Ketika langit di atas pinggiran Kekaisaran Yanling tiba-tiba terkoyak oleh invasi mendadak monster binatang, ilusi kedamaian hancur dalam semalam. Di tengah kepanikan para kultivator muda elit yang formasinya porak-poranda, Lin Juan—seorang yatim piatu bermarga Lin yang selalu dicaci karena Jiwa Rohnya yang cacat—menjadi satu-satunya yang menolak mundur. Tanpa pancaran energi spiritual yang mewah, ia mengandalkan insting murni dan tubuh yang ditempa penderitaan untuk bertahan hidup. Di tengah genangan darah dan keputusasaan, sebuah jiwa purba yang tertidur di kedalaman nadinya, Roh Kera Putih yang legendaris, akhirnya membuka mata, merespons panggilan kematian dengan raungan yang mengguncang surga.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fery Oktavian, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
GEJOLAK JIWA KERA PUTIH
Angin malam berembus membawa aroma sangit dan bau amis darah yang tersapu dari jalanan utama. Di dalam gudang perkakas tua, nyala lampu minyak bergoyang pelan, melempar bayangan Paman Gu yang panjang ke dinding kayu lapuk.
Paman Gu berdiri di dekat pintu kayu yang sedikit terbuka, menatap keluar melalui celah sempit. Tangan tuanya yang kasar memegang sebatang besi panjang yang biasa digunakan untuk mengunci pintu dari dalam.
"Pertempuran di gerbang tengah mulai reda," Ucap Paman Gu tanpa berbalik. "Para penatua klan dan pengawal kota berhasil mendorong mundur sisa-sisa Serigala Besi ke luar benteng."
Lin Yuan tidak langsung menjawab. Ia masih duduk bersila di atas ranjang jerami, menopang punggungnya pada tiang kayu gudang. Bebat kain linen di dadanya terasa agak basah oleh sisa ramuan herbal dan sedikit resapan darah segar, tetapi rasa sakit yang membakar tadi perlahan berubah menjadi denyut hangat yang samar.
"Mereka berhasil bertahan?" Tanya Lin Yuan pelan.
"Untuk malam ini, ya," Sahut Paman Gu seraya memutar badannya dan menyandarkan batang besi ke sudut ruangan. "Tapi ini baru gelombang pembuka. Bulan Darah belum surut dari langit. Monster-monster di luar sana tidak akan berhenti hanya karena kehilangan belasan ekor serigala."
Paman Gu berjalan mendekati meja kerja, mengambil sebilah pisau kecil dan sepotong roti gandum keras yang sudah dingin. Ia memotong roti itu menjadi dua bagian, lalu melempar separuhnya ke pangkuan Lin Yuan.
"Makan," Kata Paman Gu singkat. "Tubuhmu butuh asupan kalau kau tidak mau mati konyol karena kehabisan darah saat tidur."
Lin Yuan mengambil roti kering itu. Teksturnya keras seperti batu, namun ia mengunyahnya perlahan, membiarkan setiap gigitan bercampur dengan air liurnya sebelum ditelan. Di tengah situasi seperti ini, makanan bukan lagi soal rasa, melainkan bahan bakar untuk bertahan hidup.
"Paman tidak pergi melihat situasi di aula klan?" Tanya Lin Yuan di sela kunyahannya.
Paman Gu terkekeh dingin, mendengus pelan dari hidungnya. "Untuk apa? Melihat Lin Heng dan para murid berbakat itu saling membusungkan dada dan memamerkan Inti Monster yang mereka curi dari orang lain? Aku sudah terlalu tua untuk berpura-pura kagum pada kebohongan."
Tua itu duduk di atas bangku kayunya, menyandarkan kepalanya ke dinding dengan mata terpicing. "Istirahatlah, Bocah. Kau butuh memulihkan tenagamu sebelum fajar menyingsing."
Lin Yuan mengangguk pelan. Ia menghabiskan sisa rotinya, meminum seteguk air dingin dari cangkir kaleng di sampingnya, lalu perlahan memejamkan mata.
Suasana gudang perlahan hening, hanya diselingi oleh derit kayu bangunan yang tertiup angin malam dan napas teratur Paman Gu yang mulai tertidur lelap di bangkunya.
