Di atas karpet merah pertunangannya, Aeryn Valerine menyaksikan dunianya runtuh. Tunangannya berselingkuh dengan sang adik tiri, lengkap dengan rencana licik mencuri seluruh warisannya. Namun, Aeryn bukan wanita yang akan menangis di pojokan. Dengan gaun sutra yang memikat, ia melangkah tenang menghampiri Xavier Arkananta—sang CEO "Ice King" yang paling ditakuti.
"Nikahi aku, dan aku akan memberimu kekuasaan yang tak bisa dibeli uang," bisik Aeryn dingin.
Xavier menerima kesepakatan gila itu, tapi ia punya motif tersembunyi yang jauh lebih gelap. Saat dendam mulai terbalaskan secara elegan, Aeryn menyadari satu hal: Menikahi setan adalah cara terbaik untuk menghancurkan iblis. Tapi, bagaimana jika sang setan menginginkan lebih dari sekadar kontrak bisnis?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Puteri Bulan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 22
Kehadiran Julian Vander di kantor Valerine Jewels seperti embusan angin segar yang membawa aroma bahaya. Setelah rapat dewan direksi yang panas itu berakhir, Julian tidak langsung pergi. Ia justru mengikuti Aeryn ke ruang kerjanya, mengamati dekorasi ruangan dengan tatapan menilai yang santai.
"Ruangan yang indah," ucap Julian sambil menyentuh pinggiran meja kayu jati milik Aeryn. "Tapi terlalu kaku untuk orang dengan imajinasi liar sepertimu. Kau butuh lebih banyak cahaya, Aeryn."
Aeryn meletakkan map laporannya dan menatap Julian lekat-lekat. "Tuan Vander, mari kita bicara jujur. Anda baru saja menghabiskan puluhan miliar hanya untuk menyelamatkan posisiku. Apa yang sebenarnya Anda inginkan?"
Julian tertawa, suara basnya terdengar renyah. Ia duduk di kursi depan meja Aeryn tanpa diminta, melipat kaki dengan gaya elegan. "Aku sudah bilang, aku suka mendukung pemberontakan. Dan sejujurnya? Aku sudah lama mengagumi desainmu. The Eternal Heart adalah mahakarya, meski sayangnya harus hancur karena kebodohan Kaelan."
"Anda tahu banyak soal bisnisku," gumam Aeryn.
"Aku tahu segalanya tentang apa yang menarik minatku," sahut Julian. Ia mencondongkan tubuh, matanya yang cokelat terang mengunci pandangan Aeryn. "Dengar, pasar lokal sudah terlalu kecil untukmu. Dengan skandal yang terjadi, orang-orang di sini akan selalu menghubungkan namamu dengan Xavier atau Baskara. Kau butuh panggung baru. Amerika, misalnya?"
Aeryn mengerutkan kening. "Ekspansi ke Amerika? Itu butuh modal sepuluh kali lipat dari yang Anda berikan tadi."
"Uang bukan masalah bagi Vander Group. Aku punya koneksi di New York dan Los Angeles. Aku bisa membuat koleksi The True Heart tampil di Fashion Week musim depan. Kau akan menjadi desainer mandiri, Aeryn. Bukan lagi 'Istri Arkananta' atau 'Putri Valerine'. Hanya Aeryn. Bagaimana?"
Aeryn terdiam. Tawaran itu sangat menggoda. Itulah impian yang selama ini ia kubur karena tekanan dari segala sisi. Julian menawarkan kebebasan yang tidak pernah ditawarkan Xavier. Jika Xavier adalah perisai yang mengurung, maka Julian terasa seperti sayap yang ingin membawanya terbang.
Sore harinya, Aeryn kembali ke mansion Arkananta hanya untuk mengambil beberapa barang. Ia terkejut menemukan Xavier sudah berada di ruang tengah, duduk diam dengan segelas wiski di tangannya. Lampu ruangan sengaja dipadamkan, hanya menyisakan cahaya temaram dari perapian.
"Kau pulang terlambat," suara Xavier berat, bergema di ruangan yang sunyi.
"Aku punya banyak urusan di kantor," jawab Aeryn singkat. Ia mencoba berjalan melewati Xavier menuju tangga, namun langkahnya terhenti saat pria itu berbicara lagi.
"Siapa Julian Vander bagimu?"
Aeryn berbalik. "Dia pemegang saham baru di Valerine Jewels. Dia menyelamatkan perusahaanku saat dewan direksimu mencoba menjatuhkanku."
Xavier berdiri, meletakkan gelasnya dengan denting yang keras di atas meja kaca. Ia melangkah mendekati Aeryn. Auranya begitu menekan, seperti predator yang sedang menandai wilayahnya. "Dia bukan penyelamat, Aeryn. Dia adalah hiu. Dia hanya ingin menggunakanmu untuk memancingku keluar."
"Mungkin," sahut Aeryn menantang. "Tapi setidaknya dia tidak berbohong soal niatnya. Dia tidak menyembunyikan foto masa kecilku dan berpura-pura menjadi pahlawan karena sebuah janji lama."
Wajah Xavier mengeras. Rahangnya menonjol tajam. "Kau bermain api. Julian tidak sehangat kelihatannya."
"Dan kau tidak sedingin kelihatannya, Xavier. Kau hanya takut kehilangan kendali atas diriku, kan?" Aeryn menatap suaminya tanpa rasa takut. "Jangan khawatir. Urusan kita tetap profesional. Aku akan mengembalikan uangmu secepat mungkin."
Aeryn berbalik dan pergi, meninggalkan Xavier yang berdiri dalam kegelapan dengan kemarahan yang membara.
