NovelToon NovelToon
Terjerat Obsesi Tuan Muda

Terjerat Obsesi Tuan Muda

Status: sedang berlangsung
Genre:Angst / Wanita Karir / CEO / Percintaan Konglomerat / Cinta Seiring Waktu / Aliansi Pernikahan
Popularitas:2.6k
Nilai: 5
Nama Author: Be___Mei

Sepucuk surat mengundang Syaheera untuk kembali ke kota kelahirannya. Dalam perjalanan ke kota tersebut, dia bertemu Gulzar Xavier, pria baik hati yang menolongnya dari pria mesum di kereta.

Kedatangan Syaheera disambut baik oleh ayahnya dan keluarga barunya. Namun, siapa sangka, ternyata sang ayah berniat menjodohkan dirinya dengan Kivandra Alistair, Tuan Muda lumpuh dari keluarga Alistair.

Cinta Syaheera pada ayahnya membuat gadis ini tak ingin membuatnya kecewa. Namun, pada malam pertemuannya dengan Kivandra, takdir kembali mempertemukan dirinya dengan Xavier, dan sejak itu benih cinta mulai tumbuh di antara mereka.

Xavier yang hangat, atau Kivandra yang dingin, akan kepada siapa Syaheera menjatuhkan pilihan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Be___Mei, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Syaheera part 1

...🫀 Ternyata Kita Cinta 🫀...

...-Di sini, untuk hati, aku memutus jarak di antara kita-...

...***...

"Apa Ayahmu sudah bisa melucu?"

Syaheera terkejut atas kedatangan Saul, pria berpenampilan sederhana namun memiliki paras yang cukup tampan.

"Kau! Kenapa selalu datang tiba-tiba?!" hardik Heera.

"Aku datang seperti biasanya, kau saja yang terlalu fokus dengan surat itu."

Kembali memandangi tulisan tangan sang ayah dalam selembar kertas, senyum nan manis terbit di wajah Heera, "Ini surat dari ___"

"Ayahku."

"Tuan Peter!"

Mereka bicara serempak.

Saul yang tersenyum selaras dengan Heera yang masih tersenyum.

"Senang sekali ya dapat surat dari Lumina? Viola memang kota kecil, tapi kota ini 'tak menutup diri dari kemajuan jaman. Daripada mengirim surat ___bertelepon atau video call akan lebih baik, 'kan?"

Kepala gadis berambut panjang ini menggeleng. "Tidak. Bagiku cara kami berkomunikasi sangat menarik. Aku bisa menyimpan surat-surat ini dalam kotak kenangan."

Bibir Saul mencibir, entah mengapa ia tak begitu menyukai Tuan Peter. Mereka pernah bertemu beberapa kali dan sikap ayah sahabatnya ini tidak begitu menyenangkan. Di mata Saul, Tuan Peter adalah orang kaya sombong yang tega mengasingkan putrinya.

Tidak ingin terus membahas Tuan Peter, Saul mengulurkan tangannya yang mengepal ke hadapan Heera, "Tiuplah."

Sebelah alis Heera terangkat naik, ia meniup tangan sang sahabat dengan ragu dan ...

Dari telapak tangan besar Saul muncul gelang manik yang begitu indah. "Wah! Cantik sekali!"

"Dan berwarna merah muda," ujar Saul.

"Warna kesukaanku!" seru Heera. Sepasang netra indahnya berbinar terang.

"Untukku?"

"Tentu saja. Ini hadiah kelulusan untukmu."

Wajah Syaheera merona, ia begitu senang mendapatkan hadiah itu. Bukan apa-apa, meski dari keluarga berada, hingga hari ini sang ayah tak pernah memberinya hadiah bahkan di hari ulang tahunnya ___ juga pada hari kelulusannya.

"Pasangkan," pinta Heera.

"Aku juga, pasangkan!"

Sekali lagi, kemunculan sang sahabat membuat Heera terkejut. "Aish! Kalian memang berjodoh, gemar sekali muncul tiba-tiba!"

"Aku ___? Berjodoh dengan perempuan gila ini?"

Jani, si gadis berkulit eksotis menatap tajam pada Saul. "Cepat pasangkan! Kau tidak mau perempuan gila ini menjambak rambutmu, 'kan?"

"Cepat pasangkan gelang dia dulu, rumah sakit tutup di hari libur," ujar Heera menahan tawa.

"Ck! Dasar kalian perempuan-perempuan gila," Saul mengomel sembari memasangkan gelang itu di tangan Jani. Berbeda warna dengan gelang milik Syaheera, Jani mendapat gelang berwarna biru laut, warna kesukaannya.

Usai memasangkan gelang pada tangan dua perempuan yang kerap menghabiskan waktu dengannya, Saul menagih hadiah balasan untuknya dari mereka.

"Gelang jelek seperti ini, aku tidak memintanya. Kau saja yang memaksaku menerimanya!"

