Indah, seorang gadis dari kampung yang merantau ke kota demi bisa merubah perekonomian keluarganya.
Dikota, Indah bertemu dengan seorang pemuda tampan. Keduanya saling jatuh cinta, dan mereka pun berpacaran.
Hubungan yang semula sehat, berubah petaka, saat bisikan setan datang menggoda. Keduanya melakukan sesuatu yang seharusnya hanya boleh di lakukan oleh pasangan halal.
Naasnya, ketika apa yang mereka lakukan membuahkan benih yang tumbuh subur, sang kekasih hati justru ingkar dari tanggung-jawab.
Apa alasan pemuda tersebut?
Lalu bagaimana kehidupan Indah selanjutnya?
Akankah pelangi datang memberi warna dalam kehidupan indah yang kini gelap?
Ikuti kisahnya dalam
Ditolak Camer, Dinikahi MAJIKAN
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mama Mia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
35
Pagi hari di rumah keluarga Rama Wijaya..
Hari-hari terus berlalu begitu cepat. Hingga tanpa terasa, kini, usia kandungan Indah telah menginjak bulan ke-delapan. Perutnya semakin membuncit, semakin nyata pula tanda kehadiran si kecil yang dinanti.
Nyonya Felly semakin hari semakin terlihat over protektif. Dia memperlakukan kandungan indah, seolah itu adalah cucu kandungnya sendiri.
Wanita tua itu, dengan segala kasih sayangnya, mulai membatasi ruang gerak Indah. Setiap apapun yang indah lakukan selalu dalam pengawasannya. Tidak boleh ini tidak boleh itu. Seolah begitu takut terjadi sesuatu pada kandungan Indah.
Terkadang Indah merasa jenuh. Merasa dirinya tak lagi bisa bergerak bebas, tetapi meskipun begitu, Indah merasakan kebahagiaan, karena dicintai dengan begitu besar.
Apa boleh buat meskipun itu bukan cucunya darah dagingnya sendiri, nyatanya Nyonya Felly sudah terlanjur jatuh cinta pada janin itu, dan sudah menganggap itu sebagai cucu kandungnya sendiri.
Malam telah beranjak pagi, Indah menggeliat sambil mengucek kedua matanya. "Ngghh, sudah pagi rupanya…" gumamnya. Melirik jam dinding yang berada tepat di depan tempat tidurnya, waktu baru menunjukkan pukul 04.00 pagi.
Bergegas wanita itu turun dari tempat tidur kemudian dengan hati-hati seraya sebelah tangannya menyangga perutnya yang semakin membesar, melangkah menuju kamar mandi untuk membersihkan diri sekaligus mengambil wudhu. Sebentar lagi waktunya shalat subuh tiba.
Adzan subuh berkumandang tepat saat indah selesai membersihkan diri. Wanita dengan perut yang membesar itu segera menjalankan kewajibannya, dilanjut dengan mengaji. Indah tak buru-buru keluar kamar. Tak Ada Yang bisa dikerjakannya, karena nyonya Felly melarangnya banyak beraktivitas. Terkadang ada rasa sungkan di hatinya, tetapi dia juga tak bisa membantah keinginan nyonya Felly.
*
Nyonya Felly masuk kamar Indah dengan nampan di tangan. "Sudah bangun, Sayang? Mama membawakan susu dan sarapan ringan untukmu. Hari ini Rama tidak sarapan di rumah, jadi Mama bawa sarapan kamu ke kamar saja.”
Indah mengernyit bingung, "Memangnya Mas Rama ke mana, Ma?" Seingat wanita itu, Tuan Rama tidak pergi kemana-mana. Apalagi masih sepagi itu, biasanya Tuan lama berangkat bekerja jam 07.30.
“Mama juga tidak tahu. Hanya saja tadi pagi-pagi sekali Daniel sudah datang menjemput,” jawab Nyonya Felly. “Sekarang kamu sarapan dulu ya.”
“Seharusnya Mama tidak perlu repot-repot seperti ini. Aku masih bisa bergerak pergi ke ruang makan Ma,” ucap indah. Wanita itu sangat merasa tak enak hati atas perlakuannya Felly padanya. Apalagi saat ini hari masih benar-benar pagi, dan sebenarnya belum waktunya untuk sarapan.
