NovelToon NovelToon
Bukit Takdir

Bukit Takdir

Status: sedang berlangsung
Genre:Trauma masa lalu / Misteri Kasus yang Tak Terpecahkan / Mafia / Cintapertama / Epik Petualangan
Popularitas:9.6k
Nilai: 5
Nama Author: PGR

Ada luka yang tak bisa sembuh oleh waktu. Ada perjalanan yang tak pernah direncanakan, tapi justru mengubah segalanya.
Ketika hidup menggiring Johan Suhadi ke dalam misteri yang tersembunyi di balik sunyinya Bukit Barisan, ia tak lagi sekadar mencari jawaban—ia mencari dirinya sendiri.

Bukit Takdir adalah kisah tentang kehilangan, keberanian, dan pilihan-pilihan sunyi yang menentukan arah hidup.
Karena terkadang, untuk menemukan cahaya, seseorang harus rela tersesat lebih dulu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon PGR, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

"Janji yang Tak Boleh Mati"

Suasana ruangan yang tadinya sunyi, perlahan berubah. Ada tawa. Ada nostalgia. Dan di balik semua itu, ada kehangatan masa kecil yang mencairkan beban di dalam dada.

Keyla duduk bersandar santai di sofa kecil ruangan. Seragam satpamnya sudah dilepas, diganti jaket tipis dan sandal jepit. Ia bukan lagi Keyla yang harus tegas dan profesional. Kini ia hanya tetangga yang pulang kerja, sosok penggoda penuh canda, yang memanggilku dengan nama kecil: Jo.

“Jo, kamu masih ingat nggak waktu kecil aku bilang kalau kucing punya sembilan nyawa, dan kamu langsung percaya?” tanyanya, menahan tawa.

Aku mengernyit, mengeruk memori lama.

“Lupa-lupa ingat, sih, Mbak. Ceritanya gimana lagi?”

Keyla menyeringai.

“Dengerin baik-baik, biar kamu malu dua kali.”

Dan cerita itu mulai terurai, perlahan.

Waktu itu, si Enjel, kucing oranye kesayanganku, tertabrak motor tepat di depan mataku. Tubuh mungilnya menggelepar, lalu diam. Aku kecil panik, tidak mengerti kematian. Aku membawanya ke kamar, memberinya makan dan minum seperti biasa. Ditemani doa anak-anak dan harapan polos, bahwa tidur itu hanya sementara.

Malam datang, dan orang tuaku baru sadar tubuh Enjel mulai dikerubuti semut. Darah kering masih melekat di bulunya. Papa bersiap menguburnya, membungkus tubuh kecil itu dengan kain lusuh.

Aku berdiri di depan pintu, menghalangi langkahnya.

“Pa, jangan dikubur dulu. Dia sebentar lagi hidup lagi,” ucapku yakin.

“Lho, kok bisa gitu, Jo?” tanya Papa heran.

“Kucing kan punya sembilan nyawa, Pa. Ini baru nyawa pertama. Masih ada delapan lagi.”

Papa terdiam, lalu tertawa pelan.

“Siapa yang bilang?”

“Mbak Keyla yang bilang, Pa,” sahutku polos.

Keyla, yang kini duduk bersila di sofa, tak bisa menahan tawa saat mengulang cerita itu.

“Demi Tuhan, Jo. Mukamu waktu itu kayak nabi kecil yang yakin banget mukjizat akan turun malam itu juga!”

Aku menutup wajah, tertawa malu.

“Pantes aja sekarang aku agak takut sama kucing. Mbak yang bikin trauma.”

Keyla ikut tertawa.

Tapi tawa itu perlahan meredup, digantikan jeda hening yang hangat.

Aku menatap ke luar jendela. Senja sudah pergi, malam perlahan menutup kota. Tapi di dalam, hati ini terasa ringan. Sedikit saja. Cukup untuk mengingat, bahwa masa lalu juga bisa membawa senyum.

Aku menatap ke luar jendela.

Senja sudah benar-benar pergi.

