CEWEK BADUNG VS COWOK KAKU
AYUNDA
Cantik, manis, dan bergaya kece abis... tapi kelakuannya liar!
Mulutnya tajam, berani, dan paling benci diatur-atur.
"Badung? Yeah, that's me."
Dia cewek yang hidup sesuka hati, nggak peduli omongan orang, dan siap melabrak siapa saja yang berani cari gara-gara.
GIOVANI
Ganteng, kaya, dan selalu tampil sempurna... tapi kaku setengah mati!
Hidupnya penuh aturan, rapi, dan terjadwal kayak robot.
"Terlalu diatur, terlalu sulit dimengerti."
Dia tipe cowok yang alergi sama kekacauan, apalagi sama cewek rusuh kayak Ayunda.
Dua kepribadian. Satu konflik yang tak terhindarkan.
Lo badung, gue kaku.
Kita emang mustahil.
Satu mau bebas, satu mau aturan.
Satu bawa kekacauan, satu bawa masalah.
Tapi entah kenapa... dua kutub yang saling tolak ini, selalu saja ketemu di titik yang sama.
Apakah si Badung bisa meluluhkan si Kaku?
Atau malah si Kaku yang bakal ikut rusuh karena si Badung?
A hate-love romance that you can't miss! ❤️🔥
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon exozi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
PERHATIAN YANG TERSEMBUNYI
Hari berganti minggu, dan perlahan tapi pasti, suasana di rumah itu berubah total. Tidak ada lagi teriakan keras yang memecah keheningan, tidak ada lagi pertengkaran soal hal-hal sepele seperti debu di sudut ruangan atau cara makan yang dianggap kurang sopan. Yang ada sekarang hanyalah kehangatan, tawa yang sering terdengar, dan... perhatian-perhatian kecil yang terselip di setiap detik hari.
Tapi Giovanni, ya tetaplah Giovanni. Meskipun di dalam hatinya dia sudah meleleh sepenuhnya dan sayang setengah mati pada Ayunda, sifat gengsinya itu masih tertinggal. Dia masih merasa malu kalau harus mengungkapkan perasaannya secara langsung dengan kata-kata manis. Caranya menunjukkan kasih sayang itu unik—kadang terkesan cerewet, kadang sok galak, kadang bahkan terlihat seperti sedang memerintah. Tapi kalau diperhatikan lebih dalam, semua itu hanyalah cara dia menyembunyikan rasa khawatir dan sayang yang begitu besar.
Pagi itu, matahari bersinar cukup terang, menyelinap masuk lewat celah tirai jendela dan menerangi ruang tamu. Ayunda sedang duduk santai di teras depan, bersandar malas di kursi rotan. Dia memakai kaos oblong warna gelap dan celana pendek jeans yang agak sobek di bagian lutut, gaya khasnya yang tomboy dan santai. Rambut hitamnya dikuncir kuda agak berantakan, tapi justru membuatnya terlihat lebih natural dan manis.
Matanya fokus menatap layar HP, jari-jarinya bergerak cepat menekan tombol-tombol di sana. Dia sedang asyik main game, wajahnya serius sekali, kadang mengernyitkan dahi kalau sedang kesulitan, kadang tersenyum sendiri kalau berhasil mengalahkan musuh.
"Sialan... mati lagi ah! Emang dasar musuh pake cheat semua ya!" gerutunya pelan, lalu memukul pelan meja kecil di depannya dengan telapak tangan. "Bosen banget deh, kok gue selalu kalah sih."
Tiba-tiba, sesuatu yang hangat diletakkan tepat di samping tangannya dengan suara dug yang pelan.
Ayunda menoleh, dan melihat sebuah gelas besar berisi cokelat panas yang masih mengepulkan uap tipis. Di atasnya ada beberapa butir marshmallow yang sudah mulai meleleh sedikit, membuat aromanya tercium sangat harum dan menggugah selera.
"Minum dulu! Jangan main game terus sampai lupa waktu!" suara Gio terdengar dari sampingnya. Nada bicaranya terdengar agak ketus dan dingin, seperti biasa.
Ayunda mendongak, melihat suaminya itu berdiri di sana dengan tangan di pinggang. Wajahnya sok serius, tapi matanya tidak bisa menyembunyikan sorot lembut yang ada di sana.
"Halah... bilang aja khawatir sama gue," ejek Ayunda sambil tersenyum jahil. "Sok galak amat sih, padahal hatinya lembut banget kan?"
