Dihimpit hutang dan keputusasaan, Agus, seorang pria penuh ambisi yang gagal, meyakinkan istrinya, Endang, untuk melakukan pesugihan Lanang Sewu, meskipun ritualnya menuntut pengorbanan keintiman yang sakral. Untuk mempertahankan kehormatan istrinya, Agus merencanakan penipuan tingkat tinggi: menyewa Sari, seorang wanita yang memiliki kemiripan fisik dengan Endang, dan menyamarkannya secara spiritual menggunakan sihir. Penipuan ini berhasil. Mereka hidup dalam kemewahan sementara waktu, menikmati hadiah dari Raden Titi Kusumo, entitas pesugihan yang karismatik tapi terluka secara emosional. Namun, kecerdasan spiritual Titi Kusumo perlahan mencium kepalsuan itu. Ketika penyamaran terbongkar, semua kekayaan lenyap, dan Titi Kusumo memulai pembalasan keji, menargetkan tidak hanya nyawa Agus dan Endang, tetapi juga orang-orang tak bersalah di sekitar mereka, memaksa pasangan itu menghadapi kebenaran pahit bahwa penebusan sejati tidak dapat dibeli.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Towang Risawang, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Modal Terakhir
Ketukan itu berhenti. Keheningan yang menyelimuti rumah terasa lebih berat daripada auman tadi. Agus dan Endang berdiri mematung di dekat pintu, bernapas cepat. Lemari kayu tua yang menghalangi pintu terasa rapuh, seolah bisa hancur kapan saja oleh kekuatan yang baru saja mengetuk.
Agus menarik napas, mencoba mengatur detak jantungnya yang berdentum liar. Ia melirik Endang, wajah istrinya pucat seperti kapur.
"Dia hanya... memperingatkan," bisik Agus, suaranya serak. Ia mencoba terdengar meyakinkan, tetapi gagal. "Dia tahu kita sedang bergerak, dan dia tidak suka itu. Tapi dia tidak menyerang. Itu artinya kita punya waktu."
Endang menggelengkan kepala, air mata yang tersisa kini mengering karena syok. "Kau tidak lihat, Gus? Dia tahu. Dia tahu kita akan menipu dia. Dia sudah di sini, di depan rumah kita, menunggu."
"Justru itu! Jika kita menunda, dia akan menyerang lebih keras!" balas Agus, tiba-tiba dipenuhi urgensi yang gila. "Aku harus pergi sekarang. Aku harus mendapatkan uang itu. Mbah Jari butuh uang itu sebelum fajar menyingsing, atau dia tidak mau mengambil risiko."
Agus bergegas menuju lemari yang ia geser tadi, mencoba memindahkannya kembali.
"Kau gila?" Endang meraih lengannya. "Kau dengar auman itu? Dia mengawasi kita! Jika kau keluar, dia akan tahu kau sedang membawa sesuatu yang penting—"
"Aku tidak peduli!" potong Agus, matanya menyala. "Kita sudah mengikat janji dengan darah. Jika kita mundur sekarang, kita mati. Jika aku berhasil mendapatkan dukun itu, kita hidup! Aku harus mencairkan semua yang tersisa. Cek itu, perhiasan emasmu, sisa tabungan di bank lain. Semua! Kita harus membayar Mbah Jari, Endang. Tujuh puluh juta itu adalah modal terakhir kita untuk hidup, kau mengerti?"
Endang melepaskan cengkeramannya, tubuhnya lunglai. Ia tahu berargumen dengan Agus saat ini adalah hal yang sia-sia. Ambisinya telah berubah menjadi naluri bertahan hidup yang kejam.
"Perhiasan... perhiasan yang kau berikan saat pernikahan?" tanya Endang, suaranya nyaris tak terdengar.
Agus menghindari tatapannya. "Itu hanya perhiasan, Endang. Kita akan membelikannya sepuluh kali lipat setelah ini selesai. Mana kunci brankas kecil itu?"
Endang hanya menunjuk ke laci meja rias. Agus membuka laci itu kasar, mengambil tiga benda: kalung warisan ibu Endang, cincin kawin mereka, dan sebuah gelang emas kecil yang diberikan Agus ketika mereka pertama kali pindah ke rumah ini. Barang-barang yang menyimpan kenangan, kini hanya dilihat sebagai angka moneter.
Agus memasukkan perhiasan itu ke dalam saku jaketnya, bersama dengan sisa cek pesangon yang ia simpan. Ia membuka pintu perlahan, menggeser lemari itu hanya cukup untuk badannya lolos.