Malam menggantung di langit Padang.

“Tapi ngomongin soal hidup dan mati, Mbak…” suaraku mengecil. “Menurut Mbak, janji ke orang yang sudah nggak ada itu… masih perlu ditepati, nggak?”

Keyla menoleh.

Tatapannya berubah.

Ada sesuatu di sana. Seperti ia paham betul apa yang sedang kupikul.

Tapi seperti biasa, ia tidak langsung menjawab.

“Gini, Jo,” katanya pelan. “Menurut kamu, kenapa laut rasanya asin?”

Aku menatapnya bingung.

“Hah? Kenapa, Mbak?”

Ia tersenyum, nakal seperti biasa.

“Karena yang manis itu cuma dua. Janji palsumu… sama senyummu.”

Ia tertawa sendiri.

“Ihh, Mbak,” kataku sambil melempar bantal kecil ke arahnya. “Lagi serius, nih.”

“Oke, oke.” Ia mengangkat tangan, menyerah.

Tawanya mereda.

Lalu suaranya berubah. Lebih dalam. Lebih pelan.

“Kamu pernah dengar soal efek kupu-kupu, Jo?”

Aku menggeleng.

“Katanya, perubahan kecil bisa bikin dampak besar di kemudian hari. Hal sepele, tapi akibatnya panjang.” Ia berhenti sejenak. “Janji juga begitu.”

Aku diam.

“Manusia itu bukan dinilai dari berapa banyak janji yang bisa dia ucapkan,” lanjutnya. “Tapi dari satu janji yang dia tepati. Bahkan kalau orang yang dijanjiin… sudah nggak ada.”

Kalimat itu jatuh pelan.

Tapi rasanya seperti mengetuk bagian dada yang sudah lama tertutup.

Aku tak langsung menjawab.

“Biar kamu lebih paham,” kata Keyla kemudian. Nadanya berubah. Tidak lagi bercanda.

“Mbak ceritain sesuatu, ya.”

Aku mengangguk.

Keyla menarik napas panjang.

Pandangannya kosong, menatap sudut ruangan.

Suaranya tetap tenang.

Tapi ada getir yang tidak ia sembunyikan.

“Dulu,” kata Mbak Keyla pelan, “Mbak kenal seorang anak perempuan.”

Aku diam. Mendengarkan.

“Anak itu tidak dibesarkan oleh ayah dan ibunya. Bahkan sebelum usianya genap tiga tahun, keluarganya sudah hancur.”

Ia berhenti sebentar. Menarik napas.

“Ayahnya pergi. Ketahuan selingkuh. Bukan cuma itu, perempuan yang diselingkuhi sampai hamil. Ayahnya menikah lagi, pindah ke kampung halaman istri barunya. Tidak pernah menoleh ke belakang. Tidak pernah bertanya kabar.”

Aku menelan ludah.

“Ibunya juga pergi,” lanjutnya. “Bukan karena tidak sayang. Tapi karena luka. Wajah anak itu terlalu mirip mantan suaminya. Setiap menatapnya, luka lama terbuka. Akhirnya… ia memilih pergi.”

Keyla terdiam.

Aku tidak berani menyela.

“Anak itu tinggal dengan nenek dari pihak ibu. Nenek tua. Sederhana. Tapi tulus.”

Suaranya makin pelan.

“Anak itu tumbuh tanpa tahu wajah orang tuanya. Tanpa tahu alasan ditinggalkan. Tanpa tahu apa salahnya.”

Ia tersenyum tipis. Pahit.

“Tapi anak itu tidak marah. Tidak dendam. Ia cuma penasaran. Kenapa harus dia.”

Aku menarik napas panjang.

“Waktu berjalan. Dua puluh tahun,” lanjutnya. “Anak kecil itu tumbuh jadi perempuan dewasa. Belajar keras. Bertahan. Saat umur lima belas, neneknya meninggal. Dunia jadi sunyi. Tapi ia tidak runtuh.”

Keyla menatap tangannya sendiri.