“Repot apaan sih, orang Mama memang suka kok.” Nyonya Felly mengabaikan rasa tak enak hati Indah. “Kamu mungkin belum merasa lapar, tapi anak dalam kandunganmu butuh nutrisi segera.”
Tidak peduli. Nyonya Felly menarik indah agar segera duduk di tepi ranjang bersamanya. Bahkan wanita itu mengulurkan roti sandwich ke depan mulut Indah.
Serta merta, Indah menubruk memeluk nyonya Felly. Air matanya merembes tanpa permisi. “Terima kasih, Ma. Terima kasih untuk semua kebaikan dan kasih sayang Mama,” ucapnya.
“Hehh,,, apa sih?” Nyonya Felly membalas pelukan itu dengan hangat, sebelah tangannya mengusap perut Indah.
Ana yang kebetulan lewat, karena hendak menyiram bunga di taman depan, mengintip karena pintu kamar yang tak tertutup, dan melihat adegan penuh kasih sayang itu dengan dua tangan terkepal. “Apa istimewanya cewek kampung itu, sampai-sampai tuan muda dan nyonya besar selalu memberi perhatian lebih padanya?” Wajahnya merah padam oleh rasa iri dan dengki yang membara.
Rasa tidak sukanya pada Indah semakin memuncak. Ana menggertakkan giginya. "Ini belum berakhir," gumamnya. “Jangan seneng dulu ya, cewek udik. Aku akan membuat semuanya berubah,” tekadnya. “Besok hari Minggu. Aku harus ketemu nona Selena!”
***
Ruangan kerja Tuan Hardi Handoko, penuh dengan berkas berserak. Tuan Hardi Handoko menatap Jerry yang duduk di hadapannya. Rambut hitam Jerry tampak berantakan. Menggambarkan hatinya yang gelisah dan kacau.
"Jerry, Papa bicara serius," ucap Tuan Hardi Handoko, suaranya lembut namun tegas. "Pernikahanmu dengan Mia sudah berjalan tiga bulan, tapi Papa melihat kamu tidak bersikap sepenuhnya terbuka dengannya."
Jerry menghela napas, matanya menatap lantai. "Papa, aku… aku tidak bisa membohongi diriku sendiri. Aku berusaha, sungguh. Tapi aku belum bisa mencintai Mia sepenuhnya. Hatiku masih terpaut sepenuhnya pada Indah." Jerry mengungkapkan semua bebani yang menghimpit dadanya.
"Apalagi mengingat dia bersanding dengan Tuan Rama, apa papa tidak melihat perutnya yang buncit? Apa papa tidak merasa itu adalah cucu Papa?"
Tuan Hardi Handoko terdiam dengan rahang mengeras. Marah, kecewa, namun tetap berusaha untuk tenang. "Tapi sekarang Kamu telah menikah dengan Mia. Seharusnya Kamu sudah bisa melupakan Indah. Belajarlah mencintai Nona Mia. Dia itu sumber kehidupan kita."
Jerry menggelengkan kepalanya, suaranya meninggi sedikit. "Jangan menekanku, Pa! Bukan kemauan aku untuk menikah dengan Mia! Papa yang terus mendesak, Papa yang takut akan kebangkrutan dan butuh uang dari keluarga Mia!" Air mata mulai menggenang di sudut matanya.
"Aku merasa terjebak, Pa! Papa memaksa ku untuk menikahi Mia demi menyelamatkan perusahaan Papa!" Jerry menunduk dengan bahu bergetar. "Padahal Papa tahu, kalau Aku mencintai Indah. Tapi Papa yang egois. Dan sekarang aku harus berpura-pura mencintai Mia? Apa menurut Papa itu sesuatu yang mudah hatiku ini terbuat dari segumpal darah, Pa. Bukan batu!"
Tuan Hardi Handoko murka mendengar ucapan anaknya. "Jerry!” bentaknya. “Ini bukan hanya untuk Papa, ini juga untuk masa depanmu. Kelangsungan hidup perusahaan kita, dan bahkan hidupmu sendiri kelak, bergantung pada suntikan dana dari Tuan Hartawan, Papa Mia. Kamu harus mengerti itu."
“Papa bohong, munafik. Mengatasnamakan hidup kita. Padahal itu semua hanya untuk Papa. Papa yang takut hidup miskin, Bukan Aku. Aku bahkan sudah siap melepas semua yang pernah Papa berikan waktu itu.”
