NovelToon NovelToon
Anshela

Anshela

Status: tamat
Genre:Kehidupan di Sekolah/Kampus / Teen Angst / Keluarga / Diam-Diam Cinta / Cintapertama / Enemy to Lovers / Tamat
Popularitas:127.8k
Nilai: 5
Nama Author: Jaena19

Anshela atau biasa dipanggil Shela, anak bungsu dari empat bersaudara. Lahir sebagai anak perempuan satu-satunya tidak menjadikan Shela di sayang oleh keluarganya, dia malah diperlakukan sebaliknya. Kematian ibunya karena melahirkannya membuat ayah serta tiga kakak laki-lakinya menganggap Shela sebagai penyebabnya, kerap kali ia disebut sebagai anak pembawa sial. Tumbuh dari keluarga yang kurang kasih sayang membuatnya menjadi gadis yang arogan, sombong dan suka semena-mena. Semua itu semata hanya untuk menceritakan perhatian ayah dan kakak-kakaknya. Namun, hal itu justru semakin membuat keluarganya membencinya. Suatu kejadian membuatnya hampir meregang nyawa, namun beruntung Tuhan masih memberi Shela kesempatan untuk hidup. Saat bangun dari tidur panjangnya, Shela tak menemukan satu pun keluarganya, yang ia lihat pertama kali hanya mbok Inah, asisten rumah tangga yang selalu setia merawatnya. Sejak saat itu,Shela sadar jika apapun yang ia lakukan tidak akan pernah dipedulikan. Shela b

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jaena19, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

2

Tak seperti biasanya, usai pulang sekolah Shela biasanya akan langsung menuju rumah dan mencari perhatian kakaknya. Namun, kali ini begitu berbeda. Setelah pulang sekolah, ia pergi ke tempat yang tak akan pernah terbayangkan oleh orang lain. Ya, tempat pelatihan bela diri, di mana tak ada seorang pun yang tahu tentang sisi lain dari kehidupan Shela.

Shela meletakkan tas sekolahnya di sebuah loker yang disediakan, lalu ia menuju ruang ganti untuk mengganti seragam sekolahnya dengan pakaian bela diri. Meski belum mencapai sabuk tertinggi, namun kemampuan bela dirinya sangat memukau. Shela memang tidak berniat untuk mencapai sabuk tertinggi itu, ia hanya mengikuti kegiatan ini agar dapat melindungi diri sendiri dari bahaya.

Meskipun Shela dikenal sebagai sosok yang suka membully, ia tak pernah menggunakan ilmu bela dirinya untuk melampiaskannya. Ia sadar akan batasan, menyakiti fisik orang lain terlalu parah akan membuatnya tak ubahnya seperti pelaku kekerasan itu sendiri.

"Shel? Udah datang, ya?"

Shela yang baru selesai mengganti pakaian menoleh, hatinya berdebar saat melihat wajah temannya. Di tempat pelatihan inilah ia merasa bisa menjalani kehidupan yang lebih bebas, berinteraksi dengan orang lain tanpa segan.

"Menurut lo?" ujar Shela dengan nada sarkastik, matanya melotot ke temannya.

"Yeu, santai aja, Shel."

"Lagian basa-basi lo itu basi banget, Ren. Udah tau gue ada di sini, nanya lagi."

"Namanya juga basa-basi, Shela," sahut Rena sambil tertawa.

Shela hanya bergumam, seakan ia ingin menunjukkan kesalnya, tetapi pada akhirnya ikut tersenyum. "Gue duluan, ya." Tanpa menunggu jawaban temannya, ia melangkah lantang keluar dari ruang ganti menuju ke loker untuk menyimpan seragam sekolahnya. Sebelum berlatih, ia mengusap lembut wajahnya, menghapus jejak make-up tebal yang seolah mewakili sisi lain kehidupannya yang penuh kepura-puraan.

Dua jam berlalu sejak latihan, Shela bergegas mengganti pakaiannya dengan seragam sekolahnya dan dengan cermat memoleskan make up tebal di wajahnya. Jam dinding sudah menunjukkan pukul empat sore. Namun, Shela tak merasa cemas jika harus pulang dalam kegelapan, karena dalam hatinya dia yakin, tak ada seorang pun yang akan peduli kepadanya. Bahkan, seandainya ia menghilang pun, mungkin orang-orang di rumah tak akan mempedulikannya.

Shela melajukan mobil yang diberikan oleh ayahnya. Meskipun ia bersyukur ayahnya masih mau menyekolahkan dan memberikan fasilitas, walaupun terkadang Shela merasa perlu mencari uang tambahan untuk memenuhi keinginannya. Jarak hati dan kesibukan ayahnya membuat Shela enggan untuk meminta apapun pada pria yang seharusnya menjadi sandaran hidupnya.

Begitu sampai di rumah, Shela langsung memarkir mobilnya di garasi dan melangkah masuk ke dalam rumahnya yang megah. Dari luar, orang-orang pasti akan menyangka hidupnya sempurna. Memiliki rumah mewah, harta yang melimpah, kakak-kakak tampan, dan ayah yang merupakan seorang pengusaha sukses. Namun sayangnya, itu semua hanyalah ilusi belaka. Kehidupan nyata Shela jauh berbeda dengan anggapan orang-orang.

