NovelToon NovelToon
Mencintai Badai

Mencintai Badai

Status: sedang berlangsung
Genre:Bad Boy / Crazy Rich/Konglomerat / Balas Dendam
Popularitas:5.7k
Nilai: 5
Nama Author: Anissah

Menyandang status janda di usia muda, bukan hanya sekali, tapi tiga kali. Membuatku membangun benteng pertahanan yang angker.

Bagiku, laki-laki hanyalah makhluk lemah yang datang untuk memanfaatkan atau meninggalkanku. Keangkuhan itu menjadi perisai utamaku.

Sampai hari itu, ketika ego tinggiku berhadapan dengan mas Barraq, seorang pemuda keturunan berada yang dengan berani mengutarakan ketulusannya padaku.

Dengan lidahku yang tajam, kulontarkan kalimat-kalimat penuh racun yang meremukkan harga dirinya. Aku menghakiminya seolah dia tidak punya hak untuk mencintai wanita berpengalaman sepertiku.

Dadaku sesak oleh rasa bersalah yang teramat sangat. Di tangan pemuda yang dulu kuanggap remeh inilah, titik balik hidupku terpampang nyata.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anissah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Eps 16. Memikirkan generasi penerus

“Malu-maluin!” ucapnya dengan geraman yang seperti penuh emosi.

Aku menoleh ke belakang, melihat motor mas Barraq yang dibawa laki-laki yang keluar dari mobil tadi. Motor itu mengikuti mobil ini, yang aku ingat jalannya seperti mengarah pulang ke rumah megah itu lagi.

“Abang tak paham apa masalah kau, Raq! Tapi jangan sekali-kali kau teriak-teriak pinggir jalan kek tadi, meskipun jalanan itu sepi. Yang punya malu!” ucap mas Nadim dengan menoleh sekilas pada anaknya itu yang duduk di sampingnya.

“Tak punya akhlak kalian ini!” tambahnya kemudian.

“Kek mana aku tak kesal. Dia ngatain aku tak bisa ambil keputusan sendiri dan aku disetiri orang tua,” adunya pada mas Nadim.

Mas Nadim mengkondisikan spion tengah, sepertinya agar bisa melihatku yang duduk di bangku tengah ini.

“Anak muda perlu arahan, bukan disetir. Memang berpengalaman atau tidaknya tak bisa dilihat dari usia. Contohnya… Kau pernah dibui dua kali, Abang tak pernah sekalipun kan???” Mas Nadim melempar pandangannya pada anaknya itu.

“Hmm, betul. Kek dia mau menjanda tiga kali, aku menikah pun belum pernah ngerasain sama sekali kan?” timpal mas Barraq dengan melemparkan pandangannya ke arahku. Aku dijadikannya contoh juga.

“Hah? Tiga kali?” Mas Nadim menoleh ke arahku dengan wajah terkejutnya.

“Nah itu, dikasih paham bilangnya aku bisa menanggung sakitku sendiri dan masalahku sendiri,” ujarnya dengan mengikuti ucapanku yang diulangnya dengan bibir memble-memble.

“Jangan mentang-mentang cantik, masih laku keras, terus kau seenaknya ganti-ganti suami. Stock bujangan habis nanti kau babat, kasian anak gadis pada dapatnya dudanya kau,” tutur mas Nadim santai. Mungkin maksudnya sih menasehatiku ya? Tapi aku malah menahan tawaku di sini.

“Terus para gadis yang dapat duda itu, akhirnya jadi janda. Aku yang udah habis-habisan sama janda senior, harus dari awal didik janda junior. Kan habis nanti staminaku di situ,” celetuk mas Barraq yang membuat mas Nadim terkekeh geli, sampai-sampai mas Nadim meraup wajah anaknya itu.

Mereka bisa sekali mengalihkan moodku ini. Aku jadi terbawa suasana dan ikut menyuarakan tawa geliku.

