Rain menjadi ketua, dari geng yang dibuat sendiri, Rksabi. Yang berkecimpung pada tugas jasa, geng yang terdiri enam orang itu mencari klien dengan berbagai masalah demi mengumpulkan pundi-pundi uang. Sampai satu tugas yang menawarkan bayaran mahal, membawanya pada gadis muda, dan Rain merasa terjebak disana, di dalam rumah mewah keluarga Vick sebagai Pengawal pribadi Yasmin Celia. Dia datang untuk menyelesaikan misi sebagai Pengawal pribadi yang melindungi, tapi selesai tugas justru jadi Bapak yang mencari keturunannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Asrar Atma, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
2
Irfan, pria berusia 32 tahun berambut kribo dengan tinggi 178. Penampilan luarnya cukup mengerikan, rambutnya hanya perlu dipotong pendek. Bela diri lumayan, setelah di asah tiga tahun ini dengan bapak tua dari pegunungan, "Apabila tugas sebagai Pengawal aku serahkan pada kau, Kribo. Bisakah kau tidak mengambil barang bagus ditempat kerja?" Rain menanyakan kelemahan nya, setelah menelisik penampilan nya. Irfan tersenyum, lalu ragu-ragu mengangguk.
Rain lalu berpindah ke sampingnya, menilai Bintang berkepala plontos. Pria berusia 33 tahun, dia cukup lumayan berkelit, "Tak, bisakah kau tidak melecehkan wanita itu jika aku suruh menjadi pengawal?"
Namun dia punya kelemahan, otak keranjang. Tidak lucu jika dia merusak sementara klain meminta untuk menjaga, "Siap ketua, meskipun mesum tapi aku punya kekuatan tersendiri. Aku pintar menyenangkan diri sendiri dengan tangan, kecuali wanita itu yang minta disenangkan lalu membayar. Sebagai lelaki itu adalah kelemahan, uang dan wanita" Rain nampak berpikir sejenak, menurutnya itu ada benarnya.
Rain berpindah dari hadapan Bintang, kini berdiri dihadapan Alex yang tersenyum. Membuat nya terlihat lebih muda dari usia sebenarnya yang sudah menginjak 35 tahun. Rain mendengus, lalu berpindah ke sebelah nya, Alex yang merasa terganggu dengan sikap ketua nya lantas bertanya, "Kenapa aku dilewatkan ketua, tidak ditanya-tanya juga?"
"Kau menerima tugas dari nyonya S, jadi pacar pura-pura agar terbebas dari perjodohan." Bahu Alex merosot, sambil menghembuskan napas kasar, dia sudah bosan dengan judul tugas yang sama.
"Sandi apa kau siap?" Sandi melihat Rain dengan mantap sebelum mengagguk, tidak perlu diragukan lagi Sandi memiliki perawakan yang sangar, sudah cocok untuk tugas itu.
Kandidat nya telah ditentukan dua orang, yaitu Sandi dan Bintang, tapi Bintang harus dilengserkan karena Sandi siap menerima tugas. "Kamandaka bagaimana, dia tidak diajak?" Tanya Alex, teringat dengan pemuda sibuk yang punya posisi penting di geng Rksabi.
"Dia tidak cocok, masih bocah sekolahan"ujar Rain, sambil membaca informasi data klien.
Irfan pun menyahut dari tempatnya duduk, "Pecat saja, kalau begitu. Dia jarang nimbrung, namanya ganggu" kelakar nya sambil tersenyum, jika pemuda yang dibicarakan ada disamping nya maka dia akan memiting lehernya.
"Dia juga tidak dibayar, biar kan saja." Sandi membela, sembari ikut melihat informasi tentang wanita yang akan dijaga.
"Dia licik, aku suka cara kerjanya" ucap Alex yang mencari data klien nya Nyonya S, gelak tawa Irfan terdengar.
"Aku hanya bercanda Kawan-kawan, untuk apa memecat dia yang sudah jadi bagian dari Rksabi" Dia merasa salut dengan pembelaan mereka terhadap Haneul, anak lelaki berusia 18 tahun.
******
Malam, setelah mereka menerima uang dari pria berseragam karena telah menyelamatkan putrinya. Ke enam lelaki itu berkumpul di rumah terbengkalai yang sudah lama tidak ada penghuninya, "Tapi siapa yang jadi ketua? Lalu bagaimana cara kerja nya?" Tanya Alex, sambil mencium uang.
Mereka ber empat dengan Haneul baru tahu tentang cerita Sandi yang kepikiran dengan ucapan Rain, yang lalu tercetuslah ide gila itu. "Kita buat pilihan, seperti ini" Haneul menegakkan punggungnya, "Jika Abang Rain yang jadi ketua, berapa orang yang setuju" mereka semua kompak mengakat tangan, kecuali Rain yang menikmati rokok.
"Yang jadi wakil, bagaimana kalau Abang Sandi?" Ujar Haneul lagi, tapi hanya Haneul dan Sandi yang mengangkat tangan.
"Dua suara, kalau begitu bagaimana kalau Abang Alex?"