"Kau tunggu di sini," perintah Agus, nadanya dingin. "Kunci pintu ini baik-baik. Jangan buka untuk siapa pun, bahkan jika itu aku yang mengetuk. Aku akan mengirim pesan khusus setelah aku selesai."
Agus melangkah keluar ke udara subuh yang dingin. Bau melati yang tajam masih menusuk hidungnya, tetapi ia mengabaikannya. Rasa takutnya kini terkalahkan oleh hasrat untuk mengamankan kekayaan masa depannya.
Ia mengemudi cepat menuju pegadaian 24 jam terdekat, tempat ia bisa mencairkan perhiasan itu tanpa pertanyaan.
Di balik meja kaca, seorang pegawai pegadaian yang tampak sangat bosan menerima barang-barang Agus. Pegawai itu mengamati perhiasan Endang di bawah lampu kecil.
"Tiga puluh lima juta," kata pegawai itu datar.
Agus mengangguk cepat. Ia tidak peduli dengan harganya, ia hanya butuh uang tunai. Ia menerima tumpukan uang itu, lalu segera menuju ATM bank lain untuk mencairkan sisa cek dan tabungan.
Di dalam mobil, ia menghitung dengan cermat. Total uang tunai yang berhasil ia kumpulkan dari perhiasan Endang dan tabungan terakhir mereka adalah 62 juta rupiah.
"Kurang delapan juta!" desis Agus, memukul setir, frustrasi.
Ia tidak bisa kembali ke Mbah Jari dengan uang kurang. Itu akan menunjukkan kelemahan, dan dukun itu mungkin akan menolaknya atau menaikkan harga. Agus harus bertindak cepat.
Ia mengambil ponselnya, mencari kontak yang selama ini ia hindari—seorang rentenir lokal bernama Pak Jaka, yang terkenal kejam dalam menagih utang.
Agus menelepon. Panggilan itu diangkat setelah deringan kedua.
"Jaka," kata Agus, mencoba terdengar percaya diri. "Aku butuh delapan juta tunai. Sekarang juga."
Suara Pak Jaka di seberang telepon terdengar serak, mungkin ia baru bangun tidur. "Kau ini siapa? Oh, Agus. Aku dengar kau sudah kaya raya. Kenapa kau masih meneleponku?"
"Situasi mendesak. Aku akan mengembalikannya dalam tiga hari, begitu uangku masuk," janji Agus.
Pak Jaka tertawa sinis. "Tiga hari? Dengan bunga 20%? Dan jaminan apa yang kau berikan, Agus? Kau tidak punya apa-apa lagi selain mobil butut itu. Tapi baiklah. Aku butuh uang ini dibayar tunai. Aku akan mengirim kurir. Jika kau telat satu jam, aku tidak peduli dengan kekayaan barumu. Aku akan datang dan memastikan kakimu patah."
Agus menutup telepon, tangannya gemetar. Ia baru saja mengikat dirinya dengan dua neraka: neraka gaib Titi Kusumo dan neraka utang Pak Jaka.
Dalam waktu setengah jam, kurir Pak Jaka tiba, menyerahkan delapan juta tunai dalam amplop coklat tebal.
Agus menghitung tumpukan uang itu lagi, mencampurkannya dengan uang hasil penjualan perhiasan Endang. Tujuh puluh juta rupiah. Modal terakhir untuk rencana yang paling keji.
Ia kembali ke rumah saat matahari baru mulai terbit, cahayanya memantul di kaca jendela. Agus mengirim pesan singkat khusus ke Endang: ‘Selesai. Buka pintu.’
Endang membuka pintu, matanya merah dan bengkak. Ia melihat tas punggung penuh uang yang dilempar Agus ke meja. Ia tidak bertanya tentang perhiasannya. Ia hanya menatap tas itu dengan tatapan jijik.
"Uangnya sudah ada," kata Agus, kelelahan. "Sekarang, kita harus bergerak cepat. Aku harus mengambil Sari dan membawanya ke tempat yang aman. Kita akan bertemu Mbah Jari malam ini."
"Gus," Endang mendekat. "Kau tidak bisa melakukan ini sendiri. Dia wanita yang ketakutan. Jika kau hanya memberinya uang, dia akan lari. Kau butuh aku."
Agus menatap Endang, mempertimbangkan. Endang benar. Sari harus merasa nyaman, dan kehadirannya, sebagai 'kembaran' Sari, akan meyakinkan wanita itu.
"Baik," kata Agus. "Kau harus ikut denganku. Kau harus membujuknya. Kau harus memberinya pakaianmu, agar dia terbiasa dengan penampilanmu. Kita harus membuatnya menjadi bayangan yang sempurna."
