NovelToon NovelToon
MENIKAHI MANTANKU

MENIKAHI MANTANKU

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Diam-Diam Cinta / Cintapertama
Popularitas:3k
Nilai: 5
Nama Author: Skyline Scribe

Satu Atap Bersama Mantan

Aira seorang gadis yang hobi berbelanja menggantungkan hidupnya pada pundi-pundi kekayaan keluarganya terpaksa menerima perjodohan demi menyelamatkan rekening banknya yang terancam diblokir papinya.

Namun di hari pernikahannya niatnya untuk kabur justru malah bertemu mantan pacarnya yang 8 tahun lalu mencampakkannya dengan alasan dingin.

Devan, cinta pertama Aira sekaligus mantan Aira yang sangat ia benci ternyata adalah calon suaminya.

Dua orang yang masih sama-sama sayang, tapi sangat gengsi dalam mengakui perasaannya.

Bagaimana kehidupan rumah tangga mereka kedepannya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Skyline Scribe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 1 : Gesekan Kartu Kredit

Suara bip nyaring yang keluar dari mesin EDC berwarna hitam di atas meja itu terdengar sangat memalukan bagi Aira.

Aira Calista Hermawan terdiam di tempatnya berdiri. Jemarinya yang lentik dengan kuku berpoles warna nude masih mengapit selembar kartu kredit berwarna hitam.

Di depannya, sang kasir boutique luxury brand di salah satu mal menatapnya dengan raut wajah serba salah, melirik layar mesin yang berkedip-kedip merah.

"Maaf, Kak Aira..." Kasir perempuan itu menunduk sedikit, suaranya nyaris berbisik karena sungkan. "Transaction declined. Keterangannya... akses ditolak dari bank penerbit."

"Nggak mungkin," cetus Aira cepat. Matanya membelalak, dadanya naik turun meluapkan rasa tidak percaya. "Coba lagi, Kak. Itu kartu unlimited, lho. Mana mungkin declined? Coba swipe manual atau pake mesin yang satunya!"

"Sudah dua kali saya coba di mesin beda, Kak Aira..."

Aira menghembuskan napas kasar. Rambut gelombang hitamnya terlempar ke belakang saat ia mengibaskan kepala.

Di atas meja kasir, sudah menumpuk empat kantong belanjaan besar berisi dua tas edisi terbatas, sepasang heels yang baru saja mendarat dari Paris minggu lalu, dan satu mantel yang bahkan belum sempat ia coba di fitting room. Totalnya? Hampir tiga ratus lima puluh juta rupiah.

Aira menarik napas, merogoh tas tangannya, dan mengeluarkan kartu kredit kedua—kartu fasilitas eksekutif dari anak perusahaan Hermawan Group. "Pakai yang ini. Jangan bikin malu ah, Kak."

Bip.

Transaction declined.

Kartu ketiga.

Bip.

Transaction declined.

"Aira Calista Hermawan!" Suara kekeh nan tajam dari arah belakang membuat Aira hampir melonjak.

Sandy, sahabatnya sejak zaman SMA yang menemani belanja hari itu, berjalan mendekat dengan langkah tergesa sembari menengok kiri-kanan.

Tangannya memegang dua cup iced americano. "Lu ngapain masih berdiri di depan kasir sambil keringet dingin begitu? Baju yang lu taksir udah dibungkus kan? Ayo balik, udah mau jam makan siang nih. Gue laper."

"San... kartu gue dibekuin," bisik Aira. Suaranya bergetar, mirip anak kecil yang baru saja kehilangan mainan kesayangannya di tengah keramaian.

Sandy hampir tersedak kopi yang baru saja ia seruput. "Hah? Lu bercanda kan? Lu kan anak Papi Surya Hermawan, konglomerat properti yang perusahaannya nggak habis tujuh turunan! Kok bisa dibekuin?"

Belum sempat Aira membalas, ponsel di genggamannya bergetar. Nama yang tertera di layar membuat nyawa Aira serasa melayang keluar dari tubuhnya: Papi.

Dengan tangan sedikit gemetar, Aira menggeser ikon hijau lalu menempelkan ponsel ke telinganya. "P-papi? Ini kartu Aira kenapa ya kok nggak bisa dipake sama sekali? Aira lagi di kasir nih, malu-maluin banget—"

"Papi yang blokir semuanya." Suara berat, dingin, dan tanpa kompromi di ujung telepon langsung memotong kalimat Aira.

Tidak ada nada bercanda sama sekali dari Surya Hermawan. "Termasuk fasilitas mobil kantor, tabungan pribadi kamu di tiga bank, dan kartu fasilitas eksekutif Hermawan Group."

