Daniel merupakan seorang agen rahasia yang sedang menjalani misinya untuk mencari para pengkhianat negara termasuk keturunan mereka. Dalam menjalankan misinya, tanpa sengaja ia menolong seorang gadis bercadar yang sedang dihadang oleh para penjahat saat gadis itu hendak pulang ke rumahnya. Tanpa Daniel ketahui jika gadis bercadar itu adalah targetnya yang selama ini ia cari. Apakah Daniel tega membunuh gadis itu demi misinya ataukah ia harus mengkhianati agen nya sendiri demi cintanya? ikuti cerita mereka penuh dengan misteri dan setiap adegannya sangat menegangkan...!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sindya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
2. Malam Maut
Hujan makin deras dengan udara dingin membeku tulang di atas puncak. Satu keluarga terlihat terlelap. Namun dibalik kesunyian penuh kedamaian itu justru keluarga Aritoya sedang diincar kini. Satu persatu penjaga Villa dilumpuhkan dengan mudah. Mendengar keributan di luar sana, tuan Ari sigap bangkit dari kasur empuknya untuk melihat monitor cctv. Betapa terkejutnya dia melihat banyaknya para penjahat yang sedang melacak keberadaannya.
Tuan Ari segera membangunkan istrinya sambil berbisik lirih." Sayang, bangun...!Musuh sedang mengepung rumah kita," bisik tuan Ari yang merupakan pengusaha sekaligus salah satu pejabat penting di negara ini.
Nyonya Sabina terbangun. Matanya menatap waspada. Dirinya adalah mantan agen rahasia FBI. Ia mengambil pistolnya dan langsung berjalan menuju kamar putrinya.
"Sayang, kalian harus bersembunyi di rumah rahasia. Aku akan menyusul kalian," gumam tuan Ari.
Sabina mengangguk. Kehamilannya cukup sulit untuk dirinya bergerak bebas. Ia mengambil dokumen rahasia untuk dibawa pergi bersamanya. Dalam sekejap ia sudah berada di kamar putrinya Niken. Niken yang sudah terlatih untuk tetap waspada dalam keadaan terlelap langsung terbangun begitu mendengar langkah kaki yang merupakan ibunya.
"Sayang, ayo ikut mama ke rumah rahasia kita," pinta Sabina langsung mengambil tas putrinya.
Niken langsung bergerak menuju pintu rahasia yang mengarah ke bawah tanah. Keduanya sudah memasuki mobil dan langsung keluar dari pintu bagian belakang. Namun saat ingin memasuki hutan Sabina merasakan kontraksi.
"Niken. Sepertinya mama mau melahirkan," ucap Sabina menahan sakit pada pinggangnya yang terasa mau patah.
"Sekarang, mama?" tanya Niken yang sedang membawa mobil.
"Iya sayang. Mama sudah tidak kuat," desis Sabina sambil mengatur nafas.
"Apakah kita perlu kabari papa, mam?" tanya Niken terlihat tegang.
"Apapun yang terjadi saat ini, kita tidak boleh saling menghubungi kalau masih ingin selamat. Mama sudah melaporkan polisi. Mungkin sebentar lagi polisi akan bertindak. Kita serahkan semuanya kepada Allah," ucap Sabina.
Niken menahan kesedihannya. Ia sudah sangat paham bahwa kedua orangtuanya bisa mati kapan saja karena pekerjaan mereka yang tidak mudah untuk melindungi rahasia negara.
Namun sekuat apapun dirinya menerima kenyataan pahit, tetap saja ia berharap kedua orangtuanya tetap menemaninya sampai dewasa.
Mobil sudah tiba di rumah sakit terdekat. Sabina turun di bantu suster menuju ruang bersalin. Niken ikut masuk menemani ibunya. Air matanya terus saja mengalir karena kedatangan adik kembarnya di waktu yang salah.
"Ya Allah. Kenapa harus seperti ini? bukankah keluarga ku harus bahagia menyambut kelahiran adik kembarku?" gumam Niken yang berdiri di samping ibunya untuk memberikan kekuatan.
Sementara itu tuan Ari sedang menghadapi para penjahat yang sudah mengepung dirinya. Sehebat apapun dirinya, ia tetaplah kalah dengan kedatangan bandit-bandit yang mencari barang yang mereka inginkan. Tentu saja semua itu atas perintah seseorang.
"Katakan di mana dokumen itu disimpan tuan Ari?" tanya salah satu penjahat sebagai pemimpin kejahatan itu.
"Dokumen apa? aku tidak menyimpan apapun di rumah ini," ucap tuan Ari sambil meringis kesakitan karena tangannya diinjak.
"Baiklah. Pasti kamu akan membuka mulutmu jika kami menculik anak dan istrimu yang sedang hamil itu," ucap sang penjahat sambil memberi isyarat pada anak buahnya untuk menggeledah Villa itu.
Berapa menit kemudian mereka tidak bisa menemukan Niken dan ibunya." Bos, istri dan anaknya menghilang," ucap sang anak buah.
