NovelToon NovelToon
Kembalinya Putri Yang Terkutuk

Kembalinya Putri Yang Terkutuk

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Romansa Fantasi / Mengubah Takdir
Popularitas:8.2k
Nilai: 5
Nama Author: Eireyynezkim

Ilyar Justina dijatuhi hukuman pengasingan setelah dituduh merencanakan pembunuhan terhadap ayahnya sendiri, Raja Tyraven. Ia dikirim ke Dakrossa—penjara paling kejam di Kekaisaran Eldrath, tempat para penjahat paling berbahaya dibuang. Semua orang yakin gadis lemah lembut yang bahkan tak bisa bertarung itu tak akan bertahan lama di sana.

Namun, tahun-tahun berlalu, dan Ilyar kembali. Bukan sebagai sosok yang sama, melainkan seseorang dengan aura dingin dan kegilaan yang mengendap di balik senyumnya. Di hadapan saudara-saudaranya yang dipenuhi kebencian, ia hanya tersenyum tipis. “Sepertinya kalian sangat senang dengan kepulanganku.”

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eireyynezkim, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

9

Ilyar sudah dibawa ke bangsal perawatan, menerima penanganan oleh petugas medis profesional dan ahli racun. Sementara Valeris serta Warden lainnya diminta untuk menyelesaikan pekerjaan yang sempat tertunda lalu kembali ke ruang tahanan masing-masing.

"Di mana mereka?"

Valeris tidak menemukan Rubia dan Adrene dalam ruang tahanan, padahal yakin bahwa tidak ada kegiatan yang perlu dilakukan keduanya. Maka dari itu, ia memanggil seorang sipir muda yang baru saja melintas di depan pintu ruangannya. Dia adalah sipir sama yang mengantar Ilyar pertama kali masuk ruangan mereka. Pemuda itu lebih sering berkeliaran di lantai mereka.

"Hei, Nak!" panggil Valeris melalui tray slot-lubang datar pada pintu penjara, berfungsi untuk pemberian makanan atau barang tanpa perlu membuka pintu tahanan narapidana.

"Ada apa?" Heidan berhenti melangkah, berdiri di depan tray slot.

"Apa kamu tahu di mana teman sekamarku?"

Tanya Valeris.

Heidan diam sejenak. Raut wajahnya berubah pias jika mengingat peristiwa dua jam lalu, dimana ada pertikaian di kantin sampai-sampai membuat area itu kacau balau. Meja dan kursi kayu banyak yang hancur; lantai dipenuhi hamburan makanan dari nampan yang berserakan dengan tidak beraturan.

"Mereka ada di bangsal perawatan."

"Bangsal perawatan?"

"Ya. Terjadi perseteruan antara kedua teman Anda dengan Morvak."

Sepasang mata Valeris terguncang. "M-Morvak?" suaranya bergetar.

"Bagaimana kondisi mereka?!" Valeris jadi panik.

"Itu... Anda mau ikut saya untuk melihatnya?" Heidan menawarkan.

Valeris mengangguk dan Heidan segera mengajaknya ke bangsal perawatan. Saat sampai di sana, ruang perawatan berlantai batu kerikil yang terasa dingin memuat sekitar 10 ranjang kayu kecil, tanpa bantal dan diisi oleh lima orang tahanan tersuguhkan.

Berbeda dengan bangsal perawatan penjara lain. Di Dakrossa, bangsal perawatan untuk narapidan sangat kurang perhatian. Bagi mereka yang terluka karena pertikaian tidak akan mendapat penanganan serius, hanya pertolongan dasar saja lalu dibiarkan pulih sendiri. Para petugas medisnya terlihat begitu malas dan tak acuh.

"Ya ampun."

Sepasang tangan Valeris yang terbelit borgol rantai bergetar ketika membungkam mulut sendiri.

Dia melihat kasur sprei putih tempat Rubia dan

Adrene terbaring menyerap lebih banyak darah.

Mereka dipenuhi perban, mulai dari wajah hingga kaki.

Separah apa Morvak menghajar keduanya? Apa penyebabnya?

Valeris mengusap wajah kasar. Entah apa yang tengah terjadi, tapi yang jelas kecuali dia, ketiga teman sekamarnya mengalami hal buruk secara bersamaan.

Perban-perban yang membalut tubuh Rubia dan Adrene kembali mencetak noda darah. Lukanya pasti serius, meski keduanya memiliki ener dalam jumlah tinggi yang memampukan diri melakukan pemulihan mandiri, tetap saja butuh waktu menghilangkan rasa sakit dari luka yang diterima.

"Sekarang Anda harus kembali," ucap Heidan saat beberapa rekan sipir yang bertugas jaga di sekitar bangsal perawatan datang.