Rumah mewah, kakak tampan, ayah pengusaha, dan segala yang dimilikinya seakan tak ada artinya tanpa kasih sayang yang seharusnya mengisi kehidupan keluarganya. Itulah yang Shela rasakan. Di depan keluarga dan banyak orang, Shela dikenal sebagai sosok yang mencari perhatian dan pemancing keributan. Namun, di balik semua itu, dalam kesendirian, Shela kerap kali terdiam dan menangisi takdir kehidupan yang diterimanya.

Shela mulai menaiki anak tangga pertama, melihat kakak ketiganya tengah berjalan turun. Begitu berpapasan, laki-laki itu menyenggol bahunya dengan keras, memperlihatkan ekspresi sinis yang terasa menusuk jantungnya.

Laki-laki itu berdecak kesal. "Jalan sambil lihat-lihat dong! Kayaknya sengaja banget kayaknya!"

"Apa sih, Kak? Kakak yang nyenggol aku dulu, kok aku yang disalahin?" Ujar Shela dengan nada sedih yang dibuat-buat, seperti biasa ia sedang mencari perhatian.

"Cih! Nyalahin gue lagi!" Dika menatapnya sinis, seolah-olah Shela adalah musuh terbesarnya, lalu melanjutkan langkahnya dengan emosi yang bergolak.

Shela menarik napas dalam-dalam, ia lelah sebenarnya menjalani hidup seperti ini. Tetapi, ia tak mau menyerah begitu saja. Ia akan melakukan apapun untuk mendapatkan perhatian dan cinta yang ia dambakan dari keluarganya.

Masuk kedalam kamar, ia mengunci pintu kamarnya. Di simpannya tas di atas kursi, ia segera menuju ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhyyang terasa lengket karena keringat.

____

"Eh, Non baru turun, ya? Baru saja Mbok mau beresin makanannya," ujar Mbok Inah, asisten rumah tangga yang sudah bertahun-tahun bekerja di rumah Shela. Wajah Shela tampak cemberut; lagi-lagi kakak-kakaknya makan malam tanpa mengajaknya.

"Jangan dulu dibersihin, Mbok. Aku mau makan."

Mbok Inah mengangguk, dan wanita paruh baya itu segera menuju dapur untuk mengambilkan piring. Sementara itu, Shela duduk di salah satu kursi di meja makan, memandangi hidangan makan malam dengan sedikit kecewa.

"Ini, Non. Piringnya," kata Mbok Inah sambil meletakkan piring di depan Shela.

"Udah makan, Mbok?" tanya Shela, mencoba meredakan kekecewaannya.

"Ah, Mbok jarang makan malam. Kalau lapar nanti juga makan sendiri, Non," jawab Mbok Inah dengan senyum ramah yang selalu membuat Shela merasa lebih tenang.

Shela menatap sekelilingnya, memastikan tidak ada kakak-kakaknya di dekatnya. Dengan hati berdebar, ia kembali menatap Mbok Inah.

"Makan bareng aku, yuk, Mbok. Gak enak kalau makan sendiri," ucap Shela penuh harap.

Mbok Inah segera menggelengkan kepalanya, seraya menjawab, "Gak usah, Non."

Shela mengerucutkan bibirnya, menunjukkan betapa kecewanya. "Yah, yaudah deh, Mbok. Kalau gak mau makan, duduk aja temenin aku. Gak enak tau makan sendirian."

Mbok Inah terdiam sejenak, seolah sedang berpikir keras. Lalu, detik berikutnya, ia mengangguk lemah. "Yowes, Mbok temenin. Tapi gak apa-apa toh kalau Mbok duduk?"

"Gak apa-apa, Mbok. Cuma duduk doang kok," sahut Shela dengan tulus.

Mbok Inah lalu duduk di samping Shela, sambil menatap gadis itu mengambil nasi serta lauk ke atas piringnya.

"Aku makan ya, Mbok," ucap Shela dengan senyum lebar.

"Iya, Non," jawab Mbok Inah sambil tersenyum, menyaksikan gadis itu menikmati makanannya.

Shela mulai menyantap makanan dihadapannya. Meski sendiri setidaknya ada mbok Inah yang menemani. Hanya wanita paruh baya itu yang bisa Shela ajak komunikasi sewajarnya.

"Gimana sekolahnya, Non?" tiba-tiba Mbok Inah mengajukan pertanyaan di tengah kesibukan Shela menyantap hidangannya.

Shela terkejut, hatinya berdebar. Ini pertama kalinya ada orang yang menanyakan hal semacam ini kepadanya. Meski sudah lama bekerja di rumahnya, sebelumnya Mbok Inah dan dirinya hanya berinteraksi seperlunya. Dalam hati Shela merasa hangat, ada semacam kebersamaan yang selama ini ia rindukan.

"Gitu-gitu aja, Mbok, membosankan." Shela menghela napas, merasa lega bisa mengungkapkan isi hatinya.

