Kisah ini menceritakan perjalanan seorang anak bernama Kai,
seorang pangeran dari kerajaan yang sama sekali tidak memiliki bakat dalam sihir,
dan memiliki takdir yang sangat buruk.
Dijauhi. Disakiti. Bahkan dikhianati.
Seluruh hidupnya hanya dipenuhi oleh rasa sakit yang tiada akhir.
Namun pada suatu waktu, dia tiba-tiba mendapatkan kekuatan misterius.
Kekuatan yang bahkan tidak bisa dijelaskan oleh para Dewa.
Dengan kekuatan yang dimilikinya itu, dia mulai merasakan perbedaan pada dirinya sendiri.
Namun seiring berjalannya waktu, dia terus-menerus dihajar oleh sebuah fakta:
Takdirnya yang buruk.
Tapi saat dia ingin menyerah dan lari karena sangat takut untuk melawan takdirnya sendiri,
dia bertemu dengan banyak orang-orang yang akan membantunya sedikit demi sedikit.
Pada akhirnya, hanya dia yang akan memutuskan:
Lari dan pasrah menghadapi takdirnya...
atau
Menghancurkan takdirnya dan membuat takdirnya sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon * z *, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 1_Takdir yang buruk
Kerajaan Eiden.
Ibu Kota Vain.
Tahun Suci 1558.
*Wuuussh...*
Angin dingin berhembus pelan, membawa aroma mawar yang sudah layu dari taman istana. Baunya manis, tapi busuk.
Bulan purnama menggantung tinggi di langit hitam, cahayanya yang pucat menerangi menara-menara batu yang menjulang kaku, dingin dan tidak peduli.
Namaku Kai.
Aku terlahir sebagai anak dari Raja kerajaan ini.
Hanya saja... aku tidak pernah punya takdir yang baik.
Aku adalah anak yang bahkan keberadaannya tidak diakui oleh ayahnya sendiri.
Dan ibuku... hanya dijadikan alat pemuas nafsu.
Saat Ratu sudah memiliki dua orang anak dari Raja, beliau memutuskan tidak ingin memiliki anak lagi.
Karena itulah aku lahir. Anak yang tidak diinginkan.
Dan sejak hari itu, aku hidup dalam diskriminasi.
Orang-orang bilang ibuku adalah selir Raja.
Gelar yang mungkin di luar sana terdengar mulia.
Tapi tidak di sini.
Di istana ini, gelar itu hanya berarti bisikan di lorong, tatapan jijik yang menusuk punggung, dan pintu yang selalu tertutup tepat di depan wajah kami.
*Srekk...*
Dulu, Raja menikahi ibuku karena dia seorang petualang yang kuat dan cantik.
Tapi yang tidak pernah ibu duga adalah...
Raja hanya ingin melampiaskan hasrat bejatnya yang sudah tidak bisa dia tahan lagi.
Dia tidak pernah melihat ibu sebagai manusia.
Dia hanya melihat ibu sebagai alat.
Aku menghentikan langkah di balkon batu yang dingin. Kedua tanganku mencengkeram pagarnya yang beku.
*Krek...*
Pandanganku terangkat ke langit malam.
Bintang-bintang redup, seolah ikut malu melihat keadaanku.
Tinggal di sini... tidak ada bedanya dengan tinggal di benua terkutuk.
_...Aku masih bingung. Kenapa ibu mau bersama dengan orang seperti itu??_
Ibu selalu menjawab dengan suara pelan, hampir seperti bisikan, dengan senyum yang retak di ujungnya.
"Raja sebenarnya sangat mencintai ibu. Tapi dengan caranya sendiri."
Aku selalu mempertanyakan apa itu cinta.
Ibu bilang cinta adalah sesuatu yang membuatmu lebih kuat.
Dia juga bilang cinta bisa membuat hidup seseorang menjadi lebih indah.
_Kalau benar cinta bisa membuat hidup lebih indah..._
_Kenapa yang ibu dapatkan hanya penderitaan?? Kenapa yang kudapat hanya tatapan jijik itu??_
Kedua tanganku mengepal erat sampai buku-buku jariku memutih. Kuku-kukuku menusuk telapak tangan sampai perih dan basah.
Rasa sakit itu satu-satunya bukti kalau aku masih hidup.
"Sial...!! Aku tidak bisa berbuat apa-apa!" Suaraku pecah, tercekat di tenggorokan, hampir tidak terdengar tertelan angin.
Langkah kaki terdengar mendekat dari belakang. Pelan. Tapi jelas di tengah keheningan malam.
*Tap... tap... tap...*
"Oh, kau di sana, Kai. Aku sudah lama mencarimu," ucap sebuah suara lembut.
Aku menoleh dengan bahu yang masih menegang.
Di depanku berdiri sepupuku, Tia.
Jubah tipisnya berkibar diterpa angin malam, rambut coklatnya sedikit berantakan karena angin. Matanya... selalu setenang danau, dan itu yang membuatku sedikit bisa bernapas.
"Yo... lama tidak bertemu," kataku, meski sudut bibirku hanya dipaksa melengkung, senyum yang bahkan aku sendiri tidak percaya.
"Hmm... sudah lama tidak bertemu," jawabnya pelan. Ada khawatir yang jelas di sorot matanya saat melihat kepalaku yang menunduk, bahuku yang naik turun menahan sesuatu.
Dia adalah Tia. Putri kedua kerajaan ini. Anak sah dari Ratu.
Tubuhnya kecil, tapi umurnya sama denganku. Satu-satunya yang tidak pernah menatapku dengan jijik.
Tiba-tiba sebuah dorongan keras menghantam bahuku dari belakang.
*Bruk!*
"Ahh... ketemu juga kau, Tia."
Dari balik punggung Tia muncul Putra Mahkota Kerajaan Eiden.
Cahaya obor dari lorong memantul di baju zirah peraknya yang berkilau. Dagunya terangkat tinggi. Matanya menatapku dari atas ke bawah dengan jijik yang tidak pernah dia sembunyikan.
"Akhirnya kutemukan kau."
William. Putra Mahkota.
Aku benci mengakuinya, tapi dia sepupuku.
Dan dia kakaknya Tia. 3 tahun lebih tua dariku.
Dia menatap Tia dengan marah, lalu melirikku dengan senyum sinis yang miring.
"Tia, bisa jelaskan kenapa kau bersama anak ini?" suaranya dingin. "Dia adalah aib. Anak yang bahkan tidak mewarisi setetes darah bangsawan."
Darahku mendidih. Rahangku mengeras sampai gigiku berderak.
*Kriuk...*
Aku hanya bisa menggertakkan gigi dan menahan amarah yang membakar di dada, tanganku mengepal sampai bergetar.
"Tia, mari pergi. Kita punya tugas penting. Daripada membuang waktu dengan anak tidak berguna itu."
Kata William sambil menarik pergelangan tangan Tia dengan kasar.
*Srett!*
"Tunggu!! Kakak!! Lepaskan aku!!" protes Tia, suaranya panik, berusaha melepaskan diri. Matanya melirik ke arahku, penuh rasa bersalah dan meminta maaf.
Langkah mereka berdua menghilang, ditelan gelapnya lorong istana.
*Tap... tap... tap...* semakin menjauh.
Tinggal aku. Dan angin dingin. Dan bulan yang tetap diam, tidak peduli.
*Wuuussh...*