Adrian Alfarezel adalah CEO yang menderita germaphobia ringan dan sangat gila keteraturan. Hidupnya yang membosankan berubah total saat ia bertemu Zevanya (Zeva), seorang gadis pengantar paket yang hobi motoran, bicaranya ceplas-ceplos, dan tidak takut pada siapa pun—termasuk Adrian.
Pertemuan mereka dimulai dari insiden "helm melayang" yang mengenai mobil mewah Adrian, berlanjut ke skema "pacar kontrak" untuk menghindari perjodohan kolot kakek Adrian.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ry_chan04, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pesta Rakyat di Menara Alfarezel
Pagi itu, langit di atas kawasan Sudirman tidak seperti biasanya. Biasanya, gedung pencakar langit setinggi 60 lantai yang menjadi markas besar Alfarezel Group itu tampak kaku, dingin, dan mengintimidasi dengan kaca-kaca kromiumnya yang memantulkan sinar matahari dengan angkuh. Namun hari ini, "Menara Kaca" itu seolah melunak. Di halaman depannya yang seluas lapangan bola, tidak ada lagi deretan mobil sedan mewah yang parkir dengan rapi. Sebagai gantinya, tenda-tenda kerucut berwarna putih dan panggung megah berdiri dengan latar belakang gedung yang menjulang.
Zevanya berdiri di depan cermin besar di penthouse mereka, menatap pantulan dirinya sendiri. Ia mengenakan kebaya modern berwarna merah marun dengan potongan ekor yang elegan namun tetap praktis. Tidak ada payet yang berlebihan, hanya kain tenun ikat yang ditenun langsung oleh para pengrajin di salah satu desa binaan yayasannya.
"Gue masih ngerasa aneh liat diri gue pake ginian," gumam Zeva sambil membenarkan letak sanggul modernnya yang terasa sedikit berat. "Adrian, lu yakin kita nggak bakal diusir sama satpam gedung lu sendiri?"
Adrian, yang sedang memasang kancing manset di lengan kemeja batiknya, berjalan mendekat. Ia berdiri di belakang Zeva, meletakkan tangannya di bahu gadis itu—istrinya. "Ini gedungmu juga sekarang, Zeva. Dan satpam-satpam itu? Mereka lebih takut padamu daripada padaku sejak kau mengalahkan mereka di latihan bela diri bulan lalu."
Zeva tertawa kecil. "Itu kan cuma latihan, Bos. Lagian mereka yang nantangin."
"Hari ini bukan soal formalitas, Zeva," ujar Adrian serius, menatap mata Zeva lewat cermin. "Hari ini adalah pernyataan. Bahwa Alfarezel bukan lagi milik segelintir orang berjas, tapi milik orang-orang yang ada di bawah sana. Para pedagang, pengemudi ojek, dan montir-montirmu. Kau yang membuat ini terjadi."
Zeva menarik napas panjang, mencoba menenangkan debaran jantungnya. "Oke. Ayo kita turun. Pasukan gue pasti udah nunggu bakso gratisnya."
Lautan Jaket Hijau dan Aroma Rempah
Begitu pintu lift terbuka di lobi utama, kebisingan yang hangat langsung menyambut mereka. Suasana sangat kontras dengan hari-hari biasanya. Di halaman gedung, ribuan orang sudah berkumpul. Ada komunitas ojek online dengan jaket hijau kebanggaan mereka, pedagang Pasar Tanah Merah dengan kaos santai, hingga anak-anak panti asuhan yang berlarian di antara stan makanan.
Aroma sate ayam, bakso urat, dan es cendol memenuhi udara Sudirman, mengalahkan aroma polusi yang biasanya mendominasi. Zeva melangkah keluar, dan seketika sorak-sorai pecah.
"HIDUP NONA ZEVA! HIDUP PAK BOS!" teriak Ujang dari atas panggung, ia bertugas sebagai seksi sibuk sekaligus koordinator keamanan "jalanan".
Zeva melambai dengan lebar, senyumnya lepas tanpa beban. Di sini, ia tidak perlu berpura-pura menjadi sosialita. Ia menyalami emak-emak penjual sayur, memeluk Mpok Minah, dan bahkan sempat mencicipi kerak telor langsung dari wajannya.
"Pak Adrian, cobain ini! Enak bener, bumbunya nendang!" seru Zeva sambil menyodorkan sesuap kerak telor ke mulut Adrian.
Adrian, yang seumur hidupnya mungkin hanya makan makanan organik yang dimasak koki bintang lima, ragu sejenak. Namun, melihat mata Zeva yang berbinar, ia membuka mulutnya. Rasa gurih serundeng dan telur bebek meledak di lidahnya.
"Bagaimana?" tanya Zeva penuh harap.
"Luar biasa," jawab Adrian tulus, meski ia harus sedikit berjuang dengan rasa pedasnya. "Jauh lebih baik daripada canapé di gala minggu lalu."
