NovelToon NovelToon
Runtuhnya Tahta Langit

Runtuhnya Tahta Langit

Status: sedang berlangsung
Genre:Epik Petualangan / Mengubah Takdir / Balas Dendam
Popularitas:3.9k
Nilai: 5
Nama Author: Bodattt

Xiao Chen memiliki Tulang Patah Surga—kutukan yang membuatnya tidak mampu menyimpan Qi, dihina sebagai sampah Sekte Langit Pedang. Ketika dibuang ke jurang penuh mayat oleh tunangan yang menghianatinya, ia justru menemukan rahasia kuno: retakan di tulangnya adalah wadah kekuatan yang bahkan ditakuti para Dewa. Di dunia di mana Kaisar Langit telah mati dan Hukum Dao runtuh, Xiao Chen memulai jalan kultivasi terlarang yang akan mengguncang Tahta Surga. Ia tidak naik untuk berlutut pada takdir... ia naik untuk menghapus Langit itu sendiri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bodattt, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 18: Di Bawah Awan Pengawas

Jalan setapak yang membentang di hadapan Xiao Chen menurun perlahan, meninggalkan ketinggian Gunung Langit Pedang. Di kanan dan kiri, hutan pinus kuno berdesir ditiup angin sore. Jarum-jarum pinus kering berjatuhan seperti hujan emas, tapi Xiao Chen tidak menikmati pemandangan itu. Matanya tertuju pada langit.

Awan di atas sana tidak lagi biasa.

Mereka berkumpul di satu titik, tepat di atas jalur yang ia lalui. Bukan awan putih yang berarak lembut, melainkan gumpalan kelabu gelap yang berputar pelan seperti pusaran air di lautan. Di dalamnya, kilatan cahaya—bukan petir biasa—berkelip-kelip tanpa suara. Seolah-olah sesuatu di balik awan itu sedang mengamatinya.

"Mereka belum yakin," kata Yue Que. Pedang patah itu bergetar pelan di balik jubah Xiao Chen, seolah ingin keluar dan menghadapi langit. "Mereka merasakan kehadiran Energi Chaos, tapi mereka tidak tahu persis di mana kau berada. Jubah Perang itu menyembunyikanmu. Untuk saat ini."

"Berapa lama 'untuk saat ini'?" tanya Xiao Chen.

"Tergantung seberapa banyak Energi Chaos yang kau gunakan. Semakin kau bertarung, semakin terang sinyalmu. Mereka seperti hiu yang mencium setetes darah di lautan luas. Selama kau tidak berdarah, mereka hanya berputar-putar."

Xiao Chen mengangguk pelan. Ia menatap Hui yang berjalan di sampingnya. Serigala hitam itu juga tampak gelisah, bulu tengkuknya berdiri, matanya sering melirik ke atas.

"Kau merasakannya juga, ya?"

Hui menggeram rendah.

Mereka melanjutkan perjalanan hingga matahari mulai tenggelam di balik cakrawala. Langit berubah jingga, lalu ungu, lalu hitam. Awan pengawas itu tetap di sana, tidak bergerak, tidak menghilang. Di kegelapan malam, kilatan-kilatan di dalamnya justru semakin terlihat jelas—seperti mata-mata yang berkedip.

Xiao Chen menemukan tempat untuk bermalam di sebuah gua kecil di lereng bukit, jauh dari jalan utama. Gua itu dangkal, hanya cukup untuk berteduh, tapi setidaknya tersembunyi di balik semak-semak liar. Ia menyalakan api unggun kecil di mulut gua, lebih untuk penerangan daripada kehangatan. Tubuhnya yang dialiri Energi Chaos jarang merasa kedinginan.

Saat api mulai berkobar, ia mengeluarkan gulungan kitab dari Ruang Warisan. Kali ini, ia mencari sesuatu yang spesifik—informasi tentang Bencana Surgawi.

Gulungan itu sudah usang, pinggirannya rapuh dimakan usia. Tapi tulisan di dalamnya masih jelas. Xiao Chen membacanya dalam hati:

"Bencana Surgawi adalah manifestasi kehendak Surga untuk membersihkan anomali. Ada sembilan tingkatan Bencana, dari yang terendah—Bencana Angin Hitam—hingga yang tertinggi—Bencana Penghapusan Surga. Setiap Bencana dipimpin oleh seorang Utusan Langit, kultivator yang telah menyerahkan kehendaknya pada Surga dan menjadi boneka hidup."

Utusan Langit. Boneka hidup.

