NovelToon NovelToon
Manual Book: Obsesi Tersembunyi Sang CEO Dingin

Manual Book: Obsesi Tersembunyi Sang CEO Dingin

Status: sedang berlangsung
Genre:Pernikahan Kilat / CEO / Mantan / Nikah Kontrak
Popularitas:5.8k
Nilai: 5
Nama Author: Ariska Kamisa

"Zel, kita cuma nikah kontrak! Berhenti kirim kurir obat ke sekolah, aku malu sama guru-guru lain!"
Dazello Zelbarra, CEO dingin itu justru menarik Runa ke pelukannya. "Di catatanku, jam segini lambungmu mulai perih karena kamu lupa sarapan. Aku tidak peduli kamu malu, Runa. Aku hanya peduli kamu tetap hidup untuk melunasi kontrakmu padaku."
Runa Elainzica, guru honorer yang ceroboh dan pelupa, terpaksa menikahi mantan pacarnya, Dazello ‘Azel’ Zelbarra, demi menyelamatkan sekolahnya dari kebangkrutan.
Runa mengira Azel membencinya. Namun, ia tak pernah tahu bahwa di ponsel Azel terdapat aplikasi rahasia berjudul "Runa’s Manual Book". Sebuah catatan obsesif berisi ribuan detail tentang kebiasaan kecil Runa, pantangan makannya, hingga cara melindunginya saat badai datang.
Dunia mereka berbeda, tapi di buku catatan Azel, nama Runa sudah tertulis sebagai milik sahnya... selamanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ariska Kamisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 25

Senin pagi di Jakarta kembali dengan ritme yang gila. Setelah ketenangan di Puncak, Runa langsung dihadapkan pada tumpukan kertas ujian dan jadwal rapat koordinasi yang padat. Namun, ada yang berbeda. Sekarang, di meja kerjanya selalu ada bekal makanan sehat dengan catatan kecil yang ditempel di tutupnya.

"Habiskan sayurnya. Aku tidak mau mendengar laporan kalau kamu lemas saat mengawas ujian nanti. – Azel."

Runa hanya bisa tersenyum simpul sambil menggelengkan kepala melihat tulisan tangan kaku itu.

Sore harinya, suasana di ruang guru cukup riuh. Rapat persiapan ujian semester baru saja selesai, tapi beberapa guru masih berkumpul untuk merapikan berkas. Pak Haris, sang kepala sekolah, tampak sibuk merekam suasana kebersamaan para guru untuk konten media sosial sekolah.

"Ayo, semuanya senyum! Ini buat laporan ke yayasan dan update profil sekolah kita," seru Pak Haris ceria.

Di sudut meja besar, Runa sedang serius berdiskusi dengan Bu Ratna. Namun, di samping mereka berdiri Pak Dimas, guru olahraga baru yang usianya sebaya dengan Azel. Pak Dimas dikenal ramah, atletis, dan cukup populer di kalangan guru-guru muda.

"Jadi menurut Bu Runa, materi atletik ini sebaiknya diujikan sebelum atau sesudah teori?" tanya Pak Dimas sambil sedikit membungkuk agar sejajar dengan posisi duduk Runa.

"Kalau menurut saya sih sebelum, Pak Dimas. Supaya anak-anak masih punya energi fisik," jawab Runa sambil membolak-balik silabus.

"Masuk akal. Bu Runa memang paling teliti soal jadwal begini ya," puji Pak Dimas dengan senyum lebar yang memperlihatkan deretan giginya yang rapi.

Bu Ratna menyenggol lengan Runa sambil tertawa. "Wah, Pak Dimas ini bisa saja. Runa mah emang andalan kita semua, Pak!"

Runa hanya tertawa kecil, tidak menyadari bahwa kamera Pak Haris sedang menyorot interaksi mereka selama beberapa detik—sebuah momen yang terlihat sangat akrab dan cair.

Dua puluh menit kemudian, di lantai 50 gedung Zelbarra Group.

