Di pesantren Queen Al-Falah, Abigail, seorang Ning yang dingin dan penuh talenta, lebih memilih kopi dan kesibukan pondok daripada cinta. Ia adalah permata yang tersembunyi di balik sikap judes dan penampilannya yang sederhana. Namun, takdir berkata lain ketika sang kakek menjodohkannya dengan seorang Gus Abdi Ndalem, partnernya dalam tim multimedia dan hadroh. Di antara jadwal padat, sholawat, dan misteri masa lalu, Abigail harus membuka hatinya untuk cinta yang tak pernah ia duga. Mampukah ia menemukan kehangatan di balik dinginnya ndalem dan kerasnya hatinya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon blue_era, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pagi yang Janggal dan Sebuah Kejutan
[Keesokan harinya, pukul 08.00 pagi, Gus Arka dan Gus Ivan sedang berbincang dengan para kang keamanan di ndalem tengah.]
Gus Arka: "Jadi, semalam ada yang cari Abigail?"
Kang Resya: "Betul, Gus. Tapi orangnya nggak mau kasih tahu tujuannya apa."
Gus Ivan: "Siapa orangnya? Dari mana?"
Kang Resya: "Nggak tahu, Gus. Ditanya malah diam saja."
[Tiba-tiba, Ning Abigail datang dengan langkah yang tegas. Nada bicaranya dingin dan tatapannya tajam.]
Ning Abigail: "Kang, semalam ada cowok datang ke sini?"
Kang Resya: "Nggih, Ning. Saya sudah tanya, tapi nggak mau jawab. Kekeuh pengen ketemu Ning Abigail."
Ning Abigail: (menoleh ke Gus Ivan) "Siapa dia?"
Gus Ivan: "Nggak tahu, Dek. Nggak jelas."
Ning Abigail: (berbalik dan pergi) "Hm."
[Ning Abigail kembali ke ndalem barat. Sesampainya di ruang tamu, ia merasa lelah dan merebahkan diri di sofa. Tanpa sadar, ia tertidur pulas.]
[Di asrama putra, Gus Arka dan Gus Arzan sedang berdiskusi.]
Gus Arka: "Kita harus cari tahu siapa cowok itu."
Gus Arzan: "Iya, Kak. Tapi gimana caranya?"
Gus Arka: "Kita suruh santri buat panggil Abigail ke asrama putra. Bilang saja ada urusan penting."
Gus Arzan: "Oke, Kak. Siapa yang mau disuruh?"
Gus Arka: "Suruh saja Fahmi sama Hasan."
[Gus Arka dan Gus Arzan memanggil Fahmi dan Hasan, dua santri putra yang dikenal patuh.]
Gus Arka: "Fahmi, Hasan, tolong kalian berdua ke ndalem barat. Panggil Ning Abigail, bilang disuruh Gus Arka dan Gus Arzan ke asrama putra, ada urusan penting."
Fahmi: "Nggih, Gus."
Hasan: "Siap, Gus."
[Fahmi dan Hasan segera bergegas menuju ndalem barat.]
[Sesampainya di ndalem barat, Fahmi dan Hasan meminta izin kepada kang keamanan ndalem barat untuk menemui Ning Abigail.]
Fahmi: "Assalamualaikum, Kang."
Hasan: "Permisi, Kang."
Kang Salim: "Waalaikumsalam. Ada perlu apa, Le?"
Fahmi: "Kami disuruh Gus Arka dan Gus Arzan untuk menemui Ning Abigail. Ada urusan penting, Kang."
Kang Salim: "Oh, begitu. Ya sudah, biar saya antar."
[Kang Salim menemani Fahmi dan Hasan menuju pintu ndalem. Kang Salim mengetuk pintu sebanyak tiga kali, namun tidak ada jawaban dari dalam.]
Kang Salim: "Sudah diketuk tiga kali, tapi nggak ada jawaban. Gimana ini?"
Fahmi: "Nggak tahu, Kang."
Hasan: "Mungkin Ning Abigail lagi keluar, Kang."
Kang Salim: (ragu-ragu) "Tapi Gus Arka bilang ada urusan penting. Ya sudah, terpaksa saya buka pintunya."
[Kang Salim membuka pintu ndalem dengan perlahan. Mereka bertiga masuk ke dalam dan mencari Ning Abigail.]
Kang Salim: "Ning Abigail? Ning Abigail?"