“Nenek meninggalkan banyak hal. Bukan harta. Tapi keberanian. Anak itu belajar bikin kue. Dari situ ia sekolah. Bertahan hidup. Sampai akhirnya jadi satpam.”

Ia menoleh ke arahku.

Dan tersenyum.

“Dan anak itu… Mbak.”

Aku tersentak.

“Hah…?”

“Iya,” katanya ringan. “Itu cerita Mbak.”

Aku tercekat. Tidak menyangka.

Lalu ia melanjutkan lagi, lebih pelan.

“Hidup Mbak sempat terasa rapi. Sampai ada seorang pria datang. Melamar. Mbak kira, luka lama sudah selesai.”

Ia menggeleng pelan.

“Ternyata belum.”

Suatu hari, kabar datang. Ibu masih hidup. Terbaring sakit di rumah sakit.

“Mbak datang,” katanya. “Dengan kepala penuh tanya.”

Ia terdiam lama, lalu berkata lirih,

“Waktu pertama kali bertemu, kami hanya saling menatap. Lama. Lalu ibu Mbak menangis. Ia bilang… ‘Sini, Nak. Peluk ibu.’”

Aku menunduk.

“Mbak peluk dia. Pelukan yang Mbak simpan seumur hidup.”

Suaranya bergetar.

“Ibu cerita semuanya. Ia pergi bukan karena tidak cinta. Tapi karena takut. Takut kebenciannya melukai anaknya sendiri.”

Keyla menghela napas.

Keyla terdiam cukup lama setelah bercerita.

Matanya menatap kosong, seperti melihat sesuatu yang jauh.

“Di rumah sakit itu,” katanya pelan, “sebelum ibu Mbak pergi…”

Ia menelan ludah.

“Ibu pegang tangan Mbak. Lemah. Tapi hangat.”

Suaranya bergetar sedikit, tapi tetap tertahan.

“Ibu bilang satu hal. Cuma satu.”

Aku menatapnya.

“Nak, jangan hidup dengan luka.

Jangan ulangi kesalahan ibu.

Jalani hidupmu dengan utuh.”

Keyla menghela napas panjang.

“Mbak janji waktu itu, Jo.”

Senyumnya tipis.

“Bukan janji besar. Bukan janji muluk.”

Ia menggeleng pelan.

“Cuma janji untuk tidak berhenti hidup.”

“Tidak terjebak di masa lalu.”

“Tidak membiarkan kehilangan mengendalikan langkah.”

Ia menatapku.

“Dan ibu pergi dua hari setelah itu.”

“Tenang.”

Aku terdiam.

Kata-kata itu masuk pelan, tapi menghantam tepat.

“Sejak saat itu,” lanjutnya, “setiap kali hidup berat… setiap kali Mbak capek… Mbak ingat satu hal.”

Ia mengetuk dadanya pelan.

“Janji itu.”

Aku menarik napas dalam.

“Jadi…” suaraku hampir berbisik,

“janji itu bukan buat orang yang sudah pergi?”

Keyla tersenyum.

“Bukan.”

“Janji itu buat yang ditinggalkan.”

Ia menatapku lebih dalam.

“Jo, orang bisa kehilangan siapa saja.”

“Tapi kalau dia sampai kehilangan janji pada dirinya sendiri…”

“Itu yang benar-benar mematikan.”

Aku menunduk.

Dan saat itu aku paham.

Ini bukan cuma tentang Mbak Keyla.

Ini tentang aku.

Tentang janji yang belum selesai.

Tentang Keysha.

Keyla berkata pelan, seolah menutup percakapan,

“Kalau kamu masih ingat janji itu…

jangan hanya simpan di kepala.”

Ia tersenyum hangat.

“Jalani.”

“Dua hari setelah itu, ibu Mbak meninggal.”

Tenang.

“Masih ada pertanyaan yang belum terjawab. Tapi satu hal Mbak tahu… hidup ini milik Mbak.”

Aku mengusap mata. Tanpa sadar.

Keyla menatapku.

“Nah, Jo… sekarang menurut kamu. Janji itu perlu ditepati atau tidak?”