Azel baru saja menyelesaikan rapat dewan direksi yang melelahkan. Ia melonggarkan dasinya dan menyandarkan punggung di kursi kebesarannya. Iseng, ia membuka ponselnya. Sebagai bentuk "pengawasan halus", ia mengikuti akun media sosial resmi SD Pelita Harapan.

Layar ponselnya menampilkan video reels terbaru dari sekolah. Mata Azel menyipit tajam.

Dalam video itu, ia melihat Runa—istrinya—sedang tertawa kecil menanggapi ucapan seorang pria asing. Pria itu tampak condong ke arah Runa, posisi yang menurut insting teritorial Azel "terlalu dekat".

"Siapa dia?" gumam Azel dengan suara rendah yang berbahaya.

Azel menekan tombol jeda, lalu memperbesar wajah Pak Dimas. Ia memperhatikan postur pria itu. Bahu tegap, wajah lumayan, dan usia yang tampak matang. Azel mendengus sinis.

"Guru olahraga? Cih."

Azel segera menyambar ponsel kantornya dan menekan nomor asistennya. "Cari tahu data pribadi guru pria di video terbaru SD Pelita Harapan. Yang berdiri di samping Runa. Dalam lima menit."

Pukul lima sore tepat, mobil hitam Azel sudah terparkir di depan gerbang sekolah. Kali ini, Azel tidak menunggu di dalam. Ia turun dari mobil, berdiri bersandar pada pintu dengan tangan bersedekap, kacamata hitam bertengger di hidungnya. Auranya begitu mengintimidasi hingga beberapa wali murid yang lewat tidak berani menoleh dua kali.

Begitu Runa keluar bersama Bu Ratna dan Pak Dimas, langkahnya terhenti.

"Zel? Kamu turun?" tanya Runa kaget.

Azel tidak menjawab. Matanya menatap lurus ke arah Pak Dimas yang berdiri di samping Runa. Tatapannya begitu dingin, seolah sedang memindai musuh di medan perang.

"Sore, Pak Azel," sapa Pak Dimas ramah, mencoba mencairkan suasana. "Saya Dimas, guru olahraga di sini."

Azel hanya mengangguk singkat, sangat minimalis. "Dazello. Suami Runa."

Kalimat terakhir ditekan dengan penekanan yang sangat jelas. Pak Dimas tampak sedikit terkejut, begitu juga Bu Ratna.

"Eh, iya... Pak Azel jemput ya? Kami tadi baru selesai rapat," timpal Bu Ratna canggung.

Azel melangkah maju, meraih tas Runa dari bahu wanita itu. "Rapatnya lama sekali. Sampai sempat tertawa-tawa di video media sekolah?"

Runa mengerutkan kening. "Video apa? Oh, tadi Pak Haris memang ambil video..."

"Masuk ke mobil, Runa," perintah Azel tanpa mengalihkan pandangan dari Pak Dimas. "Terima kasih sudah 'menjaga' istri saya, Pak Dimas. Tapi mulai sekarang, kalau ada urusan koordinasi, bisa lewat grup resmi saja. Tidak perlu terlalu dekat secara fisik."

"Zel! Apa sih?" bisik Runa malu, wajahnya memerah.

Azel mengabaikan protes Runa. Ia membukakan pintu mobil untuk Runa dengan gerakan posesif. Setelah Runa masuk, Azel kembali menatap Pak Dimas sebentar—sebuah tatapan peringatan—sebelum akhirnya memutar mobil dan pergi dengan kecepatan yang cukup tinggi.

Di dalam mobil, keheningan terasa sangat tegang. Runa melirik Azel yang rahangnya masih mengeras.

"Kamu cemburu?" tanya Runa hati-hati.

"Cemburu? Pada guru olahraga yang bajunya penuh keringat itu? Jangan konyol," sahut Azel ketus, padahal tangannya menggenggam setir dengan sangat kuat.

"Tapi omongan kamu tadi keterlaluan, Zel. Pak Dimas itu cuma tanya soal jadwal ujian."

"Tanya jadwal tidak perlu sambil senyum-senyum begitu. Dan posisi berdirinya... dia sengaja ingin pamer bahu di depanmu?"