Di tengah kegembiraan itu, sebuah mobil Mercedes-Benz Pullman berwarna perak metalik berhenti di jalur VIP yang seharusnya dikosongkan. Pintu mobil terbuka, dan suasana di sekitar panggung tiba-tiba mendingin.
Seorang wanita paruh baya turun dengan gerakan yang sangat terukur. Ia mengenakan setelan Chanel berwarna biru navy yang sangat formal, lengkap dengan topi fascinator kecil yang membuatnya tampak seperti anggota kerajaan Eropa. Wajahnya cantik, namun tatapannya sedingin es kutub.
Ia adalah Helena Alfarezel, ibu tiri Adrian yang selama ini menetap di Swiss dan tidak pernah menyetujui pernikahan ini.
"Ibu?" gumam Adrian. Tubuhnya menegang seketika. Genggaman tangannya pada tangan Zeva mengerat secara tidak sadar.
Helena berjalan menembus kerumunan orang-orang "jalanan" itu dengan ekspresi seolah-olah ia sedang berjalan di atas tumpukan sampah. Ia memegang sapu tangan kecil di depan hidungnya, seakan aroma sate itu adalah polusi yang mematikan.
"Adrian," suara Helena terdengar tajam dan berwibawa saat ia sampai di depan mereka. "Aku pikir kau mengadakan perayaan kemenangan bisnis. Ternyata kau mengadakan pasar malam di halaman markas besar keluarga kita. Apa yang kau pikirkan?"
Adrian berdiri tegak, auranya kembali menjadi CEO yang tidak tergoyahkan. "Ini adalah pesta pernikahan kami, Ibu. Dan orang-orang ini adalah keluarga besar kami sekarang. Selamat datang kembali di Jakarta."
Helena beralih menatap Zeva. Ia memindai Zeva dari atas ke bawah dengan tatapan menghina yang sangat jelas. "Jadi ini... gadis mekanik itu? Cantik, memang. Tapi kecantikan tidak bisa menutupi bau bensin yang menempel di kulitmu, Sayang."
Zeva tidak mundur satu langkah pun. Ia justru maju, melepaskan tangan Adrian, dan menatap Helena tepat di matanya. "Selamat siang, Tante Helena. Saya Zevanya. Dan soal bau bensin, itu bau kerja keras. Jauh lebih baik daripada bau kemunafikan yang disemprot parfum mahal, bukan?"
Beberapa orang di sekitar mereka menahan napas. Belum pernah ada yang berani bicara seperti itu pada Helena Alfarezel.
Helena tersenyum tipis, sebuah senyum yang lebih mirip ancaman. "Bicaranya lancang. Adrian, kita perlu bicara di dalam. Tanpa... gangguan ini."
"Apa yang ingin Ibu bicarakan bisa dikatakan di sini," sahut Adrian tegas.
"Ini soal wasiat Ayahmu, Adrian. Dan soal posisi anakku, adikmu, di dalam struktur direksi. Kau tidak bisa mengabaikan kami hanya karena kau sedang sibuk bermain rumah-rumahan dengan gadis ini," ujar Helena dingin.
Ia menunjuk ke arah kerumunan pengemudi ojek. "Apakah kau sadar bahwa tindakan konyolmu ini menurunkan nilai saham Alfarezel pagi ini? Para investor takut kau sudah kehilangan akal sehatmu karena jatuh cinta pada orang yang salah."
Zeva melihat raut wajah Adrian yang mulai goyah. Ia tahu betapa besarnya beban nama Alfarezel di pundak suaminya. Namun, Zeva juga tahu satu hal: Adrian tidak akan pernah menang jika ia bermain di lapangan Helena dengan aturan Helena.
"Tante Helena," sela Zeva kembali. "Boleh saya tunjukin sesuatu?"
Tanpa menunggu jawaban, Zeva menarik tangan Helena. Helena mencoba berontak, namun kekuatan tangan Zeva yang terbiasa memegang mesin motor jauh lebih kuat. Zeva membawa Helena ke arah tenda besar di sudut halaman, di mana layar raksasa menampilkan data real-time dari yayasan dan unit bisnis baru mereka.
"Liat itu," Zeva menunjuk ke angka-angka yang bergerak naik. "Itu bukan cuma angka. Itu adalah jumlah transaksi yang dilakukan oleh pedagang pasar kita melalui aplikasi Alfarezel Pay. Dalam satu jam pesta ini berjalan, volume transaksi mikro kita naik 400%. Para investor yang Tante bilang takut itu? Mereka justru lagi nelpon Adrian buat nanya gimana cara mereka bisa masuk ke pasar ini."
Zeva menatap Helena dengan tajam. "Dunia sudah berubah, Tante. Dulu mungkin Alfarezel sukses karena eksklusif. Tapi sekarang, Alfarezel bakal menguasai pasar karena kita inklusif. Bau bensin dan bau keringat orang-orang di luar sana adalah bahan bakar baru buat perusahaan ini. Kalau Tante nggak bisa liat itu, mungkin Tante yang udah ketinggalan zaman."