Mbok Inah tersenyum kecil, lalu memberi semangat. "Belajar yang rajin ya, Non. Supaya sudah lulus nanti bisa masuk kampus yang bagus dan jadi orang sukses kayak Bapak."

Shela tersenyum getir, ada perasaan yang tak bisa ia gambarkan dengan kata-kata. "Aku gak mau kayak Ayah." ujarnya lirih.

Senyum Mbok Inah memudar, kekhawatirannya muncul saat mendengar ucapan Shela yang penuh duka. "Loh, kenapa? Bapak hebat loh, Non."

"Aku gak mau jadi orang tua yang terlalu sibuk dengan pekerjaannya, sementara anaknya merasa terabaikan," Shela menundukkan kepala, tangannya bergetar saat menggenggam sendok. "Aku pengin lebih dari itu, Mbok."

Dalam diam yang menyelimuti ruangan, Shela kembali melanjutkan makan malamnya yang kian terasa pahit. Setiap gigitan membawa pertanyaan dan rasa penasarannya tentang hidup yang diidamkan.

Mbok Inah menatap prihatin Shela, wanita itu tau bagaimana keadaan keluarga majikannya itu. Ia juga tahu jika Shela sebenarnya anak yang baik,hanya saja kurangnya kasih sayang dan didikan membuat gadis itu menjadi gadis yang sedikit kasar dan selalu cari perhatian.

"Aku udah selesai,mbok."

Mbok Inah bangkit lalu segera merapihkan meja makan.

"Aku ke atas ya mbok."

"Iya,non."

Shela kembali melangkahkan kaki ke dalam kamar, dia kembali mengunci pintu kamarnya. Shela duduk di meja belajar dan mulai membuka buku pelajaran, rutinitas yang selalu ia lakukan sebelum tidur.

Di tengah kesibukan belajar, matanya tertuju pada tumpukan buku tugas yang tak kunjung ia kumpulkan. Betapa giat Shela menyelesaikan setiap tugasan, namun tak pernah berkeinginan mengumpulkannya. Sebab, di benaknya, tindakan itu akan membawa harapan agar pihak sekolah memanggil ayahnya. Membayangkan sang ayah yang akhirnya berkenan menemuinya, memberi nasihat, membuat Shela berbunga-bunga.

Namun, impian itu ternyata tak pernah menjadi kenyataan. Sebab ayahnya tak pernah hadir. Bukannya sosok yang ia rindukan, yang datang hanyalah seorang suruhan ayahnya - membenahi masalah hanya dengan lembaran uang. Shela terdiam, menahan pilu, karena nyatanya segala harapannya hanya mampu bertahan dalam angan-angan.

1
Tiavitri Vitri
maaf ya tor lama2 malas mo baca,prasaan diawal udah bagus lama2 bosan,
Arum Oke
👍
Nita Renita
ayok Shella kamu pasti bisa 😃👍
david 123
oh...kenapa tdk diproses ya melakukan kekerasan di lingkungan sekolah...malah di biarkan...lanjut thor..
david 123
Ubah alurx thor,Shela selalu tersiksa ya ,dr awal cerita..kapan nasibx baik..,he...he....
Xiaomi Note 14
bodoh, kan sidik jari ada prcm polisi klw gk di prkaa sdik jeri ,nya asl nduh.
kalea rizuky
novel paling buruk yg pernah q baca sejauh ini muter bertele tele pokok bkin mood baca anjlok
kalea rizuky
novel g guna pantes sepi like wong MC goblok biarin aja bokap lu nyesel uda bodo amat ma dika ma bokap lu yg oon ehh ini masih aja mau balik tololllllll q ksih rating jelek biarin slaah sendiri bkin pembaca sebelll
kalea rizuky
kn karena lu semua. bego yg buat novel lebihhh beggggg
kalea rizuky
pecundang semua sella goblok lengkap bgt ne novel paling bego
kalea rizuky
sela. jd goblok terlalu menye menye skip g jelas ne novel
atun atun
lnjutkan
Rita Rita
seorang Dika hanya pecundang sejati laki laki banci,, dulu berjanji mau lindungi Shela,, ini yg salah Dika apa author ya 🤔
Rita Rita
heran sama si author,, udah 2 x Shela dibuat mati,, apa ini tokoh utama dibikin mati beneran 🤔🤣 yg bikin geli itu kaum keluarga Shela,, katanya terpukul atau apalah kalo nurut AQ cuma preetttt,,
Rita Rita
aduh Thor,, sekali kali ga langkah gontai untuk Shela kenapa sih,,
Rita Rita
Shela ga ada punya langkah tegas langkah gontai Mulu,, kapan ada bahagia kalo hidup terus menerus dibebani konflik, masa iya hidup monoton di situasi yang sama.
Rita Rita
heran aja sama si Shela katanya pinter,, tapi kok bego nya makin gedein ya,, masa udah 2 x masih masuk lobang yang sama,,
Rita Rita
cerita nya muter muter gitu aja ga ada titik temunya, berbelit tanpa ada narasi yg jelas,,,
Lenty Fallo
lnjut thor upnya...💪❤️
atun atun
tokoh utama benaran gk sih ni meninggoi
parah ini thornya
lnjut
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!