Di dalam kegelapan pekat di balik kelopak matanya, Lin Yuan memusatkan seluruh perhatiannya ke dalam dada. Ia menarik napas panjang, mengalirkan kesadarannya menelusuri jalur-jalur meridian dalam tubuhnya—sebuah proses introspeksi yang biasa dilakukan para kultivator untuk mengamati kondisi jiwa dan energi mereka.
Selama tiga tahun terakhir, setiap kali Lin Yuan mencoba memasuki lautan jiwanya sendiri, yang ia dapati hanyalah lanskap yang mati. Lautan jiwanya selalu tampak seperti samudera es yang membeku total, kelam, hampa, dan tak tersentuh. Berapa pun banyaknya *qi* alam yang ia coba serap melalui meditasi, semuanya menguap tanpa bekas, seolah-olah ditelan oleh jurang yang tak memiliki dasar. Itulah alasan utama mengapa semua guru dan penatua di klan menganggapnya memiliki Roh Jiwa yang cacat dan tidak berguna.
Namun malam ini, ada yang berbeda.
Saat kesadaran Lin Yuan tenggelam lebih dalam ke pusat dadanya, ia tidak lagi menemukan kehampaan yang dingin.
Lautan jiwanya yang biasanya senyap kini bergemuruh pelan. Permukaan es tebal yang membeku selama bertahun-tahun itu dipenuhi oleh retakan-retakan halus yang memancarkan cahaya merah keemasan.
DES!
Suara denyut jantung yang amat berat berdengung di dalam kesadarannya, seolah ada raksasa purba yang baru saja terbangun dari tidur lelap selama ribuan tahun.
Lin Yuan berdiri di atas hamparan es jiwanya yang retak. Di sekelilingnya, uap hangat bermunculan dari bawah celah-celah es. Uap itu berbau samar seperti amarah, darah, dan besi berkarat—sisa-sisa energi vital dari Serigala Besi yang ia bunuh serta rasa sakit luar biasa yang ia tanggung selama pertempuran sore tadi.
KREK!
Sebuah retakan raksasa terbelah tepat di tengah lautan jiwanya. Es batu setebal gunung itu hancur berkeping-keping, tenggelam ke dalam pusaran air hitam di bawahnya.
Dari dalam kedalaman samudera jiwa yang gelap itu, sesosok bayangan raksasa perlahan naik ke permukaan.
Tubuhnya setinggi bukit kecil, diselimuti oleh bulu-bulu tebal berwarna putih perak yang berkilau seperti serat baja kuno. Otot-otot di bahu dan lengannya terpahat begitu padat, dipenuhi oleh bekas-bekas luka cakaran dan tebasan purba yang membatu. Ia tidak memiliki sayap, tidak memancarkan kobaran api, ataupun elemen sihir yang menyilaukan seperti Roh Jiwa binatang milik para jenius klan.
Itu adalah sesosok Kera Putih Kuno.
Wajahnya keras dan tenang, dipenuhi oleh keheningan rimba yang amat liar. Dan ketika entitas itu perlahan mengangkat kepalanya, sepasang mata emas murni terbuka melintasi kegelapan lautan jiwa Lin Yuan.
Sorot mata emas itu tidak memancarkan kegilaan atau rasa haus darah yang liar, melainkan keberanian murni dan insting bertahan hidup yang mutlak. Tatapan yang hanya dimiliki oleh seekor pemangsa puncak yang telah melewati ribuan pembantaian tanpa pernah sekali pun berlutut.
BAM!
Resonansi dahsyat menghantam seluruh kerangka tubuh Lin Yuan di dunia nyata. Tulang belulangnya berderet pelan, dan setiap serabut otot di dada serta lengannya menegang keras.
Pada detik itulah, sebuah pencerahan yang amat jernih menembus kesadaran Lin Yuan.
Ia akhirnya mengerti.
Selama ini, Roh Jiwa Kera Putih miliknya tidak pernah cacat. Kera Putih ini bukanlah roh binatang biasa yang bisa diberi makan oleh *qi* alam yang lembek dari meditasi tenang di dalam ruangan beratap genteng. Kera Putih ini adalah entitas tempur purba. Ia adalah wadah samudera yang terlampau besar.