Gio langsung memalingkan wajah, seolah sedang melihat sesuatu yang menarik di kejauhan. "Siapa yang khawatir?! Aku cuma... cuma ngerasa sayang aja sama mata kamu tau gak! Nanti kalau kamu buta atau minusnya makin dalam karena mainan gak jelas itu, siapa yang bakal ngurusin rumah? Siapa yang bakal nemenin aku ngobrol?"
Ayunda tertawa kecil melihat tingkahnya. "Iya iya, makasih ya suami perhatian."
Dia mengambil gelas itu dan menyeruputnya pelan. Rasa manis dan hangat cokelat itu langsung menyebar ke seluruh tubuh, membuat perasaannya jadi lebih tenang. "Hhh... enak banget! Lo emang paling jago bikin minuman hangat deh Gio."
Mendengar pujian itu, sudut bibir Gio terangkat sedikit membentuk senyum tipis yang dia coba sembunyikan secepat mungkin. "Udah sana habisin! Jangan didiemin, nanti dingin." katanya singkat, lalu berbalik badan dan masuk kembali ke dalam rumah, seolah tidak ingin terlihat terlalu lama memperhatikan istrinya.
Siang harinya, Ayunda bersiap-siap ingin pergi keluar. Dia mau ke pasar tradisional untuk membeli beberapa keperluan, sekalian jalan-jalan sedikit menghirup udara segar. Seperti biasa, dia sudah siap dengan pakaian yang nyaman baginya—kaos yang agak longgar tapi sedikit terbuka di bagian bahu, dan celana pendek yang cukup nyaman untuk bergerak.
Begitu dia melangkah mendekati pintu depan, tangan Gio tiba-tiba terulur dan menarik kerah bajunya pelan, menghentikan langkahnya.
"Eits... mau kemana pake baju itu?" tanya Gio dengan alis terangkat tinggi, menatap Ayunda dari atas sampai bawah dengan tatapan menilai.
"Emang kenapa? Baju ini kan nyaman dipake jalan-jalan," jawab Ayunda santai, tidak merasa ada yang salah.
"Nyaman sih nyaman, tapi lihat deh... bahunya kelihatan terbuka gini, dan celananya itu... pendek banget tau gak!" Gio menghela napas panjang, lalu berbalik cepat dan berjalan menuju lemari pakaian yang ada di ruang tengah.
Dia mengambil sebuah jaket hoodie berwarna abu-abu tua yang cukup besar, dan juga sebuah syal tipis berwarna netral. Dia melemparkan benda-benda itu ke arah Ayunda.
"Pake ini sekarang! Jangan ditawar!" perintahnya dengan tegas.
"Ih Gio! Panas tau gak diluar! Mataharinya terik banget, pake jaket nanti gue berkeringat banyak!" protes Ayunda sambil memegang jaket itu dengan wajah kesal.
"Panas dikit gak bakal mati! Yang penting aman dan sopan!" cetus Gio cepat, suaranya sedikit meninggi. "Lagipula kan sekarang banyak orang iseng di luar sana. Aku gak suka, gak rela kalau ada cowok lain yang ngeliat kamu sembarangan atau ngelirik-lirik!"
Baru saja kalimat itu keluar dari mulutnya, Gio sadar dia sudah terlalu banyak bicara. Wajahnya yang biasanya pucat perlahan berubah menjadi merah merona, terutama di bagian telinga dan pipi.
Ayunda yang melihat itu langsung tertawa lebar, matanya berbinar-binar senang. "Ooooh... jadi lo cemburu ya? Lo posesif banget sama gue ya?"
"Bukan cemburu! Ini... ini namanya menjaga aset!" Gio berdeham keras, mencoba menutupi rasa malunya. Dia melipat kedua tangannya di dada, berusaha terlihat keren lagi. "Pokoknya pake! Kalau kamu gak mau pake, ya udah gak usah pergi!"
Ayunda akhirnya mengalah dengan senang hati. Dia memakai jaket hoodie itu yang ternyata ukurannya agak besar untuknya, sampai menutupi sebagian tangannya. Wangi parfum khas Gio langsung tercium kuat dari kain itu, membuat hatinya terasa hangat dan nyaman.
"Nah gitu dong... baru kelihatan manis dan rapi," gumam Gio puas. Dia mendekat sedikit, lalu merapikan kerah jaket Ayunda dengan tangannya yang besar dan hangat. Gerakannya pelan dan hati-hati, seolah sedang memegang sesuatu yang sangat berharga.
"Makasih ya Gio..." bisik Ayunda lembut, menatap mata suaminya itu dalam-dalam.
