NovelToon NovelToon
Ruang Rahasia Di Kamar Tante Feronica

Ruang Rahasia Di Kamar Tante Feronica

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam
Popularitas:6.5k
Nilai: 5
Nama Author: Yan duwei

Mahen selalu membenci Tante Feronica, bibinya yang menghilang 10 tahun silam. Ayahnya selalu mengatakan bahwa Tante Feronica adalah orang jahat yang telah membuatnya mendekam dipenjara selama 12 tahun.

Namun, ketika Mahen mencoba mencari petunjuk atas apa yang terjadi 10 tahun lalu, dia tidak menyangka bahwa dia akan menemukan sebuah ruang rahasia di kamar Tante Feronica. Di dalam ruang itu, Mahen menemukan petunjuk-petunjuk yang membuatnya mulai mempertanyakan apa yang selama ini dia percayai.

Mahen mulai menyelidiki tentang apa yang terjadi di masa lalu dan mengapa ayahnya dipenjara. Namun, semakin dia menyelidiki, semakin banyak rahasia yang terungkap. Mahen harus menghadapi kenyataan bahwa ayahnya tidak seperti yang dia pikirkan.

Tante Feronica, yang selama ini dia anggap sebagai orang jahat, ternyata memiliki alasan yang kuat untuk melakukan apa yang dilakukannya. apakah Mahen akan bisa menemukan kebenaran dan memperbaiki kesalahan masa lalu?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yan duwei, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

KAKEK

Mahen berbalik badan untuk melihat siapa yang mengejutkannya. "kakek," beo Mahen saat menyadari bahwa yang membuatnya terkejut adalah sang kakek. kakek Hardjo, itulah namanya, terkekeh-kekeh melihat ekspresi terkejut di wajah cucunya.

"apa yang sedang kamu pikirkan Mahen?" tanya kakek Hardjo kepada Mahen saat melihat ada rokok di tangan Mahen. Mahen yang sadar pun segera mematikan rokoknya. "nggak ada apa-apa kok kek, biasalah tugas kuliah" jawab Mahen sekenanya. tidak mungkin Mahen mengatakan yang sebenarnya bahwa ia sedang memikirkan bagaimana cara menemukan Tante Feronica dan segera membalaskan dendam papahnya.

"tidak usah terlalu di pikirkan, jalani saja dengan santai. yang penting jangan sampai terabaikan. kalau ada masalah jangan di simpan sendiri, ada mamah kamu, ada kakek, ada nenek, kamu bisa ceritakan masalah kamu pada kami Mahen." ucap kakek sambil merangkul pundak Mahen. "iya kek, siap" jawab Mahen sambil tersenyum.

kakek hardjo membalas senyum Mahen. "mamah kamu bilang kamu sering jenguk papah kamu, gimana kabar papah kamu sekarang Mahen?" pertanyaan kakeknya membuat Mahen kembali teringat perkataan papahnya tadi siang. "kabar papah baik kek" jawab Mahen. "syukurlah kalau begitu" jawab kakek sambil mengangguk-anggukan kepalanya.

Cukup lama mereka terdiam, hingga akhirnya Mahen melontarkan perkataan yang sudah lama bersarang dibenaknya. "Kakek, aku ngerasa kalau nggak ada orang yang peduli sama Papah," kata Mahen dengan sorot mata yang sendu. "Mamah sibuk terus sama pekerjaannya, dan kakek sama Nenek nggak pernah bicarain apapun tentang Papah aku."

"Kakek sama nenek nggak peduli sama papah, kalian nggak pernah jengukin papah selama ini. kalian selalu bahagia tanpa mikirin papah, bahkan istri papah sendiri nggak peduli sama papah. sebenarnya kalian ini kenapa?! dimana perasaan kalian? kalian nggak tau gimana perasaan papah disaat nggak ada yang peduli sama dia bahkan istrinya sekalipun" lanjut Mahen mengeluarkan unek-unek yang selama ini mengganjal di hatinya.

Kakek menghela napas "Mahen, kamu nggak bisa berpikir begitu. Kami semua peduli sama Papah kamu, tapi kami nggak tahu gimana cara membicarakan tentang hal itu."

