NovelToon NovelToon
Montir Hati Tuan Muda Arogan

Montir Hati Tuan Muda Arogan

Status: sedang berlangsung
Genre:Identitas Tersembunyi / Balas Dendam / Cintamanis / Fantasi Wanita / Konflik etika / CEO
Popularitas:5.6k
Nilai: 5
Nama Author: riniasyifa

Arjuna Adhitama terbiasa mendapatkan segalanya dengan mudah. Uang, kekuasaan, wanita, semuanya tunduk pada kemauannya. Sampai satu malam yang hujan deras, mobil sport mahalnya mogok di jalan sepi yang jauh dari kota. Di tengah kegelapan dan badai itu, harapannya untuk diselamatkan hampir hilang... sampai ada sepeda motor tua melintas dan berhenti.

Pengendaranya adalah seorang gadis muda dengan baju kotor penuh oli, wajah cantik yang setengah tertutup rambut basah, dan senyum jahil yang bikin Arjuna kesal setengah mati. Dia Kirana.

Sejak malam itu, hidup Arjuna tidak pernah sama lagi. Di mana pun dia berada, takdir seolah mempertemukannya terus dengan Kirana. Gadis itu terusik ketenangannya, membuat emosinya naik turun, bikin dia marah tapi sekaligus ingin tahu lebih dalam.

Apa yang terjadi ketika Tuan Muda paling dingin jatuh hati pada satu-satunya wanita yang tidak peduli sama sekali padanya?



Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon riniasyifa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 10 Jejak yang hilang

Matahari pagi baru saja naik separuh langit, menyinari gedung pencakar langit milik Grup Adhitama dengan cahaya keemasan yang mempesona. Di ruangan kantor paling atas yang luas, dingin, dan penuh kemewahan itu, suasana kali ini jauh berbeda dari biasanya.

Arjuna Adhitama duduk di balik meja besarnya, siku bertumpu pada permukaan kayu mahoni yang mengkilap, jari-jarinya menyatu di depan wajah. Wajahnya yang tampan terlihat serius, alisnya berkerut dalam, dan matanya menatap lurus ke arah sekretaris pribadinya, Pak Hendra, yang berdiri di hadapannya dengan berkas dokumen tebal di tangan.

Sejak kejadian kemarin sore di pinggir kali, percakapan berbahasa sandi antara Kirana dan pria tua misterius itu terus berputar di kepala Arjuna, berulang-ulang seperti rekaman yang tidak mau berhenti. Elang yang menyamar ... pohon besar ... keluarga Adhitama ... semua kata itu seolah menjadi duri yang menusuk-nusuk pikirannya.

Dia harus tahu. Dia harus mendapatkan jawaban. Dan cara tercepat adalah menggunakan apa yang dia punya: kekuasaan, uang, dan akses ke segala data.

"Bagaimana, Pak Hendra?" tanya Arjuna pelan namun berat, suaranya rendah dan penuh penekanan. "Sudah kau selidiki semua data mengenai Kirana? Latar belakangnya, keluarga, pendidikan, tempat asal, semuanya. Aku ingin tahu segalanya sampai ke akar-akarnya. Tidak boleh ada yang terlewat satu pun."

Pak Hendra mengangguk hormat, tapi di wajah tua dan berpengalamannya itu terlihat kerutan bingung yang mendalam. Dia meletakkan berkas-berkas itu di atas meja Arjuna dengan hati-hati.

"Saya sudah lakukan seperti perintah Tuan Muda. Saya sudah kerahkan tim terbaik, menyusuri catatan kependudukan, sekolah, rumah sakit, catatan sipil, dan semua arsip yang ada. Saya bahkan menyelidiki lingkungan sekitar bengkel, tetangga, dan orang-orang yang pernah berhubungan dengannya ..." Pak Hendra berhenti sejenak, menelan ludah ragu.

Arjuna mencondongkan badannya ke depan, matanya berkilat penuh harap sekaligus rasa ingin tahu yang besar. "Terus? Apa hasilnya? Siapa dia? Dari mana asalnya? Anak siapa dia?"

Pak Hendra menggeleng pelan, wajahnya terlihat bingung luar biasa.

"Justru itulah masalahnya, Tuan ... tidak ada apa-apa."

Arjuna mengerutkan kening makin dalam. "Maksudmu tidak ada apa-apa? Kau mau bilang padaku kalau gadis itu tidak pernah lahir? Tidak pernah hidup? Jangan bercanda, Pak Hendra. Aku melihatnya setiap hari. Dia nyata."

"Saya tidak bercanda, Tuan," jawab Pak Hendra cepat, nadanya serius dan sedikit gemetar karena bingung. "Nama lengkapnya yang kami dapat dari tetangga hanya Kirana. Tidak ada nama belakang. Data kelahiran tidak tercatat di mana pun. Riwayat sekolah nihil. Tidak ada catatan alamat tetap. Dia muncul di daerah pinggiran kota itu sekitar empat tahun lalu, tiba-tiba saja, membawa perlengkapan alat bengkel sendiri, dan akhirnya mulai bekerja di bengkel itu. Sebelum empat tahun lalu ... seolah-olah dia tidak pernah ada di dunia ini."