"Bagaimana keadaannya?"

"Dia dalam proses pemulihan."

"Kamu memang tabib terbaik."

"Tidak, Solomon. Aku bahkan tidak melakukan tindak pertolongan padanya."

"Apa?"

Sayup-sayup suara percakapan di luar pintu mengusik kesadaran Ilyar yang menipis. Dia terlalu tenggelam oleh rasa sakit dari racun ular selama berjam-jam. Sekarang matahari telah tergelincir dari perbaringan dan dalam pandangan buram di ruang bercahaya minim itu, ia melihat jendela menampilkan suasana malam yang hening.

Dimana aku berada dan siapa orang-orang di luar sana?

Ilyar bermonolog dalam pikiran sebelum kelopak mata yang selalu bertahan untuk terbuka seminim mungkin tertutup rapat. Dia lelah setelah melawan racun yang nyaris menggerogoti nyawanya secara perlahan.

"Tampaknya dia tertidur setelah melawan racun untuk waktu yang lama," kata Menthia-Tabib berusia 56 tahun sekaligus sahabat Solomon-sembari menoleh ke arah ranjang kayu, di mana Ilyar terbaring.

Solomon mengikuti arah pandang Menthia lalu berkata, "Apa maksudmu barusan?"

Menthia mengembuskan napas. "Aku terkejut ketika menyentuhnya. Dia sedang memecah racun dalam tubuh dan melakukan pemulihan secara mandiri. Di kondisi itu, intervensi dari luar bisa mengacaukan fokusnya dalam upaya pertahanan dan perlawanan terhadap racun jadi aku tidak melakukan apa-apa. Dia menyelamatkan dirinya sendiri."

"Apa itu masuk akal, Menthia?"

Menthia menggeleng skeptis. "Kamu tahu sendiri semematikan apa bisa Serpeis, kan? Setetes bisa-nya mampu membunuh puluhan makhluk hidup, tapi gadis itu menerima bisa bagai diguyur air terjun. Serpeis memuntahkan bisa dalam jumlah besar ke tubuhnya dan dia mampu bertahan hidup?"

Serpeis adalah nama ular bersisik putih dengan corak kemerahan yang sebelumnya menyerang Ilyar di lantai sembilan.

Menjelaskan hal tersebut pada Solomon membuat punggung Menthia meremang karena beradasarkan ilmu medis dan pengalaman yang dimiliki, seseorang yang terkesan bisa Serpeis dalam jumlah abnormal seperti Ilyar seharusnya sudah mati. Rasa sakit dari racun begitu mengerikan sehingga banyak yang menyerah terlebih tidak semua orang kebal terhadap racun sehingga hanya butuh hitungan detik untuk korban meregang nyawa.

"Setelah berhasil melawan racun, tingkat pemulihannya bekerja dengan tidak masuk akal. Bukankah katamu putri Agor punya fisik lemah? Jadi bagaimana bisa dia melewati semua ini?" Lanjut Menthia.

Bibir Solomon bergerak agak kaku. Melihat dengan seksama bagaimana dada Ilyar naik turun dengan stabil dan dengkuran halus terdengar samar. Gadis yang telah basah kuyup oleh racun dan keringat itu sungguh terlelap nyaman setelah melawan racun Serpeis. Tidak ada lagi kejang-kejang, saraf kehitaman, dan kulit berubah ungu gelap. Dia sungguh kembali normal.

Solomon telah mencari tahu apakah Ilyar sungguh terlibat dalam penyerangan yang melibatkan Agor juga jebakan yang menargetkan Graven. Hasilnya, Ilyar adalah salah satu kambing hitam dari para pelaku di balik layar.

"Seorang monster baru saja terbangun dari tidur yang panjang. Dia sungguh keturunan Valgard," kata Solomon nyaris berbisik.

"Kalau begitu kita harus menjaganya," lanjut Menthia.

Solomon diam cukup lama. Seolah tengah bergumul dengan rencana-rencana gila yang baru saja dibentuk dalam kepala besarnya. Setelah itu seringai menghias raut wajahnya yang senantiasa keras dan penuh kemarahan.

"Dia ditakdirkan berada di Dakrossa untuk waktu tertentu," kata Solomon penuh makna.

"Jadi apa yang akan kamu lakukan terhadapnya?

Jangan terlalu keras." Menthia memperingati setelah melihat betapa penuh rencana raut wajah Solomon.

Solomon mendengkus menangkap kecurigaan menari-nari di mata tua Menthia. "Aku akan mengujinya lagi."

"Bagaimana caranya?" tanya Menthia.