"Tapi kenapa kakek nggak pernah membicarakan apapun tentang Papahku?" tanya Mahen dengan suara yang semakin keras. "kenapa kakek nggak pernah jenguk papah di penjara?"

Kakek menunduk dan memandang lantai. "Mahen, kakek... kakek nggak tahu gimana cara menjelaskan hal ini sama kamu. Tapi kakek akan mencoba."

Kakek berhenti sejenak sebelum melanjutkan, "Papah kamu melakukan kesalahan, Mahen. dia melakukan sesuatu yang sangat salah, dan itu membuat banyak orang terluka. saat itu kamu berusia sepuluh tahun, kakek yakin kamu masih mengingatnya meskipun sedikit"

"Tapi itu bukan berarti kakek bisa nggak peduli sama Papah aku sedikitpun!" kata Mahen dengan suara yang sedikit bergetar.

Kakek mengangkat tangan dan memandang Mahen dengan teduh, "Mahen, kakek peduli sama Papah kamu. kakek peduli sama kamu dan seluruh keluarga kita. Tapi kakek juga harus memikirkan tentang apa yang benar dan apa yang salah."

Mahen menatap Kakek dengan mata yang memerah. Ia tidak yakin apakah ia percaya pada Kakek atau tidak.

"Kakek, aku pengin kakek jenguk Papah aku di penjara," kata Mahen dengan suara yang mulai merendah.

Kakek menatap Mahen dengan mata yang lembut.

cukup lama kakek terdiam, "kami belum siap Mahen, melihat papahmu selalu mengingatkan pada masalalu yang seharusnya tak perlu diingat." jawaban sang kakek tidak membuat Mahen puas. Mahen yakin ada sebab lain yang membuat keluarganya bahkan mamahnya sendiri tidak mau mengunjungi dan menjenguk papahnya.

"apa kakek nggak mau jenguk papah barang sekali pun?" tanya Mahen lagi. "kakek belum tau" jawaban kakeknya justru membuat Mahen kesal. Mahen tidak bertanya lagi dan memilih untuk diam.

"apa susahnya sih jenguk papah? toh sebenarnya yang salah bukan papah. Tante Fero, gara-gara Tante kakek sama nenek, bahkan mamah aku sendiri nggak ada yang peduli sama papah." Mahen bergumam dalam hati. kebenciannya terhadap Tantenya makin bertambah saat melihat kakeknya tidak peduli pada papahnya, menantu kakek Hardjo sendiri.

"sudah malam Mahen, tidurlah. kakek juga mau istirahat" Mahen tidak menyahuti ucapan kakeknya. kakek Hardjo yang tau Mahen kesal padanya pun melanjutkan ucapannya, "kapan-kapan kakek luangkan waktu untuk jenguk papah kamu. istirahatlah." setelah mengucapkan itu kakek Hardjo berlalu pergi meninggalkan Mahen yang masih berdiri di balkon dengan tangan yang terkepal menahan emosi.

Mahen memandang punggung kakeknya yang semakin menjauh. setelah kakek Hardjo benar-benar menghilang dari pandangannya, Mahen pun beranjak dari tempatnya berdiri, meraih jaket yang tadi ia gantung lalu bergegas pergi meninggalkan rumah sang kakek.

Felicia yang mendengar deru mobil dari dalam kamar pun mengintip melalui jendela. melihat mobilnya berlalu keluar gerbang ia yakin yang pergi itu adalah putranya. "biarlah, mungkin main ke rumah temannya" batin Felicia. ia tidak tahu jika putranya baru saja bersitegang dengan kakeknya, ayah Felicia sendiri.

**

Mahen menghempaskan tubuhnya di sofa. saat ini ia berada di rumah Herdi, salah satu teman dekatnya. Mahen tidak pernah pergi ke club untuk menghilangkan stress.

"kenapa Lo?" tanya Herdi yang baru saja kembali dari dapur sambil membawa minuman dan camilan. "jenuh aja di rumah" jawab Mahen sekenanya, tangannya meraih gitar yang ada di sampingnya.

