NovelToon NovelToon
Heir To Immortality

Heir To Immortality

Status: sedang berlangsung
Genre:Misteri / Fantasi / Wuxia
Popularitas:3.4k
Nilai: 5
Nama Author: Danzo28

Pria Terbuang, Topeng Hitam, dan Kekuatan Kuno yang Mengguncang Alam Kultivasi!

​Dibuang oleh keluarga sendiri karena dianggap sampah tanpa masa depan, Lu Mingseng bangkit bersama warisan tiga pembimbing kuno. Dengan topeng hitam separuh wajah dan anomali struktur energi di tubuhnya, ia siap menuntaskan dendam masa lalu dan membakar jalurnya menuju puncak keabadian!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Danzo28, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Warisan Balai Penempaan Darah

​"Siapa di antara kalian yang telah menyerap bunga darahku?"

​Suara tua itu menggelegar, mengguncang seluruh kawasan Gunung Awan. Bebatuan runtuh dari dinding lereng, sementara akar-akar pohon mencuat liar seolah gunung itu bangkit dari tidur panjangnya.

​Lu Mingseng berdiri terpaku di depan pintu kuno, menahan napasnya rapat-rapat.

​Di belakangnya, Fang Rui bersama dua pengikutnya telah tersungkur berlutut, tak kuasa menahan tekanan tak kasat mata. He Yong, pemuda yang sempat ditolong Mingseng, mencoba bangkit meski kedua kakinya bergetar hebat.

​Tak ada yang berani membuka suara.

​Sesaat kemudian, pendar cahaya merah keunguan menyapu barisan mereka. Cahaya itu melewati Fang Rui dan yang lainnya, lalu berhenti tepat di hadapan Mingseng.

​"Jadi, kaulah orangnya," suara tua itu kembali bergemuruh.

​Mingseng mengepalkan tangan erat-erat. "Aku tidak sengaja menyerapnya. Cairannya meresap sendiri saat jariku menyentuh kelopak bunga itu."

​"Kesengajaan bukan urusanku," sahut suara itu dingin. "Yang kuhitung hanyalah hasilnya."

​Brak!

​Pintu batu bergetar hebat. Dari dalam kegelapan pekat, sesosok tangan kerangka yang diselimuti api merah keunguan terulur keluar dan mencengkeram udara. Seketika, tubuh Mingseng terangkat melayang.

​"Argh!" Mingseng meronta, namun tenaga penahan itu berada di luar batas kemampuannya.

​Melihat celah tersebut, Fang Rui langsung bangkit dan lari terbirit-birit. "Kakak Fang, tunggu kami!" seru dua pengikutnya panik.

​He Yong menoleh dengan wajah pucat. Pemuda yang baru saja menyelamatkan nyawanya kini ditarik paksa menuju reruntuhan gelap itu.

​Rasa takut merayap di dadanya, tetapi He Yong menggeretakkan gigi. Ia berbalik dan berlari kembali mendekati Mingseng.

​"Apa yang kau lakukan?!" teriakan Fang Rui terdengar samar di kejauhan.

​He Yong mengabaikannya. Ia melompat dan meraih lengan Mingseng. "Pegang tanganku!"

​Mingseng terbelalak. "Pergi! Kau tidak akan sanggup melawan kekuatan ini!"

​"Aku tahu!" seru He Yong dengan napas memburu. "Tapi kau telah menyelamatkan hidupku. Aku tidak akan menjadi pengecut yang meninggalkanmu!"

​Dunia Mingseng seolah berhenti sejenak. Sejak kecil, ia terbiasa dibuang—saat ibunya sakit, keluarga menutup pintu; saat ia dihina, orang-orang tertawa; saat ia jatuh, tak ada satu pun tangan yang menolong. Namun hari ini, di tempat terkutuk ini, seseorang yang baru ia kenal justru mempertaruhkan nyawa demi dirinya.

​Kehangatan menyusup di dadanya. Namun tarikan dari balik pintu semakin brutal, membuat He Yong ikut terseret maju.

​Mingseng menyadari bahaya tersebut. Jika ia terus bertahan, nyawa He Yong akan melayang sia-sia.

​"Guru!" teriak Mingseng dalam batinnya. "Apakah ada cara menghentikannya?"

​"Aku sedang mencoba membaca formasinya," jawab roh Kaisar Abadi dengan nada tegang. "Tapi kekuatan pintu ini melampaui batas pemahamanku saat ini."

​Mingseng mengambil keputusan bulat. Ia mendongak menatap kegelapan di hadapannya.

​"Hei! Suara dari dalam!" panggil Mingseng lantang. "Jika kau menginginkan orang yang menyerap bunga itu, lepaskan dia! Aku akan masuk sendiri!"

​He Yong membelalakkan mata. "Lu Mingseng, jangan!"

​Cahaya merah berdenyut. Suara tua itu tertawa pelan. "Kau rela menyerahkan nyawa demi seseorang yang hampir tidak kau kenal?"

​"Ia menyelamatkan nyawaku dengan tidak meninggalkanku. Aku tidak akan membalasnya dengan menyeretnya ke kematian," ucap Mingseng tegas. "Jika yang kau cari adalah aku, ambillah."

​Keheningan melanda sesaat. Cengkeraman itu melepas He Yong, lalu menarik Mingseng melesat masuk menembus pintu batu.

​He Yong jatuh terjerembab. "Lu Mingseng!"

​"Pergi! Cari Tetua Xu dan laporkan tempat ini!" teriak Mingseng sebelum pintu batu itu menutup rapat dengan gemuruh dahsyat, meninggalkan Gunung Awan dalam keheningan mencekam.