“Tapi kemudian Papa berpura-pura sakit. Apa papa pikir aku tidak tahu. Aku tahu semuanya, Pa. Aku tahu kalau ternyata waktu itu papa cuma berpura-pura. Aku menyelidiki semuanya. Dan bahkan semua obat-obatan di kamar papa itu hanya vitamin. Apa Papa pikir aku sebodoh itu hingga tak bisa mengerti apapun?”
Kemarahan Jerry meluap setiap kali mengingat hari itu. Hari di mana dia merasa begitu cemas, takut akan kehilangan papanya. Siapa sangka semua itu hanya sandiwara untuk menjeratnya. Dia merasa terkhianati.
Tuan Hardi melunak, menyadari bahwa menghadapi Jerry tidak boleh menggunakan kekerasan. Pria itu kemudian menatap Jerry dengan tatapan penuh harap. "Papa mengaku salah, Papa menyesali semuanya, tetapi Papa tidak memiliki pilihan waktu itu. Sekarang Papa mohon, jangan biarkan kehidupan kita berakhir buruk. Tolong tetap bersikap baik pada Mia. Masa depan kita semua bergantung padanya."
Jerry terdiam sejenak, menghapus air matanya. Dia sendiri sebenarnya tidak peduli apapun. Bahkan dia sudah siap jika seandainya dia harus hidup miskin. Dia masih bisa mencari pekerjaan. Akan tetapi jika mengingat, bahwa perusahaan yang saat ini dipegang oleh papanya, adalah peninggalan kakeknya yang telah dibangun dengan susah payah, mau tak mau dia harus mengalah. Mungkin dia akan mencoba mempertahankannya. Dan satu-satunya cara adalah tetap berada di samping Mia, meskipun itu berlawanan dengan hatinya.
"Aku akan mencoba, Pa. Tapi jangan tekan aku. Aku butuh waktu." Suaranya bergetar, namun ada sedikit tekad yang mulai muncul.
“Papa tahu Kamu anak yang berbakti. Dan Papa bangga serta berterima kasih untuk semua itu. Sekarang dengarkan saran papa, segera miliki anak dengan Nona Mia. Nona Mia adalah anak tunggal. Jika kamu memiliki anak dengannya, maka bisa dipastikan semua harta milik Tuan Hartawan akan diwariskan pada anak kalian.”
“Bagaimana kalau ternyata kami tidak bisa memiliki anak?” Jerry menatap wajah papanya.
“Apa maksudmu? Kenapa berbicara seperti itu?” Tuan Hadi merasa geram mendengar ucapan putranya.
“Usia pernikahan kami sudah mencapai 3 bulan. Dan sampai saat ini Mia belum juga menunjukkan tanda-tanda kehamilan. Bagaimana jika ternyata kutukan Indah menjadi kenyataan??”
“Omong kosong! Untuk apa berbicara yang tidak penting. Jika saat ini Nona Mia belum hamil maka berusahalah!”
Tanpa mereka sadari, di balik pintu yang tak tertutup rapat, Mia mendengar semua pembicaraan mereka. Kata-kata Jerry membuat hatinya hancur berkeping-keping. Selama ini dia mencintai Jerry dengan tulus, memperlakukannya dengan baik, memenuhi apapun yang Jerry dan tuan Hardi butuhkan. Mengapa Jerry bisa bersikap demikian? Apa yang kurang darinya, hingga tak bisa membuat Jerry mencintainya? Air mata mengalir deras di pipinya.
“Jadi selama ini aku hanya alat? Hanya sebuah transaksi bisnis? Aku mencintainya dengan tulus, aku berusaha menjadi istri dan menantu yang baik. Tapi ternyata Aku hanya sebuah kepingan dalam permainan bisnis keluarga mereka?” Sebuah amarah menyala di dalam hatinya, menggantikan rasa sakit.
“Tidak… aku tidak akan membiarkan ini terjadi begitu saja. Aku akan membuatnya bertekuk lutut, mengemis cintaku! Aku akan membuat dia jatuh cinta padaku, atau dia harus membayarnya dengan penyesalan!” Mia mengusap kasar air matanya dengan punggung tangan, sebuah tekad membara dalam dirinya.
“Papa,,, Papa harus tahu semua ini. Papa harus tahu bahwa dia hanya dimanfaatkan.”
bukan rama
tapi sama aja sih😅😅