NovelToon NovelToon
Suara Hati DARREN

Suara Hati DARREN

Status: sedang berlangsung
Genre:Ketos / Balas Dendam / Berbaikan / Anak Genius / Murid Genius / Mengubah Takdir
Popularitas:3.8k
Nilai: 5
Nama Author: Sandra Yandra

Menceritakan seorang pemuda bernama Darren yang kehidupannya tampak bahagia, namun terkadang menyedihkan dimana dia dibenci oleh ayah dan kakak-kakaknya karena sebuah pengakuan palsu dari seseorang.

Seseorang itu mengatakan bahwa dirinya sebagai pelaku atas kecelakaan yang menimpa ibunya dan neneknya

Namun bagi Darren hal itu tidak penting baginya. Dia tidak peduli akan kebencian ayah dan kakak-kakaknya. Bagi Darren, tanpa mereka dirinya masih bisa hidup bahagia. Dia memiliki apa yang telah menjadi tonggak kehidupannya.



Bagaimana kisah kehidupan Darren selanjutnya?
Yuk, baca saja kisahnya!!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sandra Yandra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

2. Kritisnya Oma Vidya

Kampus..

Darren sudah di Kampus saat ini. Dia sedang bersama ketujuh sahabat-sahabatnya yaitu Qenan, Willy, Axel, Jerry, Dylan, Rehan dan Darel di Kantin. Lengkap dengan beberapa hidangan tersaji di atas meja.

"Ini."

Willy memberikan satu berkas warna merah di hadapan Darren.

"Apa ini?" tanya Darren dengan tatapan matanya menatap kearah berkas tersebut.

"Lo punya mata kan? Lihat lalu baca sendiri," jawab Willy seenaknya sembari menyeruput jus jeruknya.

Darren seketika mendelik dengan tatapan tajamnya menatap kearah Willy bersamaan tangannya membuka berkas tersebut.

Sementara sahabat-sahabatnya yang lainnya hanya tersenyum melihat kedua sahabatnya itu.

"Ini manusia semua?" tanya Darren setelah melihat isi dari berkas tersebut.

Isi berkas tersebut adalah nama-nama para mahasiswa dan mahasiswi baru yang akan mereka ospek dua Minggu lagi. Jumlah mahasiswa dan mahasiswi baru itu sekitar 25 orang. Itulah kenapa Darren mengatakan ini manusia semua.

"Tidak. Ada nyempil sekitar sepuluh anak monyet dan lima sekawanan lo," sahut Willy dengan wajah kesalnya.

Mendengar jawaban dari Willy yang terakhir membuat Darren seketika melototkan matanya sebesar-besarnya.

Darren kemudian mendorong berkas itu kearah Willy dengan tatapan mematikannya.

"Ogah gue. Lo kerjakan sendiri."

Setelah mengatakan itu, Darren berdiri dari duduknya. Dia pergi begitu saja setelah menghabiskan dua porsi nasi goreng favoritnya.

"Gue kasih waktu selama 1 jam buat lo ngasih semua data-data dari mahasiswa dan mahasiswi baru itu. Gue tunggu lo di ruang Organisasi!" teriak Darren dengan melangkah keluar kantin.

Mendengar ucapan sekaligus teriakan dari Darren membuat Willy seketika membelalakkan matanya tak percaya. Sementara sahabat-sahabatnya yang lain tertawa nista.

"Terima saja nasibmu, Nak!" ucap Jerry dan Dylan bersamaan sembari keduanya menepuk pundak Willy.

"Lo harus buruan ngerjainnya, Wil! Jika tidak, lo bakal habis sama Darren!" Qenan berucap sembari tersenyum manis menatap wajah sepet Willy.

"Semangat ya, kawan!" seru Axel, Rehan dan Darel bersamaan.

Setelah mengatakan itu, mereka langsung pergi meninggalkan Willy yang sudah tampak kesal luar biasa.

"Dasar sahabat-sahabat setan!" teriak Willy melengking di dalam kantin tersebut.

"Hahahahaha!" keenam sahabatnya seketika tertawa keras mendengar makiannya.