[Tiba-tiba, mereka bertiga terkejut melihat Ning Abigail tertidur di sofa ruang tamu. Hijabnya terlepas, hanya mengenakan kaos pendek dan sarung batik.]
Kang Salim: (panik dan beristighfar) "Astagfirullahaladzim! Astagfirullahaladzim!"
Fahmi: (terbata-bata) "A...astagfirullah..."
Hasan: (menunduk dalam-dalam) "...aladzim."
[Kang Salim segera menutup pintu dan menyuruh Fahmi dan Hasan untuk kembali ke asrama putra. Kang Salim juga kembali ke pos keamanan ndalem.]
[Selama perjalanan kembali ke asrama putra, Fahmi dan Hasan terus beristighfar karena tidak sengaja melihat aurat Ning Abigail.]
Fahmi: "Astagfirullah, tadi itu beneran Ning Abigail, San?"
Hasan: "Iya, mi. Aku juga kaget banget."
Fahmi: "Kita dosa nggak ya, San, lihat kayak gitu tadi?"
Hasan: "Ya Allah, semoga aja nggak dosa. Kita kan nggak sengaja."
[Sesampainya di asrama putra, Gus Arka dan Gus Arzan sudah menunggu mereka.]
Gus Arzan: "Gimana, sudah dipanggil Ning Abigail?"
Fahmi: (gugup) "D...dereng, Gus."
Gus Arka: "Loh, kok belum? Kenapa?"
Hasan: (terbata-bata) "A...anu, Gus. Tadi...anu..."
Gus Arka: "Anu apa? Cepat ngomong!"
Fahmi: (menunduk) "Tadi...kami lihat...Ning Abigail...ketiduran di sofa..."
Gus Arzan: "Terus?"
Hasan: (dengan suara pelan) "A...auratnya...kelihatan, Gus."
Gus Arka: (terkejut) "Astagfirullahaladzim! Kalian lihat apa saja?"
Fahmi: (gemetar) "Kami nggak sengaja lihat, Gus. Kami langsung istighfar terus keluar dari ndalem."
Gus Arzan: (menghela napas) "Ya sudah, kalian istighfar yang banyak saja. Jangan sampai cerita ke siapa-siapa."
Fahmi: "Nggih, Gus."
Hasan: "Siap, Gus."
[Gus Arka dan Gus Arzan saling bertukar pandang. Mereka berdua merasa khawatir dengan apa yang terjadi.]
[Pukul 11.30, Ning Abigail terbangun karena dering telepon dari ponselnya. Penelepon itu adalah Gus Arka, kakak pertamanya. Ia menyuruh Ning Abigail untuk datang ke ndalemnya karena ada yang ingin dibicarakan. Namun, dengan nada dingin dan ketus, Ning Abigail menolak panggilan tersebut.]
Gus Arka: (di telepon) "Dek, bisa ke ndalem sebentar? Ada yang mau Mas bicarakan."
Ning Abigail: (dengan nada dingin dan judes) "Ngapunten, Gus Arka. Saya sibuk."
Gus Arka: (memohon) "Tapi ini penting, Dek."
Ning Abigail: (dengan nada penekanan) "Nggak ada waktu."
[Ning Abigail langsung mematikan telepon sepihak. Gus Arka yang sedang melakukan panggilan loudspeaker dengan Gus Arzan, Gus Ivan, dan Gus Atha hanya bisa menghela napas pasrah.]
[Siang harinya, Ning Abigail pergi ke ndalem tengah untuk mengambil kunci mobil. Ia ingin pergi keluar untuk jalan-jalan dan mengunjungi pondok saudara akungnya di Pasuruan.]
Kang Resya: "Mau kemana, Ning?"
Ning Abigail: (dingin) "Izin keluar sebentar. Ada urusan."
Kang Resya: (memberikan kunci) "Nggih, Ning. Hati-hati di jalan."
[Ning Abigail mengambil kunci mobil dan segera pergi menuju Pasuruan. Tidak ada yang tahu ke mana ia pergi.]
[Sore harinya, Ning Abigail belum juga pulang ke Tulungagung. Kakak-kakaknya merasa khawatir dan mencarinya ke sana kemari.]
Gus Atha: (panik) "Kang, Bijel kemana? Dari tadi dicari nggak ketemu-ketemu."
Kang Resya: "Tadi Ning Abigail keluar, Gus. Nggak tahu kemana."
Gus Arka: "Kemana dia pergi? Kenapa nggak bilang-bilang?"
Gus Ivan: "Pasti ada sesuatu yang disembunyikan."