“Nah, itu. Kasian bujangku ini, Dea. Udahlah, kau jangan menjanda-menjanda lagi. Biar tetap bujangan aja anakku ini,” ungkap mas Nadim dengan menepuk-nepuk pundak mas Barraq dan akhirnya merangkulnya sekilas.

Ia benar-benar anak mas Nadim, mas Nadim mengakuinya barusan.

“Bujangan kan belum tentu perjaka," celetukku enteng.

Mereka berdua menoleh serentak, seolah aku sudah salah berbicara.

"Wah, kasus. Berarti perjakanya hilang sama kau,” tuduh mas Nadim yang direspon tawa pecah dari anaknya.

Bercandaan keluar ini agak-agak, aku takut sendiri. Tadi saat di gazebo, kakeknya mas Barraq mengatakan bahwa kesukaan mereka saat mas Barraq mengatakan bahwa aku gampang ‘becek’.

Aku paham mereka laki-laki. Tapi kan hubungan mereka adalah anak dan orang tua, harusnya tidak pantas jika bercandanya seperti itu. Karena terdengar tidak sopan.

“Jangan kek gitu lah, Bang. Shock dia Abang bercandain terus," jelas mas Barraq dengan menunjukku sekilas dengan dagunya.

“Usia kau udah matang, Dea. Mengalahlah sedikit kalau Barraq terbawa emosi. Tunggu di tempat yang aman, tunggu Barraq tenang, baru kau jelasin masalahnya. Misalnya udah berumah tangga, terus ribut di jalan begitu, apa pantas? Kalau ribut di rumah, orang rumah tau, paling cuma diledekin ‘semalam ribut, paginya junub’." Beliau merubah sedikit suaranya di akhir kalimat tadi.

“Dikiranya aku nggak punya emosi? Lagian untuk apa aku ngalah? Aku punya suara dan aku berhak menyuarakan pendapatku," gerutuku kesal.

Kenapa selalu perempuan yang diminta untuk mengalah? Kenapa harus aku yang mengerti akan keadaan, agar suasana tidak semakin rumit? Ya laki-laki juga bisa kan?

"Keras kepala dia ini, percuma Abang kasih dia nasihat ini itu. Pembangkang memang! Pantaslah jadi janda!” cetusnya datar. Tapi siapa sangka, suara datar itu menimbulkan luka di hatiku.

Ia terus mengatakan bahwa aku pantas menjadi janda? Apa motivasinya menyakiti hatiku? Agar apa ia mengatakan hal itu? Kepentingan apa sampai ia harus mengatakan hal seperti itu?

“Jaga kata-kata kau, Raq. Keluarga besar kita itu tersusun atas beberapa janda. Maksud hati kau ngomong kek gitu ke Dea, terdengar telinga sesepuh kau, tak terima mereka nanti! Misalnya ada orang bilang, pantaslah kau jadi begini, ternyata masa lalu orang tua kau begini. Sakit hati kan kau dengernya? Tak terima kan kau dengernya? Di balik semua kondisi yang kau dan Dea emban saat itu, itu bukan kehendak kalian. Menurut Dea, kondisinya saat ini semua itu bukan atas kesalahannya. Menurut kau, kondisi kau saat ini adalah bukan kesalahan kau. Kau yang rusak, kau yang bertato bertindik pun, orang tua kau yang kau salahkan. Padahal nasib kau sendiri ya ada di tangan kau sendiri. Masa lalu kek mana buruknya, tergantung kek mana kau ambil jalan kehidupan kau sendiri. Kalau harus Ayah ngomong tentang garis keturunan. Makwa kau, Nadia. Ia lahir di luar pernikahan, malahan ada omongan orang yang mengatakan bahwa nenek kau, ibu Nala, ini pelakor. Dia hamil dengan suami orang, kakek kau itu beristri saat nikah sama nenek kau. Terus sekarang kek mana makwa? Pendidikan beliau bagus, beliau tak hamil di luar pernikahan, nasibnya mulus sekarang meski pernah jadi ‘janda’,” ungkap mas Nadim di depanku tanpa sungkan.