Arjuna terdiam. Dia meraih berkas-berkas itu, membukanya dengan cepat. Benar saja. Isinya hampir kosong. Hanya ada laporan wawancara warga sekitar yang mengatakan hal yang sama: Kirana datang tiba-tiba, pandai sekali mengotak-atik mesin, jago berkelahi, pendiam soal urusan pribadi, tapi sangat suka menolong. Tidak ada yang tahu siapa keluarganya, tidak ada yang tahu dari mana dia belajar semua keahlian hebat itu.

"Dan ada satu lagi yang aneh, Tuan ..." tambah Pak Hendra pelan, suaranya mendadak menjadi berbisik.

Arjuna menatap tajam. "Apa lagi?"

"Beberapa orang yang sempat kami tanyai secara mendalam ... tiba-tiba saja lupa atau bingung saat ditanya lebih jauh. Ada juga data-data lama yang kami coba telusuri ... seolah-olah sengaja dihapus atau disembunyikan oleh seseorang yang sangat berkuasa dan punya akses tinggi ke sistem negara. Ini bukan sekadar orang biasa yang menyembunyikan identitas, Tuan. Ini ... penghapusan jejak secara profesional."

Darah Arjuna terasa berhenti mengalir sejenak. Dia meletakkan berkas itu kembali ke meja perlahan. Pikirannya kembali melayang ke kejadian kemarin sore.

"Elang sedang menyamar jadi burung pipit ..."

Kirana bukan sekadar gadis bengkel yang kabur dari rumah kaya, seperti dugaan awal Arjuna. Bukan juga anak mafia biasa. Dia adalah seseorang yang dilindungi, atau mungkin sedang bersembunyi, dengan sistem keamanan identitas yang sangat canggih. Seseorang yang keberadaannya seolah dihapus dari sejarah.

Dan yang paling mengganggu ... pria tua kemarin menyebutkan bahwa keluarga Adhitama ada hubungannya dengan semua ini.

Arjuna bangkit berdiri, berjalan mendekati jendela kaca raksasa yang menghadap ke seluruh kota. Dia menatap gedung-gedung tinggi yang dia bangun, jalanan raya yang dia biayai, dan kekuasaan yang dia pegang. Tapi di saat seperti ini, dia merasa sangat kecil, sangat bodoh, dan sangat tidak berdaya.

Gadis yang dia cintai, gadis yang setiap hari dia lecehkan dengan sebutan gadis kampung atau gadis bengkel ... ternyata adalah misteri terbesar yang pernah ada di hidupnya.

"Siapa kau sebenarnya, Kirana ..." gumam Arjuna pelan, suaranya berat dan penuh rasa takjub.

"Tuan Muda? Apakah kita akan menghentikan penyelidikan? Atau mencari cara lain?" tanya Pak Hendra ragu dari belakang.

Arjuna berbalik badan perlahan, matanya yang tajam kini berubah berkilat penuh tekad yang makin kuat. Dia menyeringai tipis, senyum khas Tuan Muda Adhitama yang tidak pernah mundur tantangan.

"Tidak. Lanjutkan. Dan kali ini, jangan hanya cari data resmi. Cari di tempat yang kotor. Cari di sejarah lama. Cari hubungan keluarga. Cari apa pun yang berhubungan dengan nama Kirana, Bengkel Pasir, dan ... musuh lama keluarga kita."

Pak Hendra mengangguk patuh, meski bingung dengan perintah terakhir itu. "Baik, Tuan Muda. Akan saya laksanakan."

"Dan satu lagi ..." Arjuna berhenti, nadanya melembut namun penuh peringatan keras. "Jangan ada satu orang pun yang tahu penyelidikan ini. Terutama ... Ayah dan ibu tiriku, paham!"

"Paham, Tuan Muda."

Setelah Pak Hendra keluar menutup pintu, Arjuna kembali duduk di kursi besarnya. Dia mengeluarkan ponsel pintarnya, membuka galeri foto. Di sana ada banyak sekali foto Kirana yang dia ambil diam-diam tanpa sepengetahuan gadis itu.

Ada foto Kirana saat sedang berkonsentrasi memperbaiki mesin, wajahnya penuh keringat tapi sangat indah. Ada foto Kirana saat sedang tertawa lepas, matanya menyipit indah. Ada foto Kirana saat sedang marah-marah memukul ban kendaraan. Dan ada foto wajah Kirana saat sedang diam, menatap jauh dengan pandangan yang begitu dalam dan sedih, seolah memikul beban dunia sendirian.

Arjuna mengusap layar ponsel itu pelan dengan jari jarinya.

"Kau bilang kau elang yang sedang bersembunyi? Bagus. Biarkan kau berpikir kau sedang bersembunyi dengan aman. Tapi ingat, Kirana ... aku akan mengungkap semua ini pelan-pelan. Dan saat semua topengmu jatuh ... saat semua rahasiamu terbongkar ... aku harap kau siap. Karena apa pun identitas aslimu ... apa pun masa lalumu ... hatiku sudah terlanjur terperangkap oleh gadis montir bernama Kirana. Dan aku tidak peduli seberapa gelap rahasiamu ... aku akan tetap ada di sana. Menunggu."

