Malam pesta pertunangan yang seharusnya jadi malam paling membahagiakan, **Laras Wirasena**—pianis muda dari keluarga terpandang—malah memergoki tunangannya sendiri, **Radithya Adiwangsa**, pewaris Grup Adiwangsa, sedang bermain api dengan asistennya di balik pintu yang terbuka sedikit.
Belum sempat Laras mengamankan bukti, ponselnya direbut dan videonya dihapus—oleh **Bramantya**, adik kandung Radit yang terkenal nakal, urakan, dan tak kenal aturan. Bukannya membela, cowok itu malah menyeringai menantang:
> *"Menggodaku buat balas dendam ke abangku?"*
Laras cuma menginginkan satu hal: membatalkan tunangan dan lepas dari keluarga yang menjualnya demi sebuah proyek bisnis raksasa. Tapi malam itu mengubah segalanya. Sekali, dua kali... lalu malam-malam rahasia yang tak terhitung lagi jumlahnya.
Yang tak Laras sadari: di balik topeng *bad boy* itu, Bram menyimpan sebuah bekas luka di pinggang, sebuah tato Latin di jarinya, dan satu rahasia yang telah ia pendam bertahun-tahun. Pria yang katanya cuma cari senang ini ternyata pernah menahan sebuah peluru demi menyelamatkan nyawanya di sebuah gedung konser di luar negeri—dan telah mencintainya diam-diam, jauh sebelum takdir "mempertemukan" mereka.
Ketika perselingkuhan sang tunangan meledak di depan seluruh undangan, ketika kembang api pecah di atas panggung juaranya, ketika satu ciuman viral mengguncang seluruh negeri—Laras akhirnya harus memilih: terus berpura-pura, atau mengakui bahwa satu-satunya pria yang benar-benar mencintainya justru adik dari pria yang mengkhianatinya.
Tapi Bram tak datang hanya untuk mencintainya. Ia datang untuk merebut kembali segalanya—dan menjatuhkan abangnya sendiri, sampai ke titik terdalam.
> *"Sekarang dia mantan tunanganmu, pacarku, dan calon adik iparmu. Kenapa, Mas?"*
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kirana Hati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 1
Bab 1
Menggoda Aku Buat Balas Dendam?
Tangan Laras gemetar saat ibu jarinya menyentuh tombol rekam.
Di layar ponselnya, celah pintu yang sempit membingkai wajah tunangannya dengan sangat jelas.
Radit sedang mencium perempuan lain.
Koridor lantai dua Nayaka Springs nyaris gelap. Cahaya dari lampu dinding jatuh redup di atas karpet, sementara musik dari pesta di lantai bawah tinggal dentuman berat yang terasa sampai ke telapak kaki. Di balik pintu ruang istirahat, napas dua orang bercampur dengan bunyi kain bergesekan.
Laras berdiri hanya dua langkah dari sana.
Sepuluh menit lalu, ia masih tersenyum di antara para tamu keluarga Adiwangsa dan Wirasena. Ia menjawab ucapan selamat, mengangkat gelas tanpa benar-benar meminumnya, lalu menyadari telinga kirinya terasa lebih ringan.
Satu anting warisan dari Ibu hilang.
Sepasang anting intan dan mutiara itu bukan aksesori yang bisa diganti dengan sekali kunjungan ke butik. Laras ingat benda itu masih terpasang ketika ia membenahi riasan di ruang istirahat lantai dua sebelum makan malam. Karena itulah ia kembali sendirian untuk mencarinya.
Ia tidak menyangka akan menemukan sesuatu yang jauh lebih berharga daripada sebuah anting.
Bukti.
"Mas Radit," desah perempuan di dalam. Suaranya pelan, manja, dan sangat Laras kenal. "Kalau Mbak Laras nyariin kamu gimana?"
Tiara Lestari. Asisten pribadi Radit.
"Dia masih di bawah." Radit terdengar sama tenangnya seperti ketika membicarakan jadwal rapat. "Laras nggak akan naik ke sini."
Jari Laras mengencang di sisi ponsel.
Setahun bertunangan, Radit selalu mengaku menghormatinya. Lelaki itu jarang menggenggam tangannya lebih dari beberapa detik di depan keluarga. Setiap kali Laras menolak pulang bersamanya, Radit akan tersenyum penuh pengertian, seolah kesabaran adalah bukti cintanya.
Ternyata kehormatan itu hanya disimpan untuk calon istri. Bukan untuk perempuan lain.