Runa tidak tahan untuk tidak tertawa. "Zel, ya ampun! Dia itu cuma berdiri biasa. Dan ada Bu Ratna di sana! Kamu benar-benar... posesifnya nggak masuk akal."

Azel menginjak rem saat lampu merah, lalu menoleh ke arah Runa. Matanya yang tajam kini tampak sedikit meredup oleh rasa kesal yang tidak bisa ia sembunyikan.

"Runa, dilingkunganmu mungkin itu biasa. Tapi bagiku, melihat pria lain menatapmu seperti itu rasanya seperti ada yang mencoba mencuri aset paling berhargaku. Aku baru saja ingin membuatmu 'gemoy', bukan membuat pria lain terpesona padamu."

Runa terdiam, tawa kecilnya hilang berganti rasa hangat yang aneh. Ia meraih tangan kanan Azel dan menggenggamnya. "Zel, dengerin. Di sekolah itu aku cuma Runa sang guru. Dan bagi aku, cuma ada satu pria. Dan pria itu sekarang lagi nyetir sambil marah-marah."

Azel terdiam sebentar, otot rahangnya perlahan mengendur. Ia tidak membalas ucapan Runa, tapi ia membalikkan tangan Runa dan mengecup telapak tangannya lama.

"Besok, jangan duduk di samping dia lagi kalau rapat," gumam Azel pelan, masih dengan nada perintah namun jauh lebih lembut.

"Iya, Tuan CEO Posesif..."

"Bagus. Dan lusa, aku akan kirim seragam olahraga baru untuk seluruh guru pria di sana. Yang ukurannya lebih longgar. Aku tidak suka melihat guru olahraga pamer otot di depan istri orang."

Runa hanya bisa geleng-geleng kepala. Ternyata, menghadapi musuh bisnis jauh lebih mudah bagi Azel daripada menghadapi rasa cemburunya sendiri.

1
Ayusha
ya ampun kirain aku yg kelewat baca beneran ke IGD. 😄
Ayusha
nyatet nya tar aja kenapa si jel, lg panik masih sempet2nya nulis /Facepalm/
Ariska Kamisa: 🤣🤣🤣🤣
kelakuan ajel emang...
total 1 replies
Ayusha
ya ampyuun sampe segitunya jel /Facepalm/
Ayusha: kalo aku di posisi Runa mungkin udh gila. gila karena ke absurdan Ajel, dan Ter gila2 Karena kebucinan nya 🤣🤣
total 2 replies
Ariska Kamisa
/Pray//Pray//Pray//Pray//Pray//Pray/
Ayusha
/Joyful//Joyful/
Ayusha
katanya kayak meluk kayu kering, emang masih naf su juga 🤣
Ariska Kamisa: emang dasar ajel mah bilangnya apa tapi kelakuannya apa 🤭🤭🤭
total 1 replies
Ayusha
balon kali terbang /Sob/
Ayusha
mantap jel, aku padamu 😍
Ariska Kamisa: ♥️♥️♥️♥️
total 1 replies
Nesya
dapat suami yang mencintai, mertua yang baik dan pengertian beruntung ny kamu runa, nikmati harimu runa waktunya bahagia
Ariska Kamisa: terimakasih banyak kak 🙏🙏🙏🙏
total 1 replies
Nesya
👍🏻👍🏻
Ariska Kamisa: terimakasih jempolnya kak♥️♥️♥️
total 1 replies
Ayusha
sa ae lu jel. melting kan gue 🤭
Ariska Kamisa: ♥️♥️♥️♥️♥️
total 1 replies
Ayusha
tinggal bilang "menikahlah denganku"
apa susahnya sih, pake alesan dijodohin segala 🤣
Ariska Kamisa: tsundere banget ya kak ...🤭🤭🤭🤭
total 1 replies
Ayusha
oke, tim cowok posesif dengan segala obsesi nya🤭
Ariska Kamisa: oke satu tim kita kak.. terimakasih banyak ♥️♥️♥️
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!