Siang itu berlalu cepat. Arjuna tidak bisa menunggu lagi. Dia merasa setiap detik berlalu, jarak dia dan kebenaran makin dekat, tapi juga makin berbahaya. Dia memutuskan untuk kembali ke bengkel. Dia harus bertemu Kirana. Dia harus melihat reaksi gadis itu. Dia harus mencari celah lewat pertanyaan-pertanyaan jebakan.

_______________________________________

Sore hari, di Bengkel Pasir, suasana terlihat biasa saja. Suara bising mesin dan ketukan besi masih sama. Kirana sedang duduk di kap sebuah truk tua, kakinya menjuntai ke bawah, sedang makan gorengan tahu isi sambil membaca buku tebal berisi diagram mesin yang rumit.

Arjuna berjalan masuk dengan santai, pakaiannya sudah berganti kembali ke kaos oblong dan celana jeans lusuhnya. Penampilannya sama seperti kemarin, tapi aura yang dia pancarkan sedikit berbeda. Ada ketegangan halus, ada kewaspadaan, dan ada tatapan menyelidik yang tajam di matanya.

Begitu melihat Arjuna datang, Kirana mengangkat wajahnya, menelan makanannya, lalu menyunggingkan senyum lebar dan ceria seperti biasa. Senyum yang seolah-olah tidak pernah terjadi percakapan apa pun kemarin sore.

"Wah, Tuan Dingin! Datang lagi? Kok jarang-jarang sih ke sini? Kemarin absen, nih! Ada aja alasanmu ya, bilang ada rapat penting segala. Pasti malas kerja kan? Hahaha!" sapa Kirana renyah, melempar satu buah gorengan ke arah Arjuna.

Arjuna menangkap gorengan itu dengan satu tangan tanpa melihat. Dia berjalan mendekat, berdiri tepat di bawah tempat Kirana duduk, menatap ke atas ke arah wajah gadis itu. Dia mengamati setiap inci ekspresi wajah itu, mencari jejak kebohongan, mencari tanda-tanda kegugupan. Tapi nihil. Kirana sama sekali tidak berubah. Dia sama ceria, sama santai, sama nyeleneh seperti awal dia jumpa.

"Sangat ulung," batin Arjuna kagum sekaligus kesal. "Dia bisa menutupi dirinya sebaik ini sampai-sampai aku pun hampir percaya dia benar-benar gadis lugu."

"Maaf aku sedikit sibuk akhir-akhir ini," jawab Arjuna santai, menggigit gorengan itu pelan. "Tapi sambil rapat, aku sempat mencari tahu sesuatu. Tentang seseorang yang aku kenal dekat."

Bersambung ....

1
sunshine wings
Mantap.. gak rugi bacanya.. alur ceritanya hebat..
👏🏻👏🏻👏🏻👏🏻👏🏻
👍👍👍👍👍
❤️❤️❤️❤️❤️
Teh Fufah
seruuuu nihhhh ceritanya...
riniandara: terima kasih kak atas review nya ya
total 1 replies
riniandara
Assalamualaikum semua! semoga sehat selalu ya. oh ya kalau kalian suka jangan lupa tinggalkan Jejak serta like ya teman-teman. happy reading/Kiss//Heart/
azela
wah makin penasaran apakah mereka akan berhasil. lanjut up Thor kalau bisa doubel ya he he/Applaud//Applaud//Applaud/
riniandara: siap kakak
total 1 replies
riniandara
pasti lanjut baca ya kak happy reading
azela
lanjut author semangat semakin seru aj/Applaud//Applaud//Applaud/
azela
jangan menyerah Kirana ada tuan dingin yang akan mendukungmu
Muft Smoker
ad rahasia apa niih di antara mereka ,, 🤭🤭🤭🤭
azela
akhirnya terbongkar juga, ternyata Kirana itu bukan gadis biasa keluarga mereka juga sangat dekat dulu.
azela
lanjut Thor semakin penasaran aja
Ita Xiaomi
Semangat Kirana.
Ita Xiaomi
Tenang Kirana, Arjuna akan menyayangi dan mencintaimu dgn setulus hati.
Lisa
Ceritanya menarik jg nih 👍
Lisa: Sama² Kak..oke Kak nanti aq review ya
total 2 replies
Lisa
Aku mampir Kak
azela
siapa Kirana? dari percakapan mereka yang penuh teka bisa di pastikan jika Kirana ini bukan gadis biasa/Right Bah!/
azela
lanjut kak semakin penasaran deh
azela
jangan-jangan Kirana ketua mafia/CoolGuy/
azela
/CoolGuy//Grin//Grin//Grin//Grin//Grin//Facepalm//Facepalm//Facepalm/
azela
/Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm/
Ita Xiaomi
Menguasai martial arts.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!