Damian yang mulai menutup diri setelah memilih pergi dari rumah. tiba-tiba mengetahui bahwa ayahnya telah “membeli” seorang pengantin untuk merawatnya. Gadis pengantin tersebut bernama Elia yang merupakan siswinya di sekolah. Elia muncul di depan pintunya, dan menyatakan bahwa Dia dikirim oleh ayah Damian untuk menjadi pengantinnya.
Elia terpaksa menerima takdirnya sebagai istri yang tak di inginkan oleh Damian, demi membantu orang tuanya yang memiliki hutang dengan keluarga Toma.
"Namaku adalah Elia. aku disini untuk menjadi pengantinmu." ~Elia
"Aku adalah Gurumu." ~Damian
Menjadi seorang pengantin 18 tahun untuk gurunya sendiri, apakah Elia mampu mencairkan jiwa gunung es suaminya?
ig : unchiha.sanskeh
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon unchihah sanskeh, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pengantin dan Guru
Pesimis, Tak ada tujuan hidup lagi, Hatiku yang kosong. Inilah aku, Damian Toma. Seorang pria kesepian tanpa mengenal kasih sayang. Cemas dengan kehidupan dunia, putus asa dengan hidup, hilang harapan akan masa depan. Semua itu, tercermin dalam hidupku.
Aku terlahir dari keluarga orang kaya dan di besarkan tanpa kasih sayang dari keluargaku, kami hidup masing-masing dan sibuk dengan kehidupan sendiri-sendiri. Lalu kejadian kelam itu terjadi saat ibu mengalami kecelakaan di luar kota. Aku memang benci kesendirian tetapi aku mencintai dan berharap di cintai pula oleh mereka. Namun, aku semakin berputus asa dan mati ketika...
“Ini Rinna, calon istri baru ayah dan calon ibu tiri kamu.”
Aku kehilangan semuanya, dari ibu, kebersamaan yang aku impikan, dan Ayah yang ingin menikah lagi dengan perempuan lain.
“Aku tidak perduli. Senang-senanglah dengan wanita yang kamu beli.”
“Damian..!”
“Kalau kamu tidak bisa menerima dan menghargai Rinna di sini, artinya kau sudah tidak ingin lagi menjadi bagian keluarga Toma. Enyahlah dari hadapanku.”
Kecewa tapi aku tidak terkejut, aku memang tak pernah akrab dengan siapapun di keluarga ku sendiri. Aku sudah kehilangan mereka sejak lahir.
“Baik.”
Aku pergi dan tinggal di sebuah Villa milik nenek di pegunungan Nikho, dan menjadi seorang guru di sekolah menengah atas di sana. Untuk hidup sendiri saja sudah susah, apa aku juga akan mati dalam kesepian?
semalaman aku hanya bisa melamun menatap plafon kamar. Oh, benar. Sama seperti saat aku lahir. Kasur ini mungkin akan jadi tempat ku selamanya berbaring dan peti saat aku mati nanti.
Di langit malam hari tanpa bulan, ada cahaya yang berkilauan. Ah, bayangan bintang itu mungkin adalah wujud sebuah harapan. Hidupku sudah berakhir bersama ibu, dua tahun yang lalu. Aku masih bisa membuka diri meski hidup tanpa perhatian, asalkan mereka lengkap dan aku bisa selalu melihat mereka dari kejauhan. Tetapi untuk menerima orang baru? Hatiku sulit. Aku yang semakin menutup diri memutuskan untuk enyah, saat perempuan lain akan masuk sebagai pengganti ibu.
Cahaya yang menerangi masa depanku, Tidak bisa aku lihat. Tidak bisa... sedikitpun.
Mungkin lebih baik aku tidur selamanya saja seperti ini, tidak usah bangun lagi. Tetapi tiba-tiba bintang baru muncul, sinarnya kelap-kelip menerangi langit.
“Permisi!”
“Selamat malam!”
Siapa yang datang malam-malam begini, di musim dingin bersalju ini? aku bangun dan berjalan dengan malas, persis seperti orang yang hidup tanpa gairah.
“Kamu Siapa?”
Aku menatapnya datar, sedikit membuatnya tertekan. ketika aku menggeser pintu, Seorang gadis yang tersenyum terlihat begitu anggun. semuanya dari ujung rambut sampai ke ujung jari. Dia menggigil karna hanya menggunakan mantel tipis tanpa sarung tangan.
“Halo, Tuan Toma. Namaku adalah Elia.”
Lalu dia mengangkat kepalanya pelan-pelan, hingga aku mampu melihat jelas wajahnya.
“Aku datang ke sini untuk menjadi pengantinmu.”
Aku sedikit terkejut, saat dia berkata sambil tersenyum. aku mampu menangkap binar matanya yang ceria. Seperti sekuntum bunga yang bermekaran di musim semi.
“Eh? Hah? Anda.....Pak Damian?”
Tiba-tiba mata yang berbinar itu menatapku nanar, dia mengetahui nama depanku. Hingga ku sadari sesuatu saat mantelnya sedikit terbuka. Dia masih mengenakan seragam sekolah. Seragam tempat aku mengajar.
“Lalu, kamu adalah siswi ku di sekolah?”
Dia menjadi kikuk, dia kebingungan setelah menyadari siapa yang dia sebut pengantinnya. Ujung jarinya memerah. Mungkinkah sekuntum bunga ini begitu nekad mendatangi pria.
“Aku adalah Gurumu.”
...****************...
Mampir juga ke adiknya a' dami yuk