Helena terdiam. Ia menatap layar itu, lalu menatap kerumunan di luar yang tampak begitu setia pada Zeva dan Adrian. Ia menyadari bahwa Zeva bukan sekadar gadis cantik yang beruntung; Zeva adalah ancaman nyata bagi pengaruhnya di keluarga Alfarezel.
"Kau pikir kau sudah menang, Zevanya?" bisik Helena, hanya agar didengar oleh Zeva. "Ini baru permulaan. Menjadi istri seorang Alfarezel bukan soal memenangkan hati rakyat, tapi soal bertahan hidup di dalam istana yang penuh ular. Dan kau... kau tidak punya penawarnya."
"Gue nggak butuh penawar, Tante," balas Zeva tenang. "Gue punya kuncinya. Dan kalau ular-ular itu macem-macem, gue tahu cara memutus kepala mereka pake tang potong."
Helena melepaskan tangannya dengan kasar. "Kita lihat saja seberapa lama kau bisa bertahan saat badai yang sebenarnya datang, Adrian. Aku akan menginap di vila lama. Dan aku harap, saat makan malam keluarga besok, kau sudah kembali sadar."
Wanita itu berbalik dan masuk kembali ke mobilnya, meninggalkan aroma parfum mawar yang berat dan suasana yang sedikit kaku.
Pelukan di Tengah Badai
Adrian menghampiri Zeva, ia tampak sangat lelah secara emosional. "Maafkan ibuku, Zeva. Dia selalu tahu cara merusak momen."
Zeva berbalik, lalu merapikan kerah kemeja Adrian. "Dia nggak ngerusak apa-apa, Adrian. Dia cuma ngingetin gue kalau perjuangan kita baru aja dimulai. Lu oke?"
Adrian mengangguk, lalu menarik Zeva ke dalam pelukannya di depan ribuan mata. "Selama kau di sampingku, aku oke. Tapi Zeva, dia benar soal satu hal. Dia tidak akan berhenti sampai dia mendapatkan apa yang dia mau."
"Yah, dia belum tahu kalau dia lagi berurusan sama mekanik paling bandel se-Jakarta," sahut Zeva sambil tertawa.
Tepat saat itu, kembang api mulai diluncurkan ke langit siang hari—kembang api asap berwarna-warni yang menciptakan pelangi di atas menara Alfarezel. Musik dangdut koplo mulai berdentum dari panggung utama atas permintaan khusus dari komunitas ojek.
"Adrian, ayo!" ajak Zeva sambil menarik tangan suaminya.
"Ke mana?"
"Goyang! Masa tuan rumah cuma diem aja? Tuh liat, Pak Haji Usman aja udah jago goyangnya!"
Adrian, sang CEO yang biasanya hanya bergerak dengan perhitungan matematis, akhirnya menyerah. Di bawah terik matahari Jakarta, di kelilingi oleh ribuan orang yang selama ini dianggap "pinggiran", ia berdansa canggung mengikuti irama kendang bersama istrinya.
Pesta itu berlangsung hingga malam. Menara Alfarezel yang biasanya gelap dan sunyi saat malam hari, kini terang benderang oleh lampu-lampu dekorasi. Namun, di kejauhan, di dalam sebuah hotel mewah, Helena Alfarezel sedang menerima laporan dari seorang pria misterius.
"Lakukan sekarang," ujar Helena dingin. "Cari tahu semua hal tentang masa lalu gadis itu. Terutama soal kematian ayahnya di bengkel sepuluh tahun lalu. Aku yakin ada sesuatu yang Adrian tidak tahu."
Di sisi lain kota, Zeva dan Adrian duduk di atap gedung mereka, menatap lampu-lampu Jakarta sambil makan mie instan cup—tradisi baru mereka. Zeva menyandarkan kepalanya di bahu Adrian, tidak menyadari bahwa rahasia gelap dari masa lalunya kini mulai dibongkar oleh musuh terbesarnya.
"Babak baru dimulai, ya, Bos?" bisik Zeva.
"Bukan babak baru, Zeva. Ini adalah dinasti baru. Dinasti kita," jawab Adrian sambil mengecup kening Zeva.
Malam itu, mereka merasa tak terkalahkan. Namun di bawah kaki mereka, di pondasi menara yang megah itu, retakan-retakan kecil mulai muncul. Dan badai yang dijanjikan Helena, sudah mulai bergerak di kaki langit.
tapi kok bisa si kakek gak tau kalo zeva adlh anak dari sahabat nya
aksi zevanya sungguh di luar nurul dan di luar prdiksi bmkg🤣🤣🤣
semngat kak tokoh cwek nya kuat badas gak menye menye , aku suka kk author mantan