Aku langsung murung, aku mengingat tentang semua yang sudah aku lewati.

“Dan kau juga, AYAH! Kau hamili istri orang!" ujar mas Barraq dengan gigi bergemeletuk.

Haduh, pening aku menghadapi mereka berdua. Maksud hati si yang tua, ia ingin menasehati anaknya. Sedangkan anaknya ternyata tidak terimaan, ia malah mengorek kesalahan ayahnya.

"Terus, kalau memang iya kondisinya kek gitu. Apa masalah kau untuk menambah rusak diri kau sendiri? Harusnya kau berpikir, ah iya keluarga kami tersusun atas hal-hal yang kurang baik, aku harus menjadi keturunan yang baik untuk generasi penerusku. Setidaknya, ingatlah ke masa depan kau, ke keturunan kau nanti!” tukas mas Nadim dengan mobil yang berhenti di depan pagar rumah kakek.

Yap, rumah yang besar dengan halaman luas itu. Sepertinya jika tidak ada gazebo dan pohon mangga itu, dua puluh mobil bisa terparkir rapi di dalamnya.

"Bolehkah aku balikan kata-kata itu?! AYAH! Apa kau tak berpikir tentang generasi penerus kau? Tentang keturunan kau?!” Dari suaranya mas Barraq seperti tengah menahan sesuatu yang tumpah dari harga dirinya.

Ia seperti menahan tangisnya.

Mas Nadim menoleh ke arahku, kemudian ke arah anaknya itu.

Ah iya, ini sudah sampai depan pagar dan mobilnya juga sudah berhenti. Aku diberi kode untuk turun, karena jelas aku bukan penghuni rumah besar itu. Sedangkan mobil ini akan masuk ke pekarangan rumah itu.

“Saya permisi," ucapku dengan segera membuka pintu mobil dan segera melangkah menjauh.

1
Rini qi
kayaknya perasaan dea sama deh kek aq, deg-degan & penasaran apa ini yang terjadi selanjutnya
Miss F
kayaknya mau ad sesi tanya jawab ttg kelonan smlm tu de...🤣🤣🤣
Fitri Ristina
rer the best pokoknya...ga pernah bosan dengan cerita keluarga mamah dinda
Batriani
tak sanggup ku berkata kata ingin mencela takut kualat pula aku ... jaga diri aja kau ya de' . dr awal udah kata urus cerai kau..... ya sudah lah ikutin aja kisah kau ama siberraq itu......
Rini qi: jgn anggap remeh dea...
total 1 replies
Christine
hahahaha itu jagung Afika dea....
Christine
astaga....rasanya gmna itu goyang sambil tlpn ora konsen ak mas
Miss F
urs de ceraimu
barrack jgn blg kamu badboy,,kyk mantan pcrnya adiknya canda,,ceria skalane😠😠
Miss F
jgn SMP de kamu cm dicicipi barrack tok tp g dtanggung jwbi...
Batriani
pak suami mana pak suami.... permainan apa ini, geli2 basah.....🤭
Miss F
KLO BNR garis 2 nangis loe de dipojokan🤣🤣🤣
Christine: 🤭🤭🤭🤭👍👍👍
total 3 replies
Christine
aku kok ikut menegang de
Christine
jangan.....ihhh ak mlh berdoa jgn ada yg dtng takut ihh tetiba digrebek ...
Rini qi
🫣
Fitri Ristina
suami mana suami...
Miss F
abis baca sidea koq JD cenat cenut🤣🤣🤣
Christine: 🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣 kesetrum say
total 1 replies
Miss F
de,,kamu dminta baik2 dksh status gakk mau malah milih yg haram😞
Christine
hahahaha serang balik de dibilangin kelamaan klu nungguin dia
Miss F
yg minum mas barrack ehhh authornya yg kena pngaruh alkohol jg JD mabok🤣🤣
Miss F
tak ingat kau de pesan ayah wiya n ayah bara😞
Batriani
wah...😟. jebol pertahanan nya...
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!