"Nyaris Jadi Kita" mengisahkan transformasi emosional dan profesional Arelia dari seorang wanita yang hanya dianggap sebagai "tempat pulang" bagi masa lalunya, menjadi "Arsitek Takdir" yang menyelamatkan dinasti korporat Adhitama Group di tengah kiamat finansial global. Melalui perjalanan penuh intrik dari Jakarta hingga London, Arelia berhasil menepis bayang-bayang pengkhianatan dan manipulasi pasar untuk membangun kedaulatan energinya sendiri, hingga akhirnya ia menyadari bahwa tujuan hidup yang paling agung bukanlah untuk bersandar pada pria mana pun, melainkan untuk menjadi muara bagi kebahagiaan dan harga dirinya yang mandiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mysterious_Man, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 5:Jarak
Selasa pagi menyapa dengan mendung yang menggantung rendah di atas langit Jakarta, seolah-olah awan sedang menahan beban yang sama beratnya dengan hatiku. Aku tiba di kantor tiga puluh menit lebih awal dari biasanya. Suasana lantai lima belas masih sunyi; hanya ada dengung konstan dari mesin pendingin ruangan dan langkah pelan petugas kebersihan yang memoles lantai marmer di lobi.
Aku duduk di kubikelku, namun kali ini aku tidak langsung membuka laptop untuk mengerjakan revisi laporan Kaivan. Aku justru membuka draf presentasiku sendiri—materi yang kususun semalam suntuk untuk rapat di kantor Adhitama Group pukul sembilan nanti.
Selama tujuh tahun, rutinitas pagiku adalah memastikan meja Kaivan sudah rapi, kopinya sudah tersedia, dan kepalanya sudah terisi dengan poin-poin rapat yang aku siapkan. Hari ini, mejanya di sebelahku tampak berantakan. Ada sisa bungkus makanan dan tumpukan berkas yang tidak teratur. Dan aku tidak akan menyentuhnya. Tidak lagi.
"Rel? Kok sudah datang?"
Suara itu muncul tepat saat jarum jam menunjukkan pukul delapan. Kaivan berdiri di sana, penampilannya berantakan. Kemejanya tampak kusut, seolah-olah ia tidak pulang ke rumah semalam. Atau mungkin, ia baru saja kembali dari tempat yang jauh.
Aku tidak mendongak. "Aku ada janji rapat jam sembilan," jawabku pendek.
Kaivan mendekat, aromanya hari ini bukan lagi wangi kayu cendana yang menenangkan, melainkan aroma tembakau dan kelelahan. "Soal semalam... maaf aku emosi. Aku cuma kaget kamu bisa sedingin itu. Oh ya, laporanku yang bagian analisis risiko sudah kamu rapikan, kan? Pak Dimas minta itu jam sepuluh nanti."
Aku menghentikan ketikanku. Pelan, aku menatapnya. Kaivan menatapku dengan tatapan "meminta" yang biasanya selalu berhasil meluluhkanku. Tatapan pria yang merasa dirinya berhak atas waktuku.
"Tidak, Van. Aku tidak menyentuh laporanmu," kataku datar.
Kaivan mengerutkan kening, tawanya yang dipaksakan terdengar sumbang. "Jangan bercanda, Rel. Kamu tahu aku nggak sempat pegang itu kemarin. Nadine... dia ada sedikit masalah di apartemennya, aku harus bantu dia pindah sampai subuh."
"Itu urusanmu, Kaivan. Bukan urusanku," balasku. Aku berdiri, mulai merapikan tasku dan mengambil tablet kerjaku. "Mulai sekarang, kerjakan pekerjaanmu sendiri. Aku bukan asisten pribadimu."
"Arelia!" suaranya meninggi, membuat satu-dua staf yang baru datang menoleh ke arah kami. "Kenapa kamu jadi begini? Cuma gara-gara Nadine balik, kamu mau hancurin karierku? Kita ini tim!"
"Kita bukan tim, Kaivan. Selama ini, aku yang jadi kaki sementara kamu yang jadi wajahnya. Sekarang aku mau berjalan dengan kakiku sendiri. Wajahmu? Uruslah sendiri," kataku tajam, tepat sebelum aku melangkah pergi menuju lift.
