Di tengah panas Kalimantan yang tak kunjung reda, Budi Santoso-seorang sales biasa di Palangkaraya menemukan kehidupan yang berubah drastis setelah sebuah “sistem” misterius muncul di kepalanya. Awalnya hanya alat untuk naik level dan bertahan hidup, sistem itu kini menjadi satu-satunya harapannya saat alam mulai bermutasi dengan kejam
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon zhar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 31
“Ruangannya di mana?” tanya Budi begitu tiba di lantai empat sambil terengah-engah.
“Lebih ke depan lagi, dekat kamar kecil di ujung koridor,” jawab gadis cantik itu dengan napas tersengal. Ia sudah tidak sabar ingin berbaring di lantai.
Mereka berlari lagi sekitar lima puluh hingga enam puluh meter sebelum sampai di depan pintu ruang pertemuan kecil.
“Oh sial! Kita tidak punya kuncinya!” seru Jeni kecewa.
“Tidak apa-apa,” kata Budi tenang.
Ia memeriksa pintu sekilas. Itu adalah pintu kayu yang cukup kokoh. Tanpa banyak bicara, Budi menurunkan bahu kanannya dan membenturkan tubuhnya keras ke pintu.
“Bang!”
Pintu langsung jebol terbuka dengan suara keras.
Mereka bergegas masuk ke ruang pertemuan kecil yang luasnya sekitar enam puluh meter persegi. Ruangan itu mirip kelas kecil. Budi cepat melihat sekeliling, lalu memindahkan beberapa meja berat untuk menghalangi pintu masuk. Seketika ruangan menjadi lebih gelap.
Jeni menyalakan lampu dan kipas exhaust, kemudian bersandar di kursi sambil mengatur napas. “Capek sekali… Kenapa Pak Sandi dan Heru belum sampai juga? Cika, kamu paling belakang tadi, apa kamu melihat mereka?”
Baru saat itu ia sadar ada dua orang yang hilang.
“Mereka di belakang. Pak Sandi berjalan bersama Kak Heru, seharusnya sebentar lagi sampai,” jawab Cika sambil berusaha mengingat apa yang ia lihat.
“Heru memang pintar cari muka,” kata seorang pria berbaju kotak-kotak sambil mengerutkan kening. “Masih sempat-sempatnya juga di saat begini.”
“Kak Rian, lebih baik kamu bilang yang baik-baik daripada sarkastik begitu,” tegur Cika tidak suka. “Kalau kamu mau naik jabatan, kamu juga bisa melakukannya.”
“Sudah, berhenti bertengkar! Jangan sampai serangga-serangga itu mendengar kita!” potong Jeni cepat.
Keduanya langsung diam. Tak lama kemudian, terdengar suara langkah kaki mendekat. Cika tersenyum gembira dan hendak mendekati meja penghalang.
Budi langsung menghentikannya. “Jangan bergerak. Itu bukan langkah kaki manusia.”
Suara itu jelas dan berirama, seperti seseorang memukul lantai dengan paku pada frekuensi tertentu. Wajah semua orang langsung memucat.
“Untuk sementara kita aman di sini. Di luar hanya ada satu serangga hijau,” kata Budi. Ia awalnya berencana bertahan sampai kawanan serangga itu pergi. Namun, suara sistem tiba-tiba muncul di benaknya dan mengubah segalanya.
[Ding! Misi Level E telah dipicu.]
[Misi: Bunuh 10 Serangga Hijau!]
[Waktu: 3 hari. (Terima / Tolak)]
“Sialan! Apa sistem ini mau membunuhku?” umpat Budi dalam hati, tapi ia tetap menerima misi tersebut.
Ia sudah sangat dekat dengan Level 5. Begitu menyelesaikan misi ini, ia akan naik level terlepas dari berapa poin bonus yang didapat. Semua kemampuannya akan mengalami peningkatan besar. Lagipula, ia sudah terjebak di sini. Kalau memang harus bertarung, lebih baik ia terima misinya.
Langkah kaki itu semakin dekat ke pintu. Suara itu tiba-tiba berhenti. Semua orang menahan napas. Udara di ruangan seolah membeku.
Detik berikutnya, terdengar suara tajam dan mengganggu dari arah pintu seperti serangga menggaruk kayu dengan logam. Yang membuat mereka semakin ketakutan adalah suara langkah serangga lain yang juga mendekat ke ruang pertemuan.
“Apa yang harus kita lakukan sekarang, Budi?” tanya Jeni panik. Ia tahu Budi adalah orang terkuat di ruangan ini dan satu-satunya yang membawa senjata.
Budi berpikir sejenak lalu berkata tegas, “Pintu ini tidak akan bertahan lama. Kita harus membunuh dua serangga di luar. Kalau tidak, begitu mereka masuk, kita semua akan mati.”
“Jangan buka pintunya! Mau mati kita semua?” bentak Rian dengan suara rendah. “Mereka tidak akan bisa masuk. Kita banyak orang di sini, dan meja-meja ini sudah menghalangi pintu.”
“Benar! Kita tambah meja lagi, cepat!” Cika panik dan langsung memindahkan beberapa meja. Rian ikut membantu.
