Aneska (25 tahun) berada dalam situasi darurat: menikah dalam seminggu atau dijodohkan dengan "om-om" pilihan Papanya yang bernama Argani Sebasta. Demi kebebasan, Aneska nekat mencari pacar sewaan lewat bantuan sahabatnya.
Namun, kecerobohan berbuah petaka—atau mungkin keberuntungan. Di sebuah kafe, Aneska salah mendatangi meja. Bukannya bertemu pria dari aplikasi kencan, ia justru mengajak kencan seorang pria asing yang tampak dewasa dan sangat tampan.
Aneska tidak tahu bahwa pria itu adalah Argani Sebasta, calon tunangan yang sangat ia hindari. Arga yang menyadari kesalahan Aneska justru merasa tertarik dan memilih menyamar menjadi "Gani" si pria biasa.
Permainan menjadi serius saat Arga tiba-tiba mengajukan syarat gila: "Jangan cuma pacaran, ayo langsung menikah saja."
Terdesak waktu dan terpesona pada ketampanan "Gani", Aneska setuju. Akankah Aneska tetap bahagia saat tahu bahwa suami yang ia pilih sendiri sebenarnya adalah pria yang paling ingin ia tolak sejak awal?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ariska Kamisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 14: Perjaka Tua yang Posesif
Satu bulan menjelang pernikahan, apartemen mewah Arga kini lebih sering dihuni oleh tumpukan barang-barang kiriman vendor. Aneska duduk bersila di atas karpet bulu, wajahnya ditekuk, tangannya sibuk melempar katalog desain kamar tidur ke atas meja.
"Gue nggak mau kasur yang warnanya putih semua kayak rumah sakit, Arga! Gue mau yang ada nuansa gelapnya biar nggak cepet kotor kalau gue makan seblak di kasur!" protes Aneska dengan nada galak.
Arga, yang baru saja pulang kantor dan masih mengenakan kemeja yang kancing atasnya terbuka, justru berlutut di belakang Aneska. Bukannya marah karena diprotes, ia malah melingkarkan tangannya di leher Aneska, menyandarkan dagunya di bahu gadis itu.
"Nggak boleh makan di kasur, Sayang. Nanti banyak semut," bisik Arga dengan suara manja yang hanya ia tunjukkan pada Aneska. "Dan soal warna, putih itu biar kelihatan... bersih saat kita 'bermain' nanti."
Aneska langsung menyikut perut Arga dengan keras. "Bermain pala lo peyang! Otak lo isinya mesum terus ya semenjak kita lamaran!"
"Aduh," Arga meringis pura-pura sakit, tapi genggamannya di pinggang Aneska justru mengencang. "Gue ini pria normal, Anes. Apalagi calon istrinya galak tapi seksi kayak gini."
"Halah, bilang aja lo emang udah 'kebelet' gara-gara kelamaan jomblo. Lagian lo tuh aneh banget ya, umur udah kepala tiga, masa apa-apa harus gue yang turutin? Perjaka tua emang suka ribet!" ledek Aneska telak.
Arga bukannya tersinggung disebut 'perjaka tua', ia malah tertawa rendah, lalu mengecup leher Aneska perlahan, membuat bulu kuduk gadis itu meremang. "Iya, gue emang perjaka tua yang sabar nungguin bocah bar-bar kayak lo. Jadi, biarkan gue dapet hak buat milih apa yang gue suka."
Arga kemudian meraih sebuah kotak yang baru saja datang dari kurir. Ia membukanya dan mengeluarkan beberapa potong kain tipis berbahan sutra—pakaian dalam wanita dengan desain yang sangat berani.
"Apaan nih?!" mata Aneska membelalak. "Lo beli ginian buat gue?"
"Iya. Gue nggak suka pilihan lo yang gambarnya Doraemon semua itu," ucap Arga dengan nada dominan yang mutlak. "Nanti kalau sudah nikah, di dalam rumah lo harus pakai pilihan gue. Gue suka warna hitam di kulit lo."
Aneska berdiri dengan wajah merah padam, ia melempar bantal sofa ke arah wajah Arga. "DASAR OM-OM CABUL! Gue nggak mau pakai baju kurang bahan begini! Gue bakal tetep pakai daster atau kaos partai kalau tidur!"
Arga menangkap bantal itu dengan satu tangan, matanya menatap Aneska dengan tatapan yang sangat intens—tatapan seorang pemburu. "Coba aja kalau berani. Gue bakal robek kaos partai lo itu setiap malam kalau lo nggak mau nurut."
Keesokan harinya, pertengkaran mereka berlanjut ke masalah pekerjaan. Aneska sedang asyik mengetik laporan di kantornya saat ponselnya berdering tanpa henti.
[Arga (Calon)]: Jam 5.00 teng, sopir sudah di depan. Jangan lembur.
[Aneska]: Gue ada deadline! Jangan ngatur-ngatur deh!
[Arga (Calon)]: Gue nggak mau tahu. Gue mau makan malam sama lo. Kalau jam 5.05 lo belum keluar, gue sendiri yang naik ke ruangan lo dan gendong lo keluar di depan bos lo.
"Sinting! Bener-bener gila!" umpat Aneska.
Meskipun ia ngomel sepanjang jalan, Aneska tetap keluar tepat waktu karena tahu Arga tidak pernah main-main dengan ancamannya. Benar saja, Arga sudah menunggu di dalam mobil dengan wajah yang mendadak berubah manis begitu melihat Aneska.
"Capek ya? Sini, peluk dulu," ucap Arga sambil merentangkan tangan.
"Nggak usah peluk-peluk! Gue lagi marah sama lo! Kenapa sih lo posesif banget? Gue punya karier, Arga!" Aneska menyalak, tapi tangannya tetap meraih botol air minum yang sudah disiapkan Arga.
Arga justru menarik Aneska masuk ke dalam pelukannya, mencium puncak kepala Aneska dengan protektif. "Gue cuma nggak mau lo capek. Gue mau pas gue pulang kerja, ada lo yang nyambut gue, marah-marahin gue, atau sekadar buat gue gemas kayak sekarang."
Aneska mendengus, tapi kepalanya tetap bersandar di dada bidang Arga. Ia memang cuek dan suka galak, tapi di dalam hati, ia merasa sangat terlindungi. "Gue cemburu ya kalau lo telat jemput gara-gara sekretaris kaku lo itu."
Arga tertawa, tangannya mengelus pipi Aneska. "Linda? Dia cuma robot kerja, Nes. Cuma lo satu-satunya perempuan yang bisa bikin Argani Sebasta bertekuk lutut kayak gini. Masih mau manggil gue perjaka tua?"
"Iya! Perjaka tua yang manja!" Aneska menggigit bahu Arga gemas.
Arga meringis tapi matanya berkilat penuh gairah. "Gigit aja terus. Gue simpen dendam ini buat malam pertama kita nanti. Gue pastikan lo nggak akan punya tenaga buat ngomel lagi."
Aneska terdiam, wajahnya panas. Ternyata menghadapi Arga dalam mode "Manja-Dominan" jauh lebih menguras tenaga daripada menghadapi klien paling cerewet sekalipun.