Norman Turner mengira Grace Wills, wanita yang mudah dibodohi, sayangnya ia tidak memahami istrinya dengan baik.
Grace Wills malah memilih langkah yang paling berbeda saat mengetahui suaminya mendua.
Apa yang dilakukan Grace Wills? Penasaran, kepoin yuk ceritanya ...
Untuk tahu info update, follow IG: @nana_vinli
Diusahakan update setiap hari, 1 sampai 3 bab.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ocean Na Vinli, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Asmara Terlarang
~ Dalam pernikahan yang selalu dirugikan adalah pihak perempuan!
◇◇◇
Saat ini, terik matahari tak mampu menandingi panasnya kegiatan yang dilakukan Mona dan Norman di tempat terbuka, tepatnya di sebuah taman bunga kecil yang berada tepat di samping ruang kerja Norman. Dari dalam ruang kerja taman tersebut dapat terlihat jelas melalui kaca raksasa yang memenuhi salah satu sisi dinding. Namun, dari luar, kaca itu hanya memantulkan bayangan sehingga orang yang berada di taman tidak dapat melihat ke dalam.
Sudah lima menit, Mona membelakangi Norman dengan kedua tangan bertumpu di atas meja. Matanya terpejam, napasnya terengah-engah dan keringat mengalir di pelipis, suaranya yang lembut perlahan-lahan menghipnotis pria di belakang. Kini Norman bergerak bak kuda liar, siap menerjang sang lawan.
Tak peduli, di mana mereka berada sekarang, lelaki itu tampak bersemangat. Sedari tadi matanya tertutup rapat, menikmati permainan. Meskipun pakaian masih melekat di tubuh mereka.
Tiba-tiba ada getaran di meja.
Mona ingat betul, sebelum bermain, Norman menaruh benda itu di situ. Tanpa menoleh ke sumber suara, Mona pun berkata,"Norman, ponselmu."
Norman tak menjawab. Ia tenggelam pada sebuah kenikmatan. Gerakannya makin liar.
Mona menggeram kesal. Ia mulai risih tatkala getaran belum juga menghilang dan pemilik ponsel tak menanggapi.
"Norman!"
Mona segera membuka mata. Pandangannya jatuh pada ponsel di depan.
"Apa?" Norman mulai terusik dan bertanya tanpa membuka mata.
Mona tak langsung merespon. Kedua bola matanya berkedip-kedip pelan. Saat melihat layar ponsel dihiasi dengan sebuah nama kontak "my wife" (istriku)
"Mona, ada apa?" Kali ini dahi Norman tampak berkerut kuat. Dia perlahan membuka mata sambil melambatkan gerakan.
Sementara Mona, dengan cepat membalikkan ponsel lalu melirik ke samping. "Aaa tidak ada apa-apa sayang, aku hanya ingin memanggil namamu saja, mari kita lanjutkan," jawabnya sambil tersenyum kaku.
Norman ikut tersenyum lalu mengecup singkat bibir Mona. Setelah itu permainan kembali berlanjut. Masih dengan posisi berdiri, kini Norman mencengkram rambut Mona sambil menggerakkan pinggang.
Di sisi lain, bandara udara internasional Los Angeles, Grace Wills menatap layar ponsel dengan kening berkerut kuat, karena suaminya tak juga mengangkat panggilan.
"Ke mana dia? Bukankah seharusnya ini waktunya istirahat."
Grace kembali menghubungi Norman. Akan tetapi, kali ini panggilan dimatikan. Grace terlihat semakin kebingungan.
Grace Wills adalah istri dari Norman Turner. Norman digadang-gadang menjadi pewaris salah satu perusahaan terkenal di California yang bergerak di bidang energi.
Tiga tahun sebelumnya, Grace memutuskan melanjutkan pendidikan strata dua di Milan guna memperdalam keterampilannya dalam bisnis. Grace sangat berambisi menyelesaikan studinya dalam tiga tahun. Dia pun berhasil lulus dengan predikat yang sangat memuaskan. Norman dan keluarga yang lain tak tahu akan hal ini.
Grace sengaja tak memberitahu kepulangannya kepada sang suami, bermaksud ingin memberi kejutan.
"Apa dia sibuk sekali? Padahal aku ingin memberinya kejutan, sudahlah sebaiknya aku langsung ke villa saja."
Grace berkomentar lagi. Mulai ingat jika tadi pagi Norman mengatakan nanti siang akan singgah ke villa. Grace tak bertanya lebih lanjut, ada keperluan apa Norman ke sana. Kebetulan sekali villa tersebut tidak jauh dari bandara.
Sesudahnya, Grace mencari kontak orang kepercayaannya di ponsel.
"Hallo, Carmen, aku sudah di California, pergilah ke villa sekarang juga," kata Grace dengan cepat.
Seseorang di seberang lantas mengiyakan.
Grace langsung mengakhiri panggilan. Lalu dengan sigap menaruh ponsel ke dalam tas. Setelah itu, Grace berjalan ke depan sambil menyeret koper.
