Dikhianati oleh murid kepercayaannya saat mencoba menerobos batas keabadian, Kaisar Dewa Ye Xuan mati dan jiwanya terlempar melewati sungai waktu. Tiga ribu tahun kemudian, ia terbangun di tubuh seorang pemuda dengan nama yang sama—seorang "sampah" tanpa meridian kultivasi di kota terpencil. Dengan ingatan masa lalunya dan teknik terlarang Seni Sembilan Reinkarnasi Naga, Ye Xuan memulai kembali perjalanannya dari bawah untuk membelah langit, menginjak-injak para jenius sombong, dan menuntut darah dari mereka yang mengkhianatinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bodattt, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 1
Guntur hitam menyambar ganas membelah langit malam Kota Awan Merah, seolah-olah surga sendiri sedang murka. Hujan turun dengan deras, menghapus darah segar yang menggenang di halaman belakang Kediaman Keluarga Ye yang sepi.
Di tengah genangan lumpur yang dingin itu, seorang pemuda berusia lima belas tahun terbaring tak bernyawa. Pakaiannya robek, wajahnya lebam, dan darah terus mengalir dari sudut bibirnya. Tulang rusuknya remuk, dan yang lebih parah, meridian di dalam tubuhnya telah dihancurkan secara paksa.
Di hadapan tubuh rapuh itu, seorang pria paruh baya mengenakan jubah sutra mewah menatap dengan tatapan jijik yang tak ditutupi. Ia mengibaskan selembar kertas perkamen yang bernoda cap jari berdarah.
"Dasar sampah tidak berguna. Beraninya seekor katak di dasar sumur bermimpi memakan daging angsa dari surga?" Pria itu, Lin Zhentian, mendengus dingin. "Putriku, Lin Xue'er, kini adalah murid jenius Bintang Lima dari Sekte Teratai Es. Masa depannya tidak terbatas. Sedangkan kau? Hanya seorang cacat yang tak bisa melewati Alam Kondensasi Qi tingkat pertama. Surat pembatalan pertunangan ini sudah ditandatangani. Urusan Keluarga Lin dan Keluarga Ye selesai sampai di sini!"
Lin Zhentian memasukkan perkamen itu ke dalam lengan bajunya, lalu menatap dua pengawal berbadan besar di sisinya. "Bereskan sampah ini. Buang mayatnya ke Hutan Binatang Buas di luar kota. Jangan sampai ada jejak yang tertinggal."
"Baik, Tuan Keluarga Lin!" jawab kedua pengawal itu serempak dengan seringai kejam.
Lin Zhentian berbalik dan berjalan menembus tirai hujan, meninggalkan halaman itu tanpa sedikit pun rasa bersalah. Baginya, membunuh seorang tuan muda buangan dari klan yang sedang merosot tidak lebih dari menginjak seekor semut.
Sepeninggal Lin Zhentian, salah satu pengawal yang berwajah bopeng meludah ke tanah. "Cih, Tuan Muda Ye yang menyedihkan. Dulu ibumu menyelamatkan nyawa Tuan Lin, dan sebagai balasannya pertunangan ini dibuat. Tapi di dunia bela diri ini, kebaikan tanpa kekuatan hanyalah omong kosong. Jangan salahkan kami, salahkan nasibmu yang terlahir sebagai sampah."
Pengawal itu mengulurkan tangannya yang kasar, berniat mencengkeram kerah baju pemuda yang tergeletak di lumpur tersebut.
Namun, tepat pada detik itu, sebuah anomali kosmis terjadi.
Lapis demi lapis awan badai di atas Kota Awan Merah tiba-tiba berputar membentuk pusaran raksasa. Sebuah petir berwarna merah darah, menyala dengan aura kuno yang mengerikan, menyambar langsung dari langit tertinggi, menembus atap halaman, dan menghantam tepat ke tubuh kaku sang pemuda.
Bumi bergetar hebat. Udara di halaman itu tiba-tiba menjadi sangat berat dan menyesakkan, seolah-olah seekor dewa naga purba baru saja membuka matanya dari tidur panjang. Kedua pengawal itu terlempar mundur beberapa langkah, menatap dengan mata terbelalak ngeri.
Jari tangan pemuda yang seharusnya sudah mati itu... berkedut.
Di dalam lautan kesadarannya yang gelap gulita, sebuah jiwa perkasa yang telah melintasi sungai waktu selama tiga ribu tahun meraung marah. Ingatan masa lalu membanjiri pikirannya seperti air bah.
Mo Yuan... Muridku yang paling kupercaya... Kau mengorbankan separuh Alam Dewa dan menggunakan Racun Pemakan Jiwa hanya untuk merebut Tahta Primordialku?
Rasa sakit dari pengkhianatan itu masih terasa segar, membakar jiwanya dengan amarah yang bisa mendidihkan samudra. Selama tiga ribu tahun, jiwanya melayang di pusaran kehampaan, menolak untuk padam, hingga akhirnya hukum reinkarnasi menariknya ke tubuh seorang pemuda fana yang baru saja menghembuskan napas terakhirnya. Pemuda dengan nama yang sama dengannya: Ye Xuan.
Mata pemuda itu perlahan terbuka di tengah rintik hujan.
Bukan lagi tatapan ketakutan, keputusasaan, atau kepengecutan dari Ye Xuan yang asli. Sepasang mata itu kini sedingin es abadi, memancarkan keagungan absolut, arogansi seorang penguasa sejati, dan niat membunuh yang tak terbatas.