Di layar, Radit menunduk lagi. Kemeja yang tadi dikenakannya dengan rapi kini terbuka di bagian leher. Tangan Tiara melingkar tanpa ragu di belakang kepalanya.
Laras ingin mendorong pintu. Ingin menyalakan semua lampu dan membiarkan musik di bawah berhenti karena teriakannya.
Namun bayangan wajah Bapak muncul lebih dulu.
Nama baik. Proyek Cakrawala. Kesepakatan dua keluarga.
Air mata tidak akan membuat keluarganya membatalkan pertunangan. Sebuah rekaman mungkin bisa.
Ia mengangkat ponsel lebih tinggi, menahan napas, lalu memperbesar gambar. Wajah Radit masuk ke dalam bingkai tepat ketika indikator merah mulai menghitung detik.
Satu.
Dua.
Pada detik ketiga, hawa hangat menyentuh punggungnya.
Sebuah tangan muncul dari belakang dan menutup pergelangan tangannya.
Laras tersentak. Sebelum sempat berbalik, ponsel itu sudah terlepas dari genggamannya.
"Jangan berisik."
Suara rendah itu jatuh begitu dekat di telinganya hingga bulu kuduk Laras berdiri.
Ia menoleh.
Bram Adiwangsa berdiri di belakangnya.
Adik kandung Radit itu masih mengenakan kemeja hitam dari pesta, tetapi dua kancing teratasnya telah terbuka dan lengan bajunya tergulung sembarangan. Tidak ada jas, tidak ada senyum sopan yang tadi ia pasang di depan orang-orang tua. Rambutnya sedikit berantakan, seolah ia baru keluar untuk mencari udara dan malah menemukan hiburan.
Tatapannya turun ke layar ponsel Laras.
Tidak ada keterkejutan di sana.
"Kembalikan," bisik Laras.
Bram mengangkat satu alis. "Kalau aku nggak mau?"
Laras meraih ponselnya, tetapi lelaki itu mengangkat tangan jauh di atas kepalanya. Dengan tinggi tubuhnya, Bram bahkan tidak perlu mundur. Laras hanya berhasil menangkap ujung lengan bajunya.
Di balik pintu, terdengar tawa Tiara yang teredam.
Rahang Laras mengeras. "Kamu lihat sendiri abangmu sedang apa."
"Aku punya mata."
"Berarti kamu juga tahu aku butuh rekaman itu."
"Butuh?" Bram melirik layar, lalu menatap wajah Laras lagi. "Buat nangis di depan keluarga besar?"
"Bukan urusanmu."
"Sayangnya ini urusanku." Bibir Bram melengkung tipis. "Yang di dalam itu abangku."
Ibu jarinya bergerak di atas layar.
Laras melihat aplikasi galeri terbuka. Video tiga detik tadi menghilang begitu saja.
Darahnya seperti surut dari wajah.
"Bram."
Ia mengatakannya nyaris tanpa suara, tetapi peringatan dalam satu nama itu cukup tajam untuk menggores.
Bram tidak berhenti. Ia masuk ke folder baru dihapus, memilih video yang sama, lalu menekan hapus permanen. Layar ponsel kini hanya memantulkan wajah Laras yang pucat.
"Sudah bersih." Ia memasukkan ponsel itu ke telapak tangan Laras. "Nggak usah berterima kasih."
Laras menatap benda itu. Tiga detik bukti yang tadi berada dalam genggamannya sudah tidak tersisa, bahkan di tempat sampah digital.
Ia mendongak pelan. "Kamu sudah tahu."
Bram menyandarkan bahu ke dinding. "Tahu apa?"
"Tentang mereka."
"Mungkin."
"Sejak kapan?"
"Pertanyaanmu banyak banget, Mbak Laras."
Panggilan itu terdengar seperti ujung pisau yang dibungkus beludru.
Laras melangkah mendekat. "Kamu melindungi orang yang selingkuh, lalu masih berani memanggilku Mbak?"
Bram memandangnya lama. Matanya gelap, santai, nyaris malas. Namun ada sesuatu yang terlalu awas di balik sikap seenaknya itu.
"Terus aku harus panggil apa?" Ia mencondongkan kepala, menurunkan suara sampai hanya Laras yang bisa mendengarnya. "Calon kakak iparku?"
Panas menjalar dari leher Laras ke wajahnya.
Di belakang mereka, daun pintu bergetar pelan karena tubuh seseorang membenturnya dari sisi dalam.
Bram melirik pintu, lalu kembali menatap Laras. Senyum kecilnya bertambah kurang ajar.
