Catherina Lawrence (24 tahun) mengira pernikahannya dengan Adrian Mettond, senior di kampusnya dulu, adalah pelabuhan tenang setelah badai masa lalu yang kelam. Namun, belum genap satu tahun berjalan, kenyataan pahit menghantamnya. Adrian ternyata tidak siap menjadi ayah bagi putra mereka, Liam, dan sang ibu mertua terus memperlakukannya layaknya orang asing yang tak diinginkan.
Di tengah dinginnya sikap Adrian, Catherina dihantui oleh bayang-bayang Everest Cavanaught—mantan kekasih sekaligus "pangeran berandalan" dari masa Lalunya. Hubungan Empat tahun itu berakhir karena keegoisan Catherina, meninggalkan luka yang belum sembuh. Ironisnya, semakin Liam tumbuh, wajah sang bayi justru semakin menyerupai Everest, bukan Adrian.
Terjebak dalam rumah tangga yang hampa dan penuh tuntutan, Catherina mulai mempertanyakan segalanya.
Apakah Adrian benar-benar mencintainya?
.
.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#16
Cahaya matahari pagi menyusup malu-malu melalui celah gorden otomatis di apartemen mewah Everest, menyinari wajah Catherina yang perlahan mulai terjaga. Ia mengerjapkan mata, merasakan tubuhnya jauh lebih segar daripada biasanya. Untuk pertama kalinya dalam sebulan terakhir, ia tidak terbangun karena mimpi buruk atau rasa sesak di dada.
Namun, ketenangan itu seketika sirna saat ia menoleh ke arah boks bayi di samping ranjangnya.
"Liam?" bisik Catherina, jantungnya berdegup kencang saat melihat boks itu kosong.
Ia segera bangkit, menyibakkan selimut sutra dan melangkah keluar kamar dengan terburu-buru. Jam di dinding menunjukkan pukul enam pagi. Saat ia menyusuri lorong yang sunyi, sayup-sayup ia mendengar suara bariton yang sangat ia kenali—suara yang biasanya terdengar dingin dan berwibawa, kini terdengar begitu lembut dan penuh nada jenaka.
"Anak Daddy... Jagoan Daddy sudah bangun? Hmm? Kau lapar, ya?"
Catherina menghentikan langkahnya di ambang pintu ruang tengah. Pemandangan di depannya membuat napasnya seolah tertahan di tenggorokan.
Everest sedang berdiri di dekat jendela besar yang menghadap pemandangan kota. Pria itu hanya mengenakan celana panjang kain berwarna hitam, tanpa atasan sehelai pun. Kulitnya putih kontras terpapar sinar matahari pagi, menonjolkan otot-otot dada dan perutnya yang jauh lebih kekar dan didefinisikan dibandingkan Dua Tahun yang lalu. Di lengannya yang kuat, ia mendekap Liam dengan penuh kasih sayang.
"Sayang... kau sudah bangun?" Everest menoleh, memberikan senyum tipis yang mematikan. "Apa Liam mengganggu tidurmu?"
Catherina mematung, wajahnya mendadak terasa panas. Pandangannya seolah terkunci pada lekukan otot Everest yang bergerak sinkron saat pria itu menepuk-nepuk punggung Liam.
"Tidak... tidak sama sekali," jawab Catherina terbata. Ia segera membuang muka, mencoba menenangkan debaran jantungnya yang tidak keruan. Everest, pakai bajumu! pekiknya dalam hati. Kenapa badan itu harus semakin kekar saja?
"Everest, bisakah kau memakai pakaianmu?" tegur Catherina, berusaha terdengar tegas meski suaranya bergetar.
Everest terkekeh, suara tawanya yang rendah bergetar di ruangan itu. Ia melangkah mendekati Catherina, memperpendek jarak hingga aroma maskulinnya menusuk indra penciuman Cathe.
"Kenapa? Bukankah kau dulu sangat senang melihatku seperti ini, Cathe? Kau bahkan sering memintaku tidak memakai baju saat kita belajar bersama dulu," goda Everest, matanya berkilat nakal saat melihat pipi Catherina yang kini semerah tomat.
"KAUUUU!!!!" Catherina mendesis malu, menutup wajahnya dengan kedua tangan. "Sudahlah! Berikan Liam padaku, aku akan membuatkan sarapan untukmu."