Endang mengangguk pasrah. Ia menuju lemari, mengeluarkan beberapa pakaian terbaiknya yang sudah lama tidak dipakai. Pakaian itu akan menjadi seragam tumbal Sari.
"Kita akan pergi sekarang," kata Agus, meraih kunci mobilnya lagi. "Mbah Jari menunggu. Dan Titi Kusumo sedang menonton."
Mereka meninggalkan rumah, membawa tas penuh uang, dan pakaian Endang. Tujuan mereka kini adalah kamar kos murah di pinggiran kota, tempat Agus akan 'menahan' Sari.
Perjalanan itu sunyi. Endang hanya bisa berdoa dalam hati, berharap ada keajaiban yang bisa membatalkan rencana ini, tetapi ia tahu, keajaiban tidak akan datang kepada mereka yang memilih jalan iblis.
Mereka tiba di kawasan kos yang kumuh, tempat yang jauh dari pantauan polisi maupun mata Titi Kusumo. Agus memarkir mobil di sudut yang gelap.
"Kau tunggu di sini," kata Agus pada Endang. "Biarkan aku yang masuk duluan. Aku harus membayarnya sebagian, dan menjelaskan 'pekerjaan akting' ini."
Agus keluar dari mobil, berjalan menuju sebuah pintu kayu reyot. Ia mengetuk. Pintu itu terbuka sedikit, dan Sari muncul. Wajahnya yang sayu terlihat lebih lelah daripada di foto, tetapi kesamaan dengan Endang sangat mencolok.
"Kau kembali," bisik Sari, suaranya pelan.
"Aku membawa uang muka dan detail pekerjaannya," kata Agus, tersenyum licik.
Agus masuk ke kamar kos itu. Endang menunggu di mobil, jantungnya berdebar kencang. Ia mencoba menenangkan diri, tetapi ia tidak bisa mengabaikan rasa dingin yang tiba-tiba merayapi mobil mereka.
Endang melihat ke kaca spion. Tidak ada apa-apa. Hanya jalanan sepi.
Tiba-tiba, ia merasakan dorongan kuat untuk melihat ke kursi belakang. Ia menoleh perlahan.
Tidak ada siapa-siapa.
Tetapi, di kursi belakang, di atas tumpukan pakaian yang ia siapkan untuk Sari, ada sesuatu yang diletakkan. Sebuah artefak kecil dari tanah liat, berbentuk boneka kecil tanpa mata.
Endang merasakan hawa dingin yang menusuk. Ia meraih boneka itu, dan saat jarinya menyentuh tanah liat yang lembap, ia mendengar suara tawa yang sangat dingin, tepat di dalam benaknya. Tawa itu milik Raden Titi Kusumo.
Boneka itu bergetar di tangan Endang, dan perlahan, mata boneka itu mulai mengeluarkan cairan hitam pekat. Cairan itu menetes ke pakaian Sari.
Tawa itu semakin keras, menuntut. Endang menjerit, menjatuhkan boneka itu.
Tepat pada saat itu, pintu kamar kos terbuka, dan Agus keluar bersama Sari. Sari menatap Endang dengan mata lebar, ketakutan yang mendalam tergambar di wajahnya.
"Aku sudah membayarnya, Endang," kata Agus, bersemangat. "Dia setuju. Sekarang, kita harus membawanya ke Mbah Jari. Kita harus segera—"
Tiba-tiba, Sari menunjuk ke kursi belakang mobil, tempat boneka itu tergeletak dengan cairan hitamnya.
"Apa itu?" bisik Sari, suaranya tercekat. "Boneka itu... itu bukan boneka biasa. Aku tidak mau melakukannya. Aku tidak mau terlibat dalam... ini!"
Agus menoleh ke belakang, melihat boneka itu. Wajahnya mengeras. Ia tahu ini adalah trik Titi Kusumo.
"Itu hanya mainan, jangan dipedulikan," bentak Agus, mencoba mendorong Sari masuk.
Tetapi Sari mundur, menggelengkan kepalanya keras-keras.
"Aku tidak bisa, Tuan. Ini terlalu menakutkan. Aku tidak peduli dengan uang itu lagi. Aku tidak mau..."
Sari berbalik, mencoba lari, tetapi Agus meraih lengannya dengan cengkeraman baja.
"Kau tidak bisa lari sekarang!" desis Agus. "Kau sudah mengambil uang mukanya, Sari! Kau sudah menjadi milikku! Dan sekarang, kau harus menjadi tumbal yang sempurna!”