NovelToon NovelToon
SENTUHAN PAPA MERTUA

SENTUHAN PAPA MERTUA

Status: sedang berlangsung
Genre:Rumah Tangga / Balas Dendam
Popularitas:3.6k
Nilai: 5
Nama Author: Nuna_Pena

"Pa, Papa mau apa??" Adelia terkejut saat papa mertuanya tiba-tiba mendekat dan memeluknya dari belakang. la tak pernah membayangkan, kalau setelah menikah papa mertuanya itu justru berubah dan bersikap seolah ia adalah istrinya.

Apakah Adelia mampu mengendalikan diri dari papa mertuanya?

Atau ia justru ikut terjerumus juga?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nuna_Pena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

DUA PULUH EMPAT

Klien mereka duduk di meja VIP. Begitu rombongan Lukas mendekat, mereka berdiri dan menyapa dengan ramah.

"Mr. Ivander! Senang akhirnya bertemu langsung dengan Anda."

Lukas menjabat tangan klien. "Senang juga bisa bekerja sama dengan perusahaan Anda."

Sean mengatur berkas, Ririn berdiri di samping Lukas sambil mencatat poin-poin penting. Pertemuan berlangsung lancar. Lukas memimpin diskusi dengan percaya diri, menjelaskan konsep, peluang bisnis, dan rencana besar yang mereka bawa.

Ririn memperhatikan Lukas tanpa melewatkan satu gerakan pun.

Cara pria itu bicara. Cara ia tersenyum ramah pada klien. Cara ia memegang gelas minuman dengan elegan. Bahkan cara ia menatap layar monitor saat presentasi.

Semua tentang Lukas membuat Ririn semakin tenggelam.

Sesekali ia mencondongkan badan sedikit lebih dekat, memberikan berkas atau menunjuk data di layar. Tidak berlebihan, sangat terukur, tapi tetap terasa... mendekat.

Sean sibuk mengatur dokumen, tidak sadar dengan gelombang perasaan yang bergerak di sampingnya.

Pertemuan berjalan hampir dua jam. Para klien puas, bahkan mengajak makan malam tambahan jika waktu

memungkinkan. Tetapi Lukas menolak dengan sopan.

"Besok pagi kami lanjutkan pembahasan, malam ini kami perlu istirahat."

Klien mengangguk dan pamit. Begitu para klien pergi, Sean menepuk bahu Lukas.

"Bos, rapatnya keren banget! Mereka jelas kagum sama Anda," puji Sean.

Lukas tersenyum kecil. "Kamu kerja bagus juga tadi."

Ririn ikut tersenyum.

"Pak Lukas hebat! Saya bangga bisa ikut proyek ini," ujarnya lembut.

Lukas mengangguk sambil merapikan jasnya. "Kalian juga sudah bekerja keras, ayo kita kembali ke hotel!"

Dalam perjalanan keluar bar, Ririn berjalan sedikit di belakang Lukas, namun matanya tidak pernah lepas dari sosok pria itu.

Dalam hati kecilnya, ia berkata pada dirinya sendiri-

"Aku benar-benar ingin dekat denganmu, Pak..."

Di café, Adelia melirik jam tangan. Pertemuan dengan teman-temannya seharusnya membuatnya tenang. Tapi, yang ia rasakan justru sebaliknya. Jantungnya tidak pernah benar-benar stabil.

Ia mengambil napas dalam-dalam sebelum berkata,

"Teman-teman, aku pulang dulu ya?"

"Loh? Cepet amat?"

"Aku pusing sedikit," jawab Adelia.

Mereka akhirnya mengangguk dan memeluknya satu per satu. Adelia berdiri, mengatur napas sebelum berjalan keluar café.

Begitu ia melangkah keluar, mobil Bastian langsung membuka lampu depan-terang-seolah menandakan ia memang menunggu.

Wajah Adelia memucat, ia naik ke mobil tanpa suara.

Dan begitu pintu tertutup, Bastian tersenyum.

"Kamu sudah selesai?" tanya Bastian.

"Iya, Pa."

"Bagus, ayo pulang!"

Mobil melaju perlahan, dan Adelia hanya bisa menatap jalan di depan sambil menahan napas, berharap hari itu segera berakhir.

Perjalanan pulang seharusnya terasa tenang bagi Adelia. Lampu-lampu jalan memantulkan cahaya lembut ke kaca mobil, dan angin malam sesekali menyapu pepohonan di pinggir jalan.

Namun, suasana di dalam mobil terasa jauh dari tenang. Adelia duduk tegak dengan kedua tangan saling menggenggam, mencoba mengatur napas. Sementara Bastian mengemudi dengan wajah serius.

Beberapa menit berlalu sebelum akhirnya Bastian membuka percakapan.

"Apa saja yang kamu omongin sama teman-teman kamu tadi, Del?" tanya Bastian.

Adelia menoleh sedikit. "Biasa saja, Pa. Nanya kabar, cerita tentang kehidupan masing-masing."

"Cuma itu?"

Adelia terpaksa jujur. "Kami juga bicara soal kerja. Teman aku nawarin aku kerja jadi admin."

Bastian langsung menoleh cepat, ekspresinya terlihat tidak suka. "Kerja? Kamu mau kerja?"

Adelia mengangguk. "Aku pikir itu bisa jadi aktivitas baru selama mas Lukas pergi. Lagian aku juga butuh kegiatan, Pa."

"Tapi, waktu Papa tawarin kamu kerja di bisnis Papa, kamu nolak." Nada Bastian terdengar berat, seolah pernyataan kecil itu menghantam egonya.

Adelia menelan ludah. "Itu... berbeda, Pa."

"Apa bedanya?" tanya Bastian, suaranya dalam dan mengintimidasi. "Papa sendiri yang nawarin. Papa sendiri yang bisa ngawasin kamu. Tapi, kamu justru mau pergi kerja sama orang lain?"

Adelia mengalihkan pandangan ke luar jendela. "Pa...

Papa bukan suami saya. Papa nggak bisa ngatur saya seperti itu."

Sunyi.

Bastian terdiam. Tangannya menggenggam setir lebih erat. Tatapannya lurus ke depan, namun intensitasnya berubah. Ada sesuatu yang menegang di wajahnya.

"Kamu ngomong gitu ke Papa?" suaranya pelan, namun terasa tajam.

Adelia menatap ke bawah. "Saya cuma jujur, Pa. Saya butuh ruang."

Namun sebelum Bastian sempat membalas, suara bising tiba-tiba muncul dari belakang.

BRUUUMMMMMM-

Empat lampu motor tiba-tiba mendekat dari arah kanan dan kiri.

Adelia refleks menoleh. "Pa... apa itu?"

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!