NovelToon NovelToon
Diantara Ketulusan Dan Kekuasaan.

Diantara Ketulusan Dan Kekuasaan.

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Office Romance / Komedi
Popularitas:2.2k
Nilai: 5
Nama Author: Nadhira Ramadhani

Sheila Maharani hanya ingin hidup tenang sebagai karyawan baru yang kalem dan setia pada kekasihnya, Malik. Namun, impian itu hancur saat ia membuka pintu ruang CEO dan menemukan Jeremy Nasution—kakak tingkat masa kuliah yang dulu mengejarnya secara ugal-ugalan—kini menjadi bosnya.
Jeremy yang percaya diri maksimal (PD mampus) tidak membiarkan Sheila lari untuk kedua kalinya. Di antara tumpukan berkas properti dan aroma siomay kantin, Jeremy mulai menyusun strategi untuk merebut hati Sheila kembali.
Bisakah Sheila tetap profesional dan setia pada Malik, atau ia akan menyerah pada "perintah atasan" yang semakin hari semakin tidak masuk akal?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadhira Ramadhani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 15

Pagi itu, suasana di lantai 25 terasa sedikit berbeda. Tidak ada suara tawa keras Jeremy yang biasanya terdengar sampai ke kubikel karyawan, juga tidak ada instruksi menyebalkan melalui intercom. Sheila melangkah menuju ruangan CEO dengan map biru tebal di pelukannya. Ia sudah menyiapkan mental untuk "perang mulut" babak baru setelah kejadian makan malam yang tegang kemarin.

Namun, saat ia sampai di depan pintu jati besar itu, keheningan menyambutnya. Ia mengetuk sekali, dua kali, hingga tiga kali, tapi tetap tidak ada sahutan.

Sheila menoleh ke arah meja sekretaris senior di samping pintu. "Mbak Niken? Ini Bapak di dalam, kan? Kok sepi banget?"

Mbak Niken mendongak dari layar komputernya, wajahnya tampak cemas. "Tadi baru saja masuk kok, Mbak Sheila. Tapi mukanya emang pucat banget tadi pas lewat depan meja saya. Saya tanya mau kopi atau nggak, beliau cuma geleng kepala terus masuk."

"Pucat? Dia sakit?" tanya Sheila, ada rasa tidak nyaman yang tiba-tiba menyelinap di hatinya—perpaduan antara benci tapi juga rasa kemanusiaan yang mendasar.

"Kurang tahu, Mbak. Biasanya Pak Jeremy kan nggak pernah mau kelihatan lemah di depan staf," jawab Niken pelan.

"Oh, oke... saya izin masuk ya, Mbak. Mau taruh berkas mendadak ini," pamit Sheila.

Dengan gerakan perlahan, Sheila memutar knop pintu. Ruangan itu terasa jauh lebih dingin dari biasanya, seolah mesin AC dipasang pada suhu maksimal. Cahaya matahari yang masuk dari jendela besar hanya menerangi meja kerja yang kosong. Mata Sheila menyisir ruangan, dan jantungnya mencelos saat melihat sosok pria tinggi itu tidak duduk di kursi kebesarannya, melainkan sedang meringkuk di atas sofa kulit hitam di sudut ruangan.

Jeremy masih mengenakan kemeja kerjanya, tapi dasinya sudah ditarik lepas dan tergeletak di lantai. Kedua tangannya memeluk tubuhnya sendiri, dan napasnya terdengar berat serta tidak beraturan.

Sheila mendekat dengan langkah ragu. "Pak... ini... berkas yang harus Bapak tanda tangani," ucap Sheila pelan, mencoba mempertahankan profesionalitasnya meskipun situasi di depannya jauh dari kata profesional.

"Taruh situ saja," suara Jeremy terdengar parau, sangat lemah, jauh dari nada otoriter yang biasanya ia gunakan. Ia bahkan tidak membuka matanya.

Sheila meletakkan map itu di meja tamu, tapi ia tidak langsung pergi. Ia memerhatikan wajah Jeremy. Benar kata Mbak Niken, wajah pria itu sangat pucat, dengan keringat dingin yang membasahi keningnya. Bibirnya yang biasanya suka mengeluarkan kalimat pedas kini terlihat kering dan gemetar.

"Bapak oke?" tanya Sheila lagi, kali ini nada suaranya sedikit lebih lembut.

Tidak ada jawaban.

"Pak?" Sheila mencoba memanggil lagi. Tetap diam.

"Jeremy," panggilnya lirih, tanpa embel-embel jabatan.

Sheila memberanikan diri menyentuh punggung tangan Jeremy yang berada di atas sofa. Panas. Tubuh pria itu membara seperti tersengat api. Sheila tersentak. Ia segera meletakkan telapak tangannya di dahi Jeremy, dan rasa panas yang menyengat langsung terasa di kulitnya.