"Cocok, kan?"
Tamparan Laras mendarat sebelum pikirannya sempat menghentikan tangan.
Suara itu pendek dan kering.
Kepala Bram miring sedikit ke samping. Bayangan lima jari segera muncul di pipinya.
Untuk satu detik, Laras mengira ia akan marah.
Bram justru tertawa pelan.
"Puas?"
"Belum."
Laras hendak menarik tangannya, tetapi Bram menangkap pergelangannya. Pegangannya kuat, cukup untuk menghentikan, tidak sampai menyakitkan. Ia membalik telapak Laras yang memerah akibat tamparan tadi, lalu mengusap bagian tengahnya dengan ibu jari.
Gerakan itu begitu bertolak belakang dengan tatapannya hingga Laras terlambat bereaksi.
"Mau nampar lagi?" tanya Bram. "Boleh. Tapi jangan pakai tangan kanan."
"Lepaskan."
"Jari pianis mahal, katanya. Kalau bengkak, aku yang disalahin."
Laras mencoba menarik tangan sekali lagi. Kali ini Bram ikut bergerak.
Satu langkah.
Punggung Laras menyentuh pintu kayu yang dingin.
Napasnya tertahan. Bram berdiri di depannya, terlalu dekat untuk disebut kebetulan, satu tangan masih menggenggam pergelangannya. Aroma kayu dan sesuatu yang tajam dari tubuh lelaki itu menelan sisa parfum pesta di udara.
Di sisi lain pintu, Radit tertawa pelan kepada Tiara.
Getarannya merambat ke tulang belikat Laras.
Ia seharusnya jijik. Ia memang jijik. Namun tubuhnya juga terlalu sadar pada panas telapak Bram, pada garis rahang yang baru saja ia tampar, dan pada jarak tipis yang membuat setiap tarikan napas terasa seperti kesalahan berikutnya.
"Takut ketahuan?" Bram bertanya.
"Kamu yang seharusnya takut." Laras memaksa tatapannya tetap naik. "Kalau aku teriak sekarang, abangmu akan keluar."
"Teriak aja."
"Lalu aku bilang kamu baru menghapus bukti perselingkuhannya."
"Silakan. Menurutmu dia bakal minta maaf atau malah tanya kenapa tunangannya mengintip?"
Kata-kata itu tepat mengenai bagian paling memalukan dari keadaan ini.
Laras mengatupkan gigi. "Kalian benar-benar bersaudara."
Senyum Bram lenyap sesaat.
Hanya sesaat.
Kemudian ia menoleh ke celah pintu, seolah bunyi dari dalam tidak lebih dari acara hiburan yang mulai membosankan.
"Coba tebak," bisiknya. "Di dalam, abangku lagi ngapain sama Mbak Tiara?"
"Aku tidak perlu menebak."
"Benar juga. Kamu lihat sendiri."
Bram melepaskan pergelangannya, tetapi telapak tangannya berpindah ke pintu di samping kepala Laras. Kini ia tidak menyentuh Laras sama sekali. Meski begitu, ruang di antara tubuh mereka justru terasa semakin sempit.
"Sayang banget videonya sudah hilang," katanya ringan.
"Kamu pikir aku tidak bisa mendapatkan bukti lain?"
"Aku pikir kamu terlalu pintar buat mengandalkan satu video."
Laras terdiam.
Tatapan Bram turun sebentar ke telinga kirinya yang kosong, lalu kembali ke matanya. Cepat sekali hingga Laras nyaris mengira ia salah lihat.
"Jadi," lanjutnya, "sekarang kamu mau apa? Dobrak pintunya? Nangis di depan Mas Radit? Atau pura-pura nggak terjadi apa-apa, lalu turun dan tersenyum di sampingnya?"
Setiap pilihan terdengar seperti penghinaan.
Laras mengepalkan tangan. Telapak yang tadi diusap Bram masih terasa panas.
"Ada pilihan keempat?"
Mata lelaki itu menyipit, seolah akhirnya mendengar jawaban yang ia tunggu.
"Ada."
Ia mendekat sampai napasnya menyapu pelipis Laras. Pintu di belakang Laras kembali bergetar, mengingatkan mereka pada dua orang yang hanya terpisah setebal kayu.
Suara Bram jatuh rendah, malas, dan berbahaya.
"Mau menggoda aku buat balas dendam ke abangku?"
Laras menatap bekas tamparan di pipinya, lalu mengangkat dagu.
"Kamu berani?"