Di sekitar, para lelaki sesekali melirik ke arah Grace. Meskipun di samping mereka sudah ada pasangan, tetap saja mereka tak tahan melihat wanita cantik berjalan di dekat mereka.
Rambut merahnya tergerai indah membingkai wajah Grace. Mata yang indah, alis yang tegas, hidung mancung, dan bibir yang terbingkai indah menghiasi wajahnya. Penampilan Grace terlihat rapi. Dia memakai blazer dan celana kain hitam, heels runcing berwarna merah yang senada dengan warna lipstiknya. Pandangan matanya tajam, wajahnya tipikal judes. Kendati demikian, parasnya acap kali membuat para lelaki terpesona.
Tak lama kemudian, Grace keluar dari bandara. Taksi yang dia tumpangi melaju dengan cepat meninggalkan tempat tersebut. Selang beberapa menit, Grace telah tiba di villa. Setelah membayar sopir, Grace langsung keluar lalu berdiri di depan gerbang villa sambil mengedarkan pandangan ke sekitar dengan mimik muka kebingungan.
"Ke mana Petra?"
Petra, penjaga villa, biasanya berjaga di depan gerbang. Sekarang, lelaki paruh baya itu tidak terlihat batang hidungnya.
Villa ini luasnya hampir satu hektar. Di sebelah kanan dan kiri, hamparan hutan terbentang. Di belakang sana ada lapangan golf dan kolam renang yang biasanya dijadikan tempat santai para anggota keluarga Turner. Ada bioskop, bar juga di dalam dan masih banyak lagi tempat untuk melepas penat.
Grace mengayunkan kaki ke pos yang kecil. Tempat di mana Petra menjaga villa.
Kosong. Tak ada sosok yang dicari. Namun, di atas meja terdapat kopi dengan asap mengepul di udara, seolah baru saja ditinggalkan.
Grace mengangkat sedikit bahu. Kemudian berjalan ke gerbang. Matanya berkedip pelan saat melihat ternyata gerbang tersebut tidak dikunci.
Dengan senyum merekah Grace pun mendorong pagar dan menyeret koper menuju pintu utama villa.
Begitu tiba tepat di depan pintu. Jantung Grace berdegup kencang saat melihat sepasang heels berwarna hijau.
"Siapa yang datang ke sini?"
Benak Grace dipenuhi tanda tanya. Siapakah pemilik heels ini? Apa mungkin Mona? Grace ingat heels ini pernah dipakai Mona saat dia mendatangi kantor Norman. Grace memiliki daya ingat yang sangat kuat. Hanya dengan sekali melihat, dia langsung hapal.
Sebelum mereka menikah, Mona memang sudah lama menjadi sekretaris Norman. Selama ini, wanita berambut hitam selalu bersikap profesional. Setahu Grace, Mona adalah wanita yang pendiam.
"Norman telah melanggar janjinya. Bukankah villa ini tidak boleh didatangi orang luar," kata Grace sambil membuang napas kasar.
Sebelum menikah, Norman mengatakan bahwa villa ini hanya boleh didatangi seluruh anggota keluarga Turner.
Grace perlahan mendorong pintu lalu masuk ke dalam sambil memanggil Norman.
"Norman!"
Tak ada jawaban. Pikiran Grace langsung berkecamuk dan rasa tak nyaman mulai menguasai hatinya.
"Ke mana dia?" Grace mengedarkan pandangan ke ruang tamu sambil meletakkan koper di dekat pintu.
"Norman!" Grace kembali memanggil Norman.
Kosong. Tak ada tanda-tanda ada manusia di situ. Grace merasa ada yang tidak beres. Meskipun begitu dia berusaha untuk tetap tenang.
"Norman!"
Sekali lagi, Grace berteriak sambil kakinya sibuk melangkah dari ruang ke ruang. Sesampainya di dapur, Grace memilih tidak memanggil nama Norman. Namun, matanya sibuk bergerak mencari keberadaan sang suami, yang masih juga tidak terlihat.
Hingga pada akhirnya, Grace berhenti tepat di ruang kerja Norman. Ini ruangan terakhir. Akan tetapi, tangan Grace terasa sangat berat untuk menggapai gagang pintu.
Perasaan Grace semakin tak karuan. Sedari tadi benaknya melanglang buana entah ke mana. Jantungnya berdegup dua kali lipat dari sebelumnya dan dadanya pun terasa amat panas sekarang.
Dengan pelan, Grace memutar gagang pintu. Saat pintu terbuka, pupil mata Grace langsung melebar.
Bersambung ~
🌺 Hai, author balik lagi, setelah sekian lama berhibernasi, hehe. Fun fact, kisah ini ada hubungannya dari cerita sebelumnya. Ikuti saja ya, jangan lupa masukin daftar favorit, setiap baca tekan tombol like. Dilike ya, jangan lupa 🙈
Akan bahagia klo video perselingkuhan Edmund juga juga viral 🤣
Mona yang haus status Turner hingga tak sadar bahwa Mona membuka jalan untuk keruntuhan Turner sekeluarga 🤣