Naufal hanyalah seorang sales smartphone miskin yang sering diremehkan karena tidak pernah mencapai target. Ditekan oleh target yang mustahil, dikhianati oleh rekan kerja, dan dianggap remeh oleh pelanggan sombong adalah makanan sehari-harinya.
Namun, segalanya berubah saat sebuah suara mekanis bergema di kepalanya:
[Ding! Sistem Analisis Nilai Aktif!]
[Menganalisis Target...]
[Budget: Rp150.000.000 ]
[ Keinginan: memboron 50 unit untuk yayasan pendidikan |
[Tingkat Kepercayaan: 15%]
[Misi Terbuka! Closing produk!]
[Hadiah misi pembukaan RP 10.000.000!]
Dengan bantuan Sistem Analisis Nilai, Naufal tidak hanya bisa melihat isi dompet pelanggan, tapi juga titik lemah kompetitor dan tren pasar masa depan. Dari seorang sales yang hampir dipecat, ia merangkak naik menjadi raja industri teknologi.
Satu per satu wanita hebat mulai masuk ke dalam hidupnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon R.A Wibowo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 27--Melawan Preman
MALAM harinya. Toko sudah tutup saat itu juga Naufal hendak pulang mengendarai motor Ducati panglima v2 nya, namun dia merasakan bahwa dia diikuti oleh seseorang. Jadi dia berhenti di sebuah taman malam-malam begini sepi.
Dan benar saja saat dia ke taman, dua orang pria kekar yang dia lihat sedang berbicara dengan Andre tadi sore muncul.
Seniornya memang serius main licik. Tapi Naufal gak terlihat takut sama sekali malah menyeringai.
"Wah, wah, sepertinya ada yang sengaja menungguku ya?" Naufal turun dari motor Ducatinya dengan santai. Ia meletakkan helm di atas tangki motor, lalu merenggangkan otot-otot lehernya hingga terdengar bunyi
*krek*.
Dua pria kekar itu turun dari motor matic butut mereka. Salah satunya mengeluarkan sebatang besi pendek dari balik jaket kulitnya, sementara yang lain mengepalkan tinju yang besarnya hampir seukuran kepala bayi.
Naufal tidak siap-siap hanya dengan gelud saja, dia merekam sebuah audio suara kalau-kalau diperlukan.
"Nggak usah banyak gaya, Bocah. Bos kami bilang lo terlalu sombong di toko. Jadi, kami di sini buat bikin lo istirahat di rumah sakit beberapa minggu," ucap pria yang memegang besi dengan suara serak.
Naufal menghidupkan suara rekaman itu. Rekaman dimulai.
Naufal hanya tertawa hambar. [Status Kekuatan: 9] miliknya bergetar di dalam aliran darahnya. Di mata Naufal, gerakan kedua orang ini terlihat lamban dan penuh celah.
[Ding!]
[Misi Darurat Terdeteksi: 'Pembersihan Hama Malam']
[Tujuan: Kalahkan preman suruhan Andre tanpa terluka sedikit pun.]
[Hadiah: Saldo +Rp 5.000.000 & Poin Kelincahan +3 Poin kekuatan +3, kemampuan bela diri tingkat atas]
"Bos kalian? Maksudnya Andre si pecundang itu?" Naufal memancing emosi mereka.
“Iya andre yang nyuruh!”
“Bos Andre muak sama kelakuanmu!”
Bingo. Baguslah kalau mereka mengaku, rekaman ini bakal guna untuk membalikan keadaan seorang senior sombong.
"Bilang sama dia, kalau mau main, turun sendiri ke lapangan. Jangan cuma bisa nyewa 'kertas' buat lawan batu."
"Kurang ajar! Habisi dia!"
Pria pemegang besi maju duluan, mengayunkan besinya ke arah pelipis Naufal dengan tenaga penuh. Jika kena, normalnya kepala manusia akan bocor seketika. Namun, Naufal hanya menggeser kepalanya beberapa milimeter saja—sebuah gerakan minimalis yang sangat efektif.
Hasilnya serangan itu gak kena dia.
*Wush!*
Ayunan itu meleset.
Pria itu terkejut. “Loh, kok bisa?”
“Bisalah orang gerakannya lambat gitu!”
Sebelum pria itu sempat menarik kembali tangannya, Naufal melesat maju. Satu pukulan lurus mendarat telak di ulu hati pria itu.
*Bugh!*
Pria kekar itu langsung bertekuk lutut, napasnya terhenti seketika, dan besi di tangannya denting jatuh ke aspal. Wajahnya membiru karena kekurangan oksigen.
Temannya yang satu lagi terkejut, namun segera melayangkan tendangan samping yang liar. Naufal dengan tenang menangkap kaki itu, lalu melakukan tarikan cepat yang membuat keseimbangan lawan goyah. Dengan satu putaran badan, Naufal mendaratkan tendangan berputar tepat di rahang bawah pria kedua.
*Krak!*
Suara retakan kecil terdengar. Pria kedua terpelanting dua meter dan langsung pingsan sebelum tubuhnya menyentuh tanah.
Hanya butuh waktu kurang dari tiga puluh detik. Taman itu kembali hening, kecuali suara rintihan pria pertama yang masih mencoba menghirup udara.
Naufal berjalan mendekati pria yang masih sadar itu, lalu menginjak tangan pria tersebut dengan pelan namun menekan. "Dengerin baik-baik. Balik ke Andre, bilang sama dia kalau satu kali lagi dia pakai cara begini, bukan cuma kerjaannya yang hilang, tapi gue pastikan dia nggak bakal bisa berdiri lagi.”
