Riu Han melangkah keluar dari pintu teleportasi yang menghubungkan Alam Bawah ke Dunia Atas, namun terpisah dari dua sahabatnya, Genbu si Kura-kura Hitam dan Bai Wing si Harimau Putih, karena sistem pengiriman yang acak. Sendirian di hamparan bunga asing, ia bergegas menuju arah kepulan asap untuk mencari petunjuk.
Kedatangan Riu Han ternyata memancarkan Aura Giok Nirvana yang telah hilang selama dua puluh tahun, menarik perhatian dua penguasa di tempat itu — masing-masing mengutus orang kepercayaan mereka, Bai Mo dan Zi Lan, untuk mengawasi sosok yang membawa aura tersebut.
Sementara itu, Riu Han tiba di sebuah pondok kayu dan bertemu dengan Su Zan Si, seorang pemburu tunggal yang ternyata juga berasal dari Alam Bawah. Su Zan Si dengan ramah memberikan arahan serta penjelasan penting: mengapa kekuatan dan gerakan Riu Han terasa terbatas di sini, bagaimana energi tubuhnya akan menyesuaikan diri, serta gambaran luas tentang dunia ini yang terdiri dari Empat Wilayah dan puluhan alam
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nur Hali, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 1: Aura Giok Nirvana
Di tengah hutan yang dipenuhi bunga-bunga indah, berdiri seorang pemuda tampan. Ia baru saja melangkah keluar dari pintu teleportasi yang menghubungkan Dunia Bawah dengan Dunia Atas. Pemuda itu adalah Riu Han. Ia berdiri sendirian di tengah hamparan bunga yang mempesona, padahal sebenarnya ia tidak datang seorang diri — ia bersama saudaranya, Genbu si Kura-kura Hitam dan Bai Wing si Harimau Putih. Namun portal teleportasi mengirimkan setiap orang yang melaluinya secara acak, sehingga ketiganya terpisah satu sama lain.
Riu Han melangkah sendirian, mencari petunjuk ke mana harus pergi. Di kejauhan, terlihat kepulan asap mengepul perlahan. Ia yakin pasti ada orang di tempat itu, lalu bergegas menuju ke arah asap tersebut.
Sementara itu, di sebuah tempat yang tenang, seorang pria paruh baya yang sedang bermeditasi tiba-tiba membuka matanya. Wajahnya yang tampan sedikit memucat.
"Aura Giok Nirvana..."
"Bai Mo!" panggilnya.
Tak lama kemudian, seorang pria paruh baya lainnya muncul di hadapannya, merangkapkan kedua tangan memberi hormat.
"Saya, Yang Mulia," jawab pria yang dipanggil Bai Mo.
"Portal teleportasi dari Alam Bawah telah terbuka. Pergilah, cari tahu siapa yang datang. Awasi orang itu. Hanya jika dalam bahaya maut, barulah kau turun tangan. Mengerti?"
"Baik, Yang Mulia. Saya permisi." Bai Mo pun menghilang dari hadapan tuannya.
Pria itu menghela napas panjang. "Sudah dua puluh tahun... Hari ini aura Giok Nirvana muncul kembali. Namun mengapa hanya satu?" Ia kembali memejamkan mata.
Di tempat lain, pada saat yang sama, seorang wanita paruh baya yang cantik sedang berkultivasi. Ia pun tiba-tiba membuka matanya.
"Aura ini... Giok Nirvana..." Ia menatap ke satu arah dengan pandangan tajam.
"Zi Lan!"
"Saya, Yang Mulia," seorang wanita paruh baya lainnya muncul dan langsung memberi hormat.
"Pergilah, cari tahu siapa orang yang berhasil membuka portal teleportasi itu. Setelah itu, turunlah ke Alam Bawah dan temui orang-orang dari Klan Zhao."
"Baik, Yang Mulia." Zi Lan pun pergi melaksanakan perintah itu.
Wanita yang masih duduk bersila itu menghela napas. "Sudah dua puluh tahun... Namun mengapa aura itu hanya satu?" Setelah itu, ia pun menghilang dari tempatnya.
Ketika Riu Han tiba di tempat asal asap itu, ia melihat sebuah pondok kayu sederhana. Penghuninya yang merasakan kedatangan orang lain pun keluar menyambutnya.
Riu Han merangkapkan kedua tangan. "Maaf, Tuan. Saya seorang pelancong yang kehilangan arah. Nama saya Riu Han. Bolehkah saya mengganggu waktu Anda sebentar?"
Pria itu mengangguk ramah. "Salam, Saudara Riu Han. Nama saya Su Zan Si. Ada yang bisa saya bantu?"
Pria itu tampak berusia sekitar dua puluh tahunan, bertubuh tegap setinggi seratus sembilan puluh sentimeter. Tingkat kultivasinya berada di ranah Dewa Menengah tingkat sembilan akhir.
"Tuan, bolehkah Anda menunjukkan arah ke kota terdekat?" tanya Riu Han.
