Xaviera Collins, gadis yatim piatu bermata hazel yang biasa dipanggil Xerra, hidup bersama bibi, paman, dan dua sepupunya.
Meski selalu diperlakukan tidak adil oleh bibinya yang kejam, Xerra tumbuh menjadi gadis ceria dan penuh semangat. Hidupnya nyaris tanpa beban, seolah ia mampu menertawakan setiap luka yang datang.
Namun, malam itu segalanya berubah.
Demi uang, bibinya menjual Xerra ke sebuah rumah bordil di pinggiran kota. Di sanalah ia pertama kali bertemu Evans Pattinson seorang mafia terkenal yang ditakuti banyak orang karena kekejamannya.
Pertemuan itu menjadi awal dari takdir gelap yang tak pernah Xerra bayangkan.
Evans, pria yang terbiasa menumpahkan darah tanpa ragu, justru mulai terobsesi padanya. Di balik tatapan dingin dan dunia yang penuh dosa, ia menemukan sesuatu yang tak pernah ia rasakan sebelumnya, perasaan ingin memiliki dan takut kehilangan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nanda wistia fitri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 2
Sinar matahari menembus tirai tebal, menimpa wajah Xerra yang masih terlelap,pertama kalinya setelah sekian lama, tidurnya terasa sangat nyenyak tanpa mimpi buruk, tanpa ketakutan.
Begitu membuka mata, ia mendapati dirinya sendirian di ranjang besar itu. Evans sudah tidak ada.
Yang tersisa hanya aroma samar parfum maskulin yang masih tertinggal di bantal.
Xerra menarik napas panjang, mencoba mengingat apa yang terjadi semalam.
Ia masih mengenakan gaun ketat merah dengan belahan tinggi di paha gaun yang diberikan pemilik rumah hiburan untuk “menarik pelanggan”.
Makeup di wajahnya sudah sedikit luntur, tapi sorot matanya tetap tajam seperti biasa.
Jam di dinding menunjukkan pukul delapan.
Dengan langkah malas, ia berjalan keluar dari kamar, melewati lorong sempit yang kini sepi.
Namun langkahnya terhenti saat suara berat dan nyaring memanggil dari arah ruang utama.
“Xerra!”
Pemilik rumah hiburan seorang wanita tua bertubuh tambun dengan kalung emas mencolok di lehernya berdiri di depan pintu sambil melipat tangan di dada.
Tatapannya kesal, tapi anehnya... kali ini tidak disertai ancaman.
“Mulai saat ini, kau aku bebaskan. Pergilah segera dari sini,” katanya ketus.
“Kau membuatku rugi besar semalam.”
Xerra berkedip, nyaris tidak percaya dengan apa yang baru ia dengar.
“Bebas? Maksudmu... aku boleh pergi begitu saja?”
Wanita itu mendengus. “Ya! Pergi sejauh mungkin! Aku tidak mau melihat wajahmu lagi. Kau beruntung, ada seseorang yang mau menebusmu mahal. Jadi anggap saja hidupmu diselamatkan oleh keberuntungan.”
Xerra menahan senyum kecil di sudut bibir. “Seseorang?” ulangnya pelan.
Tapi wanita itu sudah berbalik, tak ingin menjawab.
Xerra menatap ke arah pintu keluar yang terbuka, sinar matahari pagi menyilaukan matanya.
Ia melangkah pelan, melewati ambang pintu dengan napas lega.
“Entah siapa orang baik yang mau menjamin kebebasanku,” katanya lirih sambil tersenyum sinis.
“Kalau aku harus menebak… aku rasa hanya satu orang yang mampu.”
Ia menatap langit biru di atas kepalanya, lalu bergumam pelan,
“Terima kasih,Om tampan”
*****
Langit siang tampak cerah ketika Xerra melangkah masuk ke rumah mewah peninggalan kedua orang tuanya.
Rumah itu tampak megah dari luar lantai marmer mengilap, chandelier kristal berkilau di langit-langit tapi bagi Xerra, tempat ini sudah kehilangan arti “rumah” sejak bibinya menguasainya.
Dari ruang tengah, terdengar suara tawa keras yang familiar.
Ia sudah bisa menebak, bahkan sebelum melangkah lebih jauh.
“Dia pasti sudah dijual habis-habisan semalam!” suara Liona, sepupunya, terdengar puas.
“30 ribu dolar,ibu Lumayan besar untuk gadis sialan itu!”
Bibinya tertawa keras sambil menyesap teh. “Dan nyonya tua bejat itu benar-benar membayarnya! Akhirnya dia keluar juga dari hidup kita.”
Xerra tersenyum kecil di ambang pintu.
Ia menyilangkan kedua tangan di dada, lalu bersuara tenang, tapi cukup keras untuk membuat tawa mereka terhenti.
