NovelToon NovelToon
THE DAY YOU WENT AWAY

THE DAY YOU WENT AWAY

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / Bad Boy / Cintapertama
Popularitas:387
Nilai: 5
Nama Author: Chikaku_chiko

Namanya Raisha, seorang karyawan korporat cantik dan terkesan cuek. Dia belum mengenal debaran cinta seperti apa. Banyak tuntutan orang disekitarnya untuk memulai suatu hubungan dengan seorang pria. Meskipun enggan, Raisha melakukan semua tuntutan itu meskipun tanpa menggunakan hati. Satu pria, gagal. Dua pria, gagal. Hingga tak terasa beberapa pria Raisha mencoba mencari debaran itu, tapi gagal.

Hingga julukan 'Playgirl' menempel padanya.

Hingga datang seorang Aldo. Pria tampan dan maskulin, membuat Raisha merasakan debaran itu. Tapi ketika Raisha mulai mendekati Aldo, ada sesuatu dari diri Aldo yang janggal. Yang membuat Raisha merasakan debaran yang melayang tapi menyakitkan.

Bagaimana kisah cinta Raisha dan Aldo kedepannya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Chikaku_chiko, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 1: Julukan yang Salah Alamat

Bagi sebagian besar orang, jatuh cinta adalah perkara yang teramat mudah, serupa mengedipkan mata di bawah terik matahari atau mendadak mengagumi keindahan langit sore yang memerah. Cinta sering kali digambarkan sebagai desiran halus di dada, detak jantung yang berpacu liar, atau pikiran yang tiba-tiba dipenuhi oleh bayangan satu nama.

Namun bagi Raisha, seluruh deskripsi romantis itu seperti bahasa asing yang tak pernah bisa dia terjemahkan. Seluas dan selurus apa pun dia mencoba mencernanya, logika hatinya tetap berada di frekuensi yang datar.

Di usianya yang baru menginjak dua puluh empat tahun, Raisha tumbuh menjadi seorang karyawati di sebuah perusahaan swasta berlantai tinggi di pusat Jakarta.

Penampilannya sebenarnya sangat mendukung untuk menarik perhatian. Dia memiliki paras yang manis, kulit bersih, dan sepasang mata jernih yang memikat saat menatap lurus. Namun, kelebihan fisik itu sama sekali tidak dibarengi dengan kehangatan ekspresi. Sikapnya didominasi oleh ketenangan yang dingin dan aura cuek yang sangat pekat.

Dia adalah tipe wanita yang lebih memilih menuntaskan tumpukan berkas spreadsheet di atas mejanya atau menyeruput kopi hitam dingin di sudut kubikel ketimbang ikut dalam perbincangan hangat di kantin saat jam istirahat.

Bagi Raisha, waktu adalah sesuatu yang harus dialokasikan secara efisien. Mengobrol tanpa arah hanya akan membuang energi yang sebenarnya bisa dia pakai untuk menyelesaikan pekerjaannya lebih cepat agar bisa segera pulang ke rumah.

Masalah utamanya bukan terletak pada rasa sombong atau keinginan untuk jual mahal. Radar sosial Raisha dalam urusan asmara memang berada di titik nol besar. Ketidakpekaannya sudah berada di tahap yang kronis.

Dia tidak pernah sadar bahwa tatapan mata para staf pria dari divisi marketing yang sering pura-pura mampir ke mejanya memiliki maksud lain di luar pekerjaan.

Dia tidak sadar bahwa ajakan "makan siang bareng untuk membahas revisi promosi" dari manajer muda divisi sebelah adalah sebuah jalan pintas untuk tebar pesona.

Bahkan ketika seorang pria dengan sengaja menyajikan minuman favoritnya di atas meja lengkap dengan catatan kecil berisi nomor telepon, Raisha hanya akan menganggap minuman itu sebagai hadiah promosi vendor dan membuang catatan kertasnya ke tempat sampah tanpa membacanya.

Bagi Raisha, dunia di sekitarnya hanya terbagi menjadi dua kategori yang sangat sederhana: orang yang relevan dengan pekerjaannya, dan orang yang banyak bicara.

