Mati karena kelelahan melayani 10 istri cantik? Itu adalah akhir paling konyol dalam hidup Arka. Namun, takdir memberinya kesempatan kedua. Ia terlahir kembali sebagai Reno, seorang pemuda miskin di desa terpencil dunia Beast Tamer.
Di dunia di mana kekuatan ditentukan oleh hewan kontrak, Reno justru menjadi bahan tertawaan karena hanya mampu menjinakkan seekor cacing tanah kecil yang lemas. Semua orang menghinanya, menganggap masa depannya telah berakhir sebagai petani rendahan.
Tapi mereka tidak tahu... cacing itu bukanlah cacing biasa. Di dalam tubuh kecil itu, bersemayam jiwa Nidhogg, Naga Kuno legendaris yang pernah memusnahkan sebuah negara dalam satu malam!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon By Magus, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Keadaan Darurat Diakademi
Episode 14
Suasana di titik pertemuan ujian praktik Hutan Elang sudah tidak lagi seperti tempat ujian sekolah. Tempat itu kini lebih mirip dengan medan perang pasca pertempuran. Tenda-tenda medis darurat didirikan dengan tergesa gesa. Aroma obat obatan penyembuh yang tajam bercampur dengan bau anyir darah menyengat hidung. Suara rintihan murid yang terluka terdengar di sana sini, memecah kesunyian hutan yang kini terasa sangat tidak bersahabat.
Reno berjalan paling depan, memimpin kelompoknya keluar dari rimbunnya semak-semak. Di belakangnya, Lani dan Dito tampak kuyu dengan wajah yang masih pucat pasi. Sementara itu, Bagas berjalan terseok seok paling belakang, matanya kosong menatap tanah, tampak jelas bahwa mentalnya sedikit terguncang setelah melihat kematian temannya secara langsung.
"Tim 42 dan Tim 15 kembali!" teriak seorang penjaga di garis depan.
Seketika, beberapa petugas medis berlari mendekati mereka. Instruktur Raka, yang berdiri di depan tenda utama dengan tangan ber'sedekap, langsung menatap tajam ke arah Reno. Wajahnya yang biasanya dingin kini terlihat lebih kelam dari biasanya.
"Kalian kembali," ucap Raka dengan nada datar yang menusuk. Matanya menyapu kondisi mereka satu per satu, lalu berhenti pada mayat Rian yang digotong oleh dua prajurit penjaga yang baru saja menjemput mereka di pinggiran hutan. "Apa yang terjadi?"
Reno mengambil napas panjang. Ia harus memainkan perannya sekarang. Ia mengatur ekspresi wajahnya agar tampak sedikit gemetar, napasnya dibuat pendek-pendek seolah ia sedang dalam kondisi shock.
"Kami... kami diserang, Instruktur," jawab Reno dengan suara yang sedikit parau. "Ada orang-orang berjubah hitam. Mereka sangat kuat. Mereka menggunakan gagak bayangan dan seruling tulang untuk mengendalikan serigala hutan."
Raka menyipitkan mata. Ia berjalan mendekat, berdiri tepat di depan Reno. Tekanan aura dari seorang penjinak tingkat Berlian mulai terasa menindas. "Orang berjubah hitam? Di wilayah akademi? Bagaimana kalian bisa selamat sementara anggota tim lain banyak yang tewas atau terluka parah?"
Inilah pertanyaan jebakan yang sudah Reno antisipasi.
"Kami beruntung, Tuan," Reno menunduk, menghindari kontak mata langsung agar terlihat seperti remaja yang ketakutan. "Saat kami terdesak, cacing saya... Nidhogg... dia tiba-tiba mengamuk. Dia mengeluarkan ledakan energi yang membutakan musuh. Di saat yang sama, seruling pria itu hancur karena serangan Lani. Kami menggunakan kesempatan itu untuk menyerang pria itu saat dia terjatuh dari pohon."
Lani dan Dito mengangguk cepat di samping Reno. Mereka tidak menyadari bahwa Reno baru saja membelokkan sedikit fakta tentang Shadow Warp miliknya.
"Benar, Instruktur!" sela Dito dengan suara gemetar. "Reno sangat berani. Dia menerjang pria itu meski pria itu punya gagak raksasa. Saya... saya hanya bisa bersembunyi."
Bagas, yang sedari tadi diam, tiba-tiba mengangkat kepalanya. "Dia... dia menghilang, Instruktur! Reno menghilang ke dalam bayangan dan muncul di belakang pria itu!"
Reno merasakan jantungnya berdegup kencang, namun ia tetap tenang. Ia menoleh ke arah Bagas dengan tatapan bingung. "Bagas, kau pasti salah lihat karena kabut hitam gagak itu. Aku tidak menghilang, aku hanya merangkak dengan cepat di balik semak-semak saat kau sedang sibuk menangis di balik pohon."
Ejekan halus Reno itu membuat wajah Bagas memerah. "Aku tidak menangis! Aku melihatnya! Kau"
"Cukup!" bentak Raka, membuat Bagas seketika bungkam. Raka menatap Reno kembali, lalu melihat ke arah Nidhogg yang sekarang melingkar diam di bahu Reno dengan warna yang kembali kusam. "Bawa mereka ke tenda interogasi terpisah. Aku ingin laporan detail dari masing-masing orang."
Reno dibawa ke sebuah tenda kecil yang hanya berisi sebuah meja kayu dan dua kursi. Di sana, ia diinterogasi selama hampir dua jam oleh seorang petugas keamanan senior. Reno tetap pada ceritanya: ia hanyalah murid beruntung yang memiliki binatang kontrak dengan kemampuan ledakan energi yang tidak stabil.