"Pasti rumah ini memiliki pintu rahasia. Temukan tempat itu dan seret keduanya di depanku...!" titah tuan Farrel selaku ketua penjahat itu.
Anak buahnya kembali berpencar. Namun beberapa menit berlalu, hasilnya tetap nihil. mereka tidak menemukan sosok yang mereka cari. Tuan Farrel yang geram langsung mengarahkan pistolnya ke dada tuan Aryo dan menembak beberapa kali ke tubuh kekar itu hingga tewas.
"Kamu benar-benar sialan Ari...! kamu telah mempersulit urusanku. Baiklah, kini istrimu akan menjadi milikku...!" Farrel menendang tubuh tak bernyawa itu lalu meninggalkan rumah itu.
Mobil kembali bergerak. Kali ini menuju rumah sakit. Sang anak buah menunggu lagi perintah dari Farrel." Apakah kita akan mengunjungi rumah sakit terdekat bos?" tanya sang anak buah.
"Aku sangat kenal Sabina. Wanita itu tidak akan ke sana. Pasti dia mendatangi rumah sakit yang lebih jauh dari sini. Ayo kita ke kota...!" titah tuan Farrel yang begitu yakin dengan prediksinya.
Namun apa yang diperkirakan Farrel ternyata salah. Ibu hamil ini mencari rumah sakit terdekat karena tidak kuat lagi menahan kontraksinya. Dalam beberapa menit proses persalinan itu berjalan dengan baik. Tangis bayi kembar itu menggema di ruang bersalin itu. Untuk sesaat Niken terlihat lega. Senyum mengembang di sudut bibirnya. Namun senyum itu menghilang kala mengingat sang papa belum datang juga. Iapun akhirnya menangis sendirian di depan kamar bersalin.
"Ya Allah, apakah yang harus aku lakukan? mama melarangku untuk menghubungi siapapun kalau ingin keberadaan kami tetap aman. Sebaiknya aku harus tetap tenang dan mengikuti pesan papa agar melakukan yang terbaik di saat keadaan genting. Ku harap papa selamat dan kami bisa berkumpul lagi", gumam Niken penuh harap.
"Nona. Anda di panggil ibu anda", ucap seorang dokter lalu Niken mengikuti langkah dokter masuk ke dalam kamar bersalin itu.
Niken mendekati ibunya yang sudah selesai dengan persalinannya. Niken tersenyum melihat ibunya yang tampak tenang walaupun lelah di wajahnya tampak terlihat.
"Selamat ya mama. Terimakasih sudah memberi Niken adik kembar", ucap Niken penuh binar.
"Terimakasih sayang. Sekarang kamu dengarkan perkataan mama baik-baik. Mungkin mama tidak akan selamat karena penjahat sebentar lagi akan ke rumah sakit ini. Mama mohon bawa pergi adik kembarmu dari sini dan bersembunyilah di tempat yang biasa kita datangi. Rawatlah adik kembarmu dengan baik...!" pinta nyonya Sabina.
"Tapi kenapa hanya Niken yang merawat adik kembar? kenapa mama tidak...-" ucapan Niken terhenti karena satu jari ibunya sudah menghampiri bibirnya.
"Tolong jangan banyak tanya Niken ...! kamu sudah tahu bagaimana kehidupan keluarga kita. Kamu harus bawa adik kembarmu dari sini atau kita akan mati sia-sia di tangan penjahat itu", ucap sang ibu dan Niken mengangguk patuh.
Atas bantuan dokter di tempat itu, Niken membawa pergi adik kembarnya itu melalui pintu belakang rumah sakit di mana mobil mereka diparkir. Niken buru-buru meninggalkan rumah sakit itu sambil melirik boks bayi kembar yang terlelap di belakang sana. Saat mobilnya meninggalkan rumah sakit itu, Mobil penjahat tiba di rumah sakit itu.
Niken terlihat pasrah dan berdoa agar ibunya dilindungi oleh Allah. Sekitar dua jam kemudian, Niken sudah berada di tempat persembunyian mereka. Ia membaringkan bayi kembar itu ke box mereka masing-masing.
"Kalian harus kuat ya sayang...! Tidak ada yang membantu kakak untuk membesarkan kalian. Tolong jangan sakit agar kakak bisa tenang mengurus kalian", ucap Niken lalu meraung seorang diri di tempat itu.
Cerita berakhir. Sang kembar tampak meleleh mendengar kisah hidup kedua orangtua mereka. Alea memeluk kedua adiknya.
"Apakah sejak saat itu kakak mengganti identitas kakak dari Niken menjadi Alea?" tanya salah satu adiknya.
"Iya sayang. Kakak harus tetap bersembunyi. Dan kakak harap kalian tidak memberitahu siapapun siapa kedua orangtua kita atau kita akan mati terbunuh seperti kedua orangtua kita", ucap Alea.
"Baik kak. "Keduanya lalu merebahkan tubuh mereka karena sudah larut malam.