Bagaimana dengan para penghuni kantin? Mereka semua tersenyum melihat kelakuan ketujuh sahabat-sahabatnya Darren.

***

Markas Almight Black..

Enzo saat ini bersama keempat sahabatnya di ruangan pribadinya. Mereka kini tengah membahas tentang kecelakaan yang menimpa ibu kandung Darren dan sang Oma.

"Bagaimana, Enzo? Apa para tangan kanan kamu ada yang berhasil menemukan dalang kecelakaan yang menimpa Bibi Belva dan Oma Vidya?" tanya Ziggy.

"Belum. Sampai detik mereka semua masih bekerja keras dalam mencari dalang tersebut," sahut Enzo.

"Bagaimana dengan kalian?" tanya Ziggy dengan menatap Chico, Devian dan Noe bergantian.

Ketiganya langsung menggelengkan kepalanya sebagai jawaban atas pertanyaan dari Ziggy.

"Tidak ada satu pun dari kita yang berhasil menemukan dalang tersebut. Ini sudah satu tahun lamanya." Ziggy berucap dengan mimik wajah sedihnya.

Mendengar ucapan sekaligus melihat mimik wajah Ziggy membuat keempat sahabatnya seketika langsung paham. Baik Enzo dan ketiga sahabatnya yang lain sama-sama merasakan kesedihan akan kerja kerasnya dan kerja keras para tangan kanannya yang tidak membuahkan hasil.

"Aku memikirkan Darren," ucap Ziggy tiba-tiba dengan tatapan matanya menatap keempat sahabatnya itu bergantian. "Sejak kejadian itu, Darren dibenci oleh ayahnya dan keenam kakaknya. Mereka lebih mempercayai ucapan para saksi-saksi, terutama anak sialan itu dari pada Darren yang notabenenya adalah putra dan adik kandungnya. Bahkan yang parahnya adalah mereka terang-terangan menyebut Darren pembunuh."

Ziggy seketika teringat akan kejadian sehari setelah jenazah ibunya Darren yaitu Belva Carlise Garcia dimakamkan, Davin langsung memberikan tamparan keras di pipi adiknya ketika adiknya itu baru pulang ke rumah. Ditambah lagi dengan ucapan kejam yang keluar dari mulut kakaknya itu.

Bukan itu saja, Andra kakak keduanya Darren juga melontarkan kata-kata yang tak seharusnya dilontarkan.

Disini yang paling kejam adalah Erland yang berstatus ayah kandungnya Darren. Pria itu seketika mengatakan bahwa dia tidak sudi memiliki putra pembunuh seperti putra bungsunya.

Puk..

Devian seketika menepuk pelan pundak Ziggy, lalu mengusap-usapnya.

"Bersabarlah! Kita akan segera menemukan pelaku tersebut. Setelah kita berhasil menemukannya, kita akan langsung membawanya ke hadapan para manusia sampah itu. Sebelum itu, kita akan memberikan sedikit siksaan kepada pelaku itu."

"Benar apa yang dikatakan Devian. Untuk saat ini hanya sabar yang kita butuhkan. Aku yakin tidak akan lama lagi kita akan menemukan pelakunya." Chico ikut menghibur Ziggy.

***

"Yak, Ren! Lo tega banget sama gue," ucap Willy menatap kesal kearah Darren yang saat ini tengah berkutat dengan ponselnya.

"Emangnya gue kenapa?" tanya Darren tanpa melihat kearah Willy.

Mendengar pertanyaan dari Darren dan melihat reaksinya membuat Willy mendengus. Sementara sahabat-sahabatnya yang lain tersenyum dan geleng-geleng kepala. Mereka tidak ikut campur urusan kedua sahabatnya itu.

"Bantuin kenapa?! Masa gue sendiri yang ngerjain mendata mahasiswa dan mahasiswi baru itu," sungut Willy. "Dan kalian juga anak setan! Jangan cuma ongkang-ongkang kaki doang. Bantu sini!" teriak Willy dengan tatapan matanya menatap tajam kearah sahabat-sahabatnya yang lain.