Xiao Chen mengingat perkataan Leluhur Pertama di ruang kesadaran. "Aku mengalahkan lima Bencana sebelum akhirnya kalah." Itu berarti Leluhur Pertama bertarung melawan lima Utusan Langit, satu demi satu, sebelum akhirnya takluk pada yang keenam, ketujuh, kedelapan, dan kesembilan.

"Jika mereka mengirim Bencana untukku..." pikirnya.

"Mereka tidak akan mengirim yang tinggi dulu," potong Yue Que, seolah membaca pikirannya. "Mereka akan menguji dulu. Bencana tingkat rendah. Utusan Langit yang lemah. Untuk melihat seberapa besar ancamanmu."

"Itu bagus. Aku juga masih lemah."

"Kau meremehkan definisi 'lemah' bagi Surga. Bencana tingkat pertama—Bencana Angin Hitam—cukup untuk menghancurkan seluruh kota kecil. Utusannya setidaknya setara dengan kultivator Inti Emas tingkat atas."

Xiao Chen terdiam. Inti Emas tingkat atas. Itu level yang sama dengan Tetua Agung Shen Wuji. Dan itu baru tingkat pertama dari sembilan.

"Aku butuh lebih banyak waktu," gumamnya.

"Waktu adalah kemewahan yang tidak dimiliki Ras Dewa Patah."

Xiao Chen mengepalkan tangan. Ia membuka bagian lain dari gulungan itu—tentang Lapis Ketiga Teknik Tubuh Naga Chaos.

"Lapis Ketiga: Membangkitkan Tulang Lengan. Lengan menjadi cakar naga. Genggaman menjadi takdir."

Untuk mencapai Lapis Ketiga, ia harus mematahkan tulang-tulang di kedua lengannya—lengan atas, lengan bawah, pergelangan tangan, hingga jari-jemari. Sama seperti tulang punggung, patahan itu harus disengaja dan terkendali. Dan seperti sebelumnya, risiko kegagalan adalah kelumpuhan atau kematian.

Tapi hadiahnya...

"Dengan Lapis Ketiga, Energi Chaos-mu bisa disalurkan langsung ke Yue Que tanpa hambatan. Setiap ayunan pedangmu akan menjadi perpanjangan dari kehendakmu. Dan kau akan bisa menggunakan Jurus Pedang Tanpa Nama yang kedua."

"Jurus kedua?"

"Tuanku tidak memberinya nama. Tapi aku menyebutnya 'Sobekan Horizon'. Satu ayunan horizontal yang cukup untuk memotong apa pun dalam jarak pandang."

Xiao Chen membayangkan itu. Satu ayunan yang memotong semua yang terlihat. Itu bukan lagi teknik bertarung biasa. Itu adalah teknik perang.

"Berapa lama aku harus berlatih untuk Lapis Ketiga?"

"Tidak bisa disamakan dengan Lapis Kedua. Tulang lengan lebih rumit. Banyak sendi kecil. Banyak kemungkinan gagal. Tuanku dulu butuh setahun hanya untuk lengan kanannya."

Setahun. Xiao Chen tidak punya waktu setahun. Awan pengawas di atas sana mungkin tidak akan menunggu selama itu.

"Tapi kau tidak harus melakukannya sekaligus," lanjut Yue Que. "Kau bisa mematahkannya satu per satu. Lengan bawah kanan dulu, misalnya. Itu akan memberimu kekuatan ekstra tanpa risiko terlalu besar."

Xiao Chen merenung. Ia menatap tangan kanannya. Tangan yang dulu digunakan untuk menyapu lantai, memikul air, menggosok jubah kotor. Sekarang tangan itu akan ia patahkan sendiri demi kekuatan.

"Besok," katanya akhirnya. "Malam ini aku butuh istirahat. Besok aku akan mulai."

Ia mematikan api unggun dan bersandar di dinding gua. Hui meringkuk di sampingnya, kehangatan tubuhnya menenangkan. Yue Que ia letakkan di pangkuannya, siap digunakan kapan saja.

Di luar, awan pengawas masih berputar. Kilatan-kilatan tanpa suara masih berkedip.

Xiao Chen menatapnya sebelum memejamkan mata.

"Aku tidak akan lari," bisiknya pada langit. "Aku akan tumbuh. Dan saat aku cukup kuat, akulah yang akan mengawasi kalian."

Langit tidak menjawab. Tapi kilatan di awan berhenti sejenak, seolah sesuatu di sana mendengarnya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!