Aku mengangguk pelan.

“Perlu, Mbak. Kepada siapa pun. Bahkan kepada orang yang sudah tidak ada.”

Ia tersenyum. Hangat.

“Bagus,” katanya.

“Janji yang ditepati itu bukan buat orang lain. Tapi buat membebaskan diri sendiri.”

Aku diam.

Dan untuk pertama kalinya setelah lama… dadaku terasa lebih ringan.

Keyla menatapku lebih lama dari biasanya.

Tatapan orang yang sudah terlalu lama mengenalku, sampai tak perlu banyak kata.

“Jo,” katanya pelan, “boleh Mbak jujur?”

Aku mengangguk.

“Enam tahun ini, kamu hidup… tapi seperti berhenti di satu titik.”

Ia tidak menuduh. Tidak menghakimi.

“Kayak orang yang bangun tiap pagi, tapi hatinya nggak ikut bangun.”

Aku tersenyum. Senyum yang kutahu palsu, tapi sudah terlalu sering kupakai.

“Kalau nanti semua urusanmu selesai,” lanjutnya, suaranya turun,

“cobalah buka sedikit ruang. Nggak perlu langsung besar. Sedikit saja. Untuk hidup yang baru, orang yang baru.”

Aku menarik napas panjang.

“Aku bakal coba, Mbak,” jawabku.

Entah itu janji, entah cuma harapan.

Nama itu kembali lewat di kepalaku.

Vinda Puti Keysha.

Setiap kali nama itu muncul, senyumku selalu berubah jadi pura-pura.

Mataku tetap terbuka, tapi hatiku menutup rapat.

Aku memalingkan wajah ke jendela.

“Eh, Mbak… kayaknya suami Mbak nunggu di bawah.”

Keyla ikut melirik, lalu tersenyum kecil.

“Iya juga. Keasyikan ngobrol.”

Belum sempat ia berdiri, ponselnya berdering.

Ia tertawa.

“Nah kan. Dia tahu aja kalau lagi dibahas.”

Aku ikut tertawa.

Tawa yang ringan. Bukan karena bahagia, tapi karena lelah.

“Jo,” katanya sambil meraih tasnya,

“makasih ya… sudah mau dengerin cerita Mbak.”

“Justru aku yang makasih,” jawabku.

“Udah mau jujur.”

Keyla melangkah pergi.

Langkahnya pelan, lalu hilang di ujung lorong.

Aku tetap duduk.

Sendiri.

Malam Padang menggantung di luar jendela.

Tenang. Diam.

Di kepalaku masih ada masa lalu.

Masih ada janji yang belum kutepati.

Tapi malam ini,

untuk pertama kalinya setelah sekian lama,

aku merasa…

mungkin hidupku belum benar-benar selesai.

1
cimin
ya ampun aku tiap hari liat bukit barisan pas berangkat kerja hhuh
Mika
kejar kejaran yang dag Dig dug serr
Lara12
makin seru aja ceritanya nih/Scream/
Aline1234
lanjutkan sob
Aline1234
lanjut sob
Lara12
🥲
Like_you
alur yang menarik 😄
Like_you
/Whimper/
Like_you
/Brokenheart/
Lara12
❤️❤️
Mika
akhirnya janji dihutan dulu akhirnya terpenuhi /Chuckle/
Mika
Janji yang menyelamatkan johan/Heart/
Lara12
recommended banget sih, cerita nya penuh misteri, aku suka😆
Mika
ga sabar nunggu kelanjutannya, hehe
Pandu Gusti: Makasih ya, ditunggu ya setiap pukul 8 pagi 🙃
total 1 replies
Mika
sidang terepik yang pernah aku baca
Mika
mudah banget baikan nya/Tongue/
Mika
🤣🤣
Mika
kok yang nama nya Mulyono pada gitu ya orang nya/Curse/
Mika
jangan lapor polisi, lapor damkar aja/Smirk/
Mika
kemana ya keluarganya?/Brokenheart/
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!