“Wah… 30 ribu dolar ya? Harga yang lumayan untuk seseorang yang ternyata belum benar-benar terjual.’”
Tiga wajah serentak menoleh.
Bibi Melanie,Liona dan sepupu Laki-laki satu-satunya Calvin, menatapnya dengan ekspresi campuran antara kaget dan takut.
“X....Xerra… k....kau,bagaimana bisa kau?” suara bibinya tercekat.
Xerra melangkah masuk, gaun merah nya berkilau samar di bawah cahaya lampu gantung.
“Tidak usah kaget begitu, Bibi. Aku hanya pulang… ke rumahku sendiri,” katanya datar, tapi dengan senyum kecil yang licik.
Ia berjalan pelan ke arah meja ruang tamu, mengambil satu potong biskuit dari piring mereka, lalu berkata ringan,
"Bibi tua tempat kalian jual aku padanya, ternyata terlalu mudah panik. Malam itu, dia memberikan satu tamu padaku,tapi kabur dan marah besar ke pemilik rumah hiburan. Katanya, dia mau uangnya kembali.”
Wajah bibi Xerra langsung pucat. “A...apa?”
“Ya.” Xerra menatap mereka satu per satu. “Dan aku dengar, kalau tidak dikembalikan dalam waktu tiga hari, dia akan melapor ke polisi.”
Ia mengangkat alis, pura-pura berpikir. “Lucu juga, ya? Aku bebas, tapi kalian yang mungkin akan dikejar.”
“X....Xerra! Apa maksudmu?!” teriak Liona panik.
Xerra hanya terkekeh pelan. “Tenang saja. Aku tidak akan ikut campur. Aku hanya mau mandi dan siap-siap ke kampus.”
Ia membalikkan badan dan mulai melangkah menaiki tangga marmer ke lantai dua.
Langkahnya ringan, seolah tidak terjadi apa-apa, sementara di bawah, tiga orang itu saling pandang dengan wajah tegang dan takut.
Sesampainya di anak tangga terakhir, Xerra sempat menoleh sedikit,lalu tersenyum manis.
“Oh iya, Bibi…” katanya lembut. “Lain kali kalau mau menjual seseorang, pastikan pembelinya bukan orang bodoh.”
Ia lalu berbalik, melangkah ke kamarnya dengan tenang,meninggalkan tiga wajah panik yang kini mulai sadar, bahwa mereka baru saja di permainkan lagi.
Sementara itu, di sebuah gudang tua di pinggiran kota, udara malam terasa dingin dan lembab. Bau besi karat dan asap rokok bercampur di udara.
Tempat itu adalah markas rahasia Evans ruang gelap yang biasa ia gunakan untuk menyelesaikan urusan dengan cara yang tak pernah diketahui publik.
Di tengah ruangan berdiri seorang pria muda. Tubuhnya gemetar, kulitnya penuh luka, napasnya tersengal.
Cahaya lampu gantung berayun pelan, menyorot wajahnya yang dipenuhi ketakutan.
Evans duduk di kursi besi, menatapnya tanpa ekspresi. Jas hitamnya tampak rapi, seolah tak ada yang bisa mengusik ketenangannya.
“Jadi ini hasil kerja kerasmu?” suaranya pelan, tapi menusuk.
“Baru seminggu bergabung, dan kau sudah menjual informasi transaksi ke orang lain.”
Pria itu tergagap, “A...aku tidak bermaksud, aku hanya......!”
Evans mengangkat tangan, menghentikan kalimat itu.
“Cukup.”
Ia menatap dua orang kepercayaannya, Ben dan Gerry, yang berdiri di sisi kanan dan kiri.
Tatapan singkat saja sudah cukup sebagai perintah.
“Habisi dia,” ucap Evans datar. “Seperti biasa. Tak perlu meninggalkan jejak.”
Ben dan Gerry mengangguk singkat, lalu menarik pria itu menjauh ke sisi ruangan.
Tak ada suara teriakan yang terdengar hanya langkah kaki, lalu hening yang panjang.
Evans berdiri perlahan, menyalakan rokoknya. Asapnya membentuk lingkaran kecil di udara.
“Orang yang berkhianat tak pantas mendapatkan ampunan,” katanya tenang, lebih seperti kalimat pengingat daripada kemarahan.
Ia menatap ke arah pintu gudang yang terbuka sedikit, tempat cahaya bulan menembus masuk.
Entah kenapa, sesosok wajah samar melintas di pikirannya mata hazel yang menatapnya tajam semalam.
Evans menarik napas dalam.
“Xerra Collins…” gumamnya pelan, seolah nama itu baru saja menyalakan sesuatu yang asing di dadanya.