NovelToon NovelToon
DILUAR DIPUJA DIDALAM DIHINA Istri Pengganti Ceo Brayen

DILUAR DIPUJA DIDALAM DIHINA Istri Pengganti Ceo Brayen

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / Mengubah Takdir / CEO
Popularitas:996
Nilai: 5
Nama Author: Aurelia Sadewa

Mengisahkan seorang gadis cantik yang berprofesi menjadi model, namun memiliki kita kelam semenjak ibunya meninggal dan ayahnya menikah lagi dengan seorang wanita licik dan memiliki seorang anak yang bernama Lalita. Isyana selalu di bully di hina dan di perlakuan seperti anak pelayan. Hingga pada suatu hari Isyana di jodohkan oleh ibu tirinya dengan seorang CEO dingin dan kejam bernama Brayen Lucian Alkantara...

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aurelia Sadewa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Sarapan Malu-Malu

Jam 8.32 pagi.

Aku berdiri di depan cermin kamar utama lantai 2. Aku sudah mandi. Sudah keramas. Sudah pakai dress rumah warna sage yang lembut, yang Brayen belikan online semalam diam-diam pas aku ketiduran di sofa. Dress nya pas di badan ku, tidak menerawang, sopan.

Tapi wajahku masih merah.

Di belakangku, Brayen berdiri di depan cermin satunya. Ia sudah ganti kaos putih polos bersih dan celana pendek abu-abu untuk di rumah. Wajah tampan nya sudah bersih. Bekas cap bibir lipstik merah merona ku di pipi kirinya yang tadi pagi bikin heboh itu sudah ia cuci bersih. Tapi kalau dilihat dekat, masih ada sedikit bayangan pink nya.

"Kamu sudah siap?" tanyanya, menatapku lewat cermin.

Aku mengangguk, tapi kakiku tidak mau jalan turun. "Mas... aku malu... gimana kalau Bi Ijah nanya-nanya lagi?"

Brayen berjalan mendekatiku. Ia mengusap puncak kepalaku pelan. "Enggak akan. Paling cuma digodain dikit. Mereka itu udah anggap kamu kayak anak sendiri, Isyana. Mereka seneng lihat kita akhirnya... kayak suami istri beneran."

Kata "suami istri beneran" itu bikin jantungku berdebar lagi.

Akhirnya, dengan tangan yang saling menggenggam erat seperti mau maju perang, kami turun tangga kayu itu pelan-pelan menuju ruang makan.

Adegan di bawah...

Bi Ijah, Bi Marni, dan Pak Ujang sudah berdiri berjejer di samping meja makan besar yang panjang. Mereka sudah pakai seragam rapi. Di meja, sudah tersaji nasi goreng spesial Bi Marni yang wangi nya sampai ke lantai 2, telur ceplok mata sapi 4 buah, ayam goreng tepung, jus jeruk segar di teko kaca, dan roti panggang yang... tidak gosong. Jelas bukan buatan Brayen tadi.

Begitu kami muncul di anak tangga terakhir, tiga pasang mata itu langsung menatap kami. Senyum mereka... senyum menahan ledakan.

"Selamat pagi Tuan, Nyonya!" kata mereka kompak.

"Pagi Bi... Pagi Pak..." jawabku pelan, hampir tidak terdengar, sambil menunduk.

Brayen mencoba jaim cool seperti CEO. "Pagi."

Kami duduk. Aku duduk di samping Brayen, tidak di seberang seperti biasanya. Butuh tameng.

Hening 10 detik. Hanya suara sendok beradu dengan piring.

Lalu Bi Ijah membuka serangan pertama. Dengan suara lembut keibuan tapi penuh kode.

"Nyonya, semalam tidur nya nyenyak ya? Kayaknya pulas banget sampai jam 6 pagi masih di sofa?"

_Kriet._

Aku keselek nasi goreng. "Uhuk! Uhuk! I-iya Bi nyenyak..."

Brayen langsung menyodorkan jus jeruk ke bibirku. "Pelan-pelan sayang."

Panggilan "sayang" di depan IRT itu bikin Bi Marni langsung berbisik ke Bi Ijah, "Sayang! Denger Bi! Sayang!"

Bi Marni lanjut serangan kedua.