​Di Dalam Balai Penempaan Darah

​Di ruang batinnya, roh Kaisar Abadi bersiap melindungi kesadaran Mingseng. Namun, gelombang energi merah dengan mudah menyapu pertahanannya, menyisakan teror dari era yang telah musnah.

​"Siapa kau sebenarnya?" tanya sang Kaisar waspada.

​"Seorang Kaisar Abadi yang kehilangan raga fisik. Menarik," balas suara tua itu langsung di dalam kesadarannya. "Apa tujuanmu membawa pemuda ini?"

​"Aku hanya ingin tahu, mengapa sisa Bunga Darah memilih masuk ke tubuh anak yang bahkan belum menjejak tahap Pengumpulan Qi."

​"Kalau begitu, kita punya satu tujuan."

​Cahaya merah melingkupi tubuh Mingseng, memadamkan kesadarannya.

​Ketika ia membuka mata, ia sudah berada di atas altar batu yang dingin. Di hadapannya, berdiri sesosok pria tua kurus seperti kerangka dengan rambut putih berantakan dan mata berpendar merah.

​"Bangunlah, anak muda," ucap pria tua itu.

​Mingseng bangkit menahan nyeri. "Siapa Anda?"

​"Aku penjaga tempat ini," jawab pria tua itu. Ia menyentuh dahi Mingseng untuk memeriksa jalur energinya, namun kernyitan heran muncul di wajahnya saat mendapati dinding kabut tebal yang menutupi struktur tubuh pemuda itu. "Aneh... Tubuh yang sangat sulit dibaca."

​"Apakah Anda akan membunuhku?" tanya Mingseng.

​Pria tua itu tertawa parau. "Jika aku mau, kau sudah menjadi abu. Sebaliknya... Aku akan memberimu kesempatan mewarisi Balai Penempaan Darah. Caranya? Bertahan hidup."

​Ujian Pertama: Tungku Api Penempaan

​Pintu terbuka, memperlihatkan ruangan kecil dengan tungku berisi api merah keunguan.

​"Masuklah," perintah sang penjaga. "Api itu akan melumat kotoran di tubuhmu dan menguji apakah ragamu layak menahan energi Bunga Darah. Jika gagal, kau mati."

​Tanpa ragu, Mingseng melangkah masuk ke dalam tungku.

​Aaaaargh!

​Jeritan tertahan lolos dari bibirnya. Panas api membakar kulit hingga menembus sumsum tulang. Rasanya ribuan kali lebih menyiksa ketimbang saat ia membuka meridian.

​Di luar tungku, sang penjaga memberi instruksi tenang, "Jangan melawan api dengan amarah. Rasakan alirannya."

​Mingseng merasa kesadarannya hampir hilang, hingga bayangan wajah ibunya, pintu keluarga Lu yang tertutup, dan hinaan orang-orang melintas di benaknya.

​"Aku belum selesai..." gumam Mingseng, membuka mata dengan sorot penuh tekad. "Aku belum membayar semua hutang ini!"

​Ajaibnya, api merah itu mulai melunak, mengalir selaras dengan ritme napas barunya. Sang penjaga tertegun melihat pemuda itu mulai beradaptasi.

​Beberapa jam kemudian, api meredup. Tubuh Mingseng terjatuh lemas ke lantai.

​Saat ia sadar, rasa sakitnya telah lenyap. Pria tua itu melemparkan lempengan batu hitam ke pangkuannya. "Kau melewati ujian pertama. Ini tahap awal Metode Penempaan Darah."

​Sebelum Mingseng sempat berkata apa-apa, pendar cahaya merah mengangkatnya keluar menuju permukaan.

​Di Permukaan Gunung Awan

​Malam telah turun. He Yong yang selamat langsung melapor kepada Tetua Xu Jian. Tak lama kemudian, para petinggi sekte tiba di lokasi, mendapati pintu reruntuhan telah tertutup rapat.

​Fang Rui yang berdiri di dekat semak langsung berlutut memasang wajah panik. "Tetua! Mingseng terjebak di dalam reruntuhan! Kami berusaha menolongnya!"

​"Bohong!" potong He Yong tajam. "Fang Rui kabur lebih dulu saat kami diserang monster. Mingseng yang menyelamatkanku, lalu Fang Rui berniat merampas hasil penemuannya!"

​Wajah Fang Rui memucat. "Dia memfitnahku!"

​"Cukup!" bentak Tetua Xu Jian. Ia merasakan energi asing di pintu batu itu. "Laporkan pada Tetua Agung. Jangan biarkan siapa pun mendekati tempat ini."

​Fang Rui menunduk, menyimpan kebencian yang kian membara di dadanya.

​Jauh di dalam perut bumi, sang penjaga menatap sisa bara api dengan sejuta tanya, sementara di dalam jiwa Mingseng, rahasia agung perlahan mulai berdenyut.

​Sebuah perjalanan baru telah dimulai, membawa Mingseng menyongsong badai yang jauh lebih besar di hadapannya.

1
Sri
😍😍😍
Sri
❤️‍🔥❤️‍🔥❤️‍🔥
Sri
😎😎😎
kute
keren
Sri
❤️‍🔥❤️‍🔥❤️‍🔥
Sri
😎😎😎
Sri
😍😍😍
Danzo28
Yuk Like komen vote nya Jangan lupa yahh ❤️❤️❤️🙏👍
Danzo28
pantau terus ya
Jan lupa vote nya 🥳🥳🥳
Uranenantios
langsung up 4 ni thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!