Pria itu mengangguk ketakutan, air mata hampir menetes karena rasa sakit di dadanya. "P-paham, Mas... ampun!"
[Ding!]
[Misi Selesai! Hadiah telah dikirim ke saldo Anda.]
[Saldo Anda RP 172.000.000.]
[Kemampuan bela diri tingkat tinggi aktif]
[Anda memiliki tubuh selevel dengan seorang petarung tingkat tinggi.]
[Poin Kelincahan bertambah! Poin kekuatan bertambah! Gerakan dan tenaga Anda kini lebih sinkron dengan kecepatan otak.]
Naufal kembali ke motornya, memakai helm, dan menghidupkan mesin Ducati-nya yang menggelegar. "Andre... Andre... lo bener-bener bosan hidup ya. Tua kok belagu.”
Dia tidak akan langsung membalas Andre malam ini. Dia punya cara yang lebih elegan untuk menghancurkan karir seniornya itu besok di toko. Dengan saldo yang sudah mencapai lebih dari 170 juta dan status yang terus naik, Andre bukan lagi lawan yang seimbang.
Naufal memacu Ducatinya membelah angin malam Yogyakarta. Di balik visor helmnya, seulas senyum dingin tersungging. Rekaman pengakuan di ponselnya adalah kartu as yang akan membuat Andre bertekuk lutut.
"Lo main fisik, gue main sistem. Mari kita lihat siapa yang bakal didepak lebih dulu," gumam Naufal di tengah deru mesin 955cc miliknya.
Ia sudah menyiapkan sebuah drama manis yang bisa buat senior songong kaya dia gak belagu, dia menatap sebuah perban kecil dengan senyuman licik.
### Keesokan Harinya - Toko Naufal.
Andre masuk ke toko dengan langkah angkuh. Ia bersiul kecil sambil menenteng kopi kaleng, matanya terus melirik ke arah pintu masuk. Ia sangat yakin bahwa pagi ini Naufal tidak akan menampakkan batang hidungnya, atau setidaknya akan datang dengan perban di sekujur tubuh.
Namun, saat jam menunjukkan pukul 12.00 WIB, pintu kaca otomatis terbuka. Shift siang masuk dan itu jatah Naufal.
Naufal melangkah masuk dengan setelan seragam OMNI yang sangat rapi. Ada sebuah perban di pipinya, Andre senang melihat itu tapi dia sedikit mematung. Kok cuma gitu doang.
Siska yang melihat Naufal langsung menyapa dengan gaya sok julid.
“Udah jam 12 shif siang masuk jam setengah 12—” ia berhenti bicara. “Fal, pipimu kenapa!?”
Siska langsung berlari kecil menghampiri Naufal, wajahnya yang tadi ingin menggoda kini berubah penuh kekhawatiran. Ia memperhatikan plester medis yang menempel rapi di pipi kiri Naufal.
"Kok bisa luka gitu?" suara Siska meninggi, memancing perhatian beberapa rekan sales lain, termasuk Rengga yang baru saja selesai menaruh tas.
Naufal menghela napas panjang, memasang wajah yang terlihat sedikit lemas namun tetap berusaha tegar. Kayaknya dia pintar dan bakat jadi aktor drama indosiar sebab kemampuan akting dia gak kaleng-kaleng.
"Nggak apa-apa, Sis. Cuma musibah kecil semalam pas mau pulang," jawab Naufal dengan nada suara yang sedikit rendah, seolah sedang menahan sakit.
Andre yang mendengar itu dari kejauhan langsung merasa di atas angin. 'Bagus! Kena juga lu bocah! Meskipun cuma pipi, tapi mental lo pasti kena,' batin Andre sambil menyesap kopi kalengnya dengan gaya pongah. Ia merasa preman sewaannya cukup berhasil memberikan "peringatan".
"Musibah apa? Jangan bilang lo jatuh dari motor!" Rengga ikut menimpali, ia tampak cemas karena Naufal adalah rekan yang sudah banyak membantunya.
"Bukan... tadi malam di jalan sepi dekat taman, Gue dicegat dua orang preman. Mereka minta uang dan kunci motor, tapi Gue lawan," Naufal bercerita sambil sesekali memegang pipinya yang diplester.
"Untungnya bisa kabur, tapi ya ini... kena pukul sekali."
Siska langsung naik pitam. Ia biasanya sok julid, tapi kalau masalah ginian dia gak bisa untuk berbohong atas perasaanya. Ia emosi.
"Kurang ajar! Begal makin berani ya! Fal, ini nggak bisa didiemin. Lo harus lapor Pak Manajer, siapa tahu mereka itu orang-orang yang memang sering ngincer anak toko kita!"
"Sudahlah, Sis. Yang penting gue selamat," ucap Naufal, matanya melirik Andre yang kini sedang tersenyum licik sambil berjalan mendekat.
"Waduh, Naufal... Naufal. Makanya, kalau punya motor mewah itu jangan sombong, jadi incaran kan?" sindir Andre dengan nada sok prihatin yang menjijikkan. "Mungkin itu teguran karena lo terlalu belagu akhir-akhir ini."
Naufal menatap Andre dalam-dalam. "Mungkin juga, Kak Andre. Tapi anehnya, preman itu tahu nama saya. Mereka bilang 'Ini salam dari orang toko'."
Mendengar itu, jantung Andre serasa berhenti berdetak sesaat. Senyumnya luntur. "A-apa? Mana mungkin! Lo pasti halusinasi karena ketakutan!"
DAYA KHALYAL MEMBAGINGKAN