Matteo Adrian Reins Smith kembali ke Seoul bukan sebagai pecundang, melainkan sebagai pemimpin industri yang ia bangun dari rasa iri dan ambisi untuk melampaui bayang-bayang ayahnya dan keraguan kakaknya. Namun, di balik kemegahan takhtanya, hati Matteo kosong. Ia dihantui memori Manila—tentang Sheena yang tak lain adalah adik iparnya sendiri.
Di sisi lain kota Seoul, Park Chae-young hidup dalam bayang-bayang masa lalu yang traumatis. Lima tahun lalu, sebuah pengkhianatan cinta membawanya ke sebuah bar, dan ia terbangun dengan hidup yang hancur. Ayahnya meninggal karena terkejut, meninggalkan Chae-young hamil di usia muda. Kini, di usia 28 tahun, ia adalah desainer hantu di balik brand ‘Forever-young’ yang viral. Ia membesarkan sepasang anak kembar yang menjadi satu-satunya alasan ia bertahan hidup.
Akankah takdir mempertemukan mereka kembali?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wahyuni Shalina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 10: Sebuah Pengakuan
Di dalam ruangan CEO yang biasanya dingin dan kaku, suasana mendadak berubah menjadi hangat namun penuh tanda tanya. Matteo berlutut di atas karpet bulu mahalnya, menatap dua pasang mata biru yang menuntut jawaban.
"Jadi... Uncle benar-benar Daddy kami?" tanya Chae-rin, suaranya mengecil, kehilangan nada tajamnya sejenak. Ia memiringkan kepalanya, menatap wajah Matteo seolah sedang mencari kejujuran di balik wajah "papan triplek" itu.
Matteo terdiam, tenggorokannya terasa tersumbat. Ia menatap Chan-yeol yang berdiri tegak dengan tangan terlipat—persis seperti gayanya saat sedang memikirkan strategi bisnis. Matteo menghela napas panjang, lalu tersenyum tipis, sebuah senyum yang tulus.
"Nanti Uncle ceritakan semuanya kalau kalian sudah besar," ucap Matteo lembut, tangannya terangkat ragu untuk mengusap rambut ikal Chae-rin. "Tapi untuk saat ini... kalian boleh panggil Uncle, Daddy. Boleh?"
"Uhh, Uncle ini alasannya sama saja seperti Mommy." Sembur Chan-yeol.
Sedangkan Chae-rin matanya sudah berbinar, ia langsung menghambur ke pelukan Matteo. "Aku tahu itu! Teman-temanku bilang Daddy itu tinggi dan hebat, dan Uncle sangat tinggi!"
Sementara itu, Chan-yeol tidak langsung memeluk. Ia menatap Matteo dengan selidik. "Kalau Uncle adalah Daddy, kenapa Mommy menangis semalam? Apa Daddy orang jahat yang meninggalkan kami?"
Pertanyaan jujur dari bocah empat tahun itu menghujam jantung Matteo lebih sakit daripada kerugian saham mana pun. Matteo menarik Chan-yeol lembut agar mendekat. "Tidak, jagoan. Nanti kalau sudah saatnya, Daddy akan jelaskan semuanya. Saat ini, Daddy akan berusaha agar Mommy tidak menangis lagi. Janji."
Chan-yeol akhirnya mengangguk pelan, membiarkan Matteo merangkul bahu kecilnya. Untuk pertama kalinya, kantor M-Nexus dipenuhi suara tawa anak kecil saat Chae-rin mulai bercerita tentang betapa galaknya Aunty So-hee dan betapa pintarnya Chan-yeol di sekolah.
Di sisi lain Seoul, dunia Chae-young seolah runtuh.
Ponselnya bergetar hebat di atas meja jahitnya. Nama 'Taman Kanak-Kanak Little Star' muncul di layar.
"Halo? Ya, ini Park Chae-young."
"Nona Park, kami ingin mengonfirmasi mengapa Chan-yeol dan Chae-rin belum sampai di sekolah? Bus sekolah melaporkan mereka tidak ada di halte saat penjemputan kedua setelah mereka sempat terlihat turun di halte transito."
Genggaman Chae-young pada ponselnya melemas. Jantungnya berdegup kencang hingga telinganya berdenging. "Apa? Tidak mungkin, saya sendiri yang mengantar mereka ke bus pagi tadi!"
Kepala Chae-young berputar. Ia berlari keluar butik tanpa mematikan lampu, air mata mulai mengalir deras membasahi pipinya. Pikiran buruk mulai meracuni otaknya. Penculikan? Kecelakaan?
Namun, di tengah kepanikannya yang meluap, satu nama muncul di benaknya seperti kilat. Matteo.
"Pria itu..." bisik Chae-young parau. "Apakah dia menculik anak-anakku karena aku menolaknya kemarin?"
Dunia Chae-young seolah runtuh saat pihak sekolah menelepon. Namun, sebagai wanita yang sudah terbiasa menghadapi badai sendirian selama lima tahun, ia memaksa otaknya untuk tetap dingin. Ia tidak berteriak, ia tidak menangis di depan umum. Ia hanya tahu satu hal: si kembar tidak mungkin diculik, mereka terlalu jenius untuk itu. Mereka pasti mendatangi sumber masalahnya.
Chae-young turun dari taksi di depan gedung M-Nexus. Ia merapikan rambut bronte waves-nya yang sedikit berantakan tertiup angin, menarik napas panjang, dan melangkah masuk dengan dagu terangkat.
"Selamat siang. Saya Park Chae-young, pemilik Forever-Young," ucapnya pada resepsionis dengan suara yang tenang namun tegas. "Saya memiliki kontrak kerja sama desain eksklusif dengan Tuan Matteo. Saya perlu bertemu beliau sekarang untuk urusan mendesak terkait detail teknis."