"Alam Kondensasi Qi tingkat pertama? Meridian hancur total? Dan Dantian yang sekering gurun?"
Ye Xuan bergumam pelan dengan suara seraknya. Ia memeriksa kondisi tubuh barunya dengan pandangan batin. Sungguh tragis. Pemuda ini dulunya memiliki sedikit bakat, tetapi entah siapa yang meracuninya sejak kecil hingga meridiannya tersumbat perlahan, dan malam ini, pukulan dari Lin Zhentian menghancurkannya secara permanen. Di mata dunia kultivasi, tubuh ini sudah benar-benar tamat.
Tapi bibir Ye Xuan justru melengkung membentuk seringai tipis.
"Meridian yang hancur... Bukankah ini wadah yang paling sempurna untuk mempraktikkan Seni Sembilan Reinkarnasi Naga? Dahulu, aku terlalu takut menghancurkan fondasi kultivasiku sendiri untuk mencoba teknik terlarang ini. Sekarang, surga memberiku kanvas yang kosong!"
Ye Xuan perlahan bangkit berdiri. Hal yang mengerikan terjadi; hujan lebat yang turun dari langit secara ajaib berbelok sekian milimeter sebelum menyentuh tubuhnya. Auranya, meski tanpa energi Qi sedikit pun, memiliki tekanan yang membengkokkan hukum alam di sekitarnya.
Ia menatap kedua pengawal yang masih mematung ketakutan.
"K-kau... kau belum mati?!" Pengawal berwajah bopeng mundur selangkah, bulu kuduknya berdiri. Bagaimana mungkin seorang bocah yang tulang rusuknya sudah remuk bisa berdiri setegak ini? Dan tatapan matanya... mengapa rasanya seperti ditatap oleh dewa kematian?
"Hanya ilusi! Dia cuma sampah yang sedang sekarat! Habisi dia sekarang sebelum Tuan Lin marah!" teriak pengawal kedua, mencoba mengusir rasa takutnya. Ia mencabut sebilah golok dari pinggangnya, memfokuskan energi Qi ke tangannya, dan menerjang ke arah Ye Xuan.
Pisau itu menebas di udara, mengarah langsung ke leher Ye Xuan. Serangan seorang kultivator Alam Kondensasi Qi tingkat ketiga. Di mata penduduk biasa, itu adalah tebasan yang sangat cepat.
Namun, di mata mantan Kaisar Dewa, gerakan itu lebih lambat dari siput yang sedang merangkak.
Ye Xuan tidak mundur. Ia hanya memiringkan lehernya satu inci ke kiri. Angin dari tebasan golok itu menyapu pipinya tanpa meninggalkan goresan sedikit pun. Di saat yang sama, tangan kanan Ye Xuan melesat seperti kilat yang menyambar.
Ia tidak memiliki energi Qi, tetapi ia memiliki pengalaman bertarung selama puluhan ribu tahun dan pengetahuan absolut tentang anatomi manusia. Dua jarinya menusuk tepat ke titik akupunktur kematian di pangkal leher sang pengawal.
Krek!
Suara patahan tulang terdengar renyah di tengah hujan. Mata pengawal kedua melotot lebar, tubuhnya kejang sejenak sebelum ambruk ke tanah seperti karung berisi daging busuk. Mati seketika.
Pengawal berwajah bopeng jatuh terduduk, kakinya lemas tak bertulang. Golok di tangannya terlepas bergemerincing ke bebatuan. Otaknya menolak memproses apa yang baru saja dilihatnya. Sang Tuan Muda Sampah... membunuh seorang kultivator tingkat tiga hanya dengan dua jari?
"K-kau... kau bukan Ye Xuan! Kau monster!" jeritnya histeris, berbalik dan mencoba merangkak kabur sambil mengais-ngais lumpur.
Ye Xuan melangkah perlahan mendekati pria itu. Tidak ada amarah di wajahnya, hanya ketenangan yang mencekam.
"Dulu, ada miliaran orang yang berlutut dan memanggilku Dewa. Ada jutaan iblis yang menjerit memanggilku monster. Kau... bukan siapa-siapa untuk memberiku gelar."
Ye Xuan mengangkat kaki kanannya dan menginjak tengkuk pengawal itu dengan presisi sempurna. Terdengar bunyi retakan pelan, dan jeritan histeris itu terputus seketika. Halaman belakang Keluarga Ye kembali hening, hanya menyisakan suara hujan yang membasuh darah di tanah.
Berdiri di antara dua mayat, Ye Xuan mendongak menatap langit malam yang masih bergemuruh. Ia bisa merasakan dunia ini memiliki energi spiritual yang sangat tipis dan kotor dibandingkan dengan Alam Dewa, tetapi ini sudah cukup.
"Lin Zhentian... Keluarga Lin..." gumam Ye Xuan dingin, mengingat ingatan menyakitkan dari pemilik tubuh sebelumnya. Ia mengepalkan tangannya perlahan. "Karena aku telah mengambil alih karma tubuh ini, hutang darahmu akan kubayar lunas. Dan kau, Mo Yuan... nikmatilah tahtamu selagi kau bisa. Saat naga ini kembali menginjakkan kaki di semesta atas, aku akan memastikan jiwamu terbakar di dasar neraka selama keabadian."
meLawan maka akan ada patriark yang baru
preeeeeetttttttt