karya ini aku buat atas pemikiran aku sendiri,
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Agnura, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
RUTINITAS YANG MENJADI PENANTIAN
di hari berikutnya seperti biasa sweety bakery menerima pesanan lagi tapi pak Rifa yaitu asistennya pak Ken meminta key yang mengantarkan nya sendiri,
singkat cerita key pun sampai di depan gedung PT gemilang Dan disambut oleh pak Ken yaitu CEO dari perusahaan tersebut, Rifa dan ken membantu mengantar Key hingga ke ruang pantry, tempat di mana semua kue biasanya disusun dan diatur. Suasana di sana cukup sibuk, namun menjadi sedikit hening saat karyawan melihat bos mereka ikut membawa kotak kue.
Beberapa staf menyapa dengan hormat, sementara Lia, sekretaris Ken, dan Rifa, asisten pribadinya, sedang sibuk memeriksa daftar pesanan. Wajah mereka tampak terkejut melihat Ken ada di situ.
“Terima kasih banyak ya, Kak Key,” sapa Lia ramah sambil mengambil alih kotak dari tangan Key. “Kue-kue dari toko kakak ini selalu ditunggu, loh. Bapak-bapak direksi sampai nyariin kemarin kalau nggak ada.”
Rifa yang berdiri di samping Ken hanya tersenyum tipis, namun tatapannya terlihat cukup tajam mengamati interaksi antara bosnya dan wanita di depannya.
Key tersenyum malu. “Wah, senang dengarnya. Semoga semua suka dan cocok di lidah.”
Ken yang sedari tadi berdiri diam di dekat pintu akhirnya berbicara. Ia memperhatikan Key dengan tatapan yang sulit diartikan. Biasanya, ia adalah tipe pemimpin yang dingin, tidak peduli pada urusan kecil, dan sangat jarang berinteraksi langsung dengan vendor. Tapi ada sesuatu pada wanita ini—cara bicaranya yang lembut, senyum tulusnya, dan kerendahan hatinya—yang membuat suasana di sekitarnya terasa jauh lebih tenang dan hangat.
“Lia,” panggil Ken tiba-tiba, membuat semua orang menoleh. “Tolong nanti kirimkan feedback lengkap untuk toko ini. Kita pertimbangkan kerja sama jangka panjang yang lebih besar.”
Lia mengangguk cepat, sedikit terkejut dengan keputusan cepat bosnya. “Baik, Pak. Segera saya proses.”
Key menunduk sopan, hatinya berbunga-bunga. “Terima kasih banyak, Pak Ken. Itu berarti sangat besar bagi kami. Kalau begitu, saya pamit dulu ya.”
Ken mengangguk pelan. Matanya tak lepas memandang punggung Key hingga pintu tertutup. Ia menghela napas panjang, merasa pagi ini terasa jauh lebih ringan dari biasanya.
Saat Key hendak melangkah keluar lobby, tiba-tiba Rifa muncul dan menawari diri untuk mengantar sampai depan pintu. Rifa terlihat sangat akrab dan ramah, bahkan sedikit berlebihan. Key menyambutnya dengan baik, mengira itu hanya bentuk kesopanan staf kantor.
Namun, dari balik kaca gedung, Ken melihat pemandangan itu. Alisnya terangkat sedikit, dan ada perasaan aneh yang menjalar di dadanya—rasa tidak suka yang tajam melihat Rifa terlalu dekat dengan Key. Itu adalah rasa cemburu yang tak sadar muncul, meski ia berusaha menyangkalnya.
Beberapa minggu berlalu dengan sangat cepat. Kerja sama antara Sweety Cake dan PT Gemilang berjalan sangat lancar dan menjadi rutin. Hampir setiap minggu, Key bisa ditemui di area gedung kantor itu, entah itu mengantar pesanan untuk meeting besar, acara ulang tahun divisi, atau sekadar mengisi stok cookies di pantry.
Kunjungan yang awalnya hanya urusan bisnis, perlahan berubah menjadi sesuatu yang lebih personal. Hubungan antara Key dan Ken menjadi semakin akrab. Setiap kali bertemu, Ken selalu menyempatkan waktu untuk menyapa, bahkan sering kali mengajaknya duduk sebentar di ruangan kerjanya yang luas dan mewah itu.
Suatu sore, setelah selesai menata kue, Key dipersilakan masuk ke ruangan Ken. Pria itu sedang sibuk menandatangani tumpukan berkas di mejanya, namun suasananya tidak lagi kaku.
“Bagaimana, Key? Toko kamu makin sibuk ya, pasti capek?” tanya Ken tanpa mengangkat wajahnya, pena masih terus bergerak di atas kertas.
Key tertawa kecil sambil memainkan ujung apronnya. “Iya, Pak. Sejak kerja sama sama PT Gemilang, pesanan meningkat drastis. Banyak perusahaan lain yang ikut order karena dengar rekomendasi dari sini. Tapi senang sih, jadi banyak pengalaman dan tantangan baru.”
Ken akhirnya berhenti menulis, meletakkan penanya, dan menatap Key lekat-lekat. “Jangan terlalu keras kerja. Nanti malah lupa istirahat. Kue yang enak dibuat oleh orang yang bahagia dan istirahatnya cukup, kan?”
Nada suaranya terdengar sangat lembut, jauh dari sosok CEO yang galak di hadapan karyawannya. Key sempat terdiam. Ada rasa hangat yang menjalar dari kalimat itu, membuat pipinya kembali merona.
“Pak Ken sendiri yang kelihatannya nggak pernah istirahat,” balas Key sedikit berani. “Tiap kali saya ke sini, Bapak selalu kelihatan terburu-buru dan sibuk sekali.”
😉🤍