"Zel, kita cuma nikah kontrak! Berhenti kirim kurir obat ke sekolah, aku malu sama guru-guru lain!"
Dazello Zelbarra, CEO dingin itu justru menarik Runa ke pelukannya. "Di catatanku, jam segini lambungmu mulai perih karena kamu lupa sarapan. Aku tidak peduli kamu malu, Runa. Aku hanya peduli kamu tetap hidup untuk melunasi kontrakmu padaku."
Runa Elainzica, guru honorer yang ceroboh dan pelupa, terpaksa menikahi mantan pacarnya, Dazello ‘Azel’ Zelbarra, demi menyelamatkan sekolahnya dari kebangkrutan.
Runa mengira Azel membencinya. Namun, ia tak pernah tahu bahwa di ponsel Azel terdapat aplikasi rahasia berjudul "Runa’s Manual Book". Sebuah catatan obsesif berisi ribuan detail tentang kebiasaan kecil Runa, pantangan makannya, hingga cara melindunginya saat badai datang.
Dunia mereka berbeda, tapi di buku catatan Azel, nama Runa sudah tertulis sebagai milik sahnya... selamanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ariska Kamisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 35
Azel mematikan layar ponselnya tepat saat mendengar pintu kamar mandi terbuka. Ia menoleh, menatap Runa yang keluar dengan rambut basah terlilit handuk putih. Tanpa sepatah kata, Azel menarik pergelangan tangan Runa lembut, membimbingnya untuk duduk di pangkuannya.
Azel memeluk istrinya itu erat-erat, menyembunyikan wajahnya di ceruk leher Runa yang masih beraroma sabun bayi. Ada rasa lega sekaligus kecemasan yang bergejolak di dadanya setiap kali ia menyentuh tubuh Runa yang terasa semakin mungil dalam dekapannya.
"Zel... kamu kenapa? Kok manjanya kumat?" Runa terkekeh pelan, tangannya mengusap rambut belakang Azel.
Azel menjauhkan wajahnya sedikit, namun tangannya masih mengunci pinggang Runa dengan posesif. "Rambutmu keringkan sebentar, lalu ganti pakaian yang lebih tebal. Kita pergi sekarang."
Runa mengernyit bingung. "Pergi lagi? Aku baru saja mandi, Zel. Aku mau istirahat, besok kan hari Sabtu."
"Kita ke rumah sakit, Runa. Sekarang," jawab Azel dengan nada rendah yang tidak menerima penolakan. "Aku sudah membuat janji temu untuk medical check-up total malam ini. Aku mau data akurat soal kondisi tubuhmu dari ujung kepala sampai kaki. Aku nggak terima alasan 'aku sudah mendingan' lagi."
Runa menghela napas panjang. Ia tahu tatapan itu—tatapan mutlak seorang Dazello Zelbarra. "Tapi aku beneran nggak apa-apa, Zel. Aku cuma butuh tidur."
"Justru itu masalahnya. Kamu selalu bilang nggak apa-apa padahal tubuhmu sedang menjerit sakit," pungkas Azel sembari membantu Runa turun dari pangkuannya dan menuntunnya ke arah lemari pakaian. "Pakai jaketmu. Aku tunggu di mobil sepuluh menit lagi."
Dua jam kemudian, suasana di ruang konsultasi VVIP rumah sakit itu terasa begitu mencekam. Hanya ada suara detak jam dinding dan gesekan kertas yang dibolak-balik oleh dr. Hendrawan. Azel duduk tegak dengan rahang mengeras, sementara tangan kirinya tidak melepaskan genggaman pada jemari Runa yang mulai mendingin.
"Bagaimana hasilnya, Dok?" tanya Azel, suaranya terdengar seperti sebuah tuntutan.
Dokter itu menghela napas, menatap mereka bergantian dengan kacamata yang sedikit diturunkan. "Secara keseluruhan, ada tanda-tanda malnutrisi kronis yang cukup nyata dalam lima tahun terakhir. Tubuh Bu Runa seperti dipaksa bekerja melampaui asupan gizinya."
Azel memejamkan mata sesaat. Lima tahun. Angka itu menghantam dadanya seperti palu godam. Rasa benci pada dirinya sendiri mulai membakar; ia membenci fakta bahwa saat ia makan di restoran berbintang, Runa mungkin hanya mengganjal perutnya dengan mie instan demi menghemat gaji.
Namun, kalimat dokter selanjutnya benar-benar meruntuhkan pertahanan mereka.