Everest mengangkat Liam tinggi-tinggi, membuat bayi itu mengeluarkan suara gumanan kecil yang lucu.
"Horeee! Pagi ini Daddy akan dibuatkan makanan lezat oleh Mommy! Kau jangan iri ya, Liam."
Everest kemudian mencondongkan tubuhnya ke arah telinga Catherina, membisikkan kata-kata yang membuat bulu kuduk wanita itu meremang. "Kau minum susu Mommy saja ya, Sayang. Sayang sekali, Daddy juga belum pernah merasakan air susu Mommy secara langsung... karena dulu belum ada airnya, tapi sekarang—"
"EVEREST!!!! KENAPA KAU MESUM SEKALI!!!!" teriak Catherina sambil mencubit kecil pria itu.
Everest tertawa terbahak-bahak, menghindar dengan lincah sambil tetap mendekap Liam dengan aman. Di tengah tawa itu, Catherina menyadari sesuatu yang sangat berharga: di apartemen ini, di bawah perlindungan pria "mesum" dan sombong ini, ia akhirnya bisa kembali tertawa. Kebahagiaan kecil yang sempat direnggut paksa oleh Adrian, kini perlahan mulai mekar kembali di bawah sinar matahari pagi bersama Everest Cavanaught.
...----------------...
Uap hangat memenuhi kamar mandi utama yang luas dan mewah. Di tengah ruangan, sebuah bak mandi bayi khusus berwarna putih sudah terisi air hangat suam-suam kuku. Aroma sabun bayi yang lembut bercampur dengan wangi maskulin sabun mandi Everest, menciptakan atmosfer yang begitu domestik namun intim—sesuatu yang belum pernah Catherina rasakan selama berada di mansion Mettond.
Everest, yang masih enggan memakai atasan, kini berlutut di sisi bak mandi. Ia menyingsingkan lengan celana kainnya hingga ke lutut, membiarkan kulit kakinya terkena percikan air. Catherina duduk di sisi lain, memegang handuk kecil, sementara tangan besar Everest menyangga punggung dan kepala Liam dengan sangat hati-hati di dalam air.
"Pelan-pelan, Everest... jangan sampai airnya masuk ke telinganya," tegur Catherina lembut, jemarinya mengusap perut buncit Liam dengan sabun.
"Aku tahu, Sayang. Aku memeganginya seperti memegang berlian paling mahal di dunia," jawab Everest. Matanya tidak lepas dari wajah Liam yang tampak menikmati sentuhan air hangat itu. Liam menendang-nendangkan kaki kecilnya, mencipratkan air ke dada bidang Everest yang telanjang.
Everest tertawa kecil, membiarkan dadanya basah kuyup. Pemandangan itu membuat Catherina tertegun. Ia teringat bagaimana Adrian selalu jijik dengan gumoh atau air seni bayi, namun Everest? Pria ini justru tampak bangga terkena cipratan air mandi putranya.
"Everest..." panggil Catherina lirih. "Kenapa kau begitu menyayangi Liam? Maksudku... kau baru mengenalnya kemarin. Kau bahkan tidak ragu sedikit pun padanya."
Everest menghentikan gerakan tangannya sejenak. Ia menatap manik mata Catherina dengan intensitas yang sanggup meruntuhkan pertahanan wanita mana pun. "Karena Liam adalah putramu, Cathe. Segala hal yang berasal darimu adalah duniaku."
Catherina menunduk, mencoba menyembunyikan rona merah di pipinya. "Tapi dia anak Adrian, Everest. Kau tahu itu."
"Dia anak kita, Sayang," potong Everest dengan suara baritonnya yang mantap, tidak memberikan ruang untuk bantahan.
Catherina menghentikan aktivitas menyabuninya. Ia menatap Everest dengan tatapan tidak percaya, separuh merasa lucu, separuh merasa sedih. "Kau benar-benar konyol, Everest. Coba kau hitung lagi. Kita berpisah sudah lama, kau menghilang tanpa jejak. Aku sendirian, hancur, dan aku baru menikah dengan Adrian dua tahun setelah perpisahan kita. Bagaimana mungkin secara medis dia anakmu? Kau bukan penyihir yang bisa mengirimkan benih dari jarak jauh, kan?"