"Astaga, kamu demam tinggi banget, Jer!" pekik Sheila panik. "Aduh, aku harus gimana nih?"

Sheila segera berlari ke arah dispenser di pojok ruangan, mengambil air hangat di dalam gelas, dan mencari kotak P3K yang selalu ada di dalam lemari kantor. Ia menemukan handuk kecil di sana. Dengan telaten, Sheila membasahi handuk itu, memerasnya, lalu kembali ke sisi sofa.

Ia duduk di lantai, tepat di samping kepala Jeremy. Dengan sangat hati-hati, ia menyibak rambut Jeremy yang menutupi kening, lalu menempelkan kompres air hangat itu di sana.

Jeremy melenguh pelan, matanya sedikit terbuka namun tampak kosong dan layu. "Shei... lari... nanti ketularan..." gumamnya melantur.

"Berisik. Diem aja," sahut Sheila galak, tapi tangannya bergerak sangat lembut merapikan kompres itu. "Hobi banget sih nyusahin orang. Sakit begini bukannya istirahat di rumah, malah maksa ke kantor cuma buat ngerjain aku ya?"

Sheila menghela napas. Ia menatap wajah Jeremy saat sedang tidak sadar seperti ini. Tanpa seringai tengil dan tatapan tajamnya, Jeremy terlihat seperti pria biasa yang rapuh. Ia teringat kata-kata Jeremy kemarin tentang rasa takut kehilangannya. Sejenak, rasa kesal Sheila menguap, berganti dengan rasa iba yang dalam.

Ia mengambil ponselnya, hendak mengabari Malik bahwa ia akan telat makan siang karena harus mengurus "urusan kantor", tapi ia urungkan. Ia tidak ingin Malik cemburu lagi, tapi ia juga tidak bisa meninggalkan Jeremy dalam kondisi seperti ini sendirian.

Sheila memutuskan untuk tetap di sana. Ia mengganti kompres Jeremy setiap sepuluh menit. Ia juga sempat menyelimuti tubuh Jeremy dengan jas pria itu yang tersampir di kursi. Suasana ruangan yang tenang, suara hembusan napas Jeremy yang mulai teratur, dan suhu AC yang dingin perlahan-lahan membuat mata Sheila mulai terasa berat.

Sheila menyandarkan kepalanya di pinggiran sofa, tepat di samping lengan Jeremy. Tangannya masih memegang ujung handuk kompres. Awalnya ia hanya berniat memejamkan mata sebentar, namun rasa lelah setelah seminggu penuh tekanan membuat pertahanannya runtuh.

Akhirnya, asisten pribadi itu malah ketiduran di samping bosnya yang sedang sakit.

Satu jam berlalu. Cahaya matahari mulai bergeser, menerangi wajah Jeremy yang perlahan mulai mendapatkan kembali warna kulitnya. Efek kompres dan istirahat singkat itu sepertinya bekerja.

Jeremy perlahan membuka matanya. Rasa pening di kepalanya masih ada, tapi sensasi dingin di dahinya terasa sangat nyaman. Ia merasakan sesuatu yang berat menekan lengannya. Saat ia menoleh ke samping, jantungnya seolah berhenti berdetak sesaat.

Di sana, di lantai samping sofanya, Sheila tertidur pulas dengan posisi kepala bersandar di pinggiran sofa. Wajah gadis itu tampak sangat tenang, jauh dari ekspresi galak yang biasanya ia tunjukkan. Jeremy bisa melihat bulu mata lentik Sheila dan napas halusnya yang mengenai lengan kemejanya.

Jeremy tertegun. Ia mengulurkan tangannya yang gemetar, jari-jarinya ragu-ragu untuk menyentuh pipi Sheila. Ia tersenyum tipis, sebuah senyuman tulus yang tidak pernah ia tunjukkan pada siapa pun.

"Bahkan pas aku sakit pun, kamu masih ada di sini, Shei," bisik Jeremy sangat pelan.

Ia menarik jas yang menyelimutinya, lalu dengan gerakan sangat hati-hati agar tidak membangunkan gadis itu, ia menaruh sebagian jasnya ke bahu Sheila agar Sheila tidak kedinginan karena AC. Jeremy terus menatap wajah tidur Sheila, mengabaikan rasa sakit di tubuhnya sendiri. Baginya, pemandangan ini jauh lebih berharga daripada draf anggaran proyek mana pun di dunia.

Namun, ketenangan itu terusik saat ponsel Sheila yang tergeletak di meja bergetar hebat. Nama "Malik Sayang" terpampang jelas di layar yang menyala.

Senyum di wajah Jeremy mendadak hilang. Tatapannya kembali menajam, dingin, dan penuh perhitungan. Ia menatap ponsel itu, lalu kembali menatap Sheila yang masih terlelap. Sebuah rencana baru mulai tersusun di kepalanya yang masih sedikit pening.

1
putmelyana
next Thor ceritanya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!