Felicia Mau tak mau harus menerima perjodohan dari Papanya. Meskipun sempat kabur dari rumah, pada akhirnya dia menyetujuinya. Awalnya dia mengira pria yang akan menjadi suaminya itu seorang pria tua dengan perut buncit. Namun Ketika dia mengetahui jika suaminya adalah pria yang sempat ia kagumi, Felicia pun mencoba untuk membuat Arion menatapnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rima Andriyani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 2
Acara pernikahan yang begitu besar itu terlihat banyak sekali tamu undangan. Arion sedikit merasa gugup.
Terlihat di sana seorang pria paruh baya sedang berdiri bersama pengantin wanita. Namun yang terlihat aneh adalah, si pengantin wanita itu terus saja menundukkan kepalanya. Bahkan ketika Arion datang pun kepalanya tetap tertunduk.
“Kau sudah besar sekarang, Nak. Aku serahkan putriku untuk kau jaga selamanya,” ucap pria paruh baya yang Arion yakini adalah ayah si pengantin wanita.
Arion tidak tahu jika pria paruh baya di depannya itu mengenal dirinya. Namun dia hanya mengangguk dan tersenyum saja.
Arsen menyerahkan tangan putrinya pada Arion. Dan segera disambut oleh Arion, walaupun merasa sedikit ragu.
Setitik air mata terlihat membasahi pipi Arsen. Dia berharap kebahagiaan selalu menyertai putrinya kelak.
‘Papa yakin Arion adalah pria yang tepat untukmu, Nak’
Arion membawa calon istrinya itu. Setelahnya mereka mengucap janji pernikahan bersama, hingga akhirnya mereka telah sah sebagai suami istri.
Ketika tiba saatnya mempelai pria membuka kerudung pengantin wanita, gadis yang telah menjadi istri sahnya itu menggeleng pelan.
Arion hanya tersenyum. Dia tidak jadi membuka kerudung kepala milik pengantin wanita.
---
Siang berganti malam. Kini pengantin wanita telah menunggu di kamarnya. Sementara Arion masih berbincang dengan Papa mertuanya, Arsen.
Saat ini Arion berada di kediaman keluarga Charles.
“Papa harap kau bisa memahami putri Papa nantinya, Arion. Maaf karena membuatmu menikahi putriku secara mendadak. Ini harus cepat Papa lakukan. Waktu Papa tak banyak lagi,” ucap Arsen menghela napas panjang.
Arion tak mengerti dengan maksud ucapan Papa mertuanya itu.
“Putrimu telah menjadi istriku. Saya pasti akan belajar memahaminya.”
Arsen pun tersenyum mendengarnya.
Beralih pada pengantin wanita di kamarnya.
Terlihat gadis itu begitu cemas. Bahkan dia menggigit kuku jarinya saking cemasnya.
“Haih! Bagaimana ini?” Kakinya terus mondar-mandir sedari tadi. Dia berpikir bagaimana cara agar si pria perut buncit alias suaminya tak masuk ke kamarnya.
Jantungnya semakin berdegup kencang ketika kenop pintu mulai bergerak. Sepertinya pria itu mencoba untuk membuka pintu kamarnya.
Pintu pun terbuka. Gadis itu langsung menutup wajahnya dengan kedua tangannya. Dia tak ingin melihat suaminya.
Arion kembali menutup pintu. Dia mengerutkan keningnya tatkala melihat gadis yang telah sah menjadi istrinya itu menutupi wajahnya.
“Apa yang kau lakukan?” tanya Arion heran.
Gadis itu terdiam. Mendengar suara suaminya membuat dirinya heran. Suara yang begitu lembut. Tidak menandakan jika pria di depannya adalah pria tua dengan perut buncitnya.
Namun gadis itu tak ingin terkecoh. Bukankah itu hanya suara? Percuma saja jika suaranya bagus tapi penampilannya tidak.
“Banyak jerawat di wajahku. Kau pasti akan merasa jijik jika melihatnya. Sebaiknya kau carilah kamar lain saja,” ucap gadis itu mencoba beralasan.
Arion menatap gadis di depannya dengan heran. Dia lantas berjalan mendekat untuk memastikan apakah istrinya itu hanya beralasan saja.
Mendengar suara langkah kaki yang mendekatinya, gadis itu semakin panik.
“Sudah kubilang jangan mendekat!” serunya.
Arion hanya bisa menghela napas.
“Apa kau terpaksa menerima pernikahan ini?” tanya Arion, dan langsung membuat gadis itu membuka kedua tangannya yang menutupi wajahnya.
Matanya terbelalak sempurna melihat sosok pria di depannya itu. Begitu pula dengan Arion. Dia terkejut melihat siapa gadis yang telah ia nikahi.
“Kau?!” ucap keduanya bersamaan. Keduanya masih tak percaya.
“Arion? Bagaimana kau bisa berada di sini?” tanya gadis itu yang tak lain adalah Felicia.