"Aku setuju kalau Kamandaka yang jadi wakil" potong Bintang mengangkat tangan, yang lainnya pun menyusul kecuali Rain. Lalu mereka menetukan nama geng nya yang diambil dari inisial nama, Rksabi.
"Kita perlu nomor khusus, yang akan dipromosikan lewat pria berseragam dan wanita yang kalian tolong. Ambil tugas yang ringan, dan berikan yang terbaik agar klien puas"
*****
Sandi, sudah dua kali mengelilingi toko pakaian namun tetap saja dia tidak bisa menemukan perempuan muda yang harus dia jaga. Hari itu sudah terhitung tiga hari dia bekerja sebagai pengawal, namun dia selalu dibuat pusing oleh nona muda nya yang selalu menghilang. Kali pertama dia kehilangan jejak, ditoilet, tuan Vick memprotes kinerja nya membuat reputasi geng Rksabi jadi buruk untuk pertama kalinya.
"Dimana anda, nona?" Ujar nya gusar sembari melakukan panggilan, namun nomor nya malah tidak aktif.
Dengan kebingung, akhirnya panggilan itu beralih ke Rain yang tengah menangkap maling pakaian dalam yang bikin resah warga kost. Tepatnya Di jalan kecil yang sepi, kedua orang itu kejar-kejaran. Pria kucel dengan pakaian kotor berlari sambil ter-engah, tapi tidak punya kesempatan untuk istirahat karena pria dibelakangnya berlari secepat pelari profesional.
Dia berniat sembunyi, namun jika langkah nya di rem sedikit saja, tangan Rain yang panjang itu akan menarik pakaian belakangnya. Jadi dia hanya terus berlari tanpa tahu tujuannya kemana, sambil sesekali melirik Rain dibelakang sana. Yang tidak dia ketahui langkahnya membawa ke arah tangga, membuat pergerakan nya sedikit melambat karena turun dengan lutut lemas. Walaupun begitu dia berhasil menyisakan belasan anak tangga, akan tetapi pria dibelakangnya memikirkan cara lain saat ikut turun.
Rain berpegangan pada railing tangga, mengangkat tubuhnya, lalu mengayunkan ke arah maling dengan tepat sasaran. Hingga maling terjatuh meninggalkan bunyi keras, sebelum berguling sampai bawah, maling mengerang menahan sakit. Rain tersenyum puas, melangkah menghampiri maling yang berusaha bangkit perlahan.
"Berapa curian hari ini? Aku cukup lelah menunggu kau datang untuk di tangkap" ujar Rain dibalik masker, maling mengangkat pandangan perlahan dan dia dapati kaki Rain terayun didepan wajahnya.
"Jawab,cepat!" Perintah Rain dengan nada dingin yang menggetarkan, maling hanya bergumam tidak jelas.
"Kau bisu?" Maling bergumam lagi, memberikan jawaban untuk pertanyaan Rain, yang menghela napas sembari menurunkan kakinya dari kepala maling.
Kelegaan seketika nampak dari raut wajah maling yang perlahan berusaha duduk, dan itu hanya untuk beberapa detik karena dia harus menjerit dengan keras saat Rain menarik kuku jarinya dengan tang. Bukan hanya itu, Rain juga menonjok wajahnya bertubi-tubi sebelum mencabut gigi maling yang tidak berdaya melawan.
"Aapu" Katanya memohon pada Rain yang kesetanan, jempol pria blasteran itu menekan matanya.
"Untuk apa pakaian dalam itu, otak sinting?" Ujar Rain penuh kemarahan, sampai dia hendak membuat maling itu buta.
Namun urung karena suara Sandi tiba-tiba memanggilnya penuh kepanikan, "Ketua, kau dimana?"
"Orang sinting mana lagi ini? Tidak tahu waktu" Rain menanggapi panggilan lewat earpiece .
"Apa lagi? Kau menganggur? Kau Mengganggu, Sinting!" Ujar Rain.
Tangannya bergerak memeriksa pakaian lusuh tangkapan nya, dari seberang sana Sandi bersuara. "Aku tidak cocok dengan tugas ini Taka, bocah itu sulit diatur. Benar-benar Nakal."
Suara ringisan terdengar dari balik sambungan, Sandi paham kenapa pria itu marah, pasti karena dia menelepon diwaktu pria itu mengerjakan tugas klien.
"Suruh Botak" satu perintah itu akhirnya menghentikan komunikasi mereka
"kau jera? Aku akan melepaskan kau, tapi bukan berarti kau lepas dari pengawasan ku" Rain melepaskan maling itu setelah menemukan barang apa saja yang disembunyikan dalam kantong celana kebesaran nya, pakaian dalam, uang juga puting rokok.
"Serahkan diri, minta agar mereka menghukum kau" ucapnya. Rain lantas berdiri, menatap tajam, seakan menghunus dada maling.
"Bawa barang bukti itu! Aku awasi kau sampai masuk ke dalam tahanan "maling itu mengangguk dengan air mata yang bercucuran, seakan merasa senang dengan kesempatan yang diberikan.