****
Tiga hari kemudian, sebuah gala bisnis internasional diadakan di Hotel Grand Hyatt. Aeryn datang sebagai tamu kehormatan bersama Julian Vander. Ia mengenakan gaun sutra berwarna sampanye yang menonjolkan keanggunannya. Di sisinya, Julian tampil sangat mempesona dengan tuxedo abu-abu gelap.
"Kau terlihat sangat menawan malam ini, Aeryn," puji Julian sambil menawarkan lengannya. "Siap untuk membuat dunia melupakan nama Arkananta sejenak?"
Aeryn tersenyum tipis. "Aku hanya ingin orang-orang melihat karyaku, Julian."
Di dalam aula yang luas, semua mata tertuju pada mereka. Bisikan-bisikan mulai terdengar. Julian adalah tipe pria yang hangat; ia memperkenalkan Aeryn ke banyak kolega internasional, tertawa bersamanya, dan sesekali membisikkan pujian yang membuat Aeryn merasa benar-benar dihargai sebagai seorang wanita, bukan sekadar aset bisnis.
Namun, suasana berubah drastis saat sosok Xavier Arkananta masuk ke dalam aula. Ia mengenakan setelan hitam pekat yang sempurna. kehadirannya seketika membekukan tawa di beberapa sudut ruangan. Xavier tidak membawa pendamping. Ia berjalan lurus ke arah di mana Aeryn dan Julian berdiri.
"Xavier, senang melihatmu di sini," Julian menyapa dengan nada meremehkan yang halus. "Kudengar saham Arkananta sedikit bergoyang di London? Terlalu sibuk mengurusi tambang sampai istrimu harus mencari investor lain?"
Xavier tidak melirik Julian sedikit pun. Matanya hanya tertuju pada Aeryn. "Pulang denganku, Aeryn. Sekarang."
"Aku di sini sebagai tamu Julian, Xavier," jawab Aeryn tenang. "Rapat kami belum selesai."
"Rapat?" Xavier mendengus sinis. "Di lantai dansa?"
"Kenapa tidak?" Julian menimpali sambil merangkul bahu Aeryn secara posesif. "Aeryn butuh sedikit hiburan setelah semua tekanan yang kau berikan padanya. Dia bukan budakmu, Xavier."
Suasana menjadi sangat panas. Orang-orang di sekitar mulai menjaga jarak, merasakan ledakan yang bisa terjadi kapan saja. Xavier melangkah satu langkah lebih dekat, hingga ia berdiri tepat di depan Julian. Tinggi mereka hampir sama, namun tatapan Xavier jauh lebih mematikan.
"Julian," suara Xavier rendah, hampir seperti bisikan predator. "Kau boleh bermain dengan pasar sahamku. Kau boleh mencoba mencuri kontrakku. Tapi jangan pernah mencoba menyentuh apa yang menjadi milikku."
Julian justru tertawa ringan, seolah ancaman Xavier hanyalah lelucon. "Milikmu? Aku tidak melihat namamu terukir di kulitnya, Xavier. Di dunia ini, yang tercepatlah yang menang."
Julian kemudian berpaling pada Aeryn. "Bagaimana kalau kita berdansa, Aeryn? Abaikan saja pria pemarah ini."
Aeryn ragu sejenak. Ia ingin membalas Xavier, ingin menunjukkan bahwa ia punya kendali atas dirinya sendiri. Ia menyambut tangan Julian. Mereka bergerak menuju lantai dansa di bawah iringan musik waltz yang melankolis.
Dari pinggir lantai dansa, Xavier berdiri mematung. Tangannya di dalam saku celana mengepal begitu kuat hingga kuku-kukunya melukai telapak tangannya sendiri. Ia melihat Julian berbisik di telinga Aeryn, membuat istrinya itu tersenyum kecil. Ia melihat tangan Julian yang melingkar di pinggang Aeryn.
Setiap detik terasa seperti siksaan bagi Xavier. Rasa cemburu yang selama ini ia tekan di balik topeng profesionalisme kini meledak tanpa kendali. Ia benci melihat pria lain menyentuh Aeryn. Ia benci melihat Aeryn merasa nyaman dengan orang lain.
Musik berakhir. Julian membimbing Aeryn kembali ke tepi ruangan.
"Terima kasih untuk dansanya, Aeryn," ucap Julian lembut.
Sebelum Aeryn sempat menjawab, Julian melakukan sesuatu yang tidak terduga. Di depan ratusan pasang mata, dan tepat di depan tatapan tajam Xavier yang hanya berjarak beberapa meter, Julian menarik tangan Aeryn dan mengecup punggung tangannya dengan sangat lama.
Julian menatap Xavier dengan senyum kemenangan yang memprovokasi.
Xavier melangkah maju, auranya begitu gelap hingga orang-orang di sekitarnya secara refleks mundur. Ia menarik lengan Aeryn dari genggaman Julian dengan sentakan yang kasar namun posesif, menyembunyikan Aeryn di balik tubuh tegapnya.
Mata Xavier berkilat penuh ancaman murni saat menatap Julian. Suaranya terdengar dingin dan sangat berbahaya.
"Sudah kubilang, Julian," bisik Xavier dengan nada yang membuat bulu kuduk berdiri. "Jangan sekali-kali kau menyentuh apa yang menjadi milik Arkananta. Karena jika kau melakukannya lagi, aku pastikan besok pagi Vander Group hanya akan tinggal nama dalam sejarah."
Aeryn merasakan tangan Xavier yang memegang lengannya gemetar hebat karena amarah yang tertahan. Untuk pertama kalinya, ia melihat sisi liar Xavier yang selama ini tersembunyi di balik jas mahalnya—sisi predator yang siap mencabik siapa pun yang mengusik wilayahnya.