"Dan hasil USG transvaginal menunjukkan adanya Endometriosis. Ini yang menjelaskan kenapa nyeri haid kemarin begitu ekstrem. Sayangnya, kondisi ini juga membuat peluang kehamilan menjadi sedikit lebih menantang. Kita harus memulai terapi hormon secepatnya."
Runa merasa dunianya seolah berhenti berputar. Peluang kehamilan? Menantang?
"Apakah... saya nggak bisa hamil, Dok?" tanya Runa dengan suara yang pecah. Air matanya mulai menggenang di pelupuk mata.
"Peluangnya tetap ada, tapi kecil. Dan satu hal lagi untuk Pak Azel," Dokter itu menatap Azel dengan serius. "Kondisi ini membuat aktivitas seksual terkadang terasa sangat menyakitkan bagi wanita. Saya sarankan untuk melakukannya dengan sangat hati-hati, atau sebaiknya menunggu sampai terapi berjalan."
Di dalam mobil dalam perjalanan pulang, keheningan terasa begitu menyesakkan. Runa hanya menatap keluar jendela, air matanya terus mengalir tanpa suara. Ia merasa hancur. Ia merasa gagal sebagai wanita, bahkan sebelum ia benar-benar memulai perannya sebagai istri yang nyata bagi Azel.
"Zel... kamu denger tadi, kan?" bisik Runa parau di tengah isakannya. "Aku nggak sempurna. Aku sakit. Aku mungkin nggak bisa kasih kamu anak. Kamu... kamu masih bisa batalin kontrak ini kalau mau. Kamu pantes dapet wanita yang sehat buat Mama Sofia."
Sreeekk!
Azel menginjak rem secara mendadak di pinggir jalan yang sepi. Ia memutar tubuhnya, menatap Runa dengan tatapan yang tajam namun penuh dengan kepedihan.
"Batalin kontrak?" desis Azel. "Runa, apa kamu pikir aku menikahimu hanya untuk dijadikan mesin pencetak anak? Apa kamu pikir cintaku semurah itu sampai bisa ditukar dengan hasil lab?"
Azel langsung menarik Runa ke dalam pelukannya, mendekapnya begitu kuat seolah ingin menyatukan kembali kepingan hati Runa yang retak. "Aku nggak peduli soal anak. Aku nggak peduli soal pewaris. Yang aku pedulikan cuma kamu! Aku cuma ingin kamu hidup, Runa. Aku ingin kamu sehat di sampingku."
Azel membenamkan wajahnya di leher Runa, suaranya merendah penuh penyesalan. "Aku benci diriku sendiri karena membiarkan kamu menderita sendirian selama lima tahun ini. Jangan pernah berani bilang aku harus cari wanita lain lagi, atau aku benar-benar tidak akan memaafkan diriku sendiri."
Pukul 01.30 WIB, Ruang Kerja Azel
Setelah memastikan Runa terlelap karena pengaruh obat pereda nyeri, Azel duduk menyendiri di ruang kerjanya. Di saat sunyi seperti inilah, ia mengeluarkan ponselnya dan membuka folder rahasianya.
Runa’s Manual Book: Catatan Kegagalanku & Strategi Pemulihan
Malam ini hatiku benar-benar hancur mendengar diagnosa itu. Malnutrisi kronis dan endometriosis; semua itu adalah bukti nyata betapa bodohnya aku karena membiarkan Runa berjuang sendirian selama lima tahun terakhir. Aku merasa menjadi pria paling gagal karena membiarkannya menderita hanya demi egoku. Mulai detik ini, aku bersumpah akan menghapus kata 'Anak' dari setiap pembicaraan di rumah ini agar Runa tidak merasa tertekan. Aku tidak peduli soal pewaris, aku hanya ingin dia sembuh.
Aku akan fokus seratus persen pada pemulihannya, apa pun taruhannya. Jika hubungan fisik hanya akan memberinya rasa sakit, maka aku bersumpah akan menahan diriku seumur hidup jika perlu, karena kenyamanannya jauh lebih berharga daripada hasratku. Besok pagi, aku akan segera menghubungi spesialis terbaik di Singapura; uang bukan masalah, yang terpenting adalah Runa harus sehat kembali. Aku tidak akan membiarkan ada satu pun celah yang bisa membuat mentalnya jatuh lagi.
Catatan tambahan: Jangan pernah biarkan dia ngerasa nggak berharga lagi. Karena bagi Dazello Zelbarra, Runa adalah satu-satunya alasan kenapa aku masih mau pulang ke rumah ini.
apa susahnya sih, pake alesan dijodohin segala 🤣