“Kau sendiri, apa yang kau lakukan di sini?” tanya Arion balik.
Keduanya saling menerka-nerka dengan apa yang ada di pikiran masing-masing.
“Ini rumah Papaku. Tentu saja aku di sini. Dan kau?” Felicia menatap penuh selidik ke arah Arion.
Mendengar ucapan Felicia membuat Arion terkejut. Dia tak menyangka jika asisten yang bekerja di rumah Aluna adalah putri dari Arsenio Charles.
“Kau tidak mengenali suamimu?” ucap Arion, dan langsung membuat Felicia semakin terbelalak.
Sebelumnya, Felicia pernah mencari tahu tentang suami yang akan dijodohkan oleh papanya. Kebetulan waktu itu Felicia melihat sopir keluarga Abraham yang ia kira adalah calon suaminya.
Dalam hidup Felicia, dia memiliki sebuah impian, yaitu menikah dengan pria berwajah tampan seperti seorang pangeran.
Dan Felicia merasa kecewa ketika melihat sopir Abraham waktu itu. Dia terus beranggapan jika sopir itu adalah calon suaminya.
Mendengar ucapan Arion barusan membuat Felicia tercekat. Dia tak percaya jika Arion adalah suaminya.
“Cubit aku dan katakan jika ini bukanlah mimpi,” ucap Felicia masih tak percaya.
Arion pun menurutinya. Dia mencubit lengan Felicia sehingga Felicia berteriak kesakitan.
“Auuww! Sakit sekali. Kenapa kau mencubit terlalu keras?” rengek Felicia.
“Bukankah tadi kau sendiri yang memintaku untuk mencubitmu?” ucap Arion santai. Dia sendiri pun sebenarnya tak percaya jika gadis yang akan dijodohkan dengannya adalah Felicia.
Felicia mulai tersenyum sumringah. Impiannya menjadi kenyataan. Arion adalah pria tampan dengan postur tubuh seperti seorang pangeran impiannya. Dan Felicia sangat senang akan hal itu.
Arion langsung membaringkan tubuhnya di atas ranjang. Dia merasa begitu lelah.
“Eh, itu ranjangku!” seru Felicia.
“Memangnya kenapa? Aku adalah suamimu. Jadi wajar saja, bukan?” Arion masih berujar santai.
Wajah Felicia memerah. Sepanjang hidupnya tak pernah sekalipun dia begitu dekat dengan seorang pria. Dan sekarang dirinya harus tidur satu ranjang dengan pria yang sudah resmi menjadi suaminya.
‘Akankah terjadi hal-hal seperti yang orang-orang katakan. Malam pertama,’ Felicia geli sendiri memikirkannya. Dia masih belum siap menyerahkan dirinya pada Arion. Lagipula cinta belum terbentuk di antara mereka.
Felicia ingin melakukannya dengan pria yang ia cintai dan mencintainya.
Felicia masih larut dalam pemikirannya. Sementara Arion yang melihatnya, tiba-tiba mempunyai sebuah ide untuk mengerjai Felicia.
Arion menghampiri Felicia. Dia langsung berdiri tepat di hadapan gadis itu.
“Apa yang sedang kau pikirkan?” tanya Arion, yang langsung membuat Felicia terlonjak.
Felicia memundurkan tubuhnya, namun Arion menarik pinggangnya. Membuat wajah mereka berdua begitu dekat satu sama lain. Felicia menelan ludah susah. Jantungnya melompat-lompat seolah akan keluar dari tempatnya.
Felicia memperhatikan wajah Arion yang menurutnya sangat berkarisma.
‘Dia tampan sekali! Aku rela jika berhari-hari tak makan demi menatap wajah tampannya setiap hari,’ gumam Felicia dalam hati.
“Apa kau siap melakukan tugasmu sebagai seorang istri?” tanya Arion, semakin membuat Felicia gugup.
“T-tapi kita belum saling mengenal. Lagipula kita belum saling mencintai,” ucap Felicia tergagap. Dia sangat malu karena wajah Arion sangat dekat dengannya. Bahkan napasnya terasa begitu hangat menerpa wajahnya.
Arion terdiam sejenak. Lalu tiba-tiba dia tertawa terbahak-bahak, membuat Felicia begitu kebingungan.
“Kenapa kau tertawa?”
“Ehemm… maaf. Ekspresimu itu yang membuatku ingin tertawa. Memangnya apa yang kau pikirkan tentang tugas seorang istri?” tanya Arion masih dengan sedikit gelak tawa.
Wajah Felicia langsung memerah seketika. Mungkinkah ia telah salah sangka? Dia pun langsung menggelengkan kepalanya.
“Aku hanya akan menyuruhmu untuk memijit tubuhku. Memangnya kau pikir apa?” tanya Arion terkekeh.
Felicia merutuki pemikirannya sendiri. Dia sangat malu pada Arion. Rasanya saat ini dia ingin menenggelamkan wajahnya ke dasar lautan.