Aku bisa merasakan tatapannya yang menusuk punggungku—campuran antara amarah dan ketidakpercayaan. Baginya, aku adalah sebuah konstanta. Sesuatu yang selalu ada, tidak peduli seberapa buruk ia memperlakukanku. Sekarang, saat variabel itu hilang, dunianya mulai goyah.
Kantor Adhitama Group di Pacific Place adalah definisi dari kemewahan yang fungsional. Lantai marmer hitam, dinding kaca yang memperlihatkan gedung-gedung pencakar langit, dan keheningan yang sangat mahal.
Aku duduk di ruang tunggu VIP. Pukul sembilan tepat, asisten Bastian Adhitama—seorang wanita dengan setelan jas yang sangat rapi—menghampiriku.
"Ibu Arelia? Pak Bastian sudah menunggu di ruangannya. Silakan."
Ruangan Bastian berada di sudut lantai paling atas. Begitu masuk, aku melihat Bastian sedang berdiri membelakangiku, menatap pemandangan kota. Ia tidak memakai jas, hanya kemeja hitam yang lengannya digulung hingga siku, menonjolkan urat-urat di lengannya yang kuat.
"Selamat pagi, Pak Bastian," sapaku.
Ia berbalik. Tidak ada senyum formalitas yang berlebihan. Hanya tatapan mata yang sangat fokus, seolah-olah aku adalah satu-satunya objek yang layak diperhatikan di ruangan seluas itu.
"Selamat pagi, Arelia. Kamu tepat waktu," ucapnya. Ia mempersilakanku duduk di sofa kulit yang sangat nyaman. "Aku sudah membaca draf yang kamu kirim jam dua pagi tadi lewat email. Sangat tajam. Sangat berani."
"Terima kasih, Pak."
"Jangan panggil 'Pak' jika kita hanya berdua. Bastian saja," katanya sambil menuangkan air mineral ke gelas di hadapanku. "Aku suka caramu menganalisis sektor perumahan. Kamu melihat apa yang orang lain lewatkan. Kaivan... dia tidak pernah sedetail ini dalam laporannya."
Aku terdiam sejenak. "Selama ini kami bekerja bersama, Pak... maksudku, Bastian."
Bastian tersenyum tipis, sebuah senyuman yang terlihat sangat cerdas. "Aku tahu bedanya laporan yang dibuat dengan ego dan laporan yang dibuat dengan otak. Laporanmu punya jiwa, Arelia. Sayangnya, selama ini namamu selalu berada di bawah namanya."
Ia mencondongkan tubuhnya, menatapku lekat. "Kenapa kamu membiarkan dia melakukannya? Kenapa wanita sepertimu mau menjadi bayang-bayang pria yang bahkan tidak bisa menghargai keberadaanmu?"
Pertanyaan itu terasa seperti tamparan yang sangat halus namun menyakitkan. Aku tidak tahu harus menjawab apa. Haruskah aku bilang aku mencintainya? Ataukah aku hanya sudah terlalu terbiasa dengan rasa sakit?
"Mungkin karena saya terbiasa merasa tidak cukup, Bastian," jawabku jujur, suaraku nyaris bergetar.
Bastian meletakkan tangannya di atas meja, mendekat ke arahku. "Kamu lebih dari cukup, Arelia. Kamu adalah aset yang paling berharga yang pernah aku temui di industri ini. Dan aku ingin kamu tahu, di mataku, kamu bukan sekadar rekan dari divisi riset. Kamu adalah alasan utama kenapa aku masih ingin melanjutkan kontrak dengan perusahaan kalian."
Debaran di dadaku bukan lagi debaran kecemasan, melainkan sesuatu yang baru. Sesuatu yang terasa seperti pengakuan.
Rapat itu berlangsung selama dua jam. Kami mendiskusikan angka, strategi, dan masa depan. Untuk pertama kalinya dalam karierku, aku merasa suaraku didengar sepenuhnya. Tidak ada yang memotong, tidak ada yang merasa lebih tahu.