Everest terdiam. Ia menatap Liam yang sedang menguap lebar di dalam air. Dalam hati, Everest tersenyum penuh kemenangan. Catherina tidak tahu—dan mungkin belum saatnya tahu.
"insting seorang ayah tidak pernah meleset," ujar Everest misterius. Ia mengambil gayung kecil, menyiramkan air ke bahu mungil Liam dengan sangat telaten. "Lihatlah dia. Apa kau melihat ada satu inci pun bagian dari Adrian Mettond di wajah ini? Tidak ada. Dia akan memiliki keras kepalaku, dan kecantikanmu."
Catherina menghela napas, menganggap Everest hanya sedang berusaha menghiburnya agar ia tidak merasa terbebani oleh bayang-bayang Adrian. "Kau hanya terlalu baik, Everest. Kau ingin aku merasa bahwa Liam diterima, itu sebabnya kau mengklaimnya."
"Aku tidak pernah melakukan sesuatu hanya karena ingin menjadi 'baik', Cathe. Kau tahu itu," Everest meraih tangan Catherina yang masih memegang handuk, membawanya ke bibirnya dan mengecup punggung tangan itu dengan lembut di tengah uap air hangat. "Aku mengklaimnya karena dia memang milikku. Dan kau pun milikku."
Suasana mendadak menjadi sangat romantis dan menyesakkan. Jarak di antara mereka begitu tipis. Catherina bisa merasakan panas tubuh Everest yang menguar. Di bawah mereka, Liam menggeliat senang, seolah merestui kedekatan kedua orang tuanya.
"Basuhlah punggungnya, Mommy," goda Everest, mencoba memecah ketegangan yang mulai menjurus ke arah yang lebih intim. "Daddy tidak ingin jagoan ini kedinginan karena Mommy-nya sibuk melamunkan ketampanan Daddy."
"Everest! Berhenti memanggil dirimu Daddy!" seru Catherina, wajahnya kini benar-benar semerah kepiting rebus.
"Kenapa? Dia menyukainya, lihat," Everest menunjuk Liam yang tiba-tiba tersenyum kecil (atau mungkin hanya refleks bayi, tapi bagi Everest itu adalah persetujuan). "Dia tahu siapa yang akan membelikannya tim sepak bola saat dia besar nanti."
Catherina tertawa, sebuah tawa yang lepas dan jernih. Ia menyiramkan sedikit air ke arah Everest sebagai balasan.
Pagi itu, di dalam kamar mandi yang penuh uap, sisa-sisa kegelapan dari mansion Mettond seolah luruh bersama air mandi Liam. Meskipun Catherina masih memegang teguh logikanya bahwa Liam adalah anak Adrian, namun hatinya mulai mengkhianati pikirannya sendiri. Berada di pelukan Everest, melihat pria itu mengurus bayi dengan begitu tulus, membuat Catherina merasa bahwa mungkin—hanya mungkin—keajaiban itu benar-benar ada.
"Selesai," ucap Everest setelah beberapa menit. Ia mengambil handuk bayi yang lebar, membungkus Liam dengan sangat rapi hingga bayi itu menyerupai kepompong kecil yang menggemaskan. "Sekarang, giliran Mommy yang harus mandi dan bersiap. Daddy akan menjaga Liam di depan televisi."
"Jangan ajarkan dia menonton berita saham, Everest!" teriak Catherina saat Everest melangkah keluar sambil menggendong Liam yang sudah wangi sabun bayi.
"Terlambat! Dia harus tahu aset apa saja yang akan menjadi miliknya tahun depan!" sahut Everest dari luar, membuat Catherina hanya bisa menggelengkan kepala dengan senyum yang tak kunjung hilang dari bibirnya.
Malam yang panjang dan penuh air mata di rumah lamanya kini terasa seperti ribuan tahun yang lalu. Di apartemen ini, di bawah perlindungan Everest Cavanaught, Catherina mulai percaya bahwa ia dan Liam benar-benar memiliki masa depan yang lebih cerah dari sekadar menjadi bayang-bayang di keluarga Mettond.
🌷🌷🌷🌷
Happy Reading Dear😍