"rumah kakek maksud Lo?" tanya Herdi lagi. Herdi tahu sedikit banyaknya cerita masalalu keluarga besar Mahen. mahen tidak menjawab pertanyaan Herdi. melihat Mahen yang diam saja Herdi yakin tebakannya benar.

"Lo nggak tau apa-apa Hen, mending jangan terlalu benci sama keluarga Lo. Lo kan nggak tau kejadian yang sebenarnya kaya gimana" ucap Herdi memberi saran.

Mahen menoleh pada Herdi dengan tatapan yang aneh. Herdi merasa, meskipun Mahen menatapnya tetapi hati dan pikiran Mahen tidak tertuju padanya. "napa lu?" tanya Herdi sambil menyeruput secangkir kopi.

"menurut Lo Tante Fero sekarang ada dimana? masih hidup atau udah meninggal?" tanya Mahen pada Herdi. "lah... Lo yang ponakannya, malah tanya gue" jawab Herdi yang merasa pertanyaan Mahen sangat konyol.

"ya kali aja Lo punya pendapat, menurut pemikiran Lo gitu, Tante Fero sekarang masih hidup atau udah nggak ada? secara kan Tante Fero menghilang udah lama banget. gue mau nyari juga nyari kemana, nggak ada petunjuk sama sekali" jelas Mahen lesu. ia benar-benar merasa buntu. ingin bertanya pada keluarganya juga tidak mungkin.

"ada beberapa kemungkinan si hen, kemungkinan Tante Fero masih hidup itu bisa aja. kemungkinan Tante Fero udah nggak ada juga bisa aja, Tante Fero menghilang setelah keributan yang bukan keributan kecil. bisa aja waktu itu Tante Fero luka parah kan? atau bisa juga Tante Fero masih hidup tapi cacat, dan dia memilih buat mengasingkan diri" akhirnya Herdi mengeluarkan beberapa kemungkinan yang menurutnya masuk akal.

Mahen termenung memikirkan pendapat Herdi, "bisa aja sih begitu. tapi masalahnya gue mau nyari tau kemana?" tanya Mahen lagi. Mahen masih bingung harus memulai pencarian darimana.

"aelahhh Lo ganteng-ganteng tapi begonya kebangetan, Lo kan bisa cari petunjuk di rumah kakek Lo, atau nggak di rumah Lo sendiri dulu. tapi gue ngerasa kalau memang ada petunjuk pasti adanya di rumah kakek Lo deh" lagi-lagi Herdi memang cerdas.

Mahen menatap Herdi dengan mata berbinar. benar kata Herdi, Mahen bisa mencari petunjuk di rumah kakeknya.

karena hari sudah sangat larut, Mahen memutuskan tidur di rumah herdi, lagipula ia masih malas jika harus pulang dan kembali bertemu kakek. Mahen memutuskan untuk pulang besok pagi saja.

1
D_wiwied
smg segera ada titik terang
Rahma Amma
aku suka ceritanya,, ngak muter2
lanjut....
D_wiwied
saingan cinta.. 😂
D_wiwied: mahennya masih bingung tu, antara nao apa oca.. tp menurutku keknya cenderung ke nao ya
Dwi Ade: waduh😱 saingannya detektif handal nih😄
total 2 replies
Celty Sturluson
ceritanya keren abis! Thor, kamu hebat!
Dwi Ade: hallo, terimakasih sudah membaca karya tulis saya. maaf jika karya saya masih banyak kekurangannya 🙏
kritik dan saran saya terima dengan hati😊🙏
total 1 replies
Takahashi HitomiLửa
Lanjutin dong, penasaran banget!
Dwi Ade: hallo, terimakasih sudah membaca karya tulis saya. maaf jika karya saya masih banyak kekurangannya 🙏
kritik dan saran saya terima dengan senang hati 😊🙏
total 1 replies
Kelestine Santoso
Aku bisa merasakan perasaan tokoh utama, sangat hidup dan berkesan sekali!👏
Dwi Ade: hallo, terimakasih sudah membaca karya tulis saya. maaf jika karya saya masih banyak kekurangannya 🙏
kritik dan saran saya terima dengan senang hati 😊🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!