"Jani ...."

"Lihat Heera! Gelang ini bahkan tidak pernah kutemukan di toko online, entah dia mendapatkannya dari mana!"

"Aku membuatnya," sahut Saul begitu tenang. Ia sudah terbiasa menikmati hinaan dari Jani.

Sudut bibir Jani terangkat naik, samar-samar Heera melihat senyuman kecil itu.

"Berarti gelang ini hanya ada dua di dunia?"

"Tentu saja, Heera. Meski aku membuka usaha pernak-pernik, aku tidak akan membuat perhiasan yang sama seperti milik kalian berdua," tutur Saul sembari melepas pandangan pada laut luas.

Kota Viola terletak di tepian laut yang kerap menjadi tujuan para wisatawan. Tiga sekawan ini sudah sangat akrab dengan pemandangan laut, sebab kediaman mereka memang tidak jauh dari pantai.

"Tingkat percaya dirimu terlalu tinggi!" ujar Heera.

"Memang harus percaya diri, dengan begitu baru kita akan sukses. Lihatlah diriku, di usia muda sudah memiliki bisnis sendiri."

"Ya ... ya ..., baiklah Tuan pemilik toko pernak-pernik, kau yang paling sukses di antara kita."

Saul merasa puas atas pengakuan terpaksa dari Heera.

Jani melihat kedai langganan mereka sudah buka. "Aku traktir makan saja."

"Kalau begitu aku traktir minumnya," sahut Heera.

"Manik yang kupakai terbilang mahal, batu-batu yang kupakai juga tidak mudah mendapatkannya. Kalian hanya membalasnya dengan semangkuk mie pangsit dari kedai Tuan Benjo? Dan minuman soda dari kedai itu?"

"Ya sudah kalau tidak mau. Dasar perhitungan!" ketus Jani mempercepat langkah, ia hendak berbelok memasuki gang menuju rumahnya.

"Tunggu dulu! Aku mau. Dibalas dengan mie pangsit pun tidak apa-apa, anggap saja gelang itu diskon besar-besaran."

"Yang memintanya siapa?!" hardik Jani lagi. Tangannya tertahan, sebab Saul menariknya.

"Kalian seperti pasangan suami-istri, setiap hari selalu bertengkar, ujung-ujungnya akan akur lagi kalau kita akan pulang ke rumah masing-masing. Ck! Cepatlah! Aku sudah lapar!"

"Ayo cepat! Aku juga sudah lapar," Saul menimpali ucapan Heera.

Memberengut, Jani mengekor langkah Saul, dan Heera sudah lebih dulu dari mereka.

Saat menikmati mie pangsit, mereka membahas isi surat yang dikirimkan Tuan Peter. Penuh rasa bahagia Heera menceritakan isi dari surat itu.

"Kalau kau ke Lumina, bagaimana dengan Nenek Kansya?" tanya Saul.

"Ayah akan mengutus dua pelayan untuk menemani dan mengurusi Nenekku."

"Kenapa tidak dari dulu saja dia mengutus dua pelayan itu?" Jani ikut berkomentar.

Syaheera diam sejenak, kemudian ia berkata, "Sudah dari dulu Ayahku ingin mengutus mereka, aku saja yang menolak. Kami sudah punya Tomi, Roy dan Remo."

Bohong! Tuan Peter tidak pernah menawarkan hal itu. Ini hanya cara Syaheera agar mereka berhenti mengomentari sikap ayahnya.

Sementara Remo, Tomi dan Roy, mereka adalah orang-orang Kansya.

"Kau terlalu baik dan sopan untuk status sebagai Nona Muda keluarga Jason. Kalau aku jadi kau, aku akan datang ke Lumina dan meminta adik manjamu itu bergiliran menjaga Nenek Kansya."

Meletakkan sumpit dan sendok yang ia pegang. "Dia bukan cucu Nenekku, Jani," ujar Heera. Ia menatap Jani dan Saul bergantian.

"Bukankah kau bilang waktu kecil si manja itu sangat dekat dengan Nenek Kansya. Dia bahkan juga sangat disayangi Nenek Kansya!" tukas Jani tak gentar meski mendapat tatapan tajam dari Heera. Jika membicarakan Rhea, Jani tak bisa menahan diri meski mereka tak pernah bertemu.

Usai menarik napas panjang, Syaheera kembali menikmati mie pangsitnya. "Entahlah, aku juga tidak mengerti. Sangat jelas dia merengek menangisi kepergian kami kembali ke Viola waktu itu. Nyatanya tidak sekalipun dia menengok kami, bahkan Ayah tidak pernah menyebutkan namanya di dalam surat."

"Cih! Itu hanya topeng!"

"Sudahlah, Jani. Kita tidak bisa bebas berkomentar terhadap orang yang 'tak kita kenal." Saul menyenggol tangan Jani, memintanya untuk berhenti membahas Rhea.