"Iya Nyonya, tadi pagi saya sama Bi Ijah mau beres-beres ruang tamu jam 6. Eh ternyata Tuan dan Nyonya masih bobok. Pulas banget. Selimutnya sampai setengah jatuh ke lantai. Romantis banget ya Bi ya? Kayak di drama Korea!"

Pak Ujang yang dari tadi menunduk menatap piring seperti piring itu akan menjelaskan arti kehidupan, ikut kena tembak.

"Pak Ujang, tadi lihat apa Pak?" tanya Bi Ijah iseng.

Pak Ujang langsung berdiri tegak! Seperti tentara!

"SAYA TIDAK LIHAT APA-APA BU IJAH! SUMPAH! MATA SAYA MINUS 5! TADI SAYA MASUK, SAYA LIHAT SOFA KOSONG! SAYA BUTA! SAYA TULI! SAYA BARU HARI PERTAMA KERJA! PADAHAL SUDAH 5 TAHUN!"

Kami semua ngakak. Bahkan aku yang malu pun ngakak sampai perut sakit. Pak Ujang ini penyelamat suasana.

Brayen yang tadinya jaim cool pun jebol pertahanan nya. Ia tertawa lepas, tangannya merangkul bahuku.

"Sudah Bi, Pak, jangan godain istri saya terus. Nanti dia gak mau turun sarapan lagi," kata Brayen, tapi ia ngomong sambil senyum bangga. Bangga digodain.

Lalu datanglah serangan pamungkas, serangan nuklir dari Bi Ijah.

Bi Ijah jalan pelan ke arah sofa ruang tamu yang sekarang sudah rapi kembali. Ia mengambil sesuatu di atas bantal sofa krem itu. Ia angkat tinggi-tinggi.

Sebuah bantal kecil sofa.

Di bantal itu, ada bekas cap bibir. Merah merona. Cetakan bibir ku yang sempurna. Tadi malam pas aku ngantuk aku iseng cium bantal sofa juga, bukan cuma pipi Brayen.

"Nyonya," kata Bi Ijah dengan muka polos tapi mata berbinar jahil, "Ini bantal nya mau saya cuci ya? Ada bekas lipstik nya. Merah. Cantik. Tapi kok ada dua ya? Satu di bantal, satu tadi di pipi Tuan Brayen?"

Diam.

Hening total.

Wajahku... kalau ada tingkat kemerahan, aku sudah level 1000. Merah tomat busuk. Aku langsung menjatuhkan muka ku ke meja! Menutup muka ku dengan kedua tangan! "Masya Allah Bi Ijahhhh!"

Brayen? Brayen sudah tidak tahan. Ia ngakak sampai terbatuk-batuk. "HAHAHAHA Bi Ijah! Astaga!"

Ia memelukku dari samping yang sedang menutup muka. Ia bisik di telingaku, suaranya hanya aku yang dengar, "Gapapa sayang. Biarin. Biar semua orang tau kamu sudah tandain suami kamu."

Aku memukul pelan dadanya dari balik tangan yang masih menutup muka.

Bi Marni dan Bi Ijah akhirnya tidak tahan juga, mereka ikut ketawa ngakak keibuan. Pak Ujang masih menghadap tembok tapi bahunya naik turun nahan ketawa.

Setelah 5 menit ketawa, suasana jadi cair. Tidak canggung lagi.

Bi Ijah menyajikan nasi goreng tambah untukku. "Makan yang banyak ya Nyonya, biar kuat. Soalnya kalau tidur di sofa terus, nanti masuk angin. Mending tidur di kamar aja ya yang anget? Ranjangnya kan besar."

Godaan lagi!

Aku cuma bisa mengangguk di balik tangan ku. "Iya Bi..."

Brayen menatapku, matanya lembut. Di bawah meja, ia menggenggam tanganku erat. Tidak lepas.

Sarapan itu berlangsung lama. Penuh tawa. Penuh godaan sayang dari Bi Ijah.

Dan untuk pertama kalinya dalam hidupku, aku sarapan bukan sebagai Isyana yang numpang tinggal di penthouse mewah. Tapi sebagai Nyonya rumah. Sebagai istri yang digodain IRT karena ketahuan tidur dipelukan suaminya sendiri di sofa ruang tamu.

Malu? Malu banget sampai mau pingsan.

Bahagia? Bahagia banget sampai mau nangis.

Karena akhirnya, rumah sedingin es ini jadi rumah yang hangat.

----Bersambung----

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!