Budi merasa berkonflik. Ia memang perlu membunuh serangga hijau untuk menyelesaikan misi, dan peluang menangkap mereka satu per satu di luar cukup besar. Tapi ia juga tahu begitu pintu dibuka, serangga-serangga itu akan menerobos masuk. Ia khawatir staf-staf ini akan terluka atau bahkan tewas. Meski sudah banyak berubah sejak mutasi hewan terjadi, Budi belum menjadi orang yang tega mengorbankan nyawa orang tak bersalah demi misi pribadinya.
“Woy! Kenapa kamu masih berdiri di situ? Ayo bantu pindahkan meja!” bentak Rian ketika melihat Budi hanya diam.
Budi tidak ingin berdebat dan ikut membantu. Saat ia mendekat, Rian berbisik sinis, “Daritadi Pegang pisau itu mulu Cih! pura-pura jadi pahlawan!”
Tidak tahu apakah sengaja atau tidak, tapi Cika yang berdiri agak jauh pun mendengarnya.
Wajah Budi langsung berubah serius. Ia berhenti, berbalik, dan berjalan mendekati Rian.
Ia bukan orang yang suka menghitung-hitung atau tidak bisa menerima kritik. Tapi orang seperti Rian bisa menjadi bom waktu yang meledak kapan saja saat semua orang sedang bertarung bersama.
“Kamu mau ngapain?” tanya Rian dengan suara galak.
“Budi, tenang dulu. Rian, cepat kamu minta maaf,” kata Jeni khawatir. Ia tahu Budi pernah belajar bela diri dan bisa dengan mudah melumpuhkan Rian.
“Kenapa harus minta maaf? Aku tidak salah bicara,” tolak Rian.
“Tenang, aku hanya ingin cerita sedikit kepadanya,” potong Budi sambil menghentikan Jeni. “Mungkin kamu tidak tahu, tapi sepuluh hari lalu ada tujuh preman yang menantang aku seperti yang baru kamu lakukan. Aku langsung potong kepala dan tangan mereka dengan pisau ini. Kemarin, ada orang yang menembak aku dari belakang. Aku langsung potong tangannya, lalu tusuk perutnya sampai ususnya keluar. Jadi..kamu mau coba?”
Nada dingin dan niat membunuh yang jelas dari Budi membuat Rian ketakutan setengah mati. Dadanya terasa sesak, kakinya lemas. Ia bahkan tidak sadar bajunya sudah basah oleh keringat. Budi sengaja memperkuat tekanan itu untuk memberi pelajaran. Rian hanyalah orang biasa tekanan seperti ini sudah cukup membuatnya hancur.
“Ingat baik-baik,” kata Budi pelan tapi tajam, “kalau kamu tidak berani bertarung, jangan pernah menantang orang lain. Kalau tidak, kamu bisa mati dengan menyedihkan.”
“Kamu...Kamu pernah membunuh orang?” tanya Cika ketakutan. Ia langsung menyesal dan tidak berani menatap Budi lagi.
Orang-orang ini dulunya bekerja di instansi pemerintahan dan masih mendapat jatah makanan cukup. Pikiran mereka masih tertinggal di masa lalu, meski dunia sudah kacau. Mereka belum benar-benar memahami betapa kejamnya situasi di luar sana.
“Banyak orang sudah mati di kota ini. Siapa yang peduli kalau mereka dibunuh mutan atau dibunuh manusia?” jawab Budi sambil menatapnya tajam.
Cika ketakutan dan langsung diam.
“Cukup, jangan buat dia ketakutan lagi,” bujuk Jeni pelan. Ia lalu menoleh ke Cika. “Dia hanya membela diri. Perlindungan diri itu dilegalkan menurut hukum.”
Tak lama kemudian, suara langkah kaki di luar semakin banyak hingga mereka tidak bisa lagi menghitung berapa serangga yang berkumpul. Koridor menjadi sangat bising.
Pintu kayu kokoh itu bergetar hebat berkali-kali. Tiba-tiba, sepasang kaki panjang, tajam, dan semi-transparan menyelinap masuk melalui celah pintu yang baru jebol. Cika langsung menutup mulutnya. Air mata mengalir deras dari matanya.
Budi segera mendorong pintu dengan kuat. Kaki serangga itu tersangkut, tapi tidak patah. Ternyata sangat kuat.
“Kamu, dorong pintunya,” perintah Budi kepada Rian.
Setelah diancam tadi, Rian langsung patuh. Ia bergegas mendekat dan menekan pintu sekuat tenaga.
Budi menunggu sampai Rian benar-benar menahan pintu, lalu mengeluarkan Parang-nya dan menebas kaki serangga itu dengan keras.
Anehnya, kaki serangga itu tidak langsung putus meski ditebas dengan pisau tajam. Budi hanya berhasil memotong separuhnya sebelum merasa lengannya lelah. Ini jauh lebih sulit daripada saat melawan Raja Tikus.
Serangga hijau itu meraung kesakitan, mengeluarkan suara aneh seperti air mendidih. Dengan kalap, ia menghantam pintu berkali-kali dengan kekuatan besar.
Budi menarik pisau dan menebas di tempat yang sama lagi. Akhirnya, dengan satu tebasan keras, kaki serangga itu patah!