Jani melengos demi mengusir rasa kesal.

Saul mengalihkan pembicaraan mereka, ia menanyakan rencana ke depan dari dua sahabatnya ini.

"Aku berniat melanjutkan pelatihan."

"Kau sudah bosan jadi cleaning service di hotel?"

"Ck!" Lagi-lagi Jani berdecih, "ini pelatihan. Meski hanya cleaning service, aku merasa pelatihan yang ditawarkan pihak hotel sangat bagus. Aku tidak bosan dengan posisi itu, tapi tidak ada salahnya jika aku ingin merangkak mencapai posisi yang lebih tinggi dari seorang cleaning service. Iya, 'kan?"

Syaheera mengacungkan dua jempol ke arah Jani. "Betul! Kau sudah cukup beruntung diterima bekerja paruh waktu di hotel, mendapatkan penawaran pelatihan sungguh sebuah bonus besar. Jangan sia-siakan kesempatan ini!"

Saul mengangguk-angguk, dan sikapnya menyulut emosi Jani, "Apa maksudmu mengangguk seperti itu? Kau meremehkan pekerjaanku?"

Lekas Saul menyangkal tuduhan Jani, "Tidak! Kau jangan sembarangan menduga, aku sama seperti Heera, akan selalu menjadi pendukungmu! Semua pekerjaan tidak boleh dianggap remeh, itu adalah usaha kita dalam menghasilkan uang untuk bertahan hidup."

"Baguslah. Jika kau meremehkan pekerjaanku, aku tidak segan menagih semua uang yang aku habiskan membayar makananmu selama ini. Itu hasil jerih payahku membersihkan hotel." Jani menyilangkan kedua tangan di dada.

Saul menggelengkan kepala cepat, sekali lagi ia menyangkal tuduhan Jani.

"Lantas, bagaimana denganmu?" tanya Jani pada Heera.

"Aku ingin membuka studio sendiri."

"Wow!" Saul dan Jani berseru.

"Aku akan membicarakan hal ini dengan Ayahku ketika bertemu nanti."

"Semoga sukses!" ucap Jani dan Saul bersamaan lagi.

"Harus sukses!" seru Heera begitu bersemangat.

...Bersambung ......

...Salam manis dari penghuni kota manis. Novel ini ditulis dengan perlahan, kata demi kata diketik sembari mendengarkan musik, semoga kalian tidak bosan dengan ritme yang santai ini. Jika berkenan, tunjukkan cinta kalian dengan kasih like dan komen yang membangun dalam novel ini. ...

...Terima kasih....

1
ZasNov
Akhirnya Kiv bisa membawa pulang calon istrinya..
Nangis aja Xavier, lagian aneh2 aja Syaheera malah ditinggal di vill. Keadaan lg genting jg ah. Ngomel kan jdinya 😂🤣
ZasNov
Duh Xavier bener2 ya.. Bisa2nya ninggalin Syaheera sendirian. Diculik Kiv baru tau rasa lho..
ZasNov
Bahagianya Syaheera & Xavier, mereka benar2 saling mencintai & melengkapi.. Tapi setelah ini akan ada badai yang mungkin tidak akan bisa mereka kalahkan.. 😖
ZasNov
Cito kocak bgt nih.. 😂🤣
ZasNov
Sesama bodoh dilarang saling menghina.. 🤣
ZasNov
Bukannya kamu lebih peduli meeting sma ngurusin bisnis kamu ya Kiv.. 😑
ZasNov
Xavier ga bakalan biarin Syaheera lecet, Kiv.. 🤭 Palingan disayang, dimanja, diperhatiin.. 🤣
Elisabeth Ratna Susanti
like plus iklan 🥰
Elisabeth Ratna Susanti
like plus iklan 👍
ZasNov
Gimana keadaan Oza.. Duh semua kena.. 😭
ZasNov
Ah sediiihh.. Kasian Luke.. 😭😭😭
ZasNov
Tuh kan bener, Luke jadi tumbal.. 😭
Mana Xavier sama Syaheera juga belum tentu berhasil kabur..
ZasNov
Wah kepo nih..
ZasNov
Wah Jack udah beneran insyaf nih? tapi baku hantam masih ga bang? 😆
ZasNov
Hmm, ternyata target Kiv itu Zeter property, karena tujuan utamanya Syaheera..
ZasNov
Kiv berusaha menyelesaikan masalah setenang dan sesantai mungkin, tp kayaknya hatinya ga baik2 aja..
ZasNov
Coba nanti Xavier bilang didepan Kiv.. 😂🤣
ZasNov
Iya bener.. 🥺 Aku jd inget Luke. Dia pasti dapet hukuman..
ZasNov
Aduh Syaheera, kalian lg melarikan diri bukan piknik.. 😂🤣
ZasNov
Apa Xavier dan Syaheera berhasil kabur ya? Kiv kayaknya ga bakalan tinggal diam..
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!