Sebagai mantan CEO, Reno tahu cara memberikan informasi yang setengah benar. Ia menceritakan tentang racun bunuh diri pria berjubah hitam itu, namun ia tidak menyebutkan tentang fragmen jiwa atau pembicaraan singkatnya dengan pria itu sebelum mati.
Setelah interogasi selesai, Reno diizinkan untuk kembali ke asrama dengan pengawalan ketat. Sepanjang perjalanan, ia melihat suasana akademi sudah berubah menjadi benteng pertahanan. Menara-menara pengawas sekarang diisi oleh para pemanah, dan binatang-binatang kontrak tipe penjaga dikerahkan untuk berpatroli.
Sampai di kamar asrama, Dito sudah ada di sana. Ia sedang duduk di pinggir kasur sambil menangis sesenggukan.
"Kenapa, Dito?" tanya Reno sambil menutup pintu.
"Reno... ujian ini dibatalkan," isak Dito. "Dan yang lebih buruk, kabarnya Gerhana Hitam sengaja mengincar kita murid-murid baru untuk dijadikan tumbal atau semacamnya. Aku takut, Reno. Aku ingin pulang ke desa saja."
Reno duduk di samping Dito, menepuk bahunya pelan. "Dito, jika kau pulang sekarang, kau hanya akan menjadi sasaran empuk di jalanan. Di sini, setidaknya ada tembok dan instruktur yang menjagamu. Kita harus menjadi kuat agar tidak ada lagi yang bisa mengancam kita."
"Manusia gendut ini benar-benar tidak punya nyali," Nidhogg bergumam di kepala Reno. "Reno, lupakan dia. Beri aku makan. Pertarungan tadi membuat fragmen jiwa di dalamku menjadi tidak stabil lagi."
Reno menghela napas. "Dito, aku mau meditasi sebentar. Tolong jangan ganggu aku ya."
"Iya, Reno. Aku juga mau coba menenangkan kelinciku."
Reno duduk bersila di atas kasurnya. Ia mengeluarkan Nidhogg dan meletakkannya di pangkuannya. Ia bisa merasakan denyut energi yang sangat kuat terlalu kuat untuk ukuran binatang tingkat Perunggu.
"Nidhogg, apa yang terjadi?"
"Fragmen itu... dia bereaksi dengan kematian pria semalam," jawab Nidhogg dengan nada serius. "Ada semacam koneksi jiwa antara fragmen ini dengan para pengikut Gerhana Hitam. Setiap kali aku membunuh salah satu dari mereka, fragmen ini akan menyerap sisa jiwa mereka dan menjadi lebih kuat."
Reno mengerutkan kening. "Bukankah itu bagus? Kau bisa berevolusi lebih cepat."
"Bagus? Kau gila?! Jika aku menyerap terlalu banyak jiwa manusia yang penuh kebencian, aku bisa kehilangan kendali! Aku akan menjadi Naga Pemusnah yang membabi buta, bukan Naga Suci yang aku inginkan! Kau harus membantuku memurnikan energi ini dengan teknik Arus Bumi mu setiap malam!"
Reno mengangguk paham. Ternyata kekuatan besar ini datang dengan tanggung jawab yang juga besar. Ia mulai memejamkan mata, mengalirkan energi buminya yang tenang untuk membungkus aura hitam Nidhogg yang liar.
Satu jam... dua jam...
Tiba-tiba, Reno merasakan kehadiran seseorang di luar jendela kamarnya. Bukan penjaga akademi. Auranya sangat halus, hampir tidak terasa.
Reno membuka matanya perlahan, tangannya secara refleks meraih sabit kecilnya. Namun, ia melihat sesosok wanita tua yang pernah ia temui di perpustakaan sedang berdiri di dahan pohon besar di luar jendelanya.
"Kau..." bisik Reno.
Wanita tua itu menaruh jarinya di bibir, memberi isyarat agar Reno diam. Ia kemudian melemparkan sebuah gulungan kecil melalui celah jendela sebelum akhirnya menghilang ke dalam kegelapan malam seperti asap.
Reno memungut gulungan itu dengan rasa penasaran. Di dalamnya hanya tertulis satu kalimat pendek:
"Gerhana tidak hanya di luar tembok, tapi juga di dalam bayang-bayang Elang. Jangan percaya pada siapa pun yang mengenakan jubah perak."
Reno terbelalak. Jubah perak? Itu adalah seragam para instruktur senior... termasuk Instruktur Raka!
Reno meremas kertas itu hingga hancur. Ia menatap ke arah luar jendela yang gelap. Konspirasi ini ternyata jauh lebih besar dari yang ia duga. Musuh bukan hanya orang-orang berjubah hitam di hutan, tapi mungkin juga orang yang selama ini memberikan instruksi kepadanya di dalam kelas.
Di kehidupan lamanya, Reno dikhianati oleh sepuluh istrinya karena harta. Di dunia ini, ia mungkin akan dikhianati oleh seluruh akademi karena kekuatan yang ia bawa.
"Nidhogg, sepertinya kita tidak bisa hanya bersembunyi lagi," ucap Reno dingin.
"Hehe... itu yang ingin aku dengar sejak tadi," Nidhogg menyeringai, matanya yang merah menyala menembus kegelapan kamar. "Mari kita lihat, siapa yang akan menjadi pemangsa dan siapa yang akan menjadi mangsa di akademi ini."
Reno kembali memejamkan matanya, namun kali ini bukan untuk meditasi ketenangan, melainkan untuk mempersiapkan jiwanya menghadapi badai besar yang akan segera datang. Babak baru di akademi baru saja dimulai, dan kali ini, Reno tidak akan lagi bermain sebagai murid desa yang lemah. Ia adalah Arka, sang ahli strategi, dan ia baru saja menemukan papan catur yang sesungguhnya.