Saat aku bersiap untuk pergi, Bastian menahanku sebentar di pintu.
"Arelia," panggilnya.
Aku menoleh.
"Jangan kembali menjadi bayang-bayang. Cahaya di Jakarta ini sangat terang, tapi cahaya yang ada di matamu... jauh lebih berharga untuk dipadamkan oleh pria yang salah," ucapnya dengan nada yang sangat dalam.
Aku keluar dari gedung itu dengan perasaan yang aneh. Aku merasa bebas, namun juga merasa terasing dari versi diriku yang lama.
Sesampainya di kantor, suasana langsung berubah drastis. Maya menghampiriku dengan wajah panik.
"Rel! Kaivan baru saja mengamuk di ruangan Pak Dimas," bisik Maya, menarikku ke sudut pantri.
"Ada apa?"
"Dia tidak bisa menjawab pertanyaan Pak Dimas soal laporan yang harusnya kamu bantu rapikan itu. Datanya salah total karena dia pakai draf lama. Pak Dimas marah besar dan bilang kalau performa Kaivan menurun sejak Nadine balik. Kaivan malah menyalahkanmu, bilang kamu sengaja sabotase dia!"
Aku hanya bisa menghela napas panjang. Aku berjalan menuju kubikelku. Kaivan sedang duduk di sana, menatap layar monitornya dengan wajah merah padam. Begitu melihatku, ia langsung berdiri.
"Puas kamu sekarang?" desisnya. Suaranya rendah namun penuh racun. "Kamu bikin aku kelihatan bodoh di depan Pak Dimas! Kamu sengaja nggak bantu aku supaya kamu bisa kelihatan hebat di depan Bastian Adhitama, kan?"
Aku meletakkan tabletku di meja dengan suara dentum yang pelan. Aku menatapnya tanpa emosi. "Aku tidak membuatmu kelihatan bodoh, Kaivan. Kamu sendiri yang melakukan itu saat kamu memilih menghabiskan malammu untuk urusan Nadine daripada tanggung jawabmu."
"Aku bantu dia karena dia nggak punya siapa-siapa di sini!"
"Dan aku? Apa aku punya seseorang di sini selama tujuh tahun terakhir?" suaraku meninggi, memotong kalimatnya. "Selama tujuh tahun aku selalu ada untukmu, Kaivan. Tapi saat seseorang yang benar-benar asing bagiku kembali, kamu bahkan nggak segan untuk membuangku ke pinggir jalan. Jadi jangan bicara soal tim, jangan bicara soal loyalitas."
"Arelia..."
"Jarak ini bukan aku yang buat, Van," aku memotongnya lagi. "Kamu yang menarik diri untuk mengejar dia. Jadi, nikmatilah larimu. Tapi jangan harap aku masih berdiri di tempat yang sama saat kamu memutuskan untuk berhenti."
Aku duduk dan mulai memasang headphone, menutup duniatu dari suaranya. Aku melihat Kaivan memukul meja dengan tangannya sebelum akhirnya ia menyambar kunci mobil dan pergi dari kantor—mungkin mencari penghiburan pada Nadine.
Maya benar. Aku bukan pelabuhan. Aku bukan rumah.
Aku adalah penguasa atas diriku sendiri. Dan mulai hari ini, siapa pun yang ingin masuk ke dalam duniaku, harus tahu bagaimana cara mengetuk pintu dengan hormat—bukan sekadar masuk dan merusak isinya.
Ponselku bergetar. Sebuah pesan dari nomor yang baru saja kusimpan.
Bastian Adhitama: Makan malam besok? Bukan soal pekerjaan. Hanya untuk merayakan keberanianmu hari ini.
Aku menatap pesan itu lama. Sebuah pilihan ada di depanku. Menetap dalam kesedihan yang sudah biasa, atau melangkah menuju ketidakpastian yang menghargaiku.
Aku mengetik balasan dengan jemari yang mantap.
Arelia: Tentu. Kirimkan lokasinya.
Nyaris jadi kita? Tidak. Kali ini, ini adalah tentang aku.
tarik nafas dulu Thor,terkadang kita harus lebih gila untuk menghadapi kegilaan org lain