Namun, ketidakpekaan dan sifat lempengnya itu justru menjadi bumerang di lingkungan sosialnya. Di ruang terbuka kantor di mana gosip menyebar lebih cepat daripada email massal, ketidakmampuan Raisha untuk merespons godaan pria dianggap sebagai bentuk keangkuhan.

"Raisha, lu itu jujur aja deh sama gue. Tipe cowok ideal lu tuh yang kayak gimana sih sebenarnya?" celetuk Siska, teman sekubikelnya yang terkenal paling heboh dan tahu segala macam desas-desus kantor.

Sore itu, jarum jam sudah menunjukkan pukul lima sore, waktu di mana sebagian besar karyawan mulai merapikan meja. Raisha mendongak dari layar monitornya, mengedipkan mata beberapa kali lalu mengerutkan dahi.

"Tipe ideal? Nggak ada. Kenapa emangnya?"

Siska mendengus keras, memutar kursinya agar menghadap penuh ke arah Raisha.

"Perasaan dari minggu lalu anak Finance yang ganteng si Danang itu ngedeketin lu terang-terangan, Ra. Dia sering bawain lu bekal, nungguin lu di depan lift, tapi respon lu lempeng banget kayak papan gilasan. Lu tuh terlalu milih-milih atau gimana sih? Standar lu ketinggian ya?"

Raisha menghela napas pelan, menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi.

"Gue nggak milih-milih, Siska. Gue cuma ngerasa nggak ada yang spesial aja dari apa yang dia lakuin. Lagian bekalnya juga udah gue makan, kan? Gue juga udah bilang makasih."

"Ya ampun, Raisha! Itu namanya lu dingin!" cerocos Siska gemas, menepuk jidatnya sendiri.

"Dia itu mau pendekatan, bukan mau jadi katering pribadi lu! Masa umurnya udah segini lu nggak pernah kelihatan beneran kepikiran cowok? Jangan kebangetan nolak impuls alami lu jadi cewek deh. Lama-lama lu bisa dianggap nggak normal tahu nggak?"

Kata-kata Siska sore itu bukanlah yang pertama kali hinggap di telinga Raisha. Pertanyaan, tebakan, dan tekanan terselubung seperti itu sudah memburu hidupnya sejak lama.

Di lingkungan pertemanan kuliah dulu, teman-temannya sering mengira Raisha menyimpan trauma masa lalu. Di acara kumpul keluarga besar saat hari raya, para tante dan sepupunya selalu menyelidik apakah Raisha memiliki orientasi yang berbeda karena tidak pernah membawa pacar ke rumah. Bahkan di lingkungan kerjanya yang sekarang, gosip kalau Raisha adalah "si wanita es yang tak tersentuh" sudah menjadi rahasia umum.

Semua tuduhan itu perlahan-lahan membuat Raisha merasa lelah. Ada rasa asing yang menyelinap di hatinya, sebuah pertanyaan apakah dirinya memang cacat secara emosional karena tidak bisa merasakan desir cinta seperti orang-orang pada umumnya.

Hingga akhirnya, didorong oleh rasa lelah karena terus-menerus dipertanyakan dan keinginan konyol untuk membuktikan pada dunia bahwa dia bisa menjadi wanita "normal", Raisha mengambil keputusan yang salah langkah: dia mulai belajar menerima pernyataan cinta dari para pria yang mendekatinya, meski tanpa melibatkan perasaan sedikit pun.

Raisha berpikir sangat sederhana. Dalam logikanya yang naif, cinta mungkin mirip seperti kebiasaan membaca atau mengendarai sepeda. Mungkin rasa sayang itu tidak muncul di awal, melainkan akan tumbuh seiring berjalannya waktu jika dia membiasakan diri bersama seseorang.

Jadi, ketika ada pria yang datang menyatakan perasaan dengan wajah penuh harap, Raisha hanya akan mengangguk pelan, menyunggingkan senyum tipis, dan menjawab pendek, "Oke, kita coba jalanin ya."

Namun, eksperimen sosial yang digagas oleh kepolosannya itu justru bertransformasi menjadi bencana reputasi yang luar biasa.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!