"Hm... sana hati-hati. Uang cukup kan? Jangan beli yang aneh-aneh. Kalau udah selesai atau ada apa-apa, langsung telepon aku ya. Jangan lupa," Gio kembali ke mode 'bawel' yang khas, tapi setiap kata yang keluar dari mulutnya penuh dengan perhatian.
Malam harinya, hujan turun cukup deras di luar. Suara gemericik air membuat suasana di dalam rumah terasa semakin tenang dan mengantuk.
Ayunda sedang duduk di sofa ruang tamu, menonton acara TV yang tidak terlalu serius. Matanya terlihat semakin berat, kelopak matanya terasa sangat berat untuk dibuka. Akhirnya, tanpa sadar, dia pun terlelap. Kepalanya condong ke samping, bersandar di sandaran sofa dengan posisi yang kurang nyaman, dan selimut tidak menutupi tubuhnya sama sekali.
Beberapa saat kemudian, Gio keluar dari ruang kerjanya setelah selesai mengecek beberapa pekerjaan. Saat melihat ke arah ruang tamu, langkah kakinya terhenti.
Dia melihat istrinya sudah tertidur pulas. Senyum lembut dan hangat langsung terukir di wajahnya, menghapus kesan serius yang biasanya ada. Dia berjalan pelan-pelan mendekat, berusaha tidak mengeluarkan suara sedikitpun agar tidak membangunkan Ayunda.
"Dasar cewek ceroboh... tidur juga gak bisa di tempat yang bener dan nyaman," gumamnya pelan sambil menggelengkan kepala pelan, tapi nada suaranya penuh dengan kasih sayang.
Dengan sangat hati-hati, Gio mengambil selimut tebal yang terlipat rapi di sudut sofa. Dia membukanya perlahan, lalu menutupkan ke seluruh tubuh Ayunda sampai ketat, memastikan tidak ada bagian tubuh yang terkena udara dingin.
Setelah itu, dia melihat kepala Ayunda yang terlihat kurang nyaman. Dia lalu mengambil bantal kecil yang ada di sebelahnya, dan dengan sangat lembut menyelipkannya di bawah kepala istrinya itu, agar posisinya lebih pas dan tidak sakit leher nanti.
Tangan Gio tidak langsung ditarik. Dia membiarkan tangannya tetap berada di sana, lalu mulai mengusap pelan pipi Ayunda yang lembut dan hangat. Jari-jarinya menyentuh kulit itu dengan sangat lembut, seolah takut kalau dia menyentuh terlalu keras, Ayunda akan hancur.
"Kamu tau gak sih Yun..." bisiknya sangat pelan, hanya untuk didengar oleh dirinya sendiri dan malam yang sunyi. "Semenjak ada kamu di hidup aku, semuanya berubah total. Dulu hari-hari aku itu datar, kaku, dan rasanya membosankan banget. Semuanya terasa hitam putih."
Dia tersenyum kecil di tengah kegelapan ruangan.
"Tapi sekarang... semenjak kamu datang, hidup aku jadi berwarna. Jadi lebih berisik, lebih heboh, tapi jauh lebih bahagia. Aku sayang banget sama kamu, Yun. Sangat sayang."
"Cuma... aku masih malu buat ngomong itu langsung ke kamu. Maaf ya kalau cara aku nunjukin perhatian itu kadang bawel, kadang galak, kadang sok ngatur. Aku cuma gak mau kamu kenapa-kenapa. Aku cuma mau kamu selalu baik-baik aja, selalu sehat, dan selalu bahagia di samping aku."
Ayunda di dalam tidurnya seolah merasakan sentuhan dan bisikan itu. Dia menggumam pelan, lalu mendekatkan wajahnya ke tangan Gio, dan tersenyum manis dalam tidurnya.
"Hmm... Gio..."
Jantung Gio seketika berdegup kencang banget, seolah mau melompat keluar dari dadanya. Wajahnya langsung memerah padam karena malu dan senang.
"I-iya... aku disini. Aku gak kemana-mana," bisiknya lagi, suaranya bergetar sedikit.
Akhirnya, Gio memutuskan untuk tidak pergi ke kamar tidur dulu. Dia duduk di lantai yang empuk di samping sofa, membiarkan kepala Ayunda bersandar nyaman di pahanya. Sepanjang malam, dia terus mengelus rambut hitam itu dengan lembut, menemani istrinya tidur sampai pagi datang.
Itulah perhatian yang tersembunyi. Tidak perlu kata-kata manis yang berlebihan, cukup bukti nyata yang dilakukan setiap hari dengan tulus. Dan bagi Ayunda, itu jauh lebih berharga daripada segalanya di dunia ini.