Resepsionis itu melihat daftar tamu. "Ah, Nona Park. Benar, Tuan Kang Soo-hyun sudah memberi instruksi untuk langsung mengantar Anda jika Anda datang. Silahkan lewat lift privat, Nona."
Tidak ada keributan. Tidak ada drama lobi. Chae-young melangkah masuk ke lift dengan jantung yang berdebar di balik setelan kerjanya yang rapi. Begitu pintu lift terbuka di lantai 50, ia melihat Soo-hyun yang sedang berdiri gelisah di depan pintu ruangan CEO.
"Nona Park! Anda akhirnya datang," bisik Soo-hyun dengan nada lega yang sangat kentara.
"Di mana anak-anakku, Tuan Soo-hyun?" tanya Chae-young langsung, matanya menatap tajam ke arah pintu jati ganda itu.
"Di dalam. Dan sepertinya suasana di dalam jauh lebih tenang dari yang saya bayangkan," jawab Soo-hyun sambil membukakan pintu.
Chae-young melangkah masuk. Ia berhenti di ambang pintu, matanya memanas saat melihat pemandangan di depannya. Di sofa besar itu, Matteo sedang duduk dengan kemeja yang lengannya digulung. Chae-rin duduk di pangkuannya sambil memegang segelas jus apel, sementara Chan-yeol duduk di samping Matteo, tampak serius memperhatikan Matteo yang sedang menjelaskan sesuatu di tablet kerja mahalnya.
"Mommy!" Chae-rin yang pertama kali melihatnya. Ia melompat turun dan berlari memeluk kaki Chae-young. "Mommy lihat! Daddy punya robot besar di kantornya!"
Chae-young membeku. Kata Daddy itu keluar begitu lancar dari mulut putrinya, menghujam jantungnya lebih dalam daripada tuduhan mana pun. Ia menatap Matteo yang kini berdiri perlahan.
"Nona Park," panggil Matteo. Suaranya tidak lagi sedatar papan triplek; ada nada kelegaan dan sesuatu yang mirip dengan permohonan di sana.
Chae-young menarik napas gemetar, ia berlutut dan memeluk Chae-rin serta Chan-yeol bergantian. "Kalian, kenapa kalian melakukan ini? Mommy hampir gila mencari kalian ke sekolah."
"Kami ingin tahu kebenarannya, Mommy," jawab Chan-yeol tenang, matanya yang ice blue menatap ibunya dengan kejujuran yang menyakitkan. "Dan Uncle ini ternyata Daddy dan sudah mengatakannya. Dia bilang dia adalah Daddy kami."
Chae-young mendongak, menatap Matteo dengan tatapan yang campur aduk antara amarah dan luka lama. "Anda tidak berhak mengatakannya pada mereka tanpa persetujuan saya, Tuan Matteo."
Matteo melangkah mendekat, namun ia menjaga jarak yang sopan agar tidak membuat Chae-young merasa terancam. "Mereka datang ke sini mencariku, Nona Park. Mereka menuntut jawaban yang tidak bisa kau berikan selama lima tahun ini. Aku tidak punya pilihan selain jujur."
Chae-young berdiri, menggandeng tangan kedua anaknya erat-erat. "Bisnis kita adalah soal seragam dan desain, Tuan Matteo. Tidak lebih. Ayo, Chan-yeol, Chae-rin, kita pulang."
"Tunggu," potong Matteo cepat. Ia menoleh pada si kembar. "Anak-anak, bisa tunggu di ruangan sebelah sebentar bersama Uncle Soo-hyun? Daddy dan Mommy punya urusan bisnis yang sangat penting untuk dibicarakan. Sebentar saja, oke?"
Chan-yeol menatap ibunya, meminta persetujuan. Chae-young yang melihat mata memohon si kembar akhirnya mengangGuk lemah. Begitu pintu tertutup dan hanya menyisakan mereka berdua di ruangan luas itu, suasana mendadak menjadi sangat sunyi.
"Anda ingin bicara apa?" tanya Chae-young dingin.
Matteo berjalan menuju mejanya, mengambil sebuah amplop kecil dan meletakkannya di depan Chae-young. "Itu adalah kontrak baru. Bukan soal baju. Tapi soal perlindungan."
"Perlindungan?" Chae-young tertawa getir. "Dari siapa? Dari Anda?"
"Dari siapa pun yang ingin menyakiti kalian," sahut Matteo tegas. "Aku tahu aku salah, Chae-young-ah. Tolong, maafkan aku."
Chae-young terdiam. Ia tidak menyangka seorang Matteo, akan meminta maaf padanya. Tapi itu semua sudah terlambat. Baginya, tidak ada yang perlu dimaafkan, rasanya ia ingin menghilang sejauh mungkin.
"Aku bukan lagi pria mabuk di kamar 2007, Chae-young," lanjut Matteo, suaranya merendah dan dalam. "Aku hanya pria biasa yang tulus meminta maaf padamu. Biarkan aku menjadi Daddy mereka. Bukan karena aku ingin merebut mereka darimu, tapi karena aku ingin kita menjadi alasan mereka bangga memiliki nama 'Smith' di belakang nama mereka."
Chae-young menatap pria di hadapannya. Pria yang dulunya hanyalah bayangan tanpa wajah, kini berdiri nyata sebagai sosok paling berkuasa yang menawarkan dunia di bawah kakinya.
"Kau gila," bisik Chae-young.
"Aku memang gila sejak melihat mata biru anak itu di trotoar tempo hari," balas Matteo tanpa ragu. "Dan aku tidak akan membiarkan kegilaan ini berakhir dengan kalian pergi lagi."