Solomon tidak mengatakan apa-apa, namun seringai culasnya memberitahu jawaban yang pasti bagi Menthia. Hingga esok harinya, ketika matahari kembali merangkak dari kaki langit, Ilyar terbangun dan merasakan rasa pening mendera kepalanya dengan hebat.

Dia bangun terduduk seraya mendesis pelan, mendapati dirinya berada di ruang berdinding batu yang dilengkapi satu ranjang kayu kecil dan sebuah meja bundar di kepala ranjang. Padahal semalam dia yakin berada di ruangan yang lebih bagus karena ada jendela sayap bertirai tipis.

"Yah, mana ada tempat semacam itu di Dakrossa, jadi aku masih hidup?" Ilyar berkata pelan sembari menurunkan kaki dari ranjang, duduk di tepiannya sambil merasakan ujung kaki tanpa alas menyentuh lantai batu kasar yang terasa amat dingin.

"Ukh, tenggorokanku terasa sangat kering," batin Ilyar seraya melirik meja kayu yang tidak ada apa pun di atasnya, tapi tidak lama pintu besar berderit, seseorang wanita setengah baya datang membawa nampan berisi makananan, minuman, serta obat.

"Bagaimana perasaanmu?" tanya Menthia sembari meletakkan nampan di atas meja.

"Sudah terasa lebih baik," jawabnya seraya melirik dengan nafsu lapar pada nampan, menelan ludah berkali-kali tatkala uap dari sup daging yang dihaluskan menusuk indera pembaunya secara menggoda. Melihat itu, Menthia menahan kekehan lalu menarik meja kayu lebih dekat pada Ilyar.

"Makanlah. Kamu butuh energi, setelah itu minum obatnya," kata Menthia.

Ilyar menahan rasa lapar dan haus yang mengelegak beberapa detik untuk mengucapkan rasa terima kasih lalu menyantap makanan dengan anggun. Yah, Menthia tidak lupa jika Ilyar dididik keras untuk bersikap sesuai tata krama bangsawan.

Selesai. Ilyar menghabiskan makanannya dan minum obat yang terasa sangat pahit, namun dia tidak mengeluhkan apa-apa. Justru duduk tenang sambil memandangi Menthia yang menarik kursi kayu ke hadapannya yang duduk di tepi ranjang.

"Boleh aku menanyakan beberapa hal?" pinta Menthia dan Ilyar mengangguk.

"Kamu berhasil melewati kondisi kritis tanpa bantuan tabib. Apa sebelumnya kamu pernah mengalami hal serupa atau melakukan sesuatu terhadap tubuhmu untuk berlatih kebal terhadap racun?" tanya Menthia setelah malam tadi kembali memeriksa tubuh Ilyar lebih teliti dan mendapati bahwa gadis itu tidak sekali dua kali melawan racun di dalam tubuhnya.

Ilyar merapatkan mulut, enggan menjawab karena tidak tahu apakah Menthia adalah lawan atau kawan. Jika dia memberitahu kebenarannya, Adrene akan dalam masalah.

Menthia mengembuskan napas menyadari kewaspadaan Ilyar. Lagi pula dia tidak perlu jawaban karena sudah tahu.

"Terima kasih atas perawatan dan makanannya. Apa saya sudah boleh kembali? Teman seruangan saya pasti khawatir," kata Ilyar.

"Tetaplah di sini sampai pulih, lagi pula teman yang kamu maksud tidak ada di ruangan," celetuk Solomon dari ambang pintu.

1
Mila Sari
Thor upnya yg banyak donk,,
Iry: malam ya beb
total 1 replies
PengGeng EN SifHa
Diam...mengamati...berakhir EKSEKUSI😐😐😐
𝐀⃝🥀Weny
ceritanya tambah seru aja thor..
Iry: hehehe iya beb
total 1 replies
Firniawati
ayo kak up lagi yg banyak 😍
Iry: sabar yahhhh, mungkin malam
total 1 replies
PengGeng EN SifHa
intrik..ambisius & haus akan valisldasi disebuah kerajaan..memang sangat membagongkan..baik didunia nyata maupun cerita❤️❤️❤️❤️
Gesang
seruuuuu👍👍👍
Firniawati
sangat bagus ceritanya seru tidak monoton dan membosanka,,terus semangat ya kk othor 🥰
Iry: waaaahhh makasih banyak❤
total 1 replies
Firniawati
kak kapan update lagi?
Iry: aku update hari ini
total 1 replies
EL MARIA
kok sama kaya yg di fizo yaa.... yg di fizo udh tamat dari lama ini autor nya sama kah
CaH KangKung,
👣👣
𝐀⃝🥀Weny
lanjut lagi thor.. ceritamu yang ini tambah seru dan penuh tantangan😊
𝐀⃝🥀Weny: yeeey.. thanks thor❤️❤️❤️
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!