Aira mendelik. Sensasi dingin merayapi punggungnya, menjalar sampai ke ujung kaki. "Papi! Papi gila ya?! Aira lagi di boutique nih, dilihatin orang-orang! Aira salah apa sih sampai Papi tega bikin Aira kayak gini?!"

"Kamu salah karena menganggap ancaman Papi seminggu lalu cuma gertakan sambal," balas Surya santai, tapi tiap kata yang diucapkannya menghujam tepat di dada Aira.

"Papi bilang apa? Masuk ke divisi perencanaan kantor Papi, kerja yang bener, ikuti aturan main Hermawan Group. Tapi apa yang kamu lakukan? Kamu malah bolos rapat penting jam sembilan pagi tadi cuma buat ngejar tas edisi terbatas yang harganya nggak masuk akal!"

"Aira kan cuma telat sebentar, Papi! Lagian tim Aira yang lain bisa handle rapatnya! Kenapa harus Papi potong semua akses uang Aira sih?!"

"Karena kamu itu sudah dua puluh lima tahun, Aira! Tapi kelakuan kamu masih kayak bocah belasan tahun yang cuma bisa menghambur-hamburkan uang!" Suara Surya menggelegar di seberang sana, membuat Aira harus menundukkan kepala dan menjauhkan ponselnya sedikit. "Papi udah capek ngeliat tagihan kartu kredit kamu yang tiap bulan bisa buat beli rumah baru. Belanja, salon, jalan-jalan ke luar negeri, tapi giliran disuruh kerja beneran di kantor, kamu males-malesan!"

"Papi, uang yang Aira pake itu kan uang—"

"Uang Papi! Bukan uang hasil keringat kamu sendiri!" potong Surya lagi, makin tegas. "Papi udah kasih kamu waktu berbulan-bulan buat berubah, tapi kamu sepelekan terus. Jadi sekarang, Papi ambillah semua kemewahan yang selama ini kamu nikmati."

Aira menggigit bibir bawahnya. Matanya berkaca-kaca antara emosi, gengsi, dan amarah yang meledak-ledak di dadanya. "Terus Aira makan apa?! Aira hidup gimana kalau semua kartu dibekuin?!"

"Pulang," kata Surya singkat. "Pulang ke rumah sekarang juga, dengerin apa kata Papi, dan turuti semua syarat yang Papi kasih kalau kamu mau rekening kamu dibuka lagi."

"Syarat apa lagi sih?!"

"Pulang dulu baru kita bicara. Papi kasih waktu sampai jam dua siang. Kalau lewat dari jam dua kamu belum sampai di rumah, Papi bakal tarik mobil Porsche kamu dan suruh sekuriti ganti kunci kamar kamu. Paham?"

Tut... tut... tut…

Panggilan diputus sepihak. Aira membeku, menatap layar ponselnya yang gelap dengan pandangan kosong.

"Ra? Aira? Om Surya bilang apa?" Sandy menatap sahabatnya panik, ikut merasa cemas melihat wajah Aira yang mendadak pucat pasi.

Aira menoleh perlahan ke arah Sandy, napasnya tersendat-sendat. "Gue... gue diancam dimiskinkan, Ra. Beneran dimiskinkan sama Papi."

"Anjir... Om Surya nggak main-main?!"

Aira menatap empat kantong belanjaan di atas meja kasir yang kini tampak seperti tumpukan barang tak berguna yang tak mampu ia sentuh.

Kasir perempuan di depannya menatapnya dengan raut iba yang justru makin menggores gengsi Aira.

Dengan wajah menahan malu yang amat sangat, Aira menelan salivanya kasar. "Kak... maaf. Saya cancel dulu semuanya."

1
Fazira
🤣
Ael
seru👍
Reni Anjarwani
lanjut thor
Fazira
lanjut 💪
Ael
/Heart//Heart//Heart/
Reni Anjarwani
lanjut thor
Fazira
😍😍😍
Fazira
lanjut 💪
Fazira
semangat Kak 💪
Fazira
seru kak , lanjutkan 😍😍
zeylin
Wowwww baguss banget
Ael
🤭
Fazira
Ihh gemezz banget sih mereka 😍😍
Ael
next next 💪💪
nebula🌌
sukaaa
semangat thorr💪💪😍
Fazira
😍😍
Fazira
😍😍😍
Ael
next
Ael
lanjut
Fazira
lucu banget aira🤣
siapa ya yang di ruangan itu🤔
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!