Mendengar ucapan kejam dari Willy membuat semua sahabat-sahabatnya itu kecuali Darren seketika memberikan tatapan yang lebih tajam kearah sahabatnya itu.

"Ogah!" seru mereka bersamaan.

Setelah itu, mereka kembali pada kesibukan masing-masing. Tanpa diketahui oleh Willy, keenam sahabatnya itu tersenyum puas di dalam hatinya termasuk Darren.

"Oh, gitu ya! Oke! Ketika kalian nanti butuh bantuan gue. Gue juga bakal jawab, ogah!" Willy menjawab perkataan dari keenam sahabatnya itu dengan bibirnya mengabsen satu persatu nama penghuni kebun binatang.

Setelah mengatakan itu, Willy mengeluarkan earphone dari dalam tasnya. Dia memasang earphonenya di ponselnya, lalu di kedua telinganya. Kemudian Willy menghidupkan sebuah lagu dengan volume yang cukup keras sehingga siapa pun yang memanggilnya, dia tidak akan mendengarkannya.

Sementara ketujuh sahabat-sahabatnya itu langsung melihat kearah dirinya ketika mendengar ucapannya tadi. Mereka juga melihat bahwa Willy memakai earphone di telinga.

Drtt..

Drtt..

Tiba-tiba ponsel milik Darren berbunyi menandakan panggilan masuk. Dia yang kebetulan memegang ponselnya langsung melihat di layar ponselnya itu.

Di layar ponselnya itu terlihat nama 'Celsea' ibunya Axel.

Tanpa membuang-buang waktu lagi, Darren langsung menjawab panggilan tersebut.

Sementara sahabat-sahabatnya kecuali Willy yang telinganya disumbat oleh dua earphone sibuk dengan pekerjaannya melihat kearahnya.

"Hallo, Bibi Celsea!"

"...."

"Ka-kabar buruk? Apa yang terjadi, Bi?"

"...."

Darren seketika membelalakkan matanya ketika mendengar jawaban dari Dokter Celsea bersamaan dirinya berdiri dari duduknya.

Sementara Qenan dan yang lainnya menatap khawatir kearah Darren. Willy yang tadinya fokus dengan pekerjaannya tak sengaja melihat kearah Darren.

Sontak Willy langsung melepaskan earphone dari telinganya. Dia menatap khawatir kearah Darren.

"Kr-kritis. Oma kritis? Bukankah dua hari lalu kondisi Oma baik-baik saja?"

"...."

Tes..

Air mata Darren seketika jatuh membasahi pipinya.

"Oma."

"...."

"Baiklah, aku akan kesana!"

Pip..

Darren langsung mematikan panggilannya setelah memberikan jawaban kepada dokter Celsea.

"Ren," panggil Axel dengan tatapan khawatirnya.

Darren melihat kearah Axel. Lalu beralih melihat kearah sahabat-sahabatnya yang lain.

"Oma... Oma kritis," ucap Darren dengan lirih.

"Sabar, oke!"

"Kita ke rumah sakit sekarang."

Setelah mengatakan itu, Darren dan ketujuh sahabat-sahabatnya langsung pergi meninggalkan ruang Organisasi dan tak lupa mengunci pintunya.

1
MifadiruMzn
cerita nya bagus thor. bahasanya ringan, mudah dimengerti
Glastor Roy
yg banyak tor up ya
sri wahyu
lagi kak
sri wahyu
up yg banyak
penasaran kelanjutannya
sri wahyu
makasih kak
semangat
Glastor Roy
yg banyak tor up ya
sri wahyu
semangat kak
up lagi ya
Glastor Roy
up
Glastor Roy
yg banyak tor up ya
sri wahyu
makasih kak semangat updatenya
sri wahyu
baru sadar setelah satu tahun benci
sri wahyu
semangat kak
sri wahyu
menyesal kan
sri wahyu
semngat kak
Glastor Roy
yg banyak tor up ya
sri wahyu
semngat kak
sri wahyu
jantungnya kambuh kah


kasian Darren
Glastor Roy
yg banyak tor up ya
sri wahyu
emang enak di cuekin
semangat trus kak
Glastor Roy
up
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!