Bagi Kera Putih, meditasi biasa bagaikan meneteskan secangkir air ke atas padang pasir yang kering kerontang—tidak akan pernah cukup untuk menggerakkan jemarinya sekalipun. Roh ini hanya lapar akan satu hal: tekanan pertarungan hidup dan mati, rasa sakit yang membakar saraf, dan energi vital dari darah musuh yang berhasil ditaklukkan.
Semakin berat bahaya yang menghantam Lin Yuan, semakin kuat tekadnya untuk bertahan hidup, maka semakin lebar pula pintu kekuatan Kera Putih itu terbuka.
Di dalam lautan jiwanya, Kera Putih raksasa itu menatap Lin Yuan yang berdiri kecil di hadapannya. Ia tidak meraung, melainkan menundukkan kepalanya sedikit, mengembuskan nafas berupa aura putih hangat yang langsung menyiram seluruh kesadaran Lin Yuan.
Aura putih itu mengalir keluar dari lautan jiwa, merembes ke meridian-meridian Lin Yuan yang tersumbat, lalu perlahan membalut tulang-tulang rusuknya yang retak di dunia nyata.
Gasps!
Lin Yuan mendadak membuka matanya di dalam gudang yang remang-remang. Ia menarik napas dalam-dalam, dadanya naik turun dengan cepat.
Bias cahaya emas murni berkelebat tipis di pupil matanya sebelum akhirnya memudar perlahan, kembali menjadi hitam pekat yang tenang. Rasa sakit yang menyiksa di dadanya kini telah berkurang drastis, berganti dengan sensasi hangat yang membalut perban linennya.
"Kau bermimpi buruk, Bocah?"
Suara Paman Gu memecah keheningan. Pria tua itu rupanya belum sepenuhnya tertidur. Ia duduk di atas bangkunya, menatap Lin Yuan dengan mata terpejam sebelah sambil menghembuskan asap tembakau dari pipanya.
Lin Yuan menyapu keringat dingin di dahinya dengan punggung tangan, lalu menghela napas pelan. "Tidak, Paman. Hanya sedikit pencerahan."
Paman Gu menoleh, menatap wajah Lin Yuan di bawah remang cahaya lampu minyak. Tua itu menyipitkan matanya, merasakan ada sesuatu yang berubah dari aura pemuda di depannya. Tidak ada lagi jejak kelelahan atau rasa frustrasi seorang anak muda yang tertindas. Yang tersisa di wajah Lin Yuan hanyalah ketenangan yang begitu dalam—jenis ketenangan yang biasa dimiliki oleh para komandan veteran sebelum memasuki medan perang.
"Pencerahan di tengah luka parah dan bahaya maut," Gumam Paman Gu pelan sambil mengetukkan gagang pipanya ke tepi meja. "Kau ini makin lama makin aneh, Lin Yuan."
Paman Gu mendongak, menatap langit-langit gudang yang bergetar samar akibat gemuruh angin malam dari utara.
"Besok pagi, para penatua dan Penguasa Kota akan memeriksa setiap distrik untuk mendata kerusakan dan korban," Lanjut Paman Gu dengan suara membumi dan serius. "Lin Heng pasti sudah menyusun cerita indahnya tentang bagaimana dia mengalahkan Serigala Besi itu. Tapi ingat kata-kataku: orang-orang tua di atas sana tidak bodoh. Jika mereka melihatmu selamat tanpa luka permanen setelah diserang serigala, mereka akan mulai bertanya-tanya."
Lin Yuan menurunkan kakinya dari ranjang jerami, menapakkan telapak kakinya yang telanjang ke atas lantai tanah yang dingin.
"Biarkan mereka bertanya," Ucap Lin Yuan datar, jari-jari tangannya mengepal pelan, merasakan kehangatan energi baru yang kini mengalir tenang di balik kulitnya. "Aku tidak punya alasan lagi untuk bersembunyi atau berpura-pura menjadi apa yang mereka inginkan."
Paman Gu menatap pemuda itu sejenak, lalu tersenyum tipis—sebuah senyuman langka yang memperlihatkan deretan giginya yang tidak lengkap.
"Bagus," Bisik Paman Gu seraya mematikan lampu minyak di atas meja, menyelimuti gudang tua itu dalam kegelapan malam yang hangat. "Simpan senjatamu di dalam dada, Lin Yuan. Karena besok, panggung pementasan orang-orang bodoh itu akan dimulai."