiwamu. Jadi, aku bertanya padamu, Nyonya Endang. Apakah kau setuju menjadi Tumbal Pengantin Lanang Sewu, dan mengkhianati pernikahanmu demi kekayaan fana suamimu?”

Endang membuka mulutnya, mencoba menolak, mencoba berteriak, tetapi ia hanya bisa menatap mata Ki Joladrang yang menembus jiwanya. Ia tahu jawaban 'tidak' berarti kembali ke nol, menyaksikan suaminya hancur, tetapi jawaban 'ya' berarti kehancuran spiritualnya sendiri.

“Aku…” Endang memejamkan mata, air mata mengalir deras. Ki Joladrang menunggu, auranya menekan. Endang harus memilih, sekarang. “Aku…”

Aku…” Bibir Endang bergetar, kata-kata tertahan di tenggorokan. Ia tidak bisa mengucapkan ‘ya’, tetapi ia juga terlalu lemah untuk mengucapkan ‘tidak’. Pikirannya dibanjiri gambar-gambar: tumpukan surat penyitaan, wajah Agus yang hancur, dan kemudian, bayangan dirinya sendiri, terikat pada makhluk gaibdi malam yang dingin.

1
Mega Arum
msh lanjut, wlpn agak aneh sih crtanya...
Mega Arum
pesugihan yg krg bs di pahami beda dg novel2 tntg pesugihan lain
Mega Arum
kasihan Endang.. dilema
Mega Arum
pemakaian bahasa yg perlu berimaginasi thor... baguus
Mega Arum
semoga kedepanya menarik....
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!