"Dari sini ke arah barat terdapat sebuah kota bernama Kota Chengdu. Kebetulan besok saya juga akan ke sana. Jika Anda mau, kita bisa pergi bersama," jawab Su Zan Si.
Riu Han merenung sejenak, lalu mengangguk. "Baiklah, terima kasih, Tuan."
"Ayo, silakan masuk," ajak pria itu.
Riu Han mengikuti Su Zan Si masuk ke dalam pondok. Di dalamnya hanya terdapat ruang yang sederhana, tanpa perabotan berlebih. Su Zan Si menyadari keheranan Riu Han dan tersenyum.
"Pondok ini bukan milikku. Ini tempat peristirahatan bagi para penjelajah dan pemburu. Saya seorang pemburu tunggal, dan pondok ini memang disediakan khusus untuk kami," jelas Su Zan Si.
"Tuan Su..."
"Panggil saja Kakak atau Saudara Su. Sepertinya usia kita tidak jauh berbeda," potong Su Zan Si.
"Baiklah, Saudara Su. Terima kasih. Anda sepertinya selalu berjalan seorang diri?"
"Ya, sebagai pemburu tunggal, kebiasaan memang begitu." Su Zan Si menatap Riu Han lekat-lekat. "Saudara Riu, jujur saja, saya merasakan Anda bukan berasal dari tempat ini. Aura Anda berbeda dari orang-orang di sini."
Riu Han terdiam sejenak, lalu mengangguk. "Indera Anda tajam, Saudara Su. Sejujurnya, saya berasal dari Alam Bawah. Baru saja naik ke sini, jadi masih terasa asing."
"Begitu rupanya. Pantas saja. Energi di tubuhmu masih belum sepenuhnya menyatu dengan alam ini. Namun jangan khawatir — belum genap dua puluh empat jam Anda di sini. Setelah melewati satu hari satu malam, energimu akan menyesuaikan diri dan sama dengan penghuni tempat ini."
Mendengar penjelasan itu, Riu Han menghela napas lega. Semula ia khawatir aura aslinya akan mendatangkan masalah, namun ternyata hal itu bisa diatasi dengan sendirinya.
"Terima kasih atas informasinya, Saudara Su. Saya juga merasa ada yang berbeda — saat terbang, gerakan saya terasa lebih lambat dari biasanya. Mengapa demikian?"
Su Zan Si mengangguk paham. "Di negeri ini, kepadatan ruang dan energi ribuan kali lebih padat dibandingkan tempat asalmu. Di tempatmu, dengan tingkat kultivasimu, mungkin sekali pukulan mampu menghancurkan sebuah kerajaan. Di sini, pukulan yang sama mungkin hanya mampu merobohkan pintu rumah. Alam di sini memiliki kepadatan yang membatasi kekuatan setiap kultivator. Jika tidak demikian, dengan banyaknya ahli tingkat tinggi yang kekuatannya ribuan kali lebih besar darimu, negeri ini pasti sudah hancur berantakan."
Penjelasan itu membuka wawasan Riu Han. Ia beruntung bertemu orang yang begitu ramah dan berpengalaman.
"Terima kasih, Saudara Su. Pengetahuan Anda luar biasa."
Su Zan Si tertawa. "Sebenarnya, saya juga sama denganmu — berasal dari Alam Bawah, hanya dari daratan yang berbeda. Tempat asalku disebut Daratan Batu. Empat Wilayah di atas ini berdiri di atas banyak alam bawah lainnya. Setiap wilayah menjadi pintu gerbang bagi mereka yang naik. Sejauh yang kuketahui, ada sekitar dua puluh lima alam bawah yang terhubung ke salah satu dari Empat Wilayah. Dan sepertinya, tempat asal kita sama-sama berada di bawah Langit Utara."
Riu Han kini mengerti mengapa Su Zan Si begitu baik kepadanya. Sebagai sesama pendatang dari Alam Bawah, pertemuan ini terasa seperti bertemu kerabat jauh. Keduanya pun semakin akrab, mengobrol panjang lebar sepanjang hari. Su Zan Si telah berada di Wilayah Selatan selama dua tahun, dan pengalamannya sangat berharga bagi Riu Han.
Su Zan Si bercerita bahwa dulu ia berkelana bersama teman-teman dari berbagai alam bawah, hingga menyatu dengan kelompok pemburu dari alam ini. Namun ketika mereka menemukan harta karun, rekan dari alam itu justru berkhianat. Temannya tewas, dan ia sendiri selamat berkat keberuntungan semata. Sejak saat itu, ia memilih berjalan sendirian. Meski demikian, melihat ketulusan Riu Han, ia merasa dapat mempercayainya. Ia pun mengingatkan Riu Han untuk berhati-hati dalam memilih teman.
Dalam percakapan itu, Riu Han juga menceritakan bahwa ia tidak datang seorang diri — Genbu dan Bai Wing terpisah darinya saat melewati portal.
Hari berganti malam, dan keduanya mengakhiri obrolan mereka. Mereka beristirahat dengan duduk bersila, menanti pagi yang baru.